(DAS ESSAY): Malang Ijo Ruko-ruko

oleh: Quan Day

Numpang corat-coret, maaf para Aremania jika saya salah mengambarkan bumi Arema.

Sore sudah menuju akhir, saat nampak seorang ABG duduk di pinggir alun-alun kota, dengan pohon-pohon beringin besar sebagai latarnya. Melihat burung seriti berseliweran, tenang, tanpa diganggu pengamen atau anak-anak peminta. Merasakan hawa dingin yang menggelitik setiap pori. Sungguh alun-alun yang sangat nyaman dipakai bersantai, apalagi setelah kaki ini sudah lelah menapaki beberapa mall yang berdiri angkuh di sekitarnya. Setidaknya itu gambaran yang masih kuingat saat pertama kali menginjakkan kaki di Malang. Dulu, saat seragam abu-abu putih masih menjadi jati diri.

alun-alun Malang, tempo dulu
Bergeser sedikit ke bagian barat bumi arema, dengan kisaran waktu yang tidak terlalu lampau. Melihat sekelompok remaja, bergerombol santai di pinggir jl.veteran, menikmati udara malam dalam secangkir kopi. Ah, sungguh nikmat sepertinya. Tak nampak wajah lelahnya, walau sudah berjalan cukup jauh. Mungkin karena jalanan tidak sesemrawut sekarang, hingga jarak antara UNIGA dan Jl.Veteran bukan hal yang melelahkan untuk ditelusuri. Jalanpun bisa santai, tidak harus berebut jalan (baca: trotoar) dengan motor-motor tak tahu aturan.  Atau  tiba-tiba menghentikan langkah karena jalan tertutup oleh gerobak dagangan.

Dalam kisaran waktu yang tidak jauh berselang, di pagi hari yang bersih. Melihat seorang pemuda tampan berlari, santai tidak tergesa. Menyusuri jalanan di belakang UIN Malang. Sepi, jarang terlihat kendaraan lalu lalang. Bebas menghirup udara segar, sekali-kali berhenti melihat sawah yang ditumbuhi padi. Sebagai pengobat rindu akan kampung halaman.

Melompat jauh ke dunia sekarang. Mencoba menelusuri lagi sudut-sudut Malang yang pernah muncul dalam kenangan. Sayangnya, hampir semuanya sudah hilang. Semuanya sudah bertumbuh, mengikuti perkembangan Malang yang begitu pesat. Tidak ada lagi alun-alun yang nyaman, bahkan burung seriti pun sudah tidak betah untuk berseliweran di sana. Mungkin mereka telah migrasi, entahlah. Semoga saja suatu saat mereka mau kembali. Ah, satu tempat kini sudah menjadi kenangan.

Masjid Jami' Malang, tempo dulu
Ketenangan Jl.Veteran apalagi, sudah lama itu hanya tinggal kenangan. Saat sebuah gedung congkak bernama mall itu berdiri angkuh di sana, jangan pernah harap ketenangan ada lagi. Kini jalanan itu hanya menyuguhkan keramaian, kemacetan, dan romantisme konsumerisme. Dan percayalah, saat sebuah gedung telah sukses menancapkan jati dirinya di sana, tidak menunggu waktu lama lagi biasanya akan  melahirkan gedung-gedung baru di sekitarnya.

Mau lari pagi? Hati-hati, tengok kanan kiri, karena hampir semua jalanan tidak ramah bagi pejalan kaki, Begitu pula jalanan di belakang UIN. Tidak bisa lagi berlari santai di sana saat pagi. Jalanan sudah ramai mulai pagi, saling berebut mencemari udara. Sawah-sawah yang dulu sering aku pandangi juga sudah banyak yang mati, atau lebih tepatnya dimatikan. Berganti wajah menjadi ruko-ruko, warung-warung lesehan, perumahan, atau pasar yang entah jadi di tempati kapan.

Malang Ijo Ruko-Ruko, benar sepertinya sebuah kata yang pernah diucap oleh seorang kawan ini. Malang bukan cuma kota dingin atau kota pendidikan. Malang juga sudah bertumbuh menjadi kota ruko, kota mall, kota konsumerisme. Kota apartemen? Kita lihat saja tanggal mainya. Mungkin, beberapa tahun ke depan, akan sulit lagi melihat tanah lowong di sini. Bahkan bisa jadi melihat tanah pun tidak akan gampang, karena semuanya sudah tertutup aspal dan paving.

Saat semuanya itu sudah terjadi, kita tempatkan dimana diri kita?


Bersambung…


Editor's Note:

Hmm...tadinya Neko mengira ini semacam fiksi begitu, tapi dari judulnya kok bau-bau essay ya. Habisnya cara Pak Day memaparkan tulisannya tidak seperti tulisan opini atau essay pada umumnya. Sempat bingung mau diberi label apa tulisan ini. Setelah membaca beberapa kali, memang tulisan ini bergenre essay. Essay romantis kalau boleh Neko bilang hehehe... 

