Showing posts with label Fauziah Rachmawati. Show all posts
Showing posts with label Fauziah Rachmawati. Show all posts

Sejarah FLP Malang



SELAYANG PANDANG TENTANG FORUM LINGKAR PENA

  1. FLP (Forum Lingkar Pena) adalah sebuah organisasi kepenulisan berasaskan Islam, bergerak di segala bidang yang berhubungan dengan kepenulisan dan pemberdayaan penulis.
  2. FLP berdiri pada tanggal 22 Februari 1997 di Kalimantan, diprakarsai oleh Helvi Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Muthmainnah.
  3. VISI
    Visi FLP adalah Membangun Indonesia yang cinta membaca dan menulis serta membangun jaringan penulis berkualitas di Indonesia. FLP sepakat untuk menjadikan menulis sebagai salah satu proses pencerahan umat.
4.      MISI
a.  Menjadi wadah bagi penulis dan calon penulis.
b. Meningkatkan mutu dan produktivitas (tulisan) para anggotanya sebagai sumbangsih berarti bagi masyarakat.
c. Turut membangun citra pers yang obyektif dan bertanggung jawab.
d.         Turut meningkatkan budaya membaca dan menulis, terutama bagi kaum muda Indonesia.
e. Menjadi organisasi yang selalu memunculkan penulis baru dari daerah di seluruh Indonesia.
5.      Semboyan: Berbakti Berkarya Berarti.
6.      FLP yang berpusat di Jakarta ini memiliki cabang di berbagai kota di Indonesia (dari Sabang sampai Merauke), bahkan menyebar ke beberapa negara seperti Mesir, Yaman, Hongkong, Belanda, Singapura, Jepang, Amerika, Inggris dll.
7.      Cabang pertama didirikan di wilayah Kalimantan Timur pada tahun 1998 yang berpusat di Bontang serta cabangnya di Samarinda, Balikpapan, Tengarong, dan Sangata.
8.     FLP Wilayah Jawa Timur yang berpusat di Surabaya telah memiliki cabang di beberapa kota, antara lain di Malang, Pasuruan, Blitar, Sumenep, Pamekasan, Probolinggo, Jember, Kediri, Jombang, Bondowoso, Banyuwangi, dll. Periode 2011—2013 FLP Wilayah Jawa Timur dipimpinan oleh Adam Muhammad (Lutfi Hakim).


FLP CABANG MALANG
     
  1. Sejarah FLP Malang
FLP Cabang Malang berdiri pada 22 Nopember 2000 di Aula Akper jl Ijen (sekarang poltekes)Malang yang diprakarsai oleh Abyz Wigati, Izzatul Jannah, dan Bahtiar HS.
  1. Sekretariat:
Pada awalnya, sekretariat  FLP Cabang Malang berada di Terusan Ambarawa No. 52 A Malang. Kemudian sejak tanggal 26 Januari 2009 hingga 2013, berpindah ke:
            Perpustakaan Umum dan Arsip Kota Malang
            Jalan Ijen No 30 A Malang 
      Tahun 2015 markas FLP-sekarang pindah di Perum Taman Embong Anyar 2
Blok H-11

3.     FLP Ranting
FLP Malang memiliki beberapa ranting yang berpusat di beberapa perguruan tinggi, yaitu UM (Universitas Negeri Malang), UMM (Universitas Muhammadiyah Malang), UIN (Universitas Islam Negeri) Malang, dan SMAN 10 Malang.
4.     Kepengurusan FLP Malang
            2002–2003      : Abyz Wigati
            2003–2004      : Hanif Acep
            2004–2005      : Dadang Kriswanto
            2005–2008      : Kukuh Santoso
            2008–2010      : Faris Khoirul Anam
            2010-2013        :  Fauziah Rachmawati
            2013-2014        : Mahfuzh Huda
            2014-sekarang : Dyah Wulandari






Abyz Wigati
Dadang Kriswanto
Faris Khoirul Anam
Fauziah Rachmawati
Mahfuzh Huda
Dyah Wulandari



Dirangkum oleh 

Membedah Cerita Rakyat, Menyambut Lomba Menulis Cerita Rakyat oleh Kemendikbud

Bedah karya di FLP Cabang Malang kali ini membahas cerpen Fauziah Rachmawati tentang Ken Dedes, Anusapati, Ken Arok, Tunggul Ametung, dan sebagainya (gak perlu ditulis semua, saking banyaknya nama tokoh dalam cerpen ini). Zie menulis cerpen ini untuk warming up lomba menulis cerita rakyat dari kemendikbud yang deadline-nya 20 Agustus 2015.

