Showing posts with label Mashdar Zainal. Show all posts
Showing posts with label Mashdar Zainal. Show all posts

Tips Cerpen Efisien dan Menarik Seperti Ernest Hemingway dan Mashdar Zainal

Kabut Ibu - Mashdar Zainal

Kenapa ada yang namanya cerpen? Karena isinya adalah cerita yang pendek. Berbeda dengan novel maupun cerbung. Salah satu keseksian cerpen adalah ceritanya yang pendek namun mendalam. Ketika cerpen yang padat ini sepanjang novel, maka akan menjadi sebuah cerita yang rumit dan amat kental. Membuat pembaca kadang sebal membacanya, kecuali memang bagi mereka kritikus sastra.

Walaupun singkat, tetapi cukup berat membuat cerpen yang bagus. Bisa jadi kita akan revisi berkali-kali untuk mendapatkan kekentalan cerita yang pas. Penulis pemula bisa menyelesaikan cerpen dengan sangat cepat dan panjang. Namun esensi cerpen bukan di situ. Melainkan cerita yang memikat.

Cerpen panjang akan langsung ditinggalkan jika hanya berisi angin. Ketika di awal tak ada yang menggigit. Pembaca akan malas meneruskan membaca sisa cerita yang panjang itu. Takut buang-buang waktu dengan kualitas yang sama seperti di awal, atau bahkan lebih buruk.

Ada beberapa tips untuk menghindari kebiasaan dari penulisan cerpen seperti di atas. Sehingga menjadi cerpen yang efisien dan memikat pembaca.

Satu Bagian Adegan. 


Berbeda dengan novel. Cerpen cukup mencakup satu adegan kecil dari kehidupan tokoh. Atau bisa juga potongan-potongan kecil dari kehidupan tokoh. Sehingga kita bisa menceritakan secara detail potongan adegan tersebut. Tak perlu repot menjelaskan keseluruhan hidup si tokoh. Ini hanya akan menambah informasi-informasi tidak penting. Selain itu membuat pembaca bosan.


Kalian bisa membaca cerpen A Very Short Story karya Ernest Hemingway yang hanya berkisah antara pemuda dan pemudi. Namun jika ditelisik lebih mendalam, cerita tersebut memiliki banyak intrepetasi dan versi cerita.

Membuat Outline. 


Setelah kita menentukan bagian yang ingin diceritakan. Langkah selanjutnya adalah menulis outline cerita. Hal ini tergantung kebiasaan masing-masing penulis. Namun bagi kalian yang pertama kali menulis cerita, saya sarankan menggunakan outline. Selain untuk menjaga agar cerita tak melebar, juga memudahkan jika ingin mengotak-atik cerita. Seperti saat menggunakan alur maju-mundur. Satu Permasalahan Utama. Fokuslah pada satu permasalahan utama. Jangan buat fokus pembaca terpecah-pecah. Akan membuat kalian berpanjang lebar menuliskan resolusi cerita.

Dalam cerpen Kabut Ibu karya Mashdar Zainal ceritanya berfokus tentang ibu yang dikurung di dalam kamar. Konflik-konflik lainnya merupakan pendukung dari konflik utama.

Deskripsi Intrinsik


Kembali kita lihat A Very Short Story karya Ernest Hemingway. Sekali baca kita akan memaklumi sikap Luz. Tapi kali kedua kita akan mendapatkan kesan lain dalam cerita. Yaitu bagaimana kerakusan bisa membuatnya tidak mendapatkan apapun.

Cerita-cerita yang mempunyai makna banyak seperti Ernest bisa dimunculkan dengan memasukkan unsur-unsur manusiawi. Seperti psikologi. Selain itu bisa dimasukkan ke dalam simbol-simbol tertentu. Seperti laut yang menandakan luas. Bisa juga kita memberikan fakta secara perlahan-lahan.  Ada yang dituliskan di depan, ada pula yang ditahan. Menunggu waktu yang tepat.

