oleh: Quan Day
Numpang corat-coret, maaf para Aremania jika saya salah mengambarkan bumi Arema.
Sore sudah menuju akhir, saat nampak seorang ABG duduk di pinggir alun-alun kota, dengan pohon-pohon beringin besar sebagai latarnya. Melihat burung seriti berseliweran, tenang, tanpa diganggu pengamen atau anak-anak peminta. Merasakan hawa dingin yang menggelitik setiap pori. Sungguh alun-alun yang sangat nyaman dipakai bersantai, apalagi setelah kaki ini sudah lelah menapaki beberapa mall yang berdiri angkuh di sekitarnya. Setidaknya itu gambaran yang masih kuingat saat pertama kali menginjakkan kaki di Malang. Dulu, saat seragam abu-abu putih masih menjadi jati diri.
alun-alun Malang, tempo dulu
|
Bergeser sedikit ke bagian barat bumi arema, dengan kisaran waktu yang tidak terlalu lampau. Melihat sekelompok remaja, bergerombol santai di pinggir jl.veteran, menikmati udara malam dalam secangkir kopi. Ah, sungguh nikmat sepertinya. Tak nampak wajah lelahnya, walau sudah berjalan cukup jauh. Mungkin karena jalanan tidak sesemrawut sekarang, hingga jarak antara UNIGA dan Jl.Veteran bukan hal yang melelahkan untuk ditelusuri. Jalanpun bisa santai, tidak harus berebut jalan (baca: trotoar) dengan motor-motor tak tahu aturan. Atau tiba-tiba menghentikan langkah karena jalan tertutup oleh gerobak dagangan.
Dalam kisaran waktu yang tidak jauh berselang, di pagi hari yang bersih. Melihat seorang pemuda tampan berlari, santai tidak tergesa. Menyusuri jalanan di belakang UIN Malang. Sepi, jarang terlihat kendaraan lalu lalang. Bebas menghirup udara segar, sekali-kali berhenti melihat sawah yang ditumbuhi padi. Sebagai pengobat rindu akan kampung halaman.
Melompat jauh ke dunia sekarang. Mencoba menelusuri lagi sudut-sudut Malang yang pernah muncul dalam kenangan. Sayangnya, hampir semuanya sudah hilang. Semuanya sudah bertumbuh, mengikuti perkembangan Malang yang begitu pesat. Tidak ada lagi alun-alun yang nyaman, bahkan burung seriti pun sudah tidak betah untuk berseliweran di sana. Mungkin mereka telah migrasi, entahlah. Semoga saja suatu saat mereka mau kembali. Ah, satu tempat kini sudah menjadi kenangan.
Masjid Jami' Malang, tempo dulu
|
Ketenangan Jl.Veteran apalagi, sudah lama itu hanya tinggal kenangan. Saat sebuah gedung congkak bernama mall itu berdiri angkuh di sana, jangan pernah harap ketenangan ada lagi. Kini jalanan itu hanya menyuguhkan keramaian, kemacetan, dan romantisme konsumerisme. Dan percayalah, saat sebuah gedung telah sukses menancapkan jati dirinya di sana, tidak menunggu waktu lama lagi biasanya akan melahirkan gedung-gedung baru di sekitarnya.
Mau lari pagi? Hati-hati, tengok kanan kiri, karena hampir semua jalanan tidak ramah bagi pejalan kaki, Begitu pula jalanan di belakang UIN. Tidak bisa lagi berlari santai di sana saat pagi. Jalanan sudah ramai mulai pagi, saling berebut mencemari udara. Sawah-sawah yang dulu sering aku pandangi juga sudah banyak yang mati, atau lebih tepatnya dimatikan. Berganti wajah menjadi ruko-ruko, warung-warung lesehan, perumahan, atau pasar yang entah jadi di tempati kapan.
Malang Ijo Ruko-Ruko, benar sepertinya sebuah kata yang pernah diucap oleh seorang kawan ini. Malang bukan cuma kota dingin atau kota pendidikan. Malang juga sudah bertumbuh menjadi kota ruko, kota mall, kota konsumerisme. Kota apartemen? Kita lihat saja tanggal mainya. Mungkin, beberapa tahun ke depan, akan sulit lagi melihat tanah lowong di sini. Bahkan bisa jadi melihat tanah pun tidak akan gampang, karena semuanya sudah tertutup aspal dan paving.
Saat semuanya itu sudah terjadi, kita tempatkan dimana diri kita?
Editor's Note:
Hmm...tadinya Neko mengira ini semacam fiksi begitu, tapi dari judulnya kok bau-bau essay ya. Habisnya cara Pak Day memaparkan tulisannya tidak seperti tulisan opini atau essay pada umumnya. Sempat bingung mau diberi label apa tulisan ini. Setelah membaca beberapa kali, memang tulisan ini bergenre essay. Essay romantis kalau boleh Neko bilang hehehe...
