Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Seri Writerpreneurship I: Kenapa Penulis Harus Kaya?


Oleh-oleh dari Upgrading FLP (Forum Lingkar Pena) Jatim dan Kuliah Umum Dare to be Writerpreneur, 6-8 Februari 2016

Disarikan oleh Gusti A.P.

"Penulis itu harus kaya," kata Bapak Nun Urnoto El-Banbary saat membina sesi Training for Trainer pada program Upgrading FLP Jatim kemarin.


"Kalau jadi penulis miskin, orang akan semakin meremehkan profesi ini. Mereka akan bilang, 'Buat apa jadi penulis? Tukang ngayal, tetap miskin.' Akhirnya nggak bakal ada yang jadi penulis. Makanya jadi penulis itu harus kaya."

Ada benarnya juga kata-kata penulis novel Anak-Anak Pangaro, Anak-Anak Revolusi Tanah Raja dan Memanjat Pesona ini. 

Berdasarkan berita Koran Sindo versi website 2015 lalu, minat baca masyarakat Indonesia, dibanding negara Asia lainnya sangat di bawah rata-rata. Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Budi Wibowo mengatakan, dorongan lingkungan sekitar masih belum mendukung untuk menumbuhkan minat baca.

"Untuk DIY, data terakhir survei 2012, indeks bacanya 0,049. Ini yang tertinggi di Indonesia, jika dibandingkan dengan daerah lainnya. Tapi jika dibandingkan luar, seperti Singapura masih jauh. Di sana, indeksnya sudah 0,45."

Berarti yang termasuk kita-kita ini cuma masuk dipersentase yang nol koma sekian-kian itu. Wasem tenan, tho? Dampaknya apa? Baru-baru ini para penggiat dunia literasi, mulai dari para penulis hingga pecinta buku diresahkan dengan dinaikkannya pajak bagi penerbitan buku. Yang dinaikkan itu sudah termasuk pajak bagi penjualan, royalti penulis, kertas, dan seluruh lini produksinya. Luar biasa. Nggak heran kalau harga buku jadi semakin melambung tinggi, lebih cepat dari kecepatan terisi ulangnya dompet.

Saat ini kondisinya, pajak diturunkan untuk jenis hiburan lain selain buku seperti tontonan film, tontonan pagelaran kesenian, musik, peragaan busana, pameran, diskotik, karaoke, klub malam, pertunjukan sirkus, sulap, dan tontonan pertandingan olahraga. Dan kalau hanya melihat dari sudut pandang untung-rugi material saja, itu wajar. Karena memang masyarakat lebih memilih hiburan-hiburan tersebut daripada kegiatan membaca. Karena peminatnya banyak meskipun pajaknya diturunkan, tetap bisa memberikan keuntungan yang besar. Sedangkan karena buku peminatnya dikit, kalau pajaknya dimurahkan, pemasukannya makin sedikit. Dimahalkan saja sekalian. Jadi walau yang minat dikit, pemasukannya tetap besar. Begitulah kebijakan orang-orang pajak yang getol mempromosikan jargon, “Orang bijak bayar pajak.” (Lha orang pajak apa bijak? Hehehe)



Persoalan minat baca dan tulis ini jadi lingkaran setan. Singkatnya, kalau diruntut sebab musababnya jadi begini: Kenapa nggak suka baca buku? Karena nggak terbiasa beli buku. Kenapa nggak beli buku? Karena buku mahal. Kenapa buku mahal? Karena pajak buku dinaikkan. Kenapa pajak buku yang dinaikkan? Karena orang-orang nggak suka baca buku! Kalau pajak buku diturunkan, apakah akan langsung menaikkan tingkat minat membaca masyarakat? Jawabannya: enggak!

Karena semisal kalau orang-orang seperti itu ditanyai lagi, “Ini saya kasih buku gratis, mau nggak?” atau “Ini saya kasih fasilitas belajar nulis gratis, mau nggak?”

Bisa jadi jawabannya begini, “Buat apa baca? Buat apa nulis? Nggak ada waktu. Nggak bikin kaya. Mending nonton orkes dangdut di kampung sebelah!”

Jadi itu semua terjadi karena kita sendiri nggak bisa meyakinkan mereka bahwa membaca dan menulis itu bisa memberikan keuntungan yang riil. Termasuk keuntungan finansial.