Saat membaca essay ini, Neko bisa membayangkan suasana alun-alun kota Malang dengan angin berhembus semilir memainkan jilbab Neko, ikut memandangi burung Sriti (walau Neko nggak tahu burung Sriti tuh kayak apa wujudnya...DOENG! =b) . Neko juga seakan duduk di bawah pohon beringin yang sama dengan yang digambarkan oleh tulisan di atas. Neko juga bisa merasakan dinginnya hawa "Malang Tempo Doeloe" yang dideskripsikan di atas (karena pas Neko nulis editor's note ini, hawa pagi emang lagi dingin-dinginnya hehe =b)

Membaca postingan ini, serasa melihat ke foto Malang jaman dulu yang tidak sesumpek dan seramai sekarang. Damai... Secara Neko lahir jauh lebih lama setelah Pak Day lahir, jadi Neko tidak sempat merasakan "syahdunya kota Malang" seperti yang Pak Day alami. Perasaan dari dulu Malang udah rame. Ahh...iri-iri-iri... Padahal kan yang orang Malang itu saya hehehe...

Anyway, Neko jadi penasaran kayak gimana jadinya kalau Pak Day menulis fiksi. Romantis juga nggak ya? Apalagi doi kan baru nikah tuuuuuh... Cieh cieh... (ehem! Balik ke topik!) Pendeknya Pak Day cukup baik dalam menerapkan konsep Show, Not To Tell! dalam tulisan ini. Kemampuan untuk membuat pembaca ikut terhanyut dan seakan-akan ikut mengalami pengalaman si tokoh yang ada dalam tulisan yang kita buat itu tidak bisa didapat begitu saja loh. Perlu latihan dan ketekunan mengamati karya-karya sastra yang sudah ada. Salut deh...

Cuma sedikit saran aja soal diksi yang simpel. Pada beberapa fragmen cerita di atas, kata "melihat"  sepertinya lebih pas kalau diganti dengan kata "memandang". Karena "memandang" itu rasanya lebih intens dan kuat jika dibandingkan dengan kata "melihat" yang kesannya hanya sekilas lalu. Mengutip kata-kata dari komik Silent Eyes karya Akaichi Michiyo (komik tentang fotografer kasus kriminal nih), "Mata memandang itu kuat. Mata melihat itu lemah."

Kekurangan essay ini mungkin hanya pada judulnya saja. Frase "Malang Ijo Ruko-Ruko" itu udah umum sih. Mungkin bisa dibikinkan judul yang lebih catchy dan fresh lagi. Seperti apa ya... hmmm "Maroko ==> Malang Area Ruko"? (hehehe...mekso mode).  Atau ada teman-teman Laskar Pena lain yang bisa bantu? Silahkan ikut sumbang apresiasi di kotak komen =)
Well, cukup segini dulu aja deh, editor's notenya. Keep your spirit in writing, Pak Day!

Cherio

Mizuki-Arjuneko 

Profil Penulis:

Achmat Hidayat, atau yang di FLP Malang lebih beken dengan panggilan "Pak Dayat" atau "Pak Day", kini menjabat sebagai Ketua Harian 1 setelah sebelumnya setahun ngendon di divisi Danus (Dana Usaha). "Quan Day" adalah nama pena sekaligus nama FB Bapak yang satu ini (dari dulu Neko penasaran, "quan" itu artinya apaan sih???). Beliau lulus dari Unisma (angkatan 2001)

Pertama kali ketemu, Neko sungkan ama Bapak yang satu ini. Udah sipit (padahal, Neko juga sipit wkwkkw), umurnya jauh di atas Neko, kayaknya pendiam pula. Setelah ni orang nikah ama temen Neko (yang juga anak FLP en teman se-liqo-an), baru deh ketahuan kalo nih orang... NYEBELIN!  Sukanya nyolot, terutama nyolotin Neko. Ketemu ama orang ini, berasa perang skak mat. Huh! Kok bisa ya? Apa menikah itu bisa mengubah karakter orang 180 derajat, atau dianya aja yang tadinya jaim (coz waktu itu belum  laku kali yah? hihihi)

Anyway, walau Neko sering dibuat geleng-geleng, sebenarnya doi lumayan baik loh. Salah satu hobinya yang disukai anak-anak FLP Malang adalah...doyan nraktir! Pas bujang dulu konon kalau anak-anak FLP Malang sering ditraktir makan en nonton bareng... Hmmm... Bagus-bagus. 

Tulisan-tulisan lain dari Pak Day, bisa diakses di blog: http://cakdayat.multiply.com/ dan di www.tahucampur.com

Lelaki yang bekerja di bidang internet marketing ini sekarang sedang merintis usaha online-nya bersama sang istri tercinta, Agie Botianovi. Sila kunjungi tokonya, Botia Shop.

(Divisi Apresiasi Sastra) Karya Sastra: Hidup Berkat Kritik dan Apresiasi


"Apakah sebuah karya sastra dapat langsung disebut 
sebagai "karya sastra", setelah dihasilkan? "


Ini adalah jargon pembuka diskusi yang sangat menarik ketika Neko sit in di kelas Teori Sastra. Kelas ini dipegang oleh Bapak Karkono, dosen Neko di Sastra Indonesia. FYI aja, Neko itu anak Sastra Inggris, tepatnya pendidikan Sastra Inggris. Semester depan Neko akan ambil ulang mata kuliah Literary Theory.

