Showing posts with label Advetorial. Show all posts
Showing posts with label Advetorial. Show all posts

Cerpen - Paman Bostro

Rumput masih semerbak. Matahari pun terik renyah. Kondisi yang tepat untuk keluar kandang untuk paman yang sedang merindukan ponakan. Paman Bostro hidup mandiri. Memimpin koloni dengan gagah berani. Dia dikenal sebagai komandan paling hebat sekoloni. Berhasil memimpin dalam perluasan beberapa wilayah. Hari ini waktunya menurunkan keberaniannya kepada sang mentari. Ponakan satu-satunya yang akan mewarisi kegagahannya. Pikirannya sudah melayang jauh ke depan. Jalan di bawah matahari pagi yang hangat. Melewati padang rumput dengan embunnya yang masih menempel. Menyusuri harum-harum kayu yang menentramkan. Lalu disambut dengan pelukan erat sang ponakan.

Tetapi bayangannya buyar ketika melihat mobil Jasa Pest Control di depan rumah ponakannya. Kemungkinan-kemungkinan buruk langsung menghujani pikiran. Mobil itu selalu membawa hawa maut. Tunggang langgang dia kembali ke rumah. Dipanggilnya seluruh pasukan. Breafing cepat. Operasi darurat akan dilakukan untuk menyelamatkan koloni sebelah.

Jasa anti rayap merupakan musuh utama mereka. Setiap rumah yang didatangi mobil itu nasibnya selalu tak jelas. Belum pernah ada yang selamat dan dan berhasil menceritakannya. Hanya Paman Bostro lah yang pertama bisa lolos. Mukanya penuh codet karena harus menembus celah-celah sempit untuk kabur. Meskipun begitu, dia juga tak bisa menceritakan bagaimana dia bisa lolos dari bencana itu. Hanya keajaiban penjelasannya.

Isu yang masih simpang siur itulah membuat banyak prajurit mundur. Mereka masih sayang nyawa. Namun ada beberapa ksatria yang berani bertempur dengan Paman Bostro. Berangkatlah mereka. Bergerilya melewati rumput, sampailah mereka di depan pintu. Namun pintu itu sudah dibersihkan. Melewatinya berarti bertaruh nyawa.

Kepala Paman Bostro makin panas. Lebih baik mati daripada tak bisa menyelamatkan ponakannya. Mimpinya adalah melihatnya berkembang, semakin kuat, bahkan bisa menjadi komandan sepertinya.

Dia pun mengambil resiko yang lebih besar. Terjun bebas dari pohon. Segera Paman memimpin pasukan memanjat pohon. Satu persatu mereka terjun ke atap rumah. Lalu menerobos celah-celah genteng. Dari situ mereka berlari menyusuri kayu-kayu atap langsung menuju ke rumah ponakannya.

Paman Bostro berlari paling depan. Paling cepat. Dia tak ingin kehilangan keponakan satu-satunya. Memimpin pasukan menyusuri lantai terbuka. Semua pasukan mengikuti langkah sang pemberani itu, komandan terkuat di antara koloni. Tapi perhitungan Paman kali ini salah. Dari arah belakang muncul badai besar. Menyapu seluruh pasukan. Sekaligus dengan Paman Bostro. Kali ini Paman tak bisa memanggil keajaiban untuk kedua kali. Dia ikut tergulung badai besar. Panas. Perih. Sesak. Paman berusaha menyelamatkan diri. Namun badannya tak bisa digerakkan. Hanya matanya samar-samar menangkap sosok raksasa biru bertuliskan "Jasa Pembasmi Rayap"

Wajah Plastisin

Burung terbang ramai ke sarang. Aku juga bergegas terbang pulang. Menjauh dari pelik rapat yang saling serang demi secuil uang. Melesat cepat bersama burung menembus gebyar kota. Sesampai rumah lekas kubersihkan diri, bersolek secukupnya, memakai baju dari web Bajugamisku. Lalu, bersiap berangkat kembali. Sekarang kafe tujuanku. Melemaskan satu lagi masalah di kepala. Ya, masalah denganmu. Aku ingin berdamai dengan takdir ini.

Takdir yang susah kulupakan sejauh tahun-tahun yang sudah berlalu. Terlebih kau memberikan kenangan spesial di perpisahanmu. Di kafe ini. Mana mungkin kenangan itu bisa hilang dengan mudah? Kau memasak seluruh makanan favoritku, menyanyi dengan suara serakmu, dan tak lupa kau mencetak wajahmu pada sebuah plastisin sebagai sebuah hadiah di hari ulang tahunku.

Sumber gambar aliexpress
Apa kau juga masih ingat busana pesta yang kupakai saat itu? Bukankah juga pemberianmu? Aku saja tak bisa melupakan bagaimana kau bertindak layaknya maling. Mengendap-endap ke rumah. Mencoba memasukkan baju ke tas. Hampir saja kepalamu pecah bersama vas bunga. Kalau saja kau tak sadar aku juga mengendap di belakangmu. “Haah..” Aku tertawa. Dari mana pula kau dapat kunci rumahku.

Espressoku hampir habis. Kumainkan teguk terakhir lama di mulutku. Pahit memang. Tapi tak sepahit kepergianmu. Bersama alunan pelan biola di panggung kuambil plastisin dari tas. Selalu kubawa di dalam tas. Namun bukan cetak wajahmu, tak berani melihatnya lagi. Kupandangi plastisin di bawah lampu redup.

Tapi malah ingatanmu yang muncul kembali. Tengah malam pesanmu masuk. “Sorry to say. Berat memang, tapi satu nanti moga bisa ketemu kembali.” Seperti pesawat yang turbulensi keras, semua orang menjerit. Lebih-lebih kau ucapkan hanya lewat pesan pendek. Setelah malam yang membuatku melayang. Belum selesai di situ kau menyiksaku. Kau tambah bahwa akan take off. Pesawat itu sudah tak turbulensi lagi, melainkan jatuh ke jurang lalu hilang.

Aku mencoba menghilangkanmu, tapi juga menantimu. Biola mengalir merdu, membawa sendu hilang bersama not-notnya. Tapi seseorang memotongnya, mungkin bocah yang ingin mengucapkan cinta lagi. “Lebay sekali” Aku merutuki sendiri dalam hati.

Suara serak. Ya, suara serakmu. Itu serak suaramu bukan? Aku mimpi? Kubalikkan badan. Mataku terbelalak. "Ka..ka..kau? Pu..pulang?" Tak menunggu sadar, kakiku lari ke panggung. Sekencang mungkin. Tersandung pun biar. Lekas mengeluarkan plastisin dari tas. Mencetak wajahku sendiri di sana. “Ini...!!! Kau tahu rasanya menyimpannya selama ini?”