Yang jelas, bukan zamannya lagi penyair atau penulis yang identik dengan ketidakmapanan. Tampang kucel, baju kumal, kamar kumuh, sa'penake dhewe, nggak punya manajemen waktu dan karya. Bagaimana penulis bisa meyakinkan orang-orang untuk membeli karyanya kalau begitu? Chairil Anwar sendiri ketika melamar Mirat pacarnya, ditolak mentah-mentah oleh orangtua gadis itu.

"Kau cari kerja dulu, baru kemudian melamar anakku!" geram calon mertuanya.

Ya iyalah!

Penulis harus punya visi masa depan, dan hidup tertata agar bisa berkarya dengan profesional. 

Coba kalau kita adalah penulis yang kaya. Orang pasti berbondong-bondong bertanya kepada kita, “Kok bisa kaya? Kerjanya apa?”

Terus kita bisa menjawab dengan jawabannya, “Nulis dong.”

Pasti orang-orang pingin meniru. Dan kalau mereka bertanya gimana biar bisa nulis yang bikin kaya? Kita bisa dengan jumawa menjawab, “Mau tau? Beli dan baca buku saya. Nanti Anda akan tahu.”

Lalu mereka akan beli buku kita deh. Horeee...Wenak tho? 

Agar tidak terlalu panjang, tulisan writerpreneurship bagian pertama yang disarikan dari materi Upgrading FLP Jatim ini diakhiri dulu sampai di sini. Tulisan berikutnya akan membahas soal Kenapa Penulis Tidak Bisa Kaya. Mindset apa saja yang bisa menghalangi seorang penulis untuk mencapai kesuksesan, dan bagaimana mendobrak mindset tersebut.

Referensi


Referensi





Widodo, Dukut Imam, 2016. Menulis Itu Adalah Sebuah Pekerjaan. Materi yang dibawakan pada sesi Kuliah Umum Dare to be Writerpreneurship, Upgrading FLP Jatim Februari 2016.


Sesi Training for Trainer untuk Kelas Upgrading Kepenulisan Novel yang dibawakan oleh Nun Urnoto El-Banbary di acara Upgrading FLP Jatim Februari 2016

(KRUPUK UNTUK JIWA): Pilih Identitas

Saat anak kami yang sulung beranjak remaja, dia sangat antusias mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Saya dan istri sangat mendukung, karena berdasarkan pengalaman ilmu-ilmu pengalaman berorganisasi ternyata sangat dibutuhkan saat bekerja. Suatu saat anak saya menanyakan kegiatan apa saja yang diikuti ibunya saat masih sekolah.
“Ibu dulu tidak pernah ikut kegiatan ekstrakurikuler nak…Dulu badan ibu suak (rapuh,gampang sakit).”
“Sekarang kok Ibu sehat dan kuat?”
“Sekarang Ibu harus sehat dan kuat, karena bila ibu lemah bagaimana dengan anak-anak Ibu? Ibu harus sehat dan kuat untuk menjaga anak-anak Ibu”
“Berarti sebenarnya dulu Ibu juga bisa kuat dong kalau mau….?!”
Istri saya terdiam, mencari kata-kata yang tepat sebagai jawaban. Saya merasa saatnya untuk nimbrung dalam obrolan.
“Dulu saat masih sekolah, siapa yang mengatakan kalau badan Ibu suak?”
“Yangkung dan Yangti (kakek dan nenek, orang tua istri). Tapi kenyataannya Ibu memang sering sakit dulu…”
Saya tergoda untuk ikut nimbrung dalam pembicaraan yang menarik ini,“Mungkin awalnya Ibu memang pernah beberapa kali sakit. Karena sayang kepada anak, Yangkung dan Yangti sangat menjaga Ibu. Mereka tidak ingin anaknya sakit khan? Tanpa disadari mereka terlalu menjaga dan melindungi Ibu. Mereka berkali-kali menasehati ibu, bahkan terlalu sering, bahwa Ibu harus menjaga kesehatan. Tanpa disadari, Yangti,Yangkung, dan Ibu memutuskan bahwa tubuh Ibu suak, bahwa Ibu adalah anak gadis yang berbadan suak. Akhirnya itulah yang terjadi,” begitu kata saya.
Istri saya terdiam, masih bimbang antara setuju dengan tidak.
“Saat menikah Ibu tidak tinggal lagi dengan Yangkung dan Yangti. Bapak tidak pernah tahu tentang riwayat kesehatan Ibu sehingga tidak pernah menyinggung badan Ibu yang suak. Bapak ingin dan merasa punya istri yang sehat dan kuat. Alhamdulillah Ibu jadi sehat dan kuat” saya tersenyum sambil meremas lengan istri.
Teman-teman, begitu mudah kita memvonis diri sendiri dan orang lain hanya berdasarkan beberapa kali kejadian. Hanya beberapa kali masuk rumah sakit sudah divonis orang penyakitan. Hanya beberapa kali berbuat jahat sudah dijuluki orang jahat. Bahkan saat dia berbuat baikpun julukannya tetap digunakan, orang akan mengatakan sebagai ‘orang jahat yang berbuat baik’. Padahal mungkin dia sudah bertaubat, mungkin kejahatan yang dulu pernah dia lakukan karena dia tidak tahu atau khilaf.
Saat teman anda sedang mengalami musibah, anda mungkin mengatakan :
“Kasihan kamu…Musibah berkali-kali datang menimpamu.Yang sabar ya… Aku turut berduka cita”
Tapi anda juga bisa mengatakan :
“Kamu sangat kuat dan tabah…Aku yakin kamu bisa tetap kuat dan sabar menghadapi semua ini. Aku turut berduka cita dan siap membantumu”
Bisa anda rasakan perbedaannya?
Teman-teman, banyak pilihan identitas yang bisa kita pilih untuk kita gunakan atau kita berikan kepada orang-orang di sekitar kita. PILIH IDENTITAS yang TERBAIK dan BERMANFAAT untuk diri sendiri maupun orang lain.
Hiduplah efektif dan berbahagialah
Krupuk untuk jiwa. Renyah dibaca, gurih maknanya.