Jujur Neko agak kesulitan memahami Literary Theory. Semester lalu, Neko mencoba memasuki kelas itu (haha...buat kuliah kok coba-coba). Tadinya Neko mengira akan mendapatkan materi-materi seperti "cara menulis karya sastra dengan baik", ternyata...yang dibahas adalah...teori-teori untuk kritik sastra! Pengalaman Neko pada kelas itu bisa dibilang sangat tidak sukses. Karenanya Neko harus retake kelas ini.

Alhamdulillah, beruntung Bapak Karkono mengijinkan Neko untuk masuk ke kelas Teori Sastranya di Sastra Indonesia.

Buat yang udah kenal Neko, mungkin bisa jadi pada bingung dan berpikir, "Apa yang dilakukanm anak ini di kelas Sastra Indonesia?" 

Hahaha... karena memang sebenarnya Neko anak Sastra Inggris. Anak pendidikan pula! Tapi berhubung Neko agak nyentrik en doyan nulis*, Neko lebih sering dituduh sebagai  anak Sastra hehehe... Neko pingin double degree, tapi takut kuliah yang udah molor ini tambah molor lagi. Akhirnya Neko cuma mengambil jatah kuliah anak Sastra  di kelas-kelas seperti Cultural Studies, Asian Studies dkk. Neko lebih sering kelihatan main ama anak Sastra daripada ama anak-anak pendidikan hehehe... Like a fish out of the tank geetoh! (Atau malah like an English man in Newyork?)

*baca: aktivis facebook!

tampang Neko saat frustasi dengan kelas Literary Theory
Ndilalah pas ambil mata kuliah Literary Theory, Neko kena batunya. Gak nyambung blas ama apa yang diomongin! Ternyata teori-teori sastra itu lebih rumit daripada membaca karya sastra paling mbulet. Bahkan lebih runyam ketimbang saat membuat karya sastra itu sendiri. Mana kelasnya sore*,  dosennya pakai metode ceramah pula. Suram banget deh tuh kelas.

*jam dimana kucing-kucing normal lain harusnya bobo!

Neko pun cabut karena nggak tahan. Bahkan tanpa mengerjakan tugas akhir (mau ngerjain gimana, wong nggak ngerti blas!) Alhasil nilai (SENSOR!) pun menghiasi KHS dan benar-benar bikin Neko tambah frustasi. What the hell getoh dengan strukturalisme-lah, post-modernisme-lah,dan isme-isme lainnya suck! Teori-teori yang bikin sebal dan tidak practical! Apa gunanya isme-isme itu di dunia nyata ? Palingan menjadi beban wacana belaka? Anak-anak yang dapet nilai bagus di kelas itu belum tentu bisa menghasilkan cerpen seperti Neko! "I don't these hellish theories!"  That's what I thought for the first time.

But, bagaimanapun Neko harus melakukan sesuatu terhadap nilai aib ini...ARGGGGGH!

Lek ga lulus ni mata kuliah, bisa tercemar nih KHS seumur-seumur! Apalagi Literary Theory itu sebenarnya cuma mata kuliah pilihan (alias bukan mata kuliah wajib). Rugi amat IPK terjun bebas cuma gara-gara 1 mata kuliah non-wajib! Artinya Neko harus retake. Tapi di semester-semester berikutnya, rupanya kelas Literary Theory tetap dipegang ama dosen yang sama. Neko sih nggak benci dosennya. Cuma cara ngajarnya itu bikin ngantuk. Entah beliau sudah saatnya ganti metode, atau otak Neko aja yang terlalu simple untuk menerima hal-hal yang rumit. Huhuhu

Tuhan lalu memberikan jalan terang bagi Neko. Suatu hari Pak Karkono*, menawarkan kepada Neko untuk sit in** di kelas Teori Sastra. Kelasnya Jurusan Sasindo. Beliau bilang Neko bisa mendapatkan ilmu macam strukturalisme blablabla... itu dari kelas beliau. Puji Tuhaaaaaaaaaaaaaan! Alhamdulillaaaaah! Benar-benar setitik cahaya harapan di masa-masa molor kuliah yang kelam!  Akhirnya demi mempersiapkan diri untuk kelas Literary Theory semester depan, Neko pun sit in di kelas Teori Sastra Sasindo selama 1 semester, nyaris non-stop! Gabung ama para mahasiswa baru Sastra Indonesia. Hihihihi... Lagi-lagi ketemu brondong***. 

*dosen Sastra Indonesia yang sering bersedia jadi konsultan waktu Neko mau bikin cerpen

** Sit in= mengikuti perkuliahan di kelas lain. Nggak masuk KRS dan nggak dapat nilai. Tapi insyaallah dapat pengertian ilmu kimia yang lengkap.  Istilah halusnya "JADI PENYUSUP"!