Dalam cerpennya yang ke sekian ini, akhirnya kami menjumpai literature leap oleh Zie: beberapa paragraf dalam cerita ini mulai puitis, liris, dan dramatis. Rasa bahasa yang dikenakan untuk menghias paragraf-paragraf itu semacam lamis dan sedikit magis. Halah. Hihi. Tapi iyes, Zie sepertinya mulai bereksperimen dengan deskripsi dan diksi. Awesome!

Estafet Menulis, Estafet Ketawa

Sumber : kompas

“Hei, masak balonnya bisa bisa jadi ayah? trus jadi bom?!”


“Haha.. Apa hubungannya pakaian nggak bisa kering dengan tak sendiri? Emangnya kalau pakaiannya kering jadi tak sendiri? Jadi punya pasangan?”


“Ini malah jadi cerita tentang George si Monyet. Kebanyakan nonton film!”


“Hiks.. kau merusak ceritaku!”


Dan berbagai celetukan yang lain.


Minggu 14 Juni 2015 kami -kru FLP Malang- terbahak-bahak di depan Rektorat UIN. Tiap mendapat lembaran dari teman sebelah dahi menjadi berkerut, mata berputar memegangi mulut, kemudian tak tahan menahan tawa. Apalagi kalau dapat naskah dari barisan “pengacau” hahaha piss teman-teman.


Hari itu kami membuat cerita estafet. Kami duduk melingkar, menulis bersama, dengan urutan ke arah kanan. Dimulai dari Mahfuzh, Muchtar, Arla, Mas Danang, Yeni, Zie, dan Ninda.


Sebelum menulis kami membuat undian tema. Setelah itu mengundinya.


Yenny-dasi, Lita-gudang, Fauziah-mengejar, Muchtar- pakaian, Erla-dari, Mahfuzh teh, dan Mas Danang mimpi.


Awalnya tak masalah, sampai melewati teman-teman “unik”, cerita itu jadi bermasalah. Kami dibikin gregetan, geli, dan terpingkal-pingkal.


Ketelitian saat membaca saat berpengaruh terhadap alur. Dalam permainan ini satu orang satu kalimat, begitu seterusnya. Jika terlewat membaca satu kalimat saja, cerita bisa berantakan.


Contohnya dalam cerita dasi


“Dia tidak pernah tahu, dasi merah yang dia gunakan saat ini adalah pemberianku. Aku membelinya setelah mengumpulkan uang makan sedikit demi sedikit. Bahkan aku tak pernah sekalipun membelikan dasi atau hadiah yang lain untuk bapak. Tapi ia berbeda, aku bisa menghabiskan seluruh uang tabunganku untuk membuatnya senang. Berkatnya pun aku kini langsing, tapi bisa dibilang juga kurus kering. Kau tahu bahkan akupun harus memulai diet jenis baru makan dua kali seminggu. Meskipun sebenarnya dietku tak ada hubungannya sama sekali dengan dasi buat bapak. Hanya karena dasi aku harus diet? Ehm ta kusangka.”


Kata “dia” menurut penulis pertama adalah seorang laki-laki yang –mungkin- disukainya. Tapi menurut penulis berikutnya, “dia” bisa jadi bapak. Then, dari kata dasi, bisa nyambung ke langsing dan diet. hehehe...


Saya suka cerita mimpi, di awal kami berkutat tentang mimpi yang tak berujung. Mimpi si tokoh yang belum terwujud. Kemudian –entah siapa saya tak tahu ^_^- mengalihkan mimpi menjadi artis dengan kiasan yang menarik. Kecerdikan personil estafet sangat dibutuhkan untuk mengolah cerita menjadi cantik.


