SHARING KARYA: ADA APRESIASI DAN KRITIK NYATA


Pernah gak, menyodorkan karya ke orang lain, berharap diberi kritik membangun, tapi cuma dapat sirik? Atau, hanya dijawab ada yang kurang tapi tidak tahu di mana.
Banyak juga yang sungkan mengkritik karena belum pernah menulis. Atau, kita hanya dihujani puji-pujian, lebih parah lagi cuma kata mantaaappp, siippp, lanjutkaannn, de el el.  

Nah, FLP Malang punya program nih yang bisa menjawab semua masalah itu, yaitu sharing karya. Program ini sudah diterapkan FLP Malang selama lebih dari empat tahun bahkan kemudian menjadi agenda mingguan. Melalui program ini, sebuah karya diapresiasi dan dikritik. Seluruh peserta membaca karya yang di-share kemudian memberi komentar. Karya dievaluasi oleh anggota yang sudah berpengalaman, bahkan ada akademisi sastra dan penulis nasional juga lho. Jadi, karya tidak hanya dievaluasi dari kaca mata pembaca tetapi juga teknik kepenulisan.

Sebagai pembuat karya, kita jadi tahu celah karya kita. Jika ada kekurangan maka evaluator mendeteksi bagian yang terinfeksi, apakah keberhasilan membangun ‘efek setan’, rasa bahasa, logika cerita, efektivitas dialog, dan lainnya. Evaluator juga memberi tips-tips sesuai hasil evaluasinya.

Program sharing karya bukan ajang tabur pujian gombal, bukan pula pembunuh semangat. Apresiasi disampaikan apa adanya, kritik difokuskan pada karya. Semua itu dilakukan sesuai dengan tujuannya, yang disampaikan oleh Muhammad Hafidz Mubarok, Ketua Divisi Pembakardiriku* FLP Malang, yaitu “menjadi cambuk penyemangat untuk mematangkan tulisan”.

So, aspek apa saja sih yang harus dievaluasi dari karya kita? Bagaimana apresiasi dan kritik yang membangun? Temukan jawabannya di sharing karya, Writing Camp FLP Malang 2014.

*Pengembangan Karya dan Kaderisasi Kurikulum

WRITING CAMP: SEBUAH PILIHAN MENUJU SUKSES



Writing Camp ialah pesta bagi mereka yang ingin berkarir dalam menulis. Pada Writing Camp FLP Malang 2014, kami persembahkan program kepenulisan yang tidak hanya mencakup teori tetapi juga praktik. Peserta dipersilakan ‘mengeksploitasi’ ilmu baik fiksi maupun nonfiksi dari para pemateri yang sudah berpengalaman dan berprestasi. Peserta juga disuguhi bonus ilmu pendukung seperti evaluasi karya berkelompok (sharing karya), penerbitan, dan bedah film. Kami persembahkan pula terapis demi menjebol masalah mood dan pesimistis peserta. Dengan demikian, Writing Camp FLP Malang 2014 menjadi program komprehensif untuk mencetak penulis sukses. Writing Camp FLP Malang akan dilaksanakan pada 7 – 8 Juni 2014, di Villa Hidayatullah, Kota Batu.

(DAS FICTION): Dalam Sebuah Kereta

Dalam sebuah kereta kami bertemu. Kami duduk berhadap-hadapan. Canggung pada awalnya. Kemudian kami saling sapa. Ia menyapa. Aku menyapa. Dari sungging senyum dan cara memandang, aku menyimpulkan bahwa ia pemuda baik-baik. Setelah bertegur sapa, kami terlibat dalam perbincangan ringan. Kami membuka percakapan dengan pertanyaan yang sama ‘Anda hendak kemana’. Bergilir, kami saling jawab. Aku hendak ke Kota Cinta, ia pun hendak ke Kota Cinta. Sama. Kota itu memang selalu ramai didatangi muda-mudi tiap detiknya. Hanya, seperti aku, ia berbeda. Ia sendiri saja.