Saat membaca essay ini, Neko bisa membayangkan suasana alun-alun kota Malang dengan angin berhembus semilir memainkan jilbab Neko, ikut memandangi burung Sriti (walau Neko nggak tahu burung Sriti tuh kayak apa wujudnya...DOENG! =b) . Neko juga seakan duduk di bawah pohon beringin yang sama dengan yang digambarkan oleh tulisan di atas. Neko juga bisa merasakan dinginnya hawa "Malang Tempo Doeloe" yang dideskripsikan di atas (karena pas Neko nulis editor's note ini, hawa pagi emang lagi dingin-dinginnya hehe =b)
Membaca postingan ini, serasa melihat ke foto Malang jaman dulu yang tidak sesumpek dan seramai sekarang. Damai... Secara Neko lahir jauh lebih lama setelah Pak Day lahir, jadi Neko tidak sempat merasakan "syahdunya kota Malang" seperti yang Pak Day alami. Perasaan dari dulu Malang udah rame. Ahh...iri-iri-iri... Padahal kan yang orang Malang itu saya hehehe...
Anyway, Neko jadi penasaran kayak gimana jadinya kalau Pak Day menulis fiksi. Romantis juga nggak ya? Apalagi doi kan baru nikah tuuuuuh... Cieh cieh... (ehem! Balik ke topik!) Pendeknya Pak Day cukup baik dalam menerapkan konsep Show, Not To Tell! dalam tulisan ini. Kemampuan untuk membuat pembaca ikut terhanyut dan seakan-akan ikut mengalami pengalaman si tokoh yang ada dalam tulisan yang kita buat itu tidak bisa didapat begitu saja loh. Perlu latihan dan ketekunan mengamati karya-karya sastra yang sudah ada. Salut deh...
Cuma sedikit saran aja soal diksi yang simpel. Pada beberapa fragmen cerita di atas, kata "melihat" sepertinya lebih pas kalau diganti dengan kata "memandang". Karena "memandang" itu rasanya lebih intens dan kuat jika dibandingkan dengan kata "melihat" yang kesannya hanya sekilas lalu. Mengutip kata-kata dari komik Silent Eyes karya Akaichi Michiyo (komik tentang fotografer kasus kriminal nih), "Mata memandang itu kuat. Mata melihat itu lemah."
Kekurangan essay ini mungkin hanya pada judulnya saja. Frase "Malang Ijo Ruko-Ruko" itu udah umum sih. Mungkin bisa dibikinkan judul yang lebih catchy dan fresh lagi. Seperti apa ya... hmmm "Maroko ==> Malang Area Ruko"? (hehehe...mekso mode). Atau ada teman-teman Laskar Pena lain yang bisa bantu? Silahkan ikut sumbang apresiasi di kotak komen =)
Well, cukup segini dulu aja deh, editor's notenya. Keep your spirit in writing, Pak Day!
Cherio
Mizuki-Arjuneko
Profil Penulis:
Achmat Hidayat, atau yang di FLP Malang lebih beken dengan panggilan "Pak Dayat" atau "Pak Day", kini menjabat sebagai Ketua Harian 1 setelah sebelumnya setahun ngendon di divisi Danus (Dana Usaha). "Quan Day" adalah nama pena sekaligus nama FB Bapak yang satu ini (dari dulu Neko penasaran, "quan" itu artinya apaan sih???). Beliau lulus dari Unisma (angkatan 2001)
Pertama kali ketemu, Neko sungkan ama Bapak yang satu ini. Udah sipit (padahal, Neko juga sipit wkwkkw), umurnya jauh di atas Neko, kayaknya pendiam pula. Setelah ni orang nikah ama temen Neko (yang juga anak FLP en teman se-liqo-an), baru deh ketahuan kalo nih orang... NYEBELIN! Sukanya nyolot, terutama nyolotin Neko. Ketemu ama orang ini, berasa perang skak mat. Huh! Kok bisa ya? Apa menikah itu bisa mengubah karakter orang 180 derajat, atau dianya aja yang tadinya jaim (coz waktu itu belum laku kali yah? hihihi)
Anyway, walau Neko sering dibuat geleng-geleng, sebenarnya doi lumayan baik loh. Salah satu hobinya yang disukai anak-anak FLP Malang adalah...doyan nraktir! Pas bujang dulu konon kalau anak-anak FLP Malang sering ditraktir makan en nonton bareng... Hmmm... Bagus-bagus.
Tulisan-tulisan lain dari Pak Day, bisa diakses di blog: http://cakdayat.multiply.com/ dan di www.tahucampur.com
Lelaki yang bekerja di bidang internet marketing ini sekarang sedang merintis usaha online-nya bersama sang istri tercinta, Agie Botianovi. Sila kunjungi tokonya, Botia Shop.
0 Comment to "(DAS ESSAY): Malang Ijo Ruko-ruko"
Post a Comment