Terakhir. Tapi Paling Manjur


Salah satu cara yang lebih manjur setelah cara-cara di atas adalah banyak menulis dan tidak bosan untuk merevisi naskah.

ASK MASHDAR: Memilih Diksi dan Menyampaikan Pesan Dalam Cerpen

Berikut merupakan transkrip diskusi tentang :
Salah satu transkip diskusi seru yang telah menjadi artefak. :v
"Tentang Memilih Diksi" dan "Bagaimana menyampaikan pesan dalam cerpen."

#Mashdar Zainal:
Maaf, sore-sore baru buka lapak. Silahkan yang mau tanya seputar fiksi. Hari ini jadwalku 'ngisi lagi', seperti biasa, pertanyaan pertama yang akan kita bahas...
 2 Februari pukul 14:24

#Ain Nur, #Fauziah Rachmawati dan 2 orang lainnya menyukai ini.

#Mashdar Zainal: mention Lin Wulynne, Gusti Aisyah Mizuki-Arjuneko, Fauziah Rachmawati, Heni Syakarna, Cak Dayat, Mahfuzh Tnt, Muhammad Hafidz Mubarok, Ain Nur, Widiya Dewi, Arif Bawono Surya, dll... seretin temen2 yang belum ya...
                                                      2 Februari pukul 14:25 

#Ummu Rahayu:
Mas, gimana caranya menyeimbangkan kadar istilah-istilah baru dalam novel? Maksudnya, kan ada tu idiom-idiom yang jarang, sama istilah-istilah yang jarang ditampilkan gitu... Biar menambah informasi baru dalam tulisan. Nah, bagaimana menyeimbangkan itu? Kadang kan bisa males kalo banyak kata-kata yg tidak kita mengerti. Kapan kita bisa menggunakan itu? Saat yang tepat itu gimana?

Sama... dalam cerpen bisa ga kita menjelaskan seting misalnya dalam kamar itu ada meja dua buah, di atasnya ada piring, bak berkaki, sendok, nasi... di meja lainnya terdapat teko dengan tulisan teh atau kopi dengan jejeran gelas dan air mineral di samping kiri dan kanannya? (Hoho berapa pertanyaan sudah?)  Sebenarnya banyak yang mau dtanyakan nih mas. :D  
2 Februari pukul 16:54

#Ummu Rahayu: Oh iya Mas... dalam menulis itu menetapkan pesan moral dulu apa pesan moral biarlah muncul dengan sendirinya dalam tulisan
2 Februari pukul 16:57

#Mashdar Zainal:
Ummu Rahayu, pertanyaanmu satu RT full. Hmmm cara menyeimbangkan pilihan diksi? Saya pikir itulah novel. Memang harus kaya kata-kata sehingga bisa mendeskripsikan sesuatu dengan powerful. Soal idiom, atau diksi2 tak biasa, kau bisa menggunakan sesuai kebutuhan. Lalu kapan dibutuhkan? Kalau saya sendiri menyebutnya "nyastra". Ada beberapa kalimat yang butuh kata-kata tertentu untuk mengindahkan kalimat tersebut. Dan sebaliknya, terkadang kata indah/ idiom/ ilmiah akan menjadi garing bila kita salah menempatkan. 

Contoh kongritnya (lagi-lagi) kita harus tengok karya-karya keren yang sudah ada. Bagaimana para penulis itu menempatkan kata sesuai pada tempatnya....
2 Februari pukul 17:34

#Mashdar Zainal: Ummu, soal pesan moral, dari pengalaman, saya cenderung memulai menulis dulu (tak pedulu ada pesan atau tidak). Tapi setelah selesai, saya coba baca berulang-ulang, adakah sesuatu yang mungkin bisa diselipkan untuk disampaikan? Dan saya selalu menemukan ADA. Akan selalu ada, meski itu sangat kecil.
2 Februari pukul 17:35 ·

#Muhammad Hafidz Mubarok: ‎Ummu, yang saya tahu ada teknik namanya open up. Jangan dulu berpikir judul, jangan dulu berpikir pesan atau amanat,dan jangan pernah berpikir baiknya seperti apa. Kata Pak Hernowo, "Itu semua hanya membuang waktu."