Editor's Note: 

Sesering apakah kita men-judge orang lain? Dan yang lebih penting, sesering apakah kita men-stigma diri sendiri? Semua itu kembali pada pikiran masing-masing. Andai kebanyakan orang bisa memandang segala permasalahan di dunia ini dengan pikiran bersih dan lurus, mungkin masalah-masalah yang ada tidak akan terlalu rumit. 
Sering, kita jugalah yang membiarkan lingkungan menghancurkan diri kita. Bahkan secara tak sadar bisa jadi kita telah menghancurkan seseorang dalam lingkungan kita. Naudzubillah....
Neko jadi inget kata-kata ayah Neko, "Dunia itu kejam. Dalam lingkungan pergaulan, orang-orang di dalamnya selalu mencari kesempatan untuk menghancurkan yang paling lemah. Bukan karena dia lebih baik dari kita. Tapi agar dia bisa membuat dirinya atau lingkungannya berpikir bahwa dia lebih baik dari 'orang yang dia hancurkan'.
Begitulah. Yang paling baik adalah mengenal potensi dan kelemahan diri sendiri. Kadang kita juga membutuhkan masukan dari beberapa orang terpercaya yang bisa berfungsi sebagai cermin. Tapi siapa yang lebih mengenal diri kita kalau bukan diri kita sendiri.
Benar-benar tulisan yang bermanfaat, Pak Dian. Jazakallah...
Kali ini Neko cuma menambahkan sedikit saja pada karya  Pak Dian kali ini. Jauh lebih sedikit dari postingan yang lalu eheheh...  Yaitu pada bagian ini:
Saya tergoda untuk ikut nimbrung dalam pembicaraan yang menarik ini,“Mungkin awalnya Ibu memang pernah beberapa kali sakit. Karena sayang kepada anak, Yangkung dan Yangti sangat menjaga Ibu. Mereka tidak ingin anaknya sakit khan? Tanpa disadari mereka terlalu menjaga dan melindungi Ibu. Mereka berkali-kali menasehati ibu, bahkan terlalu sering, bahwa Ibu harus menjaga kesehatan. Tanpa disadari, Yangti,Yangkung, dan Ibu memutuskan bahwa tubuh Ibu suak, bahwa Ibu adalah anak gadis yang berbadan suak. Akhirnya itulah yang terjadi,” begitu kata saya.
Yap, cuma dua kalimat yang Neko tebali. Well, hanya sekedar untuk memperjelas, siapa yang sedang berbicara saat itu. Karena untuk beberapa detik, saya sempat mengira kata-kata ini keluar dari anak Pak Dian. Tapi kok rasanya dewasa sekali. Neko baru ngeh setelah membaca beberapa baris sesudah kalimat ini. Overall sebenarnya udah perfect. Jadi anggap aja ulasan di atas cuma alasan Neko biar editor's note-nya nggak pendek-pendek amat. HUAHAHAHA... Cherio!
Mizuki-Arjuneko

