Showing posts with label Fiction. Show all posts
Showing posts with label Fiction. Show all posts

(DAS FICTION): Opening Novel Pembunuh Berwajah Kekanakan


Okewh, karya berikutnya yang terpilih untuk dibedah dan diapresiasi adalah karya Mas Mahbub Ulhaq yaitu opening novelnya yang berjudul "PEMBUNUH BERWAJAH KEKANAKAN". Untuk editor's note-nya kali ini akan Neko serahkan kepada Sensei Mashdar yang lebih expert dalam bidang fiksi. Monggo...

(by Mahbub Ulhaq)

Hari masih begitu muda. Bumi benderang dibalut hamparan cahaya mentari dhuha. Panasnya tidak begitu menyengat namun tak urung menyebabkan tetesan keringat. Sebagian terangnya diserap hijau dedaunan sebagai katalisator mekanisme fotosintesa. Menghasilkan oksigen bagi seluruh mahluk jagat raya. Disediakan secara cuma-cuma, selagi tetumbuhan belum bersinggungan dengan ideologi kapitalis,  sebagai perwujudan ibadahnya kepada Allah Sang Maha Pencipta. Sebagian lagi terangnya menelusup melalui sela-sela dedaunan. Serupa lorong cahaya yang jatuh menuju permukaan bumi. Lalu hinggap menyelimut basah rerumputan yang bermandikan embun pagi. Segar seketika menyeruak, menghasilkan optimisme kehidupan penuh warna. Seperti sekumpulan remaja yang sedang berkumpul di lapangan utama SMA Lapan Palembang.

Wajah-wajah mereka masih begitu polos. Dipundak mereka tersampir harapan, menyimpan sejuta potensi untuk masa depan yang lebih baik. Setidaknya begitulah inti pidato pembukaan penerimaan siswa baru yang dibawakan dengan penuh motivasi dan berapi-api oleh Bapak Zainal Abidin, Kepala Sekolah. Semua siswa baru menyimak dengan takzim. Tatapan mata mereka tajam berkilat, seakan ingin mengatakan kepada dunia "INILAH KAMI PASUKAN YANG AKAN MEMBAWA PERUBAHAN DALAM SETIAP SENDI KEHIDUPAN MASYARAKAT! TUMPAS KEMISKINAN! HANTAM KEMELARATAN! HANCURKAN KEBODOHAN!". Idealisme yang begitu tinggi namun masih belum diimbangi pengalaman hidup. Mereka masih akan mudah dibodohi oleh berbagai partai politik. Bersyukurlah mereka belum memiliki hak untuk memilih sampai setidaknya tiga atau empat tahun lagi.

Itulah yang terjadi kemarin. Dan aku ada diantara begitu banyak siswa baru yang memadati lapangan utama. Namun mengenai harapan dan potensi yang dikatakan oleh kepala sekolah aku yakin, haqqul yaqin, bahwa saat itu kepala sekolah bukan sedang membicarakanku. Karena saat ini nyatanya aku sedang terengah-engah kehabisan nafas. Dikejar seorang siswi, yang juga baru, dalam permainan tolol saat orientasi siswa. Aku diberi waktu lima belas menit untuk menghindari kejaran murid baru yang tadi mengenalkan dirinya bernama Navisah. Jika aku tertangkap kurang dari waktu yang telah ditentukan aku akan dihukum bernyanyi di depan begitu banyak murid baru. Mana mungkin aku rela! Aku boleh menghindar kemanapun dengan satu syarat, masih dalam jarak pandang kakak senior.

Kondisi lapangan utama SMA Lapan saat ini disesaki begitu banyak murid baru. Mereka membentuk lingkaran masing-masing sesuai dengan kelompok yang telah dibagi sebelumnya. Setiap kelompok masing-masing terdiri atas lima belas sampai dua puluh murid. Tiap-tiap kelompok dipandu oleh seorang kakak senior yang memberikan permainan untuk masing-masing kelompok. Senior yang memandu kami adalah seorang siswi kelas 3 bernama Puri. Ia memiliki rambut panjang dikuncir kuda. Matanya bundar dan semakin bundar terlapis kacamata yang begitu tebal. Kutaksir matanya mungkin sampai minus empat. Hanya ada dua kemungkinan dengan kacamata setebal itu, Yang pertama ia sangat pintar atau yang kedua ia memiliki gangguan kejiwaan. Aku lebih condong pada pendapat yang kedua. Hanya orang gila yang menyuruh wanita mengejar pria dengan sekuat tenaga.

Lebih gila lagi adalah Navisah. Ia mau saja disuruh mengejarku oleh seorang senior gila. Seakan tujuan hidupnya saat ini hanya untuk menyentuh bagian apapun dari tubuhku. Sesungguhnya semua bisa dimaklumi mengingat jika ia tidak berhasil menyentuhku dalam waktu lima belas menit, maka dialah yang akan menjadi pesakitan di depan anak-anak baru lain, bukan aku. Yang membuatku merinding dan tak habis pikir adalah senyum Navisah. Ia mengejarku tanpa pernah melepas senyum dengan kedua bola mata yang membulat seakan ingin menelanku. Kukira ia sama sintingnya dengan senior gila. Ketika diperintah mengejarku, tawanya menggelegar seakan ia telah betul-betul menikmati permainan bahkan sebelum permainan itu sendiri dimulai. Ia memandangku dengan senyumnya. Tatapannya menyenangkan, namun aku tau dibalik itu bersemayam seorang pembunuh berdarah dingin. Seperti Stephen Norton dalam kisah terakhir Hercule Poirot pada novel curtain, pembunuh yang bersembunyi dalam sorot mata kekanakan. Aku gemetar.