*** motivasi sampingan yang bikin Neko tambah semangat. Hihihihi

Kesan Neko? It was really fun! Ada banyak yang Neko dapetin, padahal Neko baru pertama kali sit in di sana. Pertama kali Neko menyusup, saat itu adalah pertemuan kedua. Tapi udah ada dua teori sastra yang nyantol ni kepala Neko saat itu juga. Alhamdulillah...terimakasih Pak Karkono. Cara mengajar beliau enak diikuti. Beliau mampu menyajikan hal yang rumit menjadi bahasan ringan en mudah dicerna otak. Kelas jadi lebih menyenangkan juga karena Neko udah nge-fren ama nih dosen kali yaaaa? Hehehehe... Nah, apa aja yang udah Neko dapat dari sana? Check these out!
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

B. Pengenalan Kritik Sastra: Jadilah Pembaca Kritis! Kok Harus?

Nah, mulai bab ini, gaya pembahasannya jadi lebih serius nih. Sebagai pemanasan, mari kita lihat lagi kalimat pembuka postingan di atas:

"Apakah karya sastra dapat langsung disebut 
sebagai "karya sastra" setelah dihasilkan? " 

Ternyata jawabannya tidak. Sastra adalah salah satu bentuk kebudayaan manusia yang disampaikan dalam bentuk ide. Entah oral maupun non-lisan atau tertulis. Karena itulah...

"sebuah karya sastra hanya menjadi artifak atau benda mati jika belum dibaca oleh orang lain". 


Agar dapat mengerti maksud kalimat di atas, mari kita mengutip Wolfgang Iser*, 

"Literary work can only come to life when it is read. 
Therefore a literary work can only be studied 
through the eyes of the readers" 

Apa maksudnya? Artinya sebuah karya sastra baru bisa menjadi hidup kalau dibaca oleh orang lain. Jika karya itu sudah diapresiasi oleh pembacanya.

Karena itu, studi tentang sastra hanya bisa didapat melalui sudut pandang pembaca. Karena itu jangan berani-beraninya menyebut diri sebagai penulis kalau karya-karyanya dibiarkan ngendon sampai wuelek di laptop en ga pernah berani mencoba mempublikasikan karya. Minimal jadi aktivis blogger en facebook kaya Neko inilah. Huahahahaha...

*Note: Siapa tuh? Wolfgang Iser? Dia bukan sodaranya Wolfgang Amadeus Mozart loh! Hehehe...Neko belum ngajak kenalan lebih lanjut. Yang jelas Neko nyomot nama beliau dari power point-nya Pak Karkono hihihihi

Untuk penjelasan simpelnya, tengok halaman-halaman Sastra dan resensi buku di kolom-kolom koran hari Minggu. Biasanya di sana ada pembahasan suatu karya sastra secara khusus. Entah cerpen atau novel. Sedangkan resensi lebih kepada promosi buku atau iming-iming agar pembaca koran pun tertarik untuk membeli buku tersebut. Karya-karya sastra yang demikian inilah yang bisa dibilang sebagai karya sastra yang benar-benar hidup. Karena selain sudah diterbitkan dan merambah masyarakat luas, juga sudah mendapatkan respon dari orang lain. Ketika teman-teman membuat resensi buku atau meresensi cerpen orang lain dan mempostinganya secara sederhana di blog masing-masing, itu berarti teman-teman sudah menghidupkan suatu karya sastra. Jaman sekarang, jadilah pembaca yang cerdas dan kritis, bukan hanya pasif. 

Ada banyak karya sastra atau buku-buku yang bisa mengubah dunia. Harry Potter, membuat genre dunia fantasy digemari lagi, minat baca anak-anak meningkat, dan banyak penulis-penulis cilik seperti Ataka dan lain-lain yang akhirnya bisa menerbitkan buku mereka sendiri di usia yang sangat muda karena terinspirasi oleh Harry Potter. Ada buku Negeri Bahagia  yang membuat dunia menyalurkan jutaan dollar bantuan demi menolong para penderita lepra yang tersingkirkan di India. Ada juga Totto Chan, yang memicu revolusi pendidikan di Jepang dan beberapa negara lain (Totto chan kabarnya kini menjadi bacaan wajib para pendidik di Jepang.)

I dare to say that this is my 2nd bible
Pada tahun 2000-an James Redfield pun menggebrak dunia materialisme barat dengan novel The Celestine Prophecy-nya. Buku itu membuat banyak masyarakat dunia barat berbondong-bondong menggali kembali konsep spiritualisme yang di negara mereka sudah aus. Fenomena buku ini di seluruh dunia mungkin bisa disamai oleh ESQ oleh Agus Ginanjar itu Lalu ada Laskar Pelangi, tetralogi yang benar-benar out of the blue. Kini banyak sekolah si beberapa daerah terpencil sudah didirikan dengan profit yang didapat Andrea Hirata dari hasil penjualan bukunya yang mega best-seller. Kini buku itu bahkan diterbitkan secara internasional. Jangan lupakan juga Kang Abik dengan Ayat-Ayat Cinta-nya yang menghidupkan kembali khasanah karya sastra Islami yang berlandaskan pada moral dan tidak hanya nafsu birahi seperti pada "sastra-sastra parfum" umumnya (yang model gini mah bukan "Sastra Wangi". Istilah yang lebih tepat seharusnya SASTRA BUSUK!)



C. Kesimpulan

Hanya menjadi penikmat sastra boleh-boleh saja, tapi alangkah bagusnya jika teman-teman bisa mendapat nilai lebih dengan menjadi pembaca yang kritis. Tidak hanya keuntungan secara material (seperti uang jika artikel tentang sastra atau jika resensi bukunya dimuat  di media massa), tapi juga secara...hmm...spiritual. Karena membaca karya sastra adalah sarana pembebasan jiwa. Di sana kita bisa mengarungi suatu dunia yang benar-benar berbeda seperti Harry Potter, Alice in Wonderland, sampai Kerudung Merah Kirmidzi. Kita bisa mengalami pengalaman batin yang dilalui para karakter cerita untuk mengembangkan dirinya, hanya dengan berimajinasi.Bayangkan juga bagaimana bahagianya para penulis itu ketika hasil jerih payahnya berkutat selama ribuan jam di depan komputer atau mesin ketik kemudian mendapat respon dari pembacanya.