Dalam cerita “Teh”, kami agak kebingungan meneruskan alur. Coba baca ini, “Bagaimana mungkin usiaku masih 14 tahun. Terus aku harus bagaimana? Mungkin aku harus menikah dengan seorang lulusan sarjana berprestasi agar dia saja yang repot mengurus kebun ini dan aku, tentu saja. Istriku yang berprestasi pasti mampu bekerja keras mengelola perkebunan ini. Selain pintar dia juga kekar. Tak perlu sekekar aku, cukup dia mampu mengangkut dua keranjang di bahu. Dan bisa dipastikan juga harus kuat melayaniku. Tahukan maksudku? Sudahlah lupakan saja. “


Tokoh utama adalah laki-laki umur 14 tahun, dia mencari istri lulusan sarjana. Berapa ya selisih umurnya? hehehe. Tambah lagi, ada kata “kekar” di sana. Ngapain sarjana angkar-angkat barang berat, perempuan pula. kalau sarjana mah bisa jadi manager hehehe.. ini candaan kami saat sadar ada yang aneh dalam cerita Teh.


Menulis ide dasi membuat kami terbahak-bahak, penulis mencoba tega membuat sang ayah gila. Ide pakaian tak kalah nyleneh! Kami memutar otak memikirkan bagaimana nasib pakaian. Diberi minyak wangi, dibuang di selokan, dibakar, atau? Sampai-sampai si tokoh harus googling guna menyelamatkan nasib pakaian.


Ide mengejar adalah cerita terkonyol dan absurd, ada yang miss di sini. yang membuat balon bisa berubah menjadi ayah, kemudian jadi bom. Ceritanya sampai ke teroris juga! Benar-benar imajinasinya....


Ide surat adalah cerita yang “selamat” dari keusilan kami. Meski ada yang usil, langsung ada yang menetralisir agar dia kembali ke jalan yang benar. :)


Terakhir ide “dari”, ide ini dari Muchtar. Awalnya kami protes, idenya kok “dari”? Kata Muchtar ide memakai teknik menghitung angka dari bacaan yang ia bawa. Oke dah lajut.


Cerita dari ide “dari” ini lumayan kreatif. Awal cerita kami mencoba mengulur-nglur deskripsi siapa sebenarnya yang mematikan alarm.


“Dari cahaya yang masuk lewat celah jendela aku tahu bahwa hari ini sudah menjelang siang. Tak biasanya aku bangun sesiang ini kalau tidak karena ada yang mematikan alaram handphone-ku. Ya ampun!

“Pasti dia yang mematikanya!” dugaanku melayang pada satu nama. Ah, sudahlah! Aku harus lekas. Dari kamarku aku menuju dapur. Ada lonceng bel dari alarmku ketika aku ingin mengambil gula dari toplesnya. Berbunyi tiga kali saat sendokku masuk pada toples. Oh ternyata alarmku tidak dimatikan! Tetapi diubah jamnya jadi jam 11? Kurang aja! Aiss!


Kuletakan gelas yang belum kuaduk, aku menuju kamarnya. Apa maksudnya melakukan ini padaku? Dan ternyata pintu kamarnya terkunci. Ku gedor-gedor pintu kamarnya yang terbuat dari tripleks lapuk. Pintu lapuk itu terbuka.” Sampai beberapa putaran kami terus berputar pada si pelaku.

Sampailah cerita ini ke tangan Mahfuzh, dia memutuskan pelakunya adalah George! Si monyet cerdik. Ehm.. efek banyak menonton film, saya pikir pelaku adalah manusia, tapi ternyata adalah monyet. Hehehe..

Menulis estafet adalah salah satu teknik menulis yang menyenangkan dan menyegarkan. Sebagai penulis kita belajar sabar jika ide kita tidak sama dengan ide teman. Apalagi jika jatahnya satu orang satu kalimat, kadang kita gregetan kalau teman selanjutnya tidak paham dengan yang kita maksud. But inilah uniknya, dari satu kalimat bisa jadi beberapa ide cerita, alur yang beragam, dan pasti ada hal tak terduga.


Cerita estafet ini akan menjadi seru jika personilnya pun unik-unik. Apalagi siang itu, kami berdelapan memiliki karakter yang sama sekali berbeda! ada yang usil, kreatif, puitis, dan ada pula yang tak terbiasa dengan fiksi.


Namun ternyata, dengan bersama berbagai kharakter itu menjadi paduan yang manis saat membuat cerita.


Mau tahu bagaimana serunya cerita estafet kami? ini dia


1. Mimpi

2. Teh

3. Dasi

4. Gudang

5. Pakaian

6. Mengejar

7. Dari

8. Surat

(CHAN: Catatan Harian Akhwat Narsis): Mendadak Nikah

Yap kali ini giliran salah satu editor kami yang unjuk karya. Mari kita bantai karyanya beramai-ramai. Huakakaka....