Dan diantara semuanya tentu akulah yang paling gila. Pontang-panting dikejar wanita yang aku sendiri tak begitu kenal kecuali namanya. Terengah-engah, namun aku terus berlari. Tak kupedulikan keringat yang mengucur deras. Kusingkirkan apapun yang menghalangi jalan. Hanya satu tujuan, berlari sekuat tenaga menghindari pembunuh berwajah kekanakan. Aku berlari serupa orang gila. Sebagian siswa-siswi tertawa cekikikan menunjuk-nunjuk kami. Siswi perempuan menyemangati Navisah, siswa laki-laki juga menyemangati Navisah. Tinggallah saat itu aku sendiran seolah melawan seluruh penduduk dunia. Sebagian siswa tak peduli dengan apa yang terjadi pada kami. Mereka juga punya masalah di kelompok mereka sendiri yang harus diselesaikan, sama seperti kami.

Aku masih belum tertangkap. Sekali-kali aku menoleh untuk menilai situasi. Setelah sekian tolehan tak kulihat ada Navisah disana. Aku masih terus berlari. Kutoleh lagi dan benar tak ada. Kuturunkan kecepatan lari dan saat kuyakin tak ada Navisah, aku berhenti persis di depan salah satu dinding kelas yang saat itu tengah kosong. Begitu kosongnya seakan tak pernah ada tanda-tanda kehidupan. Kalaulah bukan ruang kelas, aku yakin ada setan yang bersemayam disitu. Menyaksikan sekumpulan remaja-remaja dalam permainan dunia. Menunggu saat yang tepat untuk memangsa mereka. Terasa ada aliran udara yang lembut, bulu kudukku berdiri.

Kutengokkan kepala ke kiri dan ke kanan, melihat-lihat kalau ada siluet Navisah di dekat-dekat situ. Tak kutemukan. Nafasku berkejaran, Aku menekan kedua lutut dengan tapak tangan seperti posisi ruku'. Sistem pernafasan bekerja lebih berat dari biasanya. Tubuhku membutuhkan pasokan oksigen yang banyak untuk membakar energi yang tadi kugunakan berlari menghindari kejaran Navisah. Masih pada posisi yang sama, aku memandang jauh ke arah tempat dimana tadi kelompokku berada. Puri bergantian melihat ke arahku dan melirik arloji yang melingkar di lengannya. Dia belum memberikan tanda permainan telah selesai. Tak kulihat juga Navisah disana. Aku harus berhati-hati.

Aku berbalik dan berjalan gontai namun tetap penuh kewaspadaan. Saat itulah tiba-tiba dari dalam kelas yang kosong meluncur sesosok mahluk. Berkelebat. Menjerit histeris menepuk pundakku. Aku terlonjak kaget dan terjengkang jatuh terduduk di lantai. Jantungku berdetak cepat berkejar-kejaran susul menyusul. Ada setan! Kelas ini ternyata memiliki "penghuni". Sejak pertama aku melihat kelas ini aku seharusnya tau. Bulu kuduk tak mungkin menipu. Tawanya melengking menakutkan. Aku bahkan tak berani memutar kepalaku untuk melihat sosoknya. Aku merangkak menjauh. Tubuhku bergeletar menyingkirkan keberanian. Yang tertinggal hanya perasaan takut. Aku berharap saat itu aku pingsan saja, hilang kesadaran. Agar tak perlu aku melihat wajah mengerikan setan yang saat ini sedang berdiri dibelakangku. Bersiap membawaku menemaninya ke alam kubur.

Tanpa kusadari seisi sekolah memperhatikan tingkahku. Menunjuk-nunjuk kepadaku dan tertawa. Siswi perempuan tertawa cekikikan menutup mulutnya dengan tangan sembari berkumpul dan berbisik satu sama lain melirik ke arahku. Siswa laki-laki tertawa terbahak menunjuk ke arahku. Bahkan ada yang sambil memegang-megang perutnya tak kuasa menahan tawa yang terus berderai.

Tawa setan yang berdiri di belakangku semakin menggelegar. Lalu aku menyadari sesuatu. Tawa setan itu seolah tak asing. Kukumpulkan keberanian yang tadi telah tercerai berai, perlahan aku memutar kepala dan melihat kebelakang. Lalu disanalah kulihat ia berdiri dengan tawanya yang persis sama. Navisah yang tersenyum penuh kemenangan

Malang, 1 September 2011

Editor's Note:



Langsung saja ya saya kasih masukan, katanya suruh kasih masukan hehe
 
Maap, ketika saya mulai membaca di paragraph awal, saya merasa bahwa openingnya terlalu banyak menggambarkan keadaan bahkan mendekati “berlebihan” sehingga saya sebagai pembaca merasa sediti jenuh, ibaratnya kalau dlm sebuah film, ini adalah adegan 1 scene, tapi tuturannya seabrek. Ada juga beberapa kalimat yang saya rasa tidak perlu dipaparkan seperti, 


“Sebagian terangnya diserap hijau dedaunan sebagai katalisator mekanisme fotosintesa. Menghasilkan oksigen bagi seluruh mahluk jagat raya. Disediakan secara cuma-cuma, selagi tetumbuhan belum bersinggungan dengan ideologi kapitalis, sebagai perwujudan ibadahnya kepada Allah Sang Maha Pencipta” 


Nah kalimat di atas sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa dari opening, malah sebagai pembaca saya seperti sedang menyimak perkuliahan biologi botani haha…
 