Lepas percakapan pembuka, kami menyentuh percakapan berikutnya, tentang ‘Anda berasal dari mana’. Bergilir, kami saling jawab. Aku dari Kota Perawan. Dan ia dari Kota Bujang. Pertanyaan dan jawaban yang sama-sama singkat. Kami pun melanjutkan ke perbincangan berikutnya. Perbincangan yang lebih cair. Kami berbincang tentang kesukaan. Aku suka nonton film. Ia punya jadwal ke bioskop paling tidak seminggu sekali. Aku suka film india. Ia juga suka film india. Aku terkagum-kagum dengan Shahrukh Khan. Ia terpesona mati-matian dengan Preity Zinta. Aku suka membaca novel. Ia juga suka membaca novel. Aku suka Marquez dengan ‘Seratus Tahun Kesunyian’nya. Ia suka Hemingway dengan ‘Lelaki Tua dan Laut’nya.

“Berarti kita sama-sama suka kesunyian,” celetuknya.

Aku tersenyum, mengimbanginya.

“Kau tahu, ternyata kita punya banyak kesamaan,” sambungnya lagi.

“Hampir semua, dan ini seperti sebuah kebetulan,” akhirnya aku mengeluarkan suara.

“Ngomong-ngomong, pernah nonton Paris Je T’aime?”

“Hmm, Paris I Love You, tentang romantisme di kota-kota kecil?”

“Yaps, di antara delapan belas kisah cinta, mana yang paling kau suka?”

“Kalau kau?”

“Kau saja yang jawab dulu.”

“Kau saja.”

“Apa kau yakin, kali ini pendapat kita akan sama?”

“Kita lihat saja.”

“Setelah aku mengatakannya, kau harus janji, kau juga akan mengatakannya. Dengan jujur. Tidak boleh mengekor.”

“Apa aku tampak seperti pembohong dan pengekor?”

“Sedikit.” Ia mengedipkan sebelah matanya, “tidak. Aku hanya bercanda.”

“Ayolah!”

“Baik, aku paling suka kisah cinta tentang seorang badut yang kesepian.”

“Biar kulanjutkan. Kisah badut yang ingin menghibur kesendiriannya dengan lelucon-lecucon yang aneh.”

“Itu pantomim, bukan lelucon yang aneh.”

“Ah, tak ada bedanya. Pantomim memang lelucon yang aneh.”

“Menurutku tidak aneh, justru magis.”

“Magis apanya? Konyol iya.”

“Kok malah jadi bahas pantomim.”

“Kita kan memang sedang membahas kisah cinta si badut pantomim.”

“So?”

“Kita lanjutkan bagaimana ceritanya.”

“Baik, baik, sekarang biar aku yang melanjutkan. Badut yang kesepian itu selalu dianggap sebagai pecundang yang selalu mengganggu privasi orang dengan aksi-aksinya yang aneh seperti katamu.”

“Hingga akhirnya, polisi menangkap dan memenjarakannya.”

“Dan rupanya, penjara itulah anugerah terbesar dalam hidupnya.”

“Ya, karena di sanalah ia menemukan cinta sejatinya, si badut wanita yang juga tampak kesepian.”

“Dan akhirnya, mereka bahagia… Selamanya.”

“Iiih... Seperti dongeng Cinderela saja.”

“Memang Happy ending, kan?” ia mencoba meyakinkan.

“Ya, ya, ya…” terpaksa aku mengiyakan.

“Sebentar, sebentar, apa kau ingin mengatakkan bahwa kisah itulah yang paling kau suka di antara delapan belas kisah yang ada dalam Paris Je T’aime?”

“Apa boleh buat.”

“Kita memang berjodoh.”

“Apa?”

“Maksudku, kita memang punya banyak kesamaan.”

Kami saling diam. Menyelami hati masing-masing. Hingga peluit kereta meraung panjang: Sebentar lagi kereta akan sampai di Stasiun Kota Cinta. Periksa kembali barang bawaan Anda, jangan sampai ada yang tertinggal.

“Sepertinya kita akan berpisah,” ungkapnya seperti tidak rela.

“Semoga, lain waktu, kita dipertemukan lagi,” ungkapku sama, tidak rela.

“Apa kau tidak ingin kita bertukar nomor telepon atau semacamnya?” ia melirihkan suara, tidak yakin dengan yang dikatakannya.

“Boleh, boleh,” aku turut gugup.

Ia menyerahkan kertas kecil bertuliskan sederet angka. Aku menyerahkan kartu nama. Aku tersenyum dan berterima kasih. Ia melakukan hal yang sama. Aku menatapnya. Ia menatapku. Diselingi anggukan ringan. Senang sekali bisa berjumpa denganmu, begitu artinya. Aku terpana. Aku tidak menyadari, bahwa diam-diam ia telah melakukan sesuatu padaku, mungkin semacam hipnotis.