Pertanyaannya, apakah semua buku di atas bisa populer dengan sendirinya? Tentu tidak. Selain usaha keras para penulis, penerbit, dan distributor buku dalam memasarkan buku-buku itu, peran pembaca pun tak bisa diremehkan. Misalnya nih, banyak teman Neko yang awalnya nggak tertarik blas waktu melihat Novel Laskar Pelangi yang setebal bantal itu di toko buku. Neko sendiri tahu buku ini dari sebuah resensi di satu surat kabar ternama. Tahu apa kata salah satu teman Neko di forum penulis? "Apaan nih? Baca buku itu buku luar negeri, jangan yang dibikin ama orang Indonesia!" Tapi dia langsung mengubah pendapatnya setelah melihat komentar Garin Nugroho di  bawah buku itu! Setahun kemudian, sang teman dengan bersemangatnya mendatangi jumpa fans dengan Andrea Hirata di satu universitas ternama di Malang! Huakakakakakak! Orang-orang pun banyak yang tertarik dengan novel ini, baru setelah Kick Andy menayangkan ulasan tentang Laskar Pelangi.

The Celestine Prophecy awalnya juga tidak laku. Promosi dari mulut ke mulut-lah yang mendongkrak penjualan buku itu dengan drastis. Nah, sudah jelas kan betapa rekomendasi para pembaca, resensi , dan apresiasi ternyata sangat berpengaruh dalam menghidupkan karya sastra?


Ayo budayakan apresiasi sastra. Sekali lagi, jadilah pembaca yang kritis lagi kreatif

Cherio

Mizuki-Arjuneko (Koordinator Divisi Apresiasi Sastra FLP Malang)

(CHAN: Catatan Harian Akhwat Narsis): Mendadak Nikah

Yap kali ini giliran salah satu editor kami yang unjuk karya. Mari kita bantai karyanya beramai-ramai. Huakakaka....


“Lho Zie, aku dah nikah?” tanya mbak Yusi tak percaya. Ganti aku yang bingung…

“Sepertinya sudah,” mengamati beberapa saudara yang menelungkupkan tangan, berdoa.
 “Kok?” keningnya berkerut. Aku tersenyum…
Barakallahulaka….ya Mbak,”
“Ndak bisa ini! Di luar skenario! Mas Firman datang ke sini untuk melamarku! Cuma melamar! Belum menikah! Waduh, belum bilang teman-teman, pasti mereka protes, dan bla bla bla..” Mbak sepupuku itu nggrundel sendiri.

“Hahaha, aku malah seneng mbak, jadi ndak nunggu lama-lama,”
“Aku juga belum minta mas kawinnya apa,” tambahnya.
“Lha itu cincin,”
“Yang lain?” tanyanya… hahaha bisa saja!
Bukan hanya Mbakku yang bingung, aku juga. Agenda awal daku datang ke rumahnya adalah untuk menyaksikan lamaran Mbak Yusi oleh Mas Firman. Tapi sampai sana?
Ehm.. acara awal sih normal seperti lamaran pada umumnya, namun di tengah acara ibu Mas Firman mengeluarkan cincin kawin.
“Mungkin tukar cincin,” pikirku.
But… tiba-tibapembawa acara memanggil Pak Penghulu yang ternyata sudah disiapkan keluarga Mbak Yusi. Tak hanya penghulu yang diundang tapi juga penceramah.
Jyaaa….
Akad nikah pun diucapkan! Subhanallah, benar-benar dua keluarga ini kompak banget ‘ngerjainnya’!
Seru juga sih… surprise jadinya…
Ganti Mbakku yang geleng-geleng kepala, “Ibu bapak ini bisa saja sih!” aku dan sepupu-sepupu tertawa mendengarnya.
“Bayangin deh Zie, besok aku harus kembali ke Kudus untuk kerja. Cuma ijin satu hari untuk lamaran! Mas Firman juga, harus kembali ke Jakarta untuk dinas,”
“Ya, aku bayangin,” candaku ditimpali pukulan darinya. Rumah kami di Sumberpucung.
“Pokoknya nggak ada malam pertama untuk hari ini!” ujarnya.
“Hahaha, masak iya?” tanyaku, mbak Yusi tersenyum.
“Aku belum siap kalau nikah sekarang,”
“Ndak sekarang, kan dah tadi nikahnya Mbak…”
Mengingat peristiwa tiga tahun yang lalu aku jadi tertawa sendiri. Proses yang begitu singkat, bertemu di pasar, sepertinya pernah kenal, eee ternyata teman ngaji pas kecil, ada saling ketertarikan. Enough…
Usut punya usut ternyata keluarga Mas Firman adalah teman keluarga Mbak Yusi, trus ternyata keluarga juauuuhhku.
Lha Mas Firman dulu pas kecil jadi murid ibuku. Trus lamaran, ups ndak pakai lamaran dink, langsung nikah! Ckckck… kalau jodoh nggak akan kemana…
Then pasar, tidak hanya buat jual beli, tapi juga buat ketemu ma si jodoh, hehehe…
Inginku menucapkan doa itu sekali lagi Mbakku sayang, Baarakallaahulaka wa baaraka’alaika wa jama’a bainakumaa fii khoiri…
Robb, karuniakanlah keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, anugerahkanlah anak yang shaleh buat Mbak dan Masku ini.. amiin…
***
Ternyata tidak hanya Mbak yang mendapat kejutan, aku juga! Satu hal yang tidak pernah kusangka sebelumnya. Saat itu aku pamit ke Malang untuk pergi ke IBF, ada acara Talkshow bareng 5 penulis kota Malang. Keluargaku, keluarga
Mbak Yusi, keluarga Mas Firman, dan keluarga dekat lainnya pergi ke bandara mengantar Mas Firman balik ke Jakarta, dan mengantar Mbak Yusi kembali ke Kudus. Acara di IBF, sama sekali tidak kusiarkan alias diam-diam.
Lha, biasanya keluarga besar perginya ke pasar, supermarket, atau toko-toko yang lain. Jarang dan hampir tidak pernah ke IBF.
Sesuatu terjadi, siang itu saat talkshow, datanglah rombongan dua mobil ke acara IBF… glodhak! Aku yang kebagian bicara langsung "cep" diam, bicara seperlunya saja.
Ada angin apa ini? Tumben-tumbennya?
Dari arah penonton, Budhe, Pakdhe, Ayah dan Ibu Mas Firman, Tante, serta keponakan-keponakan mengacungkan tangan ke arahku.
“Itu kan Mbaaakk..” jyaaa…
Duh orang-orang…