Profil Penulis:

Pak Dian dengan kelinci-kelincinya
Nur Muhammadian atau yang lebih dikenal sebagai "Pak Dian" (nama beken beliau saat di FLP Malang) adalah lulusan dari Universitas Brawijaya tahun 1994. Pernah bekerja sebagai core engineer di perusahaan telekomunikasi Indosat. Pak Dian bergabung dalam keluarga besar FLP pada tahun 2008. Awalnya saat FLP UM membuka Writing School selama 3 bulan. Dan sejak saat itu, Pak Dian pun sering menjadi tempat curhatan para pengurus FLP UM (kemudian FLP Malang), karena ke-cool-annya dan sudut pandangnya yang menarik dalam melihat setiap permasalahannya (cieee...). 

Pendek kata, Pak Dian enak banget deh kalau diajak diskusi. Sekarang Pak Dian memilih untuk berwirausaha membuka peternakan kelinci. Tulisan-tulisan beliau yang tidak kalah oke dengan yang di atas dapat langsung diakses di blog beliau di: motivasihidupsukses.wordpress.com

Ujian Keikhlasan

Sumber : inet

By Nur Muhammadian

Menulis untuk berbagi. Berbagi dengan menulis. Berbagi tulisan. Saya suka semuanya. Saya suka berbagi karena sudah berkali-kali merasakan manfaatnya, semakin lama semakin suka. Dan berbagi melalui menulis adalah berbagi yang menghadirkan suatu perasaan yang luar biasa, luar biasa bahagia, luar biasa nikmat, luar biasa nyaman.

Suatu waktu saya bertemu dengan seorang kerabat yang bekerja pada sebuah media cetak. Saya sampaikan kepadanya tentang kumpulan artikel tulisan saya, dan menawarkan untuk dimuat di media tempat dia bekerja. Dia meminta saya mengirimkan artikel saya melalui email. Saya kirimkan empat artikel pendek saya. Beberapa minggu kemudian dia menyampaikan bahwa artikel saya cukup bagus untuk dimuat, tetapi pimpinannya minta artikel lebih banyak lagi agar selalu ada bahan untuk mengisi kolom yang disiapkan untuk artikel saya. Saya menyanggupinya, dan saya sampaikan ke dia bahwa kumpulan artikel itu akan saya bukukan.
“Kalau sekarang dimuat di Koran kami, gak takut rugi mas? Nanti bukunya gak laku?”
“Insya ALLOH tidak pengaruh jelek, justru pembaca Koran bisa jadi potensial pembeli. Sebaliknya apakah Korannya Abang bersedia memuat artikel yang akan dibukukan?”
“Saya tanyakan pimpinan dulu ya mas…Tapi kami tidak bisa menyediakan imbalan ya mas…”
“Tidak apa-apa Bang…Saya ikhlas, yang penting tulisan saya bisa bermanfaat untuk pembaca”

Saya kirimkan tiga puluh empat artikel saya. Dan saya menunggu kabar selanjutnya.

Lama tidak ada kabar tentang artikel yang saya kirimkan, sampai beberapa minggu kemudian saya mendapat informasi dari adik saya. Saat saya mendapat informasi dari adik saya sedang tidak berada di kota tersebut. Adik saya mengabarkan bahwa artikel saya sudah dimuat beberapa minggu sebelumnya. Adik mendapat info secara lisan dari kerabat yang saya titipi naskah, tidak resmi dari pihak media cetak tersebut. Saya agak terkejut dan heran karena tidak ada konfirmasi apapun dari pihak media, baik melalui telepon maupun email tentang pemuatan artikel saya. Saya minta tolong adik untuk mendapatkan kliping Koran saat artikel saya dimuat.

Perlu waktu beberapa hari adik mendapatkan kliping Koran, dalam bentuk soft copy dari pihak media, dan harus mencari sendiri satu per satu. Saat saya terima soft copy melalui email kemudian saya baca, saya sangat terkejut bercampur emosi. Artikel saya dimuat seperti aslinya, dan tidak ada satu pun kata yang menyebutkan nama saya. Di Koran itu artikel saya dimuat namun tidak ada tanda-tanda sedikitpun bahwa itu  tulisan saya. Saya sudah ikhlas tidak mengharap imbalan, tapi apakah itu berarti saya tidak punya ‘hak’ sama sekali? Apakah saya tidak punya hak untuk diakui sebagai penulis artikel itu? Bahkan saya tidak punya hak untuk tahu bahwa artikel saya dimuat di Koran.