“Lho Zie, aku dah nikah?” tanya mbak Yusi tak percaya. Ganti aku yang bingung…

“Sepertinya sudah,” mengamati beberapa saudara yang menelungkupkan tangan, berdoa.
 “Kok?” keningnya berkerut. Aku tersenyum…
Barakallahulaka….ya Mbak,”
“Ndak bisa ini! Di luar skenario! Mas Firman datang ke sini untuk melamarku! Cuma melamar! Belum menikah! Waduh, belum bilang teman-teman, pasti mereka protes, dan bla bla bla..” Mbak sepupuku itu nggrundel sendiri.

“Hahaha, aku malah seneng mbak, jadi ndak nunggu lama-lama,”
“Aku juga belum minta mas kawinnya apa,” tambahnya.
“Lha itu cincin,”
“Yang lain?” tanyanya… hahaha bisa saja!
Bukan hanya Mbakku yang bingung, aku juga. Agenda awal daku datang ke rumahnya adalah untuk menyaksikan lamaran Mbak Yusi oleh Mas Firman. Tapi sampai sana?
Ehm.. acara awal sih normal seperti lamaran pada umumnya, namun di tengah acara ibu Mas Firman mengeluarkan cincin kawin.
“Mungkin tukar cincin,” pikirku.
But… tiba-tibapembawa acara memanggil Pak Penghulu yang ternyata sudah disiapkan keluarga Mbak Yusi. Tak hanya penghulu yang diundang tapi juga penceramah.
Jyaaa….
Akad nikah pun diucapkan! Subhanallah, benar-benar dua keluarga ini kompak banget ‘ngerjainnya’!
Seru juga sih… surprise jadinya…
Ganti Mbakku yang geleng-geleng kepala, “Ibu bapak ini bisa saja sih!” aku dan sepupu-sepupu tertawa mendengarnya.
“Bayangin deh Zie, besok aku harus kembali ke Kudus untuk kerja. Cuma ijin satu hari untuk lamaran! Mas Firman juga, harus kembali ke Jakarta untuk dinas,”
“Ya, aku bayangin,” candaku ditimpali pukulan darinya. Rumah kami di Sumberpucung.
“Pokoknya nggak ada malam pertama untuk hari ini!” ujarnya.
“Hahaha, masak iya?” tanyaku, mbak Yusi tersenyum.
“Aku belum siap kalau nikah sekarang,”
“Ndak sekarang, kan dah tadi nikahnya Mbak…”
Mengingat peristiwa tiga tahun yang lalu aku jadi tertawa sendiri. Proses yang begitu singkat, bertemu di pasar, sepertinya pernah kenal, eee ternyata teman ngaji pas kecil, ada saling ketertarikan. Enough…
Usut punya usut ternyata keluarga Mas Firman adalah teman keluarga Mbak Yusi, trus ternyata keluarga juauuuhhku.
Lha Mas Firman dulu pas kecil jadi murid ibuku. Trus lamaran, ups ndak pakai lamaran dink, langsung nikah! Ckckck… kalau jodoh nggak akan kemana…
Then pasar, tidak hanya buat jual beli, tapi juga buat ketemu ma si jodoh, hehehe…
Inginku menucapkan doa itu sekali lagi Mbakku sayang, Baarakallaahulaka wa baaraka’alaika wa jama’a bainakumaa fii khoiri…
Robb, karuniakanlah keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, anugerahkanlah anak yang shaleh buat Mbak dan Masku ini.. amiin…
***
Ternyata tidak hanya Mbak yang mendapat kejutan, aku juga! Satu hal yang tidak pernah kusangka sebelumnya. Saat itu aku pamit ke Malang untuk pergi ke IBF, ada acara Talkshow bareng 5 penulis kota Malang. Keluargaku, keluarga
Mbak Yusi, keluarga Mas Firman, dan keluarga dekat lainnya pergi ke bandara mengantar Mas Firman balik ke Jakarta, dan mengantar Mbak Yusi kembali ke Kudus. Acara di IBF, sama sekali tidak kusiarkan alias diam-diam.
Lha, biasanya keluarga besar perginya ke pasar, supermarket, atau toko-toko yang lain. Jarang dan hampir tidak pernah ke IBF.
Sesuatu terjadi, siang itu saat talkshow, datanglah rombongan dua mobil ke acara IBF… glodhak! Aku yang kebagian bicara langsung "cep" diam, bicara seperlunya saja.
Ada angin apa ini? Tumben-tumbennya?
Dari arah penonton, Budhe, Pakdhe, Ayah dan Ibu Mas Firman, Tante, serta keponakan-keponakan mengacungkan tangan ke arahku.
“Itu kan Mbaaakk..” jyaaa…
Duh orang-orang…