Okus, 28 Agustus 2011
Editor's Note:
Pas Neko membaca judul postingan ini, Neko kira Mbak Zie yang bakal menikah. Eeee...ternyata malah sodaranya. Huuuuu...penonton kecewa! Wkwkwkw. Anyway, gaya menulis Mbak Zie di sini bisa dibilang unik. Sangat unik. Lincah dan gaya bertuturnya bisa membuat kita seolah mendengar Mbak Zie sendiri yang menuturkan ceritanya kepada kita semua. Walaupun begitu, bukan berarti tanpa kekurangan...
Narasi deskripsinya manaaaaaa Buuuuk??? Benar-benar full dialog. Nggak ada penjelasan Mbak Yusi itu sebenarnya "siapa" dan "kaya apa" orangnya. Mas Firman itu orangnya gimana Situasi lamarannya gimana. Nggak ada. Padahal, deskripsi (terutama dalam karya tulis berbentuk narasi), sangat penting untuk membangun suasana juga menggambarkan perasaan hati dan konflik psikologi sang tokoh. Dialog memang lebih lincah. Tapi jika tidak diimbangi dengan narasi deskripsi, juga jadinya agak janggal. Seharusnya Mbak Zie bisa lebih mengeksplor lagi detail ceritanya, misalnya awal mula ketika Mbak Yusi bertemu dengan Mas Farid di pasar sampai akhirnya saling naksir dan menikah. Itu kan menarik sekali! Tentunya bakal lebih banyak lagi kelucuan yang bisa dieksplor dari sana...
Sebenarnya sudah sering Neko protes soal ini ke Mbak Zie. Beliaunya cuma beralasan gaya seperti ini terjadi karena doi lebih sering nulis non-fiksi. Bukan alasan Mbak, secara Neko pernah baca cerpennya doi pas mahasiswa dan narasi deskripsinya udah lumayan kok. Saran Neko, mending Mbak Zie lebih banyak baca karya-karya bergenre PELIT (Personal Literature) yang banyak diterbitkan oleh Gagas Media atau Gradien Media. Misal, Kambing Jantannya Raditya Dika, Anak Kos Dodolnya Dedew, dan Gokil Dad. 
Bagaimana menurut kalian? Ada lagi yang mau berbagi apresiasi?
Cerahkan  dunia dengan karya sastra. Hidupkan karya sastra  dengan berbagi apresiasi
Cherio


Mizuki-Arjuneko 


Profil Penulis

Mbak Fauziah Rachmawati, akhwat asli Sumberpucung ini dari masa sebelum lulus kuliah sampai sekarang berdomisili di Malang.Kini bekerja sebagai guru di SD IT As-Salam, sesuai dengan jalur pendidikannya selama masa kuliah yaitu PGSD (Pendidikan Guru SD) di Universitas Negeri Malang. Di sana, ia hobi sekali menggoda murid-muridnya... Ampun deeeh...

Sejak kuliah akhwat yang satu ini memang sudah enerjik dan susah diemnya. Mbak Zie (panggilan bekennya) sudah lama berkiprah di bidang penulisan karya ilmiah dan pernah menjadi Juara 1 LKTM tingkat Universitas, dan Juara III LKTM di tingkat regional. Selain itu, Mbak Zie juga suka membuat cerpen. Salah satu cerpennya yang bertemakan aborsi dimuat dalam Antologi puisi FLP UM "Aku Ingin Melukis Wajahmu".