Saya emosi, dan saya menganggap wajar bila emosi. Sempat saya berencana memperkarakan hal ini secara serius seandainya saya tidak membaca postingan teman-teman saya di Facebook tentang berbagi.

Dari awal khan saya sudah berniat ikhlas? Kenapa harus emosi bila nama tidak dicantumkan? Mengapa sewot saat artikel dimuat tanpa pemberitahuan? Bukankah ikhlas itu mutlak, tanpa syarat? Saya khan mengikhlaskan sesuatu yang berpotensi menjadi ‘ilmu yang diamalkan’? Sesuatu yang bisa terus bergulir, berlipat ganda tanpa henti sampai akhir zaman. Dan tidak diperlukan identitas tertulis untuk itu, karena YANG MAHA MENGETAHUI pasti memiliki catatannya.

Ternyata saya belum bisa dinyatakan ikhlas sebelum diuji. Saya belum beriman tentang kekuatan ikhlas sebelum lulus ujian. Dan kali ini saya sedang diuji, saya sedang diukur. Semoga saya lulus…Mohon doa teman-teman…

(DAS MOTIVATION-Krupuk untuk Jiwa): KIAT ARJUNA

Oleh: Nur Muhammadian

Diceritakan dalam Mahabarata bahwa Pandawa dan Kurawa saat masih anak-anak sampai remaja dilatih oleh beberapa Guru yang sama. Pada sesi latihan memanah, Arjunalah yang paling jago. Apa kiat Arjuna?

Satu persatu murid baik Pandawa maupun Kurawa diharuskan membidik sebuah patung burung yang bergerak berputar. Saat membidik, sang Guru menanyakan beberapa hal.

Duryudana : Saya sudah siap Guru…
Guru           : Apa yang kau lihat?
Duryudana : Badan burung Guru
Guru           : Apakah kau lihat  tempat bertenggernya burung itu?
Duryudana : Saya melihatnya Guru,terbuat dari bambu kuning
Guru           : Hentikan! Kau tidak akan bisa memanah burung itu!

Dan pada akhirnya anak tertua dari pihak Kurawa itu pun gagal memanah patung burung itu.

Ketika Puntadewa, kakak tertua dari pihak Pandawa akan memanah, sang Guru pun menanyakan hal yang sama.

Puntadewa : Saya sudah siap Guru…Saya membidik badan patung burung itu…
Guru          : Puntadewa…Apakah kaulihat kaki burung itu?
Puntadewa : Terlihat Guru…
Guru          : Hentikan! Percuma, kau takkan bisa memanah badan burung itu!

Pada akhirnya, Puntadewa pun juga gagal. Begitu seterusnya beberapa Pandawa dan Kurawa gagal memanah patung burung yang bergerak itu. Hingga akhirnya, sampailah giliran Arjuna.

Arjuna: Saya sudah siap memanah mata patung burung itu Guru…
Guru   : Apa yang kaulihat Arjuna?
Arjuna: Mata patung burung guru
Guru   :  Apakah kaulihat sayap burung itu? Apa warnanya?
Arjuna: Tidak bisa Guru. Saya hanya melihat mata burung Guru
Guru   : Apakah kaulihat bentuk ekor burung itu yang indah?
Arjuna: Maaf Guru, saya hanya melihat mata burung Guru…
Guru   : Bagus Arjuna…Lepaskan anak panahmu!

Anak panah Arjuna pun melesat hanya panahnya lah yang mampu menembus mata patung burung.

Teman-teman, bidiklah tujuanmu dan focus padanya. Anda mungkin punya ‘busur panah’ dan ‘anak panah’ yang terbuat dari 'bahan' yang terbaik. Anda juga mungkin memiliki otot dan tenaga yang terlatih untuk memanah.  Tapi tanpa bidikan yang jelas dan jitu, anda tidak akan bisa mengenai sasaran. Bahkan banyak orang yang memiliki segala sumber daya, tidak punya sasaran untuk ‘dibidik’.

BIDIK TUJUANMU, FOKUS PADANYA. Panah terbaik dan tenaga yang besar tidak ada artinya bila tidak jelas sasaran yang dibidik.

Hiduplah efektif dan berbahagialah.