Akhirnya kami pun turun dari kereta melewati pintu yang sama. Kami tersenyum dan menganggukan kepala sekali lagi, sebelum akhirnya berpisah. Dia melangkan ke utara. Aku melangkah ke selatan. Kali ini langkah kami berbeda.

Tiba tiba aku menyesal, seharusnya dalam perbincangan kami tadi, aku menanyakan, untuk apa ia datang sendiri ke kota ini. Bukankah seharusnya ia datang bersama seseorang. Karena kota ini Kota Cinta. Kota yang harus didatangi berdua. Ah, aku tahu jawabannya. Bukankah aku datang ke kota ini juga seorang diri? Ah tidak, aku ke sini tidak seorang diri. Aku datang ke kota ini dengan sebentuk hati dan harapan-harapan. Aku yakin, ia pun sama.

***

Peluit meraung lagi. Kereta melaju pergi. Sosok pemuda itu telah hilang ditelan lalu lalang orang. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu, bahwa saku di ulu hatiku terasa ringan, terasa kosong. Ya Tuhan, hatiku tidak ada di tempatnya, hatiku telah hilang. Kugeledah tas dan saku-saku baju, juga celana, tapi tetap saja, hatiku tak ada di sana. Tidak. Hanya itu satu-satunya barang paling berharga yang masih kumiliki. Dan kini raib. Apa mungkin tertinggal di kereta? Ah tidak mungkin. Aku selalu menjaganya dengan baik. Aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja. Tapi ia benar-benar tidak ada. Hilang. Mungkin terjatuh? Atau tertinggal di suatu tempat? Atau, jangan-jangan, seseorang telah mencurinya? Oh tidak, ini alamat buruk.

Aku harus duduk. Aku harus tenang. Kuputar ulang semua kegiatan yang kulakukan mulai dari bangun tidur, mandi, berdandan, sarapan, berangkat ke stasiun, bertemu pemuda yang tampak baik-baik saja dan berbincang panjang dengannya. Aha! Itu dia! Aku yakin, hatiku terjatuh dari tempatnya, ketika bertemu pemuda itu. Pasti pemuda itu yang mengambil hatiku. Dan tanpa izin. Ah, tapi belum tentu juga. Aku tidak boleh berburuk sangka.

Aku masih belum percaya. Kembali kugeledah tas, saku baju, saku celana, juga sebuah saku yang tersemat di ulu dada. Dan di sana—di saku yang tersemat di ulu dada—aku menemukan sesuatu yang bukan milikku. Aku menemukan hati seseorang telah terselip, tertinggal di sana. Tempat di mana seharusnya hatiku berada. Tidaaak! Jangan-jangan hati kami tertukar.

Aku kembali mengacak tas dan saku, mencari kertas kecil berisi sederet angka. Aku harus segera menghubunginya, sebelum hatiku dibawanya terlalu jauh. Di mana kertas itu? Di mana nomor itu? Di mana? Ini dia. Kupencet tombol-tombol angka dengan jemari yang gelisah. Call. Oke.

Tuuuut… tuuut… tuuut…

“Halo?”

“Ya, halo? Siapa?”

“Ini aku, yang tadi di kereta. Halo? Kau masih ingat?”

“Ya. Bagaimana aku bisa lupa. Kau percaya? Baru saja aku mau menghubungimu, dan kau sudah menghubungiku lebih dulu. Kita memang berjodoh.”

“Ha, apa?”

“Ah, lupakan saja. Jadi, apa kau menelponku untuk menanyakan hatimu yang hilang?”

“Ya.”

“Tenang saja. Hatimu aman.”

“Bagaimana kau tahu hatiku aman?”

“Hatimu ada padaku. Aku berjanji akan menjaganya hingga kau mengambilnya kembali. Dan hatiku ada padamu, bukan? Aku yakin. Barangkali hati kita tak sengaja tertukar waktu kita berbincang-bincang di kereta tadi.”

“Lalu, kapan kita bisa ketemu?”

“Bagaimana kalau minggu depan?”

“Apa tidak bisa lebih cepat?”

“Tenang saja. Aku berjanji, hatimu akan aman padaku.”

“Baiklah. Di mana?”

“Di Stasiun Kota Cinta.”

“Ya. Oke.”

“Hei, tunggu,”

“Ya?”