Untuk berikutnya, adegan demi adegan mulai MOS dan permainan permainannya saya cukup menikmati, saya bias membayangkan bagaimana riuhnya, bahkan di beberapa kalimat saya merasa surpriseada semacam tuturan jenaka yang cukup menghibur seperti


“Ia memiliki rambut panjang dikuncir kuda. Matanya bundar dan semakin bundar terlapis kacamata yang begitu tebal. Kutaksir matanya mungkin sampai minus empat. Hanya ada dua kemungkinan dengan kacamata setebal itu, Yang pertama ia sangat pintar atau yang kedua ia memiliki gangguan kejiwaan. Aku lebih condong pada pendapat yang kedua.”, 


Hanya saja dari segi bahasa saya merasa masih kurang matang. Cukup bisa dinikmati akan tetapi kurang matang. Mungkin Mas Mahbub harus mencari perbandingan dalam novel lain, mulai dari cara tutur adegan dsb.
 
Yang terakhir mengenai judul, “PEMBUNUH BERWAJAH KEKANAKAN”, saya sendiri tak tahu apakah ini judul novel atau judul BAB dalam novel. Tapi jika itu judul sebuah novel, saya merasa judul itu sangat kurang menarik, entah kenapa, mungkin karena, dalam bayangan saya judul itu sedikit sulit di eksplorasi, barangkali kalau pun jadi sebuah novel saya malah membayangkan novel itu akan sangat tipis atau berseri semacam Sherlock Holmes atau Conan, yang berbau detektif gitu.
 
Lagi, mengenai opening, berkaitan dengan judul, saya masih bingung juga, apakah kata “pembunuh berwajah kekanakan” itu cuma sebuah kalimat kiasan, atau memang pembunuh dalam arti sebenarnya: menghilangkan nyawa tokoh lain. Well, barangkali pertanyaan ini akan di jawab setelah novelnya jadi hihihi…
 
Entahlah… itu cuma sedikit telisik saya, apabila ada kata-kata yang kurang berkenan mohon maaf… kita sama-sama belajar…
Mashdar Zainal.

Neko Said:

Setuju banget ama Mashdar. Wis, nggak salah deh si Sensei diserahi mengasuh rubrik DAS Fiction. Komen-komennya tepat sasaran semua. Tadinya Neko juga mengira novel ini tentang pembunuhan yang berdarah-darah, begitu melihat judul. Tapi ternyata kok tentang MOS ya? Atau Mas Mahbub sedang memainkan pikiran pembaca dengan pembuka novel ini ya? Hehehe...ditunggu deh lanjutannya. Berdasarkan komentar dari Mas Mahbub sendiri, Neko juga bisa mengendus aroma-aroma deskripsi ala Laskar Pelangi di sini... Hanya saja...umm kalau di postingan sebelumnya ketika DAS membahas karya Mbak Zie, Neko sempat mengritik karya itu karena kebanyakan dialog dan tidak mengeskplorasi narasi deskripsinya, pembuka novel Mas Mahbub ini justru NGGAK ADA DIALOGNYA!

Hmm...nggak salah juga sih. Toh Mas Mahbub udah cukup lincah dalam mengolah narasinya. Tapi perlu diketahui bahwa fungsi dialog dalam cerita fiksi adalah untuk menghidupkan suasana. Tentunya memang perlu kejelian untuk menempatkan  dialog dan narasi pad porsi yang pas. Karena jika terlalu banyak deskripsi narasi tanpa diimbangi dengan dialog yang lincah dan cerdas, cerita bisa terkesan mati.

Seperti pada adegan ketika si tokoh utama dikejar Navisha, di sana Neko rasa mungkin bisa ditambahi sedikit dialog eksklamasi/kata seru dari Navisha seperti, "Ha! Kau boleh saja terus lari sampai ke ujung dunia, boi! Larilah! Sampai lari ke liang kubur pun, aku tak akan melepaskanmu!"

Lalu si tokoh utama bisa menjerit jengkel, "Dasar gadis gila!"

Well, seperti itu mungkin... Atau dialog lain yang lebih pas dan cocok untuk membangun ketegangan sekaligus kelucuan adegan di atas. 

Neko langsung baca abis ni novel dalam semalam
Neko pernah baca sih satu novel yang hampir full akan narasi, alias minim dialog, tapi anehnya sama sekali nggak membosankan dan justru terasa hidup. Karena narasi deskripsinya sendiri sangat lincah. Buat Neko teknik ini sangat langka sekali. Atau Neko aja yang kurang referensi kali ya. Novel itu adalah novel terjemahan dari Jepang berjudul Botchan.  

Teknik narasi yang digunakan juga persis seperti yang digunakan oleh Mas Mahbub di atas, atau novel Laskar Pelangi, Sudut Pandang Orang Pertama (1st Person POV). Jadi narasinya sendiri menggambarkan isi hati sang tokoh utama. Agaknya teknik narasi memang lebih pas disandingkan dengan 1st Person POV, bukannya 3rd Person POV. Jadinya seperti diari begitu. 

Yah begitu aja deh komen dari Neko. Keep your spirit The Ulhaq! Hehehe. NB: Mbak Zie punya novel di samping kok.
Profil Penulis

Pria asal Palembang ini untuk sementara ini berdomisili di Malang untuk menyelesaikan S1nya di Universitas Brawijaya. Bergabung di FLP Malang melalui jalur Writing School, jadi anggota baru yang eksklusif begitu hehehe... Lelaki penyayang yang sudah memiliki seorang istri muda yang cantik dan dua anak yang imut-imut. 