"Krupuk untuk jiwa, renyah dibaca, gurih maknanya."





Postingan ini diposting penulis di Group FLP Malang Terus Bergerak di FB pada 31 Agustus 2011, dini hari.

Editor's Notes: 
Hmm benar-benar tulisan sederhana yang sangat menginspirasi. Neko ingat kalau cerita di atas pernah ditampilkan Dancow dalam bentuk komik tipis (sampai sekarang Neko masih nyimpen komiknya loh). Fokusnya tetap sama, perlombaan memanah antara Kurawa dan Pandawa, hanya saja dialog antara guru dengan murid-muridnya seperti di postingan di atas tidak disorot dalam komik tersebut. Padahal, Neko kira pelajaran inti dari lakon tersebut justru ada pada dialog-dialog singkat di atas.

Dalam buku The Power of Concentration karya Theron Q. Dumount dikatakan bahwa salah satu kunci kesuksesan terpenting adalah kemampuan untuk fokus pada tujuan dan konsentrasi. Sayangnya, kebanyakan orang lebih mudah berkonsentrasi pada hal yang tidak berguna ketimbang pada hal-hal yang benar-benar penting bagi mereka. Misalnya, suka banget ngeluhin masalah yang dihadapi ketimbang fokus untuk mencari solusi. Atau pas lagi nyari bahan buat RPP eh...iseng-iseng buka Facebook malah keterusan! (idiih kok jadi nyindir diri sendiri gini yak?). 

Karena itu mulai sekarang ayo kita beristirahat sejenak sembari bertitik balik dan mengkaji ulang, apa sebenarnya tujuan yang ingin kita raih dalam hidup ini.

Saran untuk tulisan ini: Sebenarnya tulisan ini sudah cukup baik, sehingga Neko hanya perlu mengedit sedikit saja. Hal-hal yang Neko tambahkan cuma beberapa kalimat pendek yang berfungsi sebagai deskripsi untuk mengantarkan pembaca sebelum menuju dialog utama seperti ini:

'Dan pada akhirnya anak tertua dari pihak Kurawa itu pun gagal memanah patung burung itu.

Ketika Puntadewa, kakak tertua dari pihak Pandawa akan memanah, sang Guru pun menanyakan hal yang sama.'

atau yang ini:

'Pada akhirnya, Puntadewa pun juga gagal. Begitu seterusnya beberapa Pandawa dan Kurawa gagal memanah patung burung yang bergerak itu. Hingga akhirnya, sampailah giliran Arjuna.'
  
Kalimat-kalimat tersebut, sebagian Neko yang tambahin. Walaupun tulisannya pendek, tapi kalimat-kalimat deskriptif untuk mengantarkan mood pembaca itu penting loh. Biar lebih enak dibaca dan tidak terkesan langsung jadi tanpa diedit. Tapi overall, tulisan di atas layak mendapatkan 4 thumbs up untuk kesederhanaan dan keefektifannya dalam menyampaikan suatu pesan.

Mungkin kalau Pak Dian mau mengedit dan menambahi sedikit essay pada bagian "FOKUSLAH", tulisan ini cukup bagus untuk dimuat di majalah Intisari, atau media lain yang menyediakan ruang untuk essay-essay pendek bertema motivasi.

Bagaimana menurut kalian? Ayo berbagi apresiasi! =)

Cherio

Mizuki-Arjuneko


Profil Penulis:

Pak Dian dengan kelinci-kelincinya
Nur Muhammadian atau yang lebih dikenal sebagai "Pak Dian" (nama beken beliau saat di FLP Malang) adalah lulusan dari Universitas Brawijaya tahun 1994. Pernah bekerja sebagai core engineer di perusahaan telekomunikasi Indosat. Pak Dian bergabung dalam keluarga besar FLP pada tahun 2008. Awalnya saat FLP UM membuka Writing School selama 3 bulan. Dan sejak saat itu, Pak Dian pun sering menjadi tempat curhatan para pengurus FLP UM (kemudian FLP Malang), karena ke-cool-annya dan sudut pandangnya yang menarik dalam melihat setiap permasalahannya (cieee...). 

Pendek kata, Pak Dian enak banget deh kalau diajak diskusi. Sekarang Pak Dian memilih untuk berwirausaha membuka peternakan kelinci. Tulisan-tulisan beliau yang tidak kalah oke dengan yang di atas dapat langsung diakses di blog beliau di: http://nmdian.wordpress.com/