“Jangan lupa, kau bawa hatiku juga, kau juga harus berjanji akan menjaganya dengan baik sampai minggu depan.”

“Tenang saja, kalau kau menjaga hatiku dengan baik, pasti aku akan menjaga hatimu dengan baik. Bukankah kita punya banyak kesamaan?”

“Baik, kalau begitu sampai bertemu minggu depan.”

“Ya.”

Dan klik. Suara di seberang terputus. Jemariku gemetar. Aku memutuskan pulang ke Kota Perawan dengan sebuah kehilangan.

***

Kau tahu rasanya, selalu gelisah, ini gelisah, itu gelisah, makan gelisah, tidur gelisah, semua amal dikawal gelisah. Satu jam bagai sehari, dan sehari bagai seminggu, dan seminggu bagai sebulan. Bukankah itu artinya…

Aku yakin, ini tersebab oleh hati yang tertukar itu. Karena yang kusimpan di saku dadaku adalah hatinya, maka hanya ia yang ada dalam kepalaku, dalam diriku. Aku yakin, dia mersakan hal yang sama, karena dia juga membawa hatiku di saku dadanya. Benar-benar tidak nyaman jika hati kita berada dalam genggaman seseorang.

Menunggu seminggu bagai sebulan. Barangkali bukan masalah jika aku tidak membawa hatinya, atau ia tidak membawa hatiku. Ya Tuhan, satu jam bagai sehari, sehari bagai seminggu, seminggu bagai sebulan. Waktu yang sangat lama untuk urusan hati. Dan anehnya, dalam jangka waktu sebulan, maksudku seminggu, aku benar-benar tidak berani menghubunginya. Selalu gugup dan berdegup-degup.

Ayolah! Seminggu bukan sebulan. Seminggu bukan waktu yang lama.

***

Lega sekali, sebulan telah berlalu, maksudku seminggu. Kami akan segera bertemu di Stasiun Kota Cinta. Kami akan mengembalikan hati kami masing-masing kepada pemiliknya. Dan kami tak perlu lagi dilanda gelisah. Aneh bukan? Aku mempersiapkan diriku dengan sangat sempurna untuk sebuah pertemuan, pertemuan yang tiba-tiba terasa sangat istimewa. Aku berangkat ke Stasiun Kota Cinta dengan gugup yang berdegup-degup.

Di sebuah bangku panjang, di kursi tunggu penumpang, ia duduk seorang diri. Dari jauh aku tersenyum. Ia pun tersenyum. Sungguh, aku tak pernah melihat pesona serupa itu, bahkan tidak pada Shahrukh Khan, artis idolaku. Aku semakin gugup. Apa ia juga gugup?

“Hai, maaf, sudah membuatmu menunggu,” basa-basi yang terdengar, lagi-lagi, gugup.

“Tidak. Maaf, sudah membuatmu jauh-jauh datang ke tempat ini.”

“Kau tidak lupa membawa hatiku, kan?”

“Ouh, tentu. Ini hatimu. Kukembalikan. Semoga tidak ada yang cidera atau luka.” Ia mengembalikannya lewat tatapan. Aku menerimanya lewat tatapan.

“Dan ini hatimu! Aku juga sudah berusaha untuk merawatnya dengan baik. Semoga tidak ada yang rusak atau koyak.” Aku mengembalikannya, tetap lewat tatapan. Ia pun menerimanya, masih lewat tatapan.

“Terima kasih.”

“Tidak. Terima kasih.”

Aku lega hatiku kembali. Aku diam. Ia diam. Kami sama-sama diam. Kehilangan bahan perbincangan.

“Apa kau terburu-buru?” suaranya membuatku terantuk.

“Tidak. Tapi, maaf, aku tak bisa berlama-lama.”

“Apa kau takut, hati kita akan tertukar lagi?”

“Tidak. Aku hanya merasa tidak enak jika harus membawa hati seseorang.”

“Baiklah. Tapi, jika suatu saat kau butuh seseorang untuk menjaga hatimu, kau bisa menghubungiku,” ia beranjak dari duduknya. Membungkukkan badan selintas. Dan mengucapkan salam perpisahan. “Semoga, di lain waktu, kita bertemu lagi.”