Tulis saja semua gagasan, setelah selesai koreksi bukan edit. Jadi hilangkan yang sekiranya sampah, dan bumbui yang sekiranya menarik. Nuwus
2 Februari pukul 17:57 

#Mizuki-Arjuneko: Tapi setiap karya kan harus ada pesan moralnya. Bukannya itu salah satu prinsip FLP (n Islam)??? @_@
2 Februari pukul 17:59 ·

#Muhammad Hafidz Mubarok: Jangan salah paham, Neko. Pesan moral memang harus ada, tapi jangan sampai membebani kita. Terutama jika ingin memulai sebuah tulisan. Kalau belum-belum sudah terbebani moral, yang terjadi tulisan kita malah terkesan menggurui. Pembaca mana yang suka digurui?

So, teknik terbaik, jangan berpikir apapun ketika ingin menulis. Indah atau tidak, sesuai prosedur atau cabang, kita urusi belakangan. Saya kira Ummu bertanya seperti itu karena lebih dulu takut untuk menulis, apakah tulisannnya sesuai islami atau gak.Itu yang menjadi big problem
2 Februari pukul 18:03

#Ummu Rahayu: Huuummmmm asssiiiikkkk.... Terima kasih Mas Mashdar Zainal, terima kasih Mas Muhammad Hafidz Mubarok ^_^V
4 Februari pukul 22:55

END NOTES:
Yap, itulah laporan diskusi fiksi di lapak Mashdar Zainal (tentu saja ada beberapa hal yang diedit, dan disesuaikan. Komentar-komentar yang ditampilkan adalah komentar yang masih sesuai dengan isi diskusi. Juga ada penyesuaian beberapa ejaan dan diksi)

Sebenarnya untuk pemunculan moral atau pesan dalam karya sastra itu adalah keharusan menurut teori Dulce et Utile. Dulce (sweet/indah), Utile (berguna). Dicetuskan oleh Horacio, filsuf Yunani klasik. Bisa dipelajari lebih detail di buku Teori Sastra atau Literary Theory, yang ditulis oleh Wellek dan Warren. Inti dari konsep ini sebenarnya sangat sederhana. Bahwa  sebuah karya sastra harus indah, sehingga menghibur pembacanya, dan berguna, sehingga mencerdaskan pembacanya. 

Karena untuk apa karya yang rumit, susah dipahami, dan memakai bahasa yang muluk-muluk kalau pada akhirnya tidak membawa pesan positif bagi pembacanya kan?

Nah, bagaimana diskusi di atas? Seru kan? Berbagi memang nggak pernah rugi. Thanks buat Ummu Rahayu yang sudah memulai diskusi ini dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menarik. Juga buat Hafidz yang sudah ikut berusaha memberi pencerahan. Terlebih lagi, thanks a lot buat Mashdar Zainal yang sudah meluangkan waktu untuk berbagi ilmu di lapak ini. Sukses dengan karya-karya barunya, Pak. ^_^b

Profil Mashdar Zainal.

Mashdar Zainal adalah nama pena dari penulis kelahiran kota Brem, Madiun, ini. Beliau dilahirkan pada tanggal 5 Juni 1984, dengan nama Darwanto. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di tanah kelahiranya, Usai lulus MTs. Ia merantau ke Nganjuk, untuk belajar nyantri. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar ia sudah bersahabat karib dengan buku, khususnya komik dan buku cerita.

Selain membaca dan menulis tentunya, sejak kecil ia juga paling gemar melukis, buku-buku pelajarannya selalu penuh dengan puisi dan gambar-gambar. Cita-cita kecilnya menjadi seniman, seiring berjalannya waktu ternyata ia lebih suka menjadi seniman tinta.