Bakat koleris dan leadershipnya terlihat jelas ketika beliau diamanahi sebagai ketua FLP UM 2008/2009, dan setelah lulus, mendapat amanah juga, lagi-lagi sebagai ketua, di FLP Malang periode saat ini. Walau begitu, kalau sudah muncul sanguinnya, Mbak Zie sangat asyik untuk di-bully-bully hehehe...

Beliau baru saja terpilih menjadi pemenang pemuda pelopor. Mengikuti event itu dengan tujuan agar FLP Malang bisa diakui dan memiliki link ke orang-orang pemerintahan. Oke deh, Sista. Terus berjuang yaa...

Ujian Keikhlasan

Sumber : inet

By Nur Muhammadian

Menulis untuk berbagi. Berbagi dengan menulis. Berbagi tulisan. Saya suka semuanya. Saya suka berbagi karena sudah berkali-kali merasakan manfaatnya, semakin lama semakin suka. Dan berbagi melalui menulis adalah berbagi yang menghadirkan suatu perasaan yang luar biasa, luar biasa bahagia, luar biasa nikmat, luar biasa nyaman.

Suatu waktu saya bertemu dengan seorang kerabat yang bekerja pada sebuah media cetak. Saya sampaikan kepadanya tentang kumpulan artikel tulisan saya, dan menawarkan untuk dimuat di media tempat dia bekerja. Dia meminta saya mengirimkan artikel saya melalui email. Saya kirimkan empat artikel pendek saya. Beberapa minggu kemudian dia menyampaikan bahwa artikel saya cukup bagus untuk dimuat, tetapi pimpinannya minta artikel lebih banyak lagi agar selalu ada bahan untuk mengisi kolom yang disiapkan untuk artikel saya. Saya menyanggupinya, dan saya sampaikan ke dia bahwa kumpulan artikel itu akan saya bukukan.
“Kalau sekarang dimuat di Koran kami, gak takut rugi mas? Nanti bukunya gak laku?”
“Insya ALLOH tidak pengaruh jelek, justru pembaca Koran bisa jadi potensial pembeli. Sebaliknya apakah Korannya Abang bersedia memuat artikel yang akan dibukukan?”
“Saya tanyakan pimpinan dulu ya mas…Tapi kami tidak bisa menyediakan imbalan ya mas…”
“Tidak apa-apa Bang…Saya ikhlas, yang penting tulisan saya bisa bermanfaat untuk pembaca”

Saya kirimkan tiga puluh empat artikel saya. Dan saya menunggu kabar selanjutnya.

Lama tidak ada kabar tentang artikel yang saya kirimkan, sampai beberapa minggu kemudian saya mendapat informasi dari adik saya. Saat saya mendapat informasi dari adik saya sedang tidak berada di kota tersebut. Adik saya mengabarkan bahwa artikel saya sudah dimuat beberapa minggu sebelumnya. Adik mendapat info secara lisan dari kerabat yang saya titipi naskah, tidak resmi dari pihak media cetak tersebut. Saya agak terkejut dan heran karena tidak ada konfirmasi apapun dari pihak media, baik melalui telepon maupun email tentang pemuatan artikel saya. Saya minta tolong adik untuk mendapatkan kliping Koran saat artikel saya dimuat.

Perlu waktu beberapa hari adik mendapatkan kliping Koran, dalam bentuk soft copy dari pihak media, dan harus mencari sendiri satu per satu. Saat saya terima soft copy melalui email kemudian saya baca, saya sangat terkejut bercampur emosi. Artikel saya dimuat seperti aslinya, dan tidak ada satu pun kata yang menyebutkan nama saya. Di Koran itu artikel saya dimuat namun tidak ada tanda-tanda sedikitpun bahwa itu  tulisan saya. Saya sudah ikhlas tidak mengharap imbalan, tapi apakah itu berarti saya tidak punya ‘hak’ sama sekali? Apakah saya tidak punya hak untuk diakui sebagai penulis artikel itu? Bahkan saya tidak punya hak untuk tahu bahwa artikel saya dimuat di Koran.

Saya emosi, dan saya menganggap wajar bila emosi. Sempat saya berencana memperkarakan hal ini secara serius seandainya saya tidak membaca postingan teman-teman saya di Facebook tentang berbagi.

Dari awal khan saya sudah berniat ikhlas? Kenapa harus emosi bila nama tidak dicantumkan? Mengapa sewot saat artikel dimuat tanpa pemberitahuan? Bukankah ikhlas itu mutlak, tanpa syarat? Saya khan mengikhlaskan sesuatu yang berpotensi menjadi ‘ilmu yang diamalkan’? Sesuatu yang bisa terus bergulir, berlipat ganda tanpa henti sampai akhir zaman. Dan tidak diperlukan identitas tertulis untuk itu, karena YANG MAHA MENGETAHUI pasti memiliki catatannya.