Hatiku telah kembali. Tapi mulutku bisu. Ia seperti membawa pergi pita suaraku. Aneh, hatiku sudah kembali, tapi gugup yang berdegup-degup itu tak juga hilang. Aku memutuskan pulang, kali ini berteman kehilangan yang lain, kehilangan yang terasa jalang. Sampai di rumah, dengan lemas kutengok kembali saku di ulu dadaku. Aku hampir tak percaya, yang tersemat di sana bukan hatiku, tapi hatinya. Hati kami tertukar lagi, untuk kedua kalinya.***




Madiun, 30 Juni 2011

DAS Writing Tips: Seting Fiktif V.S Seting Realis pada Novel

Minggu, 20 Oktober 2013 dulu, para pengurus FLP Malang, mengadakan pertemuan singkat di rumah Mashdar Zainal. Selain membicarakan urusan keorganisasian, kami semua me-request beliau untuk mengisi materi singkat tentang penulisan novel. Banyak hal yang bisa kami dapatkan dari materi beliau yang sederhana tapi mengena. Salah satunya adalah tentang setting tempat pada novel.

Tidak seperti cerpen, novel dituntut memiliki setting tempat yang jelas. Di situlah kekuatan seorang penulis dalam mendeskripsikan tempat diuji. Selain itu, referensi dan pengetahuan umum seorang penulis juga dibutuhkan. Sebisa mungkin deskripsi yang dibuat terasa riil dan meyakinkan.

Setting pada novel dibagi menjadi dua: berdasarkan dunia nyata, atau murni fiksi. 

1. Setting Fiktif

Pada novel-novel bergenre fiksi-fantasi seperti Harry Potter, Lord of The Ring, Narnia, Eragon, penulis diberi keleluasan untuk berfantasi seluas-luasnya, termasuk dalam hal deskripsi tempat. Dalam novel jenis ini, penulis dapat dengan bebas mengarang lokasi yang diinginkan. Mudah? 

Beberapa orang "cenderung meremehkan proses kreatif sebuah novel bergenre fiksi fantasi". Kata mereka, "Tinggal ngayal aja apa susahnya sih?"

Oh, coba saja tulis novel fiksi fantasi sekelas Lord of The Ring dan Harry Potter kalau begitu ^^

Pembaca tentunya akan lebih mudah membayangkan seting tempat, jika mereka sudah familiar dengan deskripsi yang ditulis. Entah mungkin pernah melihatnya dari film, komik, cergam, dan sebagainya. Karena itu walaupun ceritanya bergenre fiksi fantasi dengan taburan efek magis di sana-sini, kalau setingnya dibuat asal-asalan ya pembaca bisa jengkel dan merasa dibodohi. Pembaca jaman sekarang kritis-kritis lho.

Misalnya, seorang yang penulis yang ceroboh akan menulis sebuah dunia fantasi dengan basis kebudayaan Jepang. Para tokoh digambarkan berwajah oriental dengan fitur mata sipit, kulit putih, tubuh tidak terlalu tinggi, dan memakai kimono kemana-mana.

Tapi kemudian nama-nama tokohnya malah jadi Mei LinXiaou Lin, Shao Lan, sampai  nama-nama artis Korea seperti Shiwon dan Sungmin dibawa-bawa^^. Nama-nama lokasinya jadi sungai Yangtze, Beijing, dan nama-nama lain yang tidak mengesankan budaya Jepang sama sekali. (Maklum, beberapa orang tidak bisa membedakan antara budaya Jepang, Cina, dan Korea, pokoknya sipit, berarti pasti dari Cina!^^). 

Lalu musuh-musuh yang dimunculkan malah elf, kurcaci, goblin, yang berasal dari mitologi barat. Kelihatan sekali kalau asal ambil nama dan comot seting sana-sini dari karya yang sudah populer. Seting abal-abal begini bisa membuat pembaca eneg juga. 

Contoh cerita fiksi fantasi berseting dunia khayalan yang bagus dan believeable adalah serial animasi AVATAR: Aang The Last Air Bender. Walau sepenuhnya fantasi, tapi konseptor cerita mampu mengembangkan seting berbasis "Another East Asia". Topografi lokasi, jenis tanah, tanaman, cara berpakaian para penduduk, sampai konsep kepercayaan dan filosofi yang dianut dikembangkan dari budaya Asia Timur. Penonton pun "percaya" dengan seting buatan itu dan tidak mengajukan protes. 

Seting tempat, memiliki peran besar dalam kelangsungan sebuah cerita. Tidak hanya konflik dan tokoh saja.