Merupakan sosok yang sangat serius dan konsisten dalam mempelajari ilmu kepenulisan. Neko kebetulan satu tim dengan Mas Mahbub dalam proyek novel estafet dan untuk saat ini, beliau memegang rekor sebagai anggota tercepat yang memenuhi target 5 halaman untuk seminggu (hiyaaa ketahuan deh kalo yg lain suka molor)
Simak tulisan-tulisannya yang tidak kalah renyah dengan tulisan di atas dalam blognya: http://ruangmahbub.multiply.com/ dan http://www.babusekaki.blogspot.com/


(DAS COMPARATED FICTIONS) KUCING KEHUJANAN (Cat In The Rain), Ernest Hemingway

Pendahuluan...

Hehehe...masih nyambung dengan postingan cerpen karya Vega El-Vaza kemarin yang berjudul Kota yang Dijanjikan


Ada tanggapan yang sangat menarik dari Pak Rahadi Widodo, salah satu anggota Divisi Pengembangan Karya terkait pertemuan minggu lalu. Berikut kata-kata beliau yang Neko kopas langsung dari FB Group FLP Malang 2012.


"Kemarin Mbak Puput bilang bahwa teman-teman perlu ada materi tentang penyusunan dialog dalam sebuah cerita, karena sudah dua kali sharing karya di UIN selalu menampilkan karya yang isinya narasi melulu, miskin dialog. 

Nah, sebagai pendahuluan untuk materi tersebut, berikut saya tampilkan contoh cerpen yang kaya dialog, salah satu ciri khas dari Ernest Hemingway, penulisnya. Judulnya Cat in The Rain. Silakan membacanya dulu, besok saya akan membahasnya sebagai pembanding terhadap cerpen Mbak Vega, Kota yang Dijanjikan. Cocok karena sama-sama pendek, hanya 4 halaman A4, dan sama-sama berpusar di sekitar perasaan (wanita), tapi ditulis dengan gaya yang berbeda.

Karya ini juga sebagai alternatif bagi teman-teman FLP yang sudah tertular virus-virus Mashdar Zainal, Ai El Afif, maupun Muhammad Hafidz Mubarok yang sedang merajai saat ini (hi hi... sorry). Sebuah karya cerita tanpa gaya bahasa puitis, tanpa metafora, tanpa diksi yang muluk-muluk, tapi tetap "terasa" di hati."


Wow...tanggapan seperti ini nih yang diharapkan oleh Divisi Apresiasi Sastra. Menyenangkan ketika pembahasan satu karya (Kota yang Menjanjikan) dapat berujung pada diskusi-diskusi lebih mendalam seputar dunia sastra. Dalam sastra memang ada metode membandingkan dua karya atau lebih yang memiliki beberapa kesamaan yang menarik untuk diamati (metode komparasi). Usulan Pak Rahadian untuk membandingkan gaya penulisan puitis nan minim dialog Mbak Vega dengan gaya penulisan Ernest Hemmingway yang cenderung lugas dan kaya dialog, jelas usulan yang hebat. Aye suka gaya Bapak!  Heheheh....

Kebetulan Neko sendiri termasuk jenis penulis yang lebih suka main dialog ketimbang narasi. Well...seperti apa sih karya salah satu penulis terkemuka itu yang akan dijadikan studi komparasi kali ini? Let's check it out!

Cat In The Rain
Ernest Hemingway



Sepasang suami istri Amerika singgah di hotel itu. Mereka tidak mengenal orang orang yang lalu lalang dan berpapasan sepanjang tangga yang mereka lewati pulang pergi ke kamar mereka. Kamar mereka terletak di lantai kedua menghadap laut. Juga menghadap ke taman rakyat dan monumen perang. Ada pohon palm besar besar dan pepohonan hijau lainnya di taman rakyat itu. Dalam cuaca yang baik biasanya ada seorang pelukis bersama papan lukisnya. Para pelukis menyukai pepohonan palm itu dan warna warna cerah dari hotel hotel yang menghadap ke taman taman dan laut.

Di depan monumen perang tampak iring iringan wisatawan Italia membentuk barisan membujur untuk menyaksikan monumen itu. Monumen yang tampak kemerahan dan berkilauan di bawah guyuran hujan. Saat itu sedang hujan. Air hujan menetes dari pohon pohon palm tadi. Air berkumpul memben¬tuk genangan di jalan berkerikil. Ombak bergulung gulung membuat garis panjang dan memecah di tepi pantai. Beberapa sepeda motor keluar dari halaman monumen. Di seberang halaman, pada pintu  masuk sebuah kedai minum, berdiri seorang pelayan memandang ke halaman yang kini kosong.

Si Istri Amerika tadi berdiri di depan jendela memandang keluar. Di sebelah kanan luar jendela mereka ada seekor kucing yang sedang meringkuk di bawah tetesan air yang jatuh dari sebuah meja hijau. Kucing tadi berusaha menggulung tubuhnya rapat rapat agar tidak ketetesan air.

“Aku akan turun ke bawah dan mengambil kucing itu,” ujar Si Istri.

“Biar aku yang melakukannya untukmu,” kata  suaminya  dari tempat tidur.

“Tidak, biar aku saja yang mengambilnya. Kasihan, kucing malang itu berusaha mengeringkan tubuhnya di bawah sebuah meja.”

Si suami meneruskan bacaannya sambil berbaring bertelekan di atas dua buah bantal pada kaki ranjang.

“Jangan berbasah basah!” Ia memperingatkan.