Ternyata saya belum bisa dinyatakan ikhlas sebelum diuji. Saya belum beriman tentang kekuatan ikhlas sebelum lulus ujian. Dan kali ini saya sedang diuji, saya sedang diukur. Semoga saya lulus…Mohon doa teman-teman…

Teruslah

Teruslah berjalan..
Ketika keberuntungan tak lagi menghinggapi sayap jiwamu..
Dan kegagalan selalu mendekapmu

Teruslah berjalan…
Ketika sang mentari tak sudi lagi menyinari jalanmu dan menemani setiap langkahmu

Teruslah berjalan
ketika batu-batu mulai menghujanimu
Menerpa setiap harapanmu, dan berusaha meruntuhkan buah mimpimu

Teruslah berjalan
Meski duri-duri tajam siap menyambutmu
Membelaimu dan merusak benih benih rahangmu

Teruslah berjalan
Meski angin dan udara tak lagi mendukung napasmu
Menyesatkanmu dan menerjang arahmu..
Ketika kaki ini mulai lelah untukberjalan
Ketika mata ini mulai sayup untuk melihat
Ketika arahmu  tak lagi dapat terlihat

Dan tetaplah berjalan
Sampai kau menemukan apa yang kau inginkan

December 29, 2011 at 3:15pm

Nugraheni Syakarna

Statusku, Statusmu, Status Kita

Adakah dari teman-teman yang tak punya akun di jejaring sosial?? Kalaupun ada saya rasa jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Ya... penggunaan facebook hari ini sangat familiar di kehidupan kita. Tak hanya pemuda, orang dewasa, bahkan anak-anak pun memilikinya dan ikut ambil bagian sebagai member dari fenomena ini.

Facebook sebagai akun terlaris abad ini telah merubah segala hal dalam ranah kehidupan. Banyak orang yang menggunakannya tak hanya sebagai media pecari kawan semata namun juga sebagai media untuk berbisnis dan berkarya. Di sisi lain banyak pula orang yang seakan terbang dari kehidupan nyatanya dan masuk dalam kamar-kamar maya yang ada di facebook, asyik dengan semua di dalamya hingga melupakan kehidupan nyata. Ayah lupa pada anak istrinya, ibu lupa pada rumah tangganya  dan anak lupa pada kewajiban belajarnya. Ironis.

Berbicara mengenai status, saya yakin banyak diantara kita yang sangat menggemari hal satu ini, bukan ??

Semua individu di dunia memang punya kebebasan, punya hak asasi dalam kehidupan, bahkan bebas berekspresi, tak terkecuali dalam memproduksi status. Saya memiliki banyak teman yang sangat intens update status. Statusnya beragam...

Panas nih....cari penjual es ah....
Galau. Ada yang punya obat sakit hati nggak???
Menu makanku hari ini, tempe bakar plus sambel pedessss banget..Mantapppsss.
Ujian nih....Aduh gimana dong...please help me.....hiks..hiks
Pusssinnggggg.....
Bahkan ada beberapa status yang mengucapkan kata-kata kotor. Saya sempat bertanya kepada seorang teman yang intens update status terkait alasannya yang sangat gemar meng-update status di akun facebook-nya. Dan jawabanya sungguh sangat simpel Kawan!! “Kan disuruh nulis apa yang kamu pikirkan? Jadi aku tulis aja apa yang ada dipikiranku”

Status mungkin hanyalah hal sepele dari segala kompleksitas kehidupan yang kita alami. Alangkah baiknya jika kita belajar untuk tidak latah dalam meng-update status kita. Tuliskan segala hal yang bermanfaat, sesuatu yang dapat memotivasi dan menginspirasi orang lain. Mungkin saat kamu menuliskan status, tak menyadari ada banyak mata di belahan dunia lain yang menjadi kawanmu membaca apa yang kamu tulis. Bila kamu menuliskan kata-kata biasa-biasa saja, maka orang lain yang membaca juga akan biasa-biasa saja, bahkan mungkin menertawakan. Lain halnya bila kamu menuliskan sesuatu yang mengandung nilai-nilai positif. Maka orang lain yang membaca akan tersugesti untuk melakukan hal-hal positif. Cukup dengan kata  Semangatttt...... , maka saya yakin orang lain yang membaca juga akan kembali mempunyai semangat. Tanpa kamu sadari kamu sudah berbuat baik pada orang lain melalui status. Mungkin ada orang-orang di luar sana yang menunggu status-status penuh hikmah darimu. Mario Teguh contohnya, statusnya selalu menginspirasi dan penuh makna.Dinanti-nanti penjuru dunia yang menjadi kawannya.

Kita pun juga bisa menjadi Mario Teguh selanjutnya. Tetap teguh menginspirasi, memotivasi dan berbuat baik bagi sesama

Statusku, Statusmu, Status kita.....


Mari kita berbuat lebih banyak, memotivasi dan menginspirasi dunia lewat STATUS

Perempuan Merah & Lelaki Haru, FLP Malang #3


Perempuan Merah & Lelaki Haru

Kategori: Fiksi, kumpulan cerpen + proses kreatif para penulis
Penerbit: Ide Kreatif
ISBN: 978-602-18126-3-1
Tebal: 158 halaman++
Harga hari ini: Rp. 25.000
Harga asli: Rp. 40.000,-
Pemesanan: Fauziah Rachmawati, 085649505617

15 cerpen mewakili 11 karakter penulisnya. Anda menikmati sajian pembuka hingga penutup, bahkan pencuci mulut sekaligus dalam satu waktu!

Apa pembatas darah dan airmata? Mungkin tawa, mungkin perenungan, atau teraduk labirin isi kepala penulis 15 kisah.

Dari kisah bertempo lambat, cepat... bertambah cepat, hingga sesak. Atau Anda sudah sesak sejak membuka kisah pertama!