Kebanyakan penulis fiksi fantasi yang sudah profesional, mengembangkan seting lokasi ceritanya berdasarkan tempat yang sungguhan di dunia nyata. Christopher Paolini mengembangkan dunia Alaegesia berdasarkan padang luas yang ada di dekat rumahnya. Lalu J.R. Tolkien juga menggambarkan The Shire, lokasi para hobbit tinggal di The Hobbits dan Lord of The Ring berdasarkan rumah ternak berbentuk unik di New Zealand.

Banyak juga yang mendapat ide penggambaran seting novelnya setelah melihat lukisan landscape suatu tempat. Intinya sama saja. Bahkan seting dunia khayalan pun harus digarap secara serius.

Harry Potter adalah novel bergenre fiksi fantasi yang menggabungkan antara dunia nyata. London dengan stasiun King Cross-nya, dengan dunia khayalan sekolah sihir Hogwarts. Keduanya digambarkan dengan baik dan serius walaupun seting lebih banyak menonjolkan Hogwarts. Pembaca yang tidak pernah ke Inggris bisa membayangkan seperti apa stasiun King Cross itu. Mereka pun juga bisa membayangkan kemegahan kastil Hogwarts, Kantor Kementerian Sihir, dan stadion Quidditch

Novel bergenre apapun membutuhkan riset mendalam.

2. Setting Dunia Nyata

"Berarti membuat novel dengan seting dunia nyata lebih mudah dong? Kan tinggal memindahkan seting yang sudah ada ke dalam novel."

Menulis novel berdasarkan tempat-tempat yang sudah diketahui tentunya lebih mudah. Orang Malang menulis tentang kota Malang. Orang Jakarta menulis tentang kota Jakarta dan orang Bangka Belitong seperti Andrea Hirata pun menulis tentang tempat kelahirannya sendiri.

Namun, bagaimana jika seting yang akan kita pakai adalah tempat-tempat yang tidak pernah kita kunjungi sebelumnya?

Cara terbaik jelas observasi langsung. Bertanya dengan orang-orang setempat, mengamati situasi yang ada, mengamati kebiasaan masyarakat, hingga mengambil foto. Dan Brown mengunjungi Vatican sebelum menulis novel Angel and Demon. Tapi tidak semua orang memiliki biaya, waktu dan akses untuk mengobservasi tempat yang dituju kan?

Di era modern ketika teknologi informatika berkembang pesat seperti ini, seorang penulis tidak perlu ke Paris hanya agar bisa menulis tentang Paris. Mashdar Zainal sudah membuktikannya.

Salah satu penulis senior FLP Malang ini berhasil membuat cerita bersambung berjudul KANAL yang kini sedang dimuat di majalah Femina. Seting cerita itu adalah Paris, dan Mashdar sendiri belum pernah mengunjungi kota Paris. Lalu bagaimana proses kreatif Mashdar dalam mengembangkan cerita dan setingnya dengan sangat meyakinkan?

ATLAS. 

Ya, banyak di antara kami yang tidak terlalu akrab dengan ATLAS (trauma pelajaran geografi?^^), begitulah Mashdar Zainal menyindir kami semua^^. Padahal, ATLAS sangat berguna dalam mengembangkan seting lokasi cerita. 

Dari ATLAS, kita bisa memastikan secara tepat lokasi seting yang akan dipakai. Berapa jarak kota A ke kota B berdasarkan skala. Apakah kota itu berada di daerah pantai atau pegunungan, dan sebagainya.

Selanjutnya baru mencari referensi yang lebih detail, di google, wikipedia, buku-buku di perpustakaan, dan sebagainya. Dimulai dari ATLAS yang murah meriah, mencari referensi pun akan lebih mudah^^

End Note

Anyway, Neko menemukan website tentang peta dunia yang lumayan komprehensif. Kebetulan Neko menemukannya saat mencari  referensi peta negara Inggris. Website ini sangat lengkap karena menyediakan peta hutan, sungai, gunung, jalan-jalan di ibukota setiap negara, bahkan informasi tentang tempat yang sering didatangi para turis dan peta politik negara yang bersangkutan.

Tidak hanya negara Inggris, semua negara di dunia dicantumkan petanya secara mendetail. Lalu disisipi dengan beberapa keterangan seperti yang ada di wikipedia.

Check this out:

http://www.mapsofworld.com/

http://www.mapsofworld.com/physical-map/uk-physical-map.html

Yak selamat berburu lokasi ^_^