Si Istri turun ke bawah dan Si Pemilik Hotel segera berdiri memberi hormat kepadanya begitu wanita tadi melewati kantornya. Mejanya terletak jauh di ujung kantor. Ia seorang laki laki tua dan sangat tinggi.

Il piove,” ujar Si Istri. Ia menyukai pemilik hotel itu.

Si, si, Signora, brutto tempo. Cuaca sangat buruk.”

Ia berdiri di belakang mejanya yang jauh di ujung ruangan suram itu. Si Istri menyukai pria itu. Ia suka caranya dalam memberi perhatian kepada para tamu. Ia suka pada penampilan dan sikapnya. Ia suka cara pria tadi dalam melayaninya. Ia suka bagaimana pria itu menetapi profesi¬nya sebagai seorang pemilik hotel. Ia pun menyukai ketuaannya, wajahnya yang keras, dan kedua belah tangannya yang besar besar.

Dengan memendam perasaan suka kepada pria itu di dalam hatinya, Si  Istri membuka pintu dan menengok keluar. Saat itu hujan semakin deras. Seorang laki laki yang memakai mantel karet tanpa lengan menyeberang melewati halaman kosong tadi menuju ke kedai minum. Kucing itu mestinya ada di sebelah kanan. Mungkin hewan itu tadi berjalan di bawah atap atap. Ketika Si Istri masih termangu di pintu masuk, seseorang membukakan payung di belakangnya. Ternyata orang itu adalah pelayan wanita yang mengurusi kamar mereka.

“Anda jangan berbasah basah.” Wanita itu tersenyum, berbicara dalam bahasa Itali. Tentu pemilik hotel tadi yang menyuruhnya.

Bersama pelayan wanita yang memayunginya, Si Istri berjalan menyusuri jalan berkerikil hingga akhirnya berada di bawah jendela kamar mereka. Meja itu terletak di sana, tercuci hijau cerah oleh air hujan, tapi kucing tadi sudah lenyap. Tiba tiba ia merasa kecewa. Si pelayan wanita memandanginya.

“Ha perduto qualque cosa, Signora?”

“Tadi ada seekor kucing,” jawab Si Istri.

“Seekor kucing?”

“Si, il gatto.”

“Seekor kucing?” Pelayan wanita tadi tertawa. “Seekor kucing di bawah guyuran hujan?”

“Ya,” jawabnya. “Di bawah meja itu....” Lalu, “Oh, aku sangat menginginkannya. Aku ingin memiliki seekor kucing.”

Ketika wanita itu berbicara dalam bahasa Inggris, wajah si pelayan menegang.

“Mari, Signora,” katanya. “Kita harus segera kembali ke dalam. Anda akan basah nanti.”

“Mungkin juga,” jawab wanita Amerika itu.

Mereka kembali melewati jalan berkerikil dan masuk melalui pintu. Si pelayan berdiri di luar untuk menutup payung. Begitu si istri lewat di depan kantor, pemilik hotel memberi hormat dari mejanya. Ada semacam perasaan sangat kecil dalam diri wanita itu. Pria tadi membuatnya menjadi sangat kecil dan pada saat yang sama juga membuatnya merasa menjadi sangat penting. Untuk saat itu si istri merasakan bahwa seolah olah dirinya menjadi begitu pentingnya. Ia menaiki tangga. Lalu membuka pintu kamar. George masih asyik membaca di atas ranjang.

“Apakah kau dapatkan kucing itu?” tanyanya sambil meletakkan buku.

“Ia lenyap.”

“Kira kira tahu kemana perginya?” tanya Si Suami sambil memejamkan mata.

Si Istri duduk di atas ranjang.

“Aku sangat menginginkannya,” ujarnya. “Aku tidak tahu mengapa aku begitu menginginkannya. Aku ingin kucing malang itu. Sungguh tidak enak menjadi seekor kucing yang malang dan kehujanan di luar sana.”

George meneruskan membaca.

Si Istri beranjak dan duduk di muka cermin pada meja hias, memandangi dirinya dengan sebuah cermin lain di tangannya. Ia menelusuri raut wajahnya, dari satu bagian ke bagian lain. Kemudian ia menelusuri kepala bagian belakang sampai ke lehernya.

“Menurutmu bagaimana kalau rambutku dibiarkan panjang?” tanyanya sambil menelusuri raut wajahnya kembali.

George mendongak dan memandang kuduk istrinya dari belakang, rambutnya terpotong pendek seperti laki laki.

“Aku suka seperti itu.”

“Aku sudah bosan begini,” kata Si Istri. “Aku  bosan kelihatan seperti laki laki.”

George menaikkan tubuhnya. Ia terus memandangi istrinya semenjak wanita itu mulai berbicara tadi.

“Kau cantik dan bertambah manis,” pujinya. Si istri meletakkan cermin kecil dari tangannya dan berjalan menuju jendela, memandang keluar. Hari mulai gelap.

“Aku ingin rambutku tebal dan panjang agar bisa dikepang,” katanya. “Aku ingin seekor kucing duduk dalam pangkuanku dan mengeong waktu kubelai.”

“Yeah?” komentar George dari ranjangnya.

“Dan aku ingin makan di atas meja dengan piring perakku sendiri dan ada lilin lilin. Kemudian aku ingin mengurai rambutku lalu menyisirnya di muka cermin, dan aku ingin seekor kucing, dan aku ingin baju baju baru.”

“Ah, sudahlah. Ambillah bacaan,” tukas George. Lalu ia meneruskan membaca lagi.

Istrinya memandang keluar lewat jendela. Semakin gelap sekarang dan dari pohon pohon palm masih jatuh tetesan tetesan air.