Okus, 28 Agustus 2011
Editor's Note:
Pas Neko membaca judul postingan ini, Neko kira Mbak Zie yang bakal menikah. Eeee...ternyata malah sodaranya. Huuuuu...penonton kecewa! Wkwkwkw. Anyway, gaya menulis Mbak Zie di sini bisa dibilang unik. Sangat unik. Lincah dan gaya bertuturnya bisa membuat kita seolah mendengar Mbak Zie sendiri yang menuturkan ceritanya kepada kita semua. Walaupun begitu, bukan berarti tanpa kekurangan...
Narasi deskripsinya manaaaaaa Buuuuk??? Benar-benar full dialog. Nggak ada penjelasan Mbak Yusi itu sebenarnya "siapa" dan "kaya apa" orangnya. Mas Firman itu orangnya gimana Situasi lamarannya gimana. Nggak ada. Padahal, deskripsi (terutama dalam karya tulis berbentuk narasi), sangat penting untuk membangun suasana juga menggambarkan perasaan hati dan konflik psikologi sang tokoh. Dialog memang lebih lincah. Tapi jika tidak diimbangi dengan narasi deskripsi, juga jadinya agak janggal. Seharusnya Mbak Zie bisa lebih mengeksplor lagi detail ceritanya, misalnya awal mula ketika Mbak Yusi bertemu dengan Mas Farid di pasar sampai akhirnya saling naksir dan menikah. Itu kan menarik sekali! Tentunya bakal lebih banyak lagi kelucuan yang bisa dieksplor dari sana...
Sebenarnya sudah sering Neko protes soal ini ke Mbak Zie. Beliaunya cuma beralasan gaya seperti ini terjadi karena doi lebih sering nulis non-fiksi. Bukan alasan Mbak, secara Neko pernah baca cerpennya doi pas mahasiswa dan narasi deskripsinya udah lumayan kok. Saran Neko, mending Mbak Zie lebih banyak baca karya-karya bergenre PELIT (Personal Literature) yang banyak diterbitkan oleh Gagas Media atau Gradien Media. Misal, Kambing Jantannya Raditya Dika, Anak Kos Dodolnya Dedew, dan Gokil Dad. 
Bagaimana menurut kalian? Ada lagi yang mau berbagi apresiasi?
Cerahkan  dunia dengan karya sastra. Hidupkan karya sastra  dengan berbagi apresiasi
Cherio


Mizuki-Arjuneko 


Profil Penulis

Mbak Fauziah Rachmawati, akhwat asli Sumberpucung ini dari masa sebelum lulus kuliah sampai sekarang berdomisili di Malang.Kini bekerja sebagai guru di SD IT As-Salam, sesuai dengan jalur pendidikannya selama masa kuliah yaitu PGSD (Pendidikan Guru SD) di Universitas Negeri Malang. Di sana, ia hobi sekali menggoda murid-muridnya... Ampun deeeh...

Sejak kuliah akhwat yang satu ini memang sudah enerjik dan susah diemnya. Mbak Zie (panggilan bekennya) sudah lama berkiprah di bidang penulisan karya ilmiah dan pernah menjadi Juara 1 LKTM tingkat Universitas, dan Juara III LKTM di tingkat regional. Selain itu, Mbak Zie juga suka membuat cerpen. Salah satu cerpennya yang bertemakan aborsi dimuat dalam Antologi puisi FLP UM "Aku Ingin Melukis Wajahmu".

Bakat koleris dan leadershipnya terlihat jelas ketika beliau diamanahi sebagai ketua FLP UM 2008/2009, dan setelah lulus, mendapat amanah juga, lagi-lagi sebagai ketua, di FLP Malang periode saat ini. Walau begitu, kalau sudah muncul sanguinnya, Mbak Zie sangat asyik untuk di-bully-bully hehehe...

Beliau baru saja terpilih menjadi pemenang pemuda pelopor. Mengikuti event itu dengan tujuan agar FLP Malang bisa diakui dan memiliki link ke orang-orang pemerintahan. Oke deh, Sista. Terus berjuang yaa...