“Baiklah, aku ingin seekor kucing,” ujar istrinya. “Aku ingin seekor kucing. Saat ini aku ingin seekor kucing. Seandainya aku tidak bisa memiliki rambut yang pan¬jang atau kesenangan lainnya, aku punya seekor kucing.”

George tak peduli. Ia membaca bukunya. Si istri memandang keluar lewat jendela di mana lampu telah menyala di halaman.

Seseorang mengetuk pintu.

“Avanti,” kata George. Ia mendongak.

Di pintu masuk berdiri si pelayan wanita. Ia membawa sebuah boneka kucing dari kulit kura kura dan mengulurkannya pada Si Istri.

“Permisi,” sapanya. “Pemilik hotel mengutus saya menyerahkan boneka ini kepada Nyonya.”

Tamat


ERNEST HEMINGWAY lahir di Illionis pada tahun 1898. Semula ia menjadi sukarelawan sopir ambulans pada masa Perang Dunia I. Sebagai seorang perantauan di Paris, ia meraih sukses pertama kali dengan ceritanya In Our Time. Di antara novel novelnya adalah The Sun Also Rises dan A Farewell to Arms. Ia meninggal pada tahun 1961. 



Judul asli cerita ini Cat In The Rain, diambil dari buku Ernest Hemingway Short Stories hal 265 268. Alih bahasa oleh Syafruddin Hasani (dengan sedikit editan dari Rahadi W.)


Catatan Penutup

Gimana cerpennya? Asyik kan? Cerita-cerita yang menggambarkan gejolak hati maupun kegalauan perempuan pasti menarik (teeheeheee :p)... Apalagi jika ditulis oleh penulis sekaliber Ernest Hemingway. Kalau Readers pingin tahu lebih banyak lagi soal pembahasan makna cerpen ini, coba cek wikipedia "Cat In The Rain". Kalian juga bisa datang ke pertemuan FLP Malang Minggu besok, 29 September 2013, untuk membahas cerpen di atas bersama kami.

Ja Ne... =D


Sub Divisi Kritik Sastra

Related Links:



(DAS FICTION): Dalam Sebuah Kereta

Dalam sebuah kereta kami bertemu. Kami duduk berhadap-hadapan. Canggung pada awalnya. Kemudian kami saling sapa. Ia menyapa. Aku menyapa. Dari sungging senyum dan cara memandang, aku menyimpulkan bahwa ia pemuda baik-baik. Setelah bertegur sapa, kami terlibat dalam perbincangan ringan. Kami membuka percakapan dengan pertanyaan yang sama ‘Anda hendak kemana’. Bergilir, kami saling jawab. Aku hendak ke Kota Cinta, ia pun hendak ke Kota Cinta. Sama. Kota itu memang selalu ramai didatangi muda-mudi tiap detiknya. Hanya, seperti aku, ia berbeda. Ia sendiri saja.

Lepas percakapan pembuka, kami menyentuh percakapan berikutnya, tentang ‘Anda berasal dari mana’. Bergilir, kami saling jawab. Aku dari Kota Perawan. Dan ia dari Kota Bujang. Pertanyaan dan jawaban yang sama-sama singkat. Kami pun melanjutkan ke perbincangan berikutnya. Perbincangan yang lebih cair. Kami berbincang tentang kesukaan. Aku suka nonton film. Ia punya jadwal ke bioskop paling tidak seminggu sekali. Aku suka film india. Ia juga suka film india. Aku terkagum-kagum dengan Shahrukh Khan. Ia terpesona mati-matian dengan Preity Zinta. Aku suka membaca novel. Ia juga suka membaca novel. Aku suka Marquez dengan ‘Seratus Tahun Kesunyian’nya. Ia suka Hemingway dengan ‘Lelaki Tua dan Laut’nya.

“Berarti kita sama-sama suka kesunyian,” celetuknya.

Aku tersenyum, mengimbanginya.

“Kau tahu, ternyata kita punya banyak kesamaan,” sambungnya lagi.

“Hampir semua, dan ini seperti sebuah kebetulan,” akhirnya aku mengeluarkan suara.

“Ngomong-ngomong, pernah nonton Paris Je T’aime?”

“Hmm, Paris I Love You, tentang romantisme di kota-kota kecil?”

“Yaps, di antara delapan belas kisah cinta, mana yang paling kau suka?”

“Kalau kau?”

“Kau saja yang jawab dulu.”

“Kau saja.”

“Apa kau yakin, kali ini pendapat kita akan sama?”

“Kita lihat saja.”

“Setelah aku mengatakannya, kau harus janji, kau juga akan mengatakannya. Dengan jujur. Tidak boleh mengekor.”

“Apa aku tampak seperti pembohong dan pengekor?”

“Sedikit.” Ia mengedipkan sebelah matanya, “tidak. Aku hanya bercanda.”

“Ayolah!”

“Baik, aku paling suka kisah cinta tentang seorang badut yang kesepian.”

“Biar kulanjutkan. Kisah badut yang ingin menghibur kesendiriannya dengan lelucon-lecucon yang aneh.”

“Itu pantomim, bukan lelucon yang aneh.”

“Ah, tak ada bedanya. Pantomim memang lelucon yang aneh.”

“Menurutku tidak aneh, justru magis.”

“Magis apanya? Konyol iya.”

“Kok malah jadi bahas pantomim.”

“Kita kan memang sedang membahas kisah cinta si badut pantomim.”

“So?”

“Kita lanjutkan bagaimana ceritanya.”

“Baik, baik, sekarang biar aku yang melanjutkan. Badut yang kesepian itu selalu dianggap sebagai pecundang yang selalu mengganggu privasi orang dengan aksi-aksinya yang aneh seperti katamu.”

“Hingga akhirnya, polisi menangkap dan memenjarakannya.”

“Dan rupanya, penjara itulah anugerah terbesar dalam hidupnya.”

“Ya, karena di sanalah ia menemukan cinta sejatinya, si badut wanita yang juga tampak kesepian.”

“Dan akhirnya, mereka bahagia… Selamanya.”

“Iiih... Seperti dongeng Cinderela saja.”

“Memang Happy ending, kan?” ia mencoba meyakinkan.

“Ya, ya, ya…” terpaksa aku mengiyakan.

“Sebentar, sebentar, apa kau ingin mengatakkan bahwa kisah itulah yang paling kau suka di antara delapan belas kisah yang ada dalam Paris Je T’aime?”

“Apa boleh buat.”

“Kita memang berjodoh.”

“Apa?”

“Maksudku, kita memang punya banyak kesamaan.”

Kami saling diam. Menyelami hati masing-masing. Hingga peluit kereta meraung panjang: Sebentar lagi kereta akan sampai di Stasiun Kota Cinta. Periksa kembali barang bawaan Anda, jangan sampai ada yang tertinggal.

“Sepertinya kita akan berpisah,” ungkapnya seperti tidak rela.

“Semoga, lain waktu, kita dipertemukan lagi,” ungkapku sama, tidak rela.

“Apa kau tidak ingin kita bertukar nomor telepon atau semacamnya?” ia melirihkan suara, tidak yakin dengan yang dikatakannya.

“Boleh, boleh,” aku turut gugup.

Ia menyerahkan kertas kecil bertuliskan sederet angka. Aku menyerahkan kartu nama. Aku tersenyum dan berterima kasih. Ia melakukan hal yang sama. Aku menatapnya. Ia menatapku. Diselingi anggukan ringan. Senang sekali bisa berjumpa denganmu, begitu artinya. Aku terpana. Aku tidak menyadari, bahwa diam-diam ia telah melakukan sesuatu padaku, mungkin semacam hipnotis.

Akhirnya kami pun turun dari kereta melewati pintu yang sama. Kami tersenyum dan menganggukan kepala sekali lagi, sebelum akhirnya berpisah. Dia melangkan ke utara. Aku melangkah ke selatan. Kali ini langkah kami berbeda.

Tiba tiba aku menyesal, seharusnya dalam perbincangan kami tadi, aku menanyakan, untuk apa ia datang sendiri ke kota ini. Bukankah seharusnya ia datang bersama seseorang. Karena kota ini Kota Cinta. Kota yang harus didatangi berdua. Ah, aku tahu jawabannya. Bukankah aku datang ke kota ini juga seorang diri? Ah tidak, aku ke sini tidak seorang diri. Aku datang ke kota ini dengan sebentuk hati dan harapan-harapan. Aku yakin, ia pun sama.

***

Peluit meraung lagi. Kereta melaju pergi. Sosok pemuda itu telah hilang ditelan lalu lalang orang. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu, bahwa saku di ulu hatiku terasa ringan, terasa kosong. Ya Tuhan, hatiku tidak ada di tempatnya, hatiku telah hilang. Kugeledah tas dan saku-saku baju, juga celana, tapi tetap saja, hatiku tak ada di sana. Tidak. Hanya itu satu-satunya barang paling berharga yang masih kumiliki. Dan kini raib. Apa mungkin tertinggal di kereta? Ah tidak mungkin. Aku selalu menjaganya dengan baik. Aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja. Tapi ia benar-benar tidak ada. Hilang. Mungkin terjatuh? Atau tertinggal di suatu tempat? Atau, jangan-jangan, seseorang telah mencurinya? Oh tidak, ini alamat buruk.

Aku harus duduk. Aku harus tenang. Kuputar ulang semua kegiatan yang kulakukan mulai dari bangun tidur, mandi, berdandan, sarapan, berangkat ke stasiun, bertemu pemuda yang tampak baik-baik saja dan berbincang panjang dengannya. Aha! Itu dia! Aku yakin, hatiku terjatuh dari tempatnya, ketika bertemu pemuda itu. Pasti pemuda itu yang mengambil hatiku. Dan tanpa izin. Ah, tapi belum tentu juga. Aku tidak boleh berburuk sangka.

Aku masih belum percaya. Kembali kugeledah tas, saku baju, saku celana, juga sebuah saku yang tersemat di ulu dada. Dan di sana—di saku yang tersemat di ulu dada—aku menemukan sesuatu yang bukan milikku. Aku menemukan hati seseorang telah terselip, tertinggal di sana. Tempat di mana seharusnya hatiku berada. Tidaaak! Jangan-jangan hati kami tertukar.

Aku kembali mengacak tas dan saku, mencari kertas kecil berisi sederet angka. Aku harus segera menghubunginya, sebelum hatiku dibawanya terlalu jauh. Di mana kertas itu? Di mana nomor itu? Di mana? Ini dia. Kupencet tombol-tombol angka dengan jemari yang gelisah. Call. Oke.

Tuuuut… tuuut… tuuut…

“Halo?”

“Ya, halo? Siapa?”

“Ini aku, yang tadi di kereta. Halo? Kau masih ingat?”

“Ya. Bagaimana aku bisa lupa. Kau percaya? Baru saja aku mau menghubungimu, dan kau sudah menghubungiku lebih dulu. Kita memang berjodoh.”

“Ha, apa?”

“Ah, lupakan saja. Jadi, apa kau menelponku untuk menanyakan hatimu yang hilang?”

“Ya.”

“Tenang saja. Hatimu aman.”

“Bagaimana kau tahu hatiku aman?”

“Hatimu ada padaku. Aku berjanji akan menjaganya hingga kau mengambilnya kembali. Dan hatiku ada padamu, bukan? Aku yakin. Barangkali hati kita tak sengaja tertukar waktu kita berbincang-bincang di kereta tadi.”

“Lalu, kapan kita bisa ketemu?”

“Bagaimana kalau minggu depan?”

“Apa tidak bisa lebih cepat?”

“Tenang saja. Aku berjanji, hatimu akan aman padaku.”

“Baiklah. Di mana?”

“Di Stasiun Kota Cinta.”

“Ya. Oke.”

“Hei, tunggu,”

“Ya?”

“Jangan lupa, kau bawa hatiku juga, kau juga harus berjanji akan menjaganya dengan baik sampai minggu depan.”

“Tenang saja, kalau kau menjaga hatiku dengan baik, pasti aku akan menjaga hatimu dengan baik. Bukankah kita punya banyak kesamaan?”

“Baik, kalau begitu sampai bertemu minggu depan.”

“Ya.”

Dan klik. Suara di seberang terputus. Jemariku gemetar. Aku memutuskan pulang ke Kota Perawan dengan sebuah kehilangan.

***

Kau tahu rasanya, selalu gelisah, ini gelisah, itu gelisah, makan gelisah, tidur gelisah, semua amal dikawal gelisah. Satu jam bagai sehari, dan sehari bagai seminggu, dan seminggu bagai sebulan. Bukankah itu artinya…

Aku yakin, ini tersebab oleh hati yang tertukar itu. Karena yang kusimpan di saku dadaku adalah hatinya, maka hanya ia yang ada dalam kepalaku, dalam diriku. Aku yakin, dia mersakan hal yang sama, karena dia juga membawa hatiku di saku dadanya. Benar-benar tidak nyaman jika hati kita berada dalam genggaman seseorang.

Menunggu seminggu bagai sebulan. Barangkali bukan masalah jika aku tidak membawa hatinya, atau ia tidak membawa hatiku. Ya Tuhan, satu jam bagai sehari, sehari bagai seminggu, seminggu bagai sebulan. Waktu yang sangat lama untuk urusan hati. Dan anehnya, dalam jangka waktu sebulan, maksudku seminggu, aku benar-benar tidak berani menghubunginya. Selalu gugup dan berdegup-degup.

Ayolah! Seminggu bukan sebulan. Seminggu bukan waktu yang lama.

***

Lega sekali, sebulan telah berlalu, maksudku seminggu. Kami akan segera bertemu di Stasiun Kota Cinta. Kami akan mengembalikan hati kami masing-masing kepada pemiliknya. Dan kami tak perlu lagi dilanda gelisah. Aneh bukan? Aku mempersiapkan diriku dengan sangat sempurna untuk sebuah pertemuan, pertemuan yang tiba-tiba terasa sangat istimewa. Aku berangkat ke Stasiun Kota Cinta dengan gugup yang berdegup-degup.

Di sebuah bangku panjang, di kursi tunggu penumpang, ia duduk seorang diri. Dari jauh aku tersenyum. Ia pun tersenyum. Sungguh, aku tak pernah melihat pesona serupa itu, bahkan tidak pada Shahrukh Khan, artis idolaku. Aku semakin gugup. Apa ia juga gugup?

“Hai, maaf, sudah membuatmu menunggu,” basa-basi yang terdengar, lagi-lagi, gugup.

“Tidak. Maaf, sudah membuatmu jauh-jauh datang ke tempat ini.”

“Kau tidak lupa membawa hatiku, kan?”

“Ouh, tentu. Ini hatimu. Kukembalikan. Semoga tidak ada yang cidera atau luka.” Ia mengembalikannya lewat tatapan. Aku menerimanya lewat tatapan.

“Dan ini hatimu! Aku juga sudah berusaha untuk merawatnya dengan baik. Semoga tidak ada yang rusak atau koyak.” Aku mengembalikannya, tetap lewat tatapan. Ia pun menerimanya, masih lewat tatapan.

“Terima kasih.”

“Tidak. Terima kasih.”

Aku lega hatiku kembali. Aku diam. Ia diam. Kami sama-sama diam. Kehilangan bahan perbincangan.

“Apa kau terburu-buru?” suaranya membuatku terantuk.

“Tidak. Tapi, maaf, aku tak bisa berlama-lama.”

“Apa kau takut, hati kita akan tertukar lagi?”

“Tidak. Aku hanya merasa tidak enak jika harus membawa hati seseorang.”

“Baiklah. Tapi, jika suatu saat kau butuh seseorang untuk menjaga hatimu, kau bisa menghubungiku,” ia beranjak dari duduknya. Membungkukkan badan selintas. Dan mengucapkan salam perpisahan. “Semoga, di lain waktu, kita bertemu lagi.”

Hatiku telah kembali. Tapi mulutku bisu. Ia seperti membawa pergi pita suaraku. Aneh, hatiku sudah kembali, tapi gugup yang berdegup-degup itu tak juga hilang. Aku memutuskan pulang, kali ini berteman kehilangan yang lain, kehilangan yang terasa jalang. Sampai di rumah, dengan lemas kutengok kembali saku di ulu dadaku. Aku hampir tak percaya, yang tersemat di sana bukan hatiku, tapi hatinya. Hati kami tertukar lagi, untuk kedua kalinya.***




Madiun, 30 Juni 2011