Akhir tahun 2007, pria yang biasa di panggil Mashdar ini sukses menyelesaikan studinya di Fakultas tarbiyah  UIN Malang dengan predikat sangat memuaskan. Saat ini ia tengah mengajar di SDIT Insan Permata Malang. Bergiat juga di Komunitas Sastra Lembah Ibarat Malang. Organisasi kepenulisan yang masih aktif ia tekuni salah satunya ialah Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Malang.

Beberapa kali ia menjuarai Lomba Kepenulisan Cerpen dan Puisi, dari Tingkat Lokal sampai Tingkat Nasional. Terakhir, dia mendapat predikat “Penyair Hijau” sebagai juara harapan III Lomba Cipta Puisi bertajuk “Puisi Hijau”, yang digelar oleh Harian Online Kabar Indonesia (HOKI). Dua cerpennya Laron (2011) dan Pohon Hayat (2012) sudah berhasil menembus rubrik cerpen media nasional bergengsi, Kompas. Cerpen-cerpennya bertebaran hampir tiap minggu di berbagai media seperti Jawa Pos, Journal Cerpen, etc.

Beliau sudah menerbitkan satu novel di bawah penerbit Pro U Media, Zalzalah. Novel keduanya, BLACK JASMINE sedang dalam proses penerbitan di penerbit yang lain. Sungguh penulis yang sangat produktif. Impiannya adalah melihat karyanya difilmkan oleh sineas-sineas jempolan.



Bagi pembaca yang ingin bersilaturrahim dan berbagi ilmu melalui kirtik, saran, ataupun tanggapan bisa langsung mengirim e-mail ke mashdar.zainal@yahoo.co.id, bagi yang ingin lebih mengenal sosoknya silahkan singgah ke gubuk mayanya dengan alamat www.mashdarzainal.blogspot.com

BACA, NONTON, TARGET, DAN KOMITMEN

Wew, akhirnya kita recoki juga seleb FLP Malang satu ini. Siapa yang bermimpi menjadi penulis produktif patut mencontoh manajemen waktu beliau ini. Dialah Mashdar Zainal atau Pak Dar yang cerpennya sudah merambah penjuru media massa nasional dari Kompas,  Jawa Post, Majalah Femina, Majalah Story, Surabaya Post, Suara Merdeka, Tabloid Nova, dan masih banyak lagi. Sajak-sajaknya pernah nongkrong di Lampung Post. Salah satu sabetan lombanya adalah Juara III Kategori C pada Lomba Cerpen Remaja 2013. Novelnya, ada "Iktikraf Sekuntum Melati", "Zalzalah", dan yang terbaru nih "Dan Burung-Burung Pun Terbang Ke Sarangnya".  Novel terbarunya ini masih bisa didapat di toko buku Malang lho.
Wawww, prestasi yang mengilerkan. Semua itu tidak diperoleh instan. Mau tahu bagaimana jatuh bangunnya? Apa rahasianya? Grab fast deh cuap-cuap dengan beliau berikut.

Gimana nih, Pak, ceritanya kok bisa tertarik menulis?
Tertarik sejak suka baca cerpen, buat mengisi waktu luang, sekitar tahun 2003/2004. Karya-karya menarik yang kuingat itu "Robohnya Surau Kami" karyanya AA Navis, Kumpulan Cerpen Pemenang Lomba FLP Tahun Tahun 2002, Antologi Cerpen "Luka Telah Menyapa Cinta" Helvy Tiana Rossa, dan lain-lain. Dari situ jadi pengen menulis sementara lingkungan sekitarku tak peduli perihal itu, khususnya fiksi. Pertama kali menulis tahun 2004, cuma, baru asal nulis. Tahun 2006, aku baru baca novel, yang pertama, "Tengelamnya Kapal Van der Wijck", Buya Hamka, penulis idolaku.
Tahun 2009, aku baru serius nulis buat dikirim ke media. Aku memutuskan jadi penulis lebih karena nyaman. Perihal bonus, dan lainnya itu jadi motivasi saja meski akhirnya juga diperhitungkan. Aku menulis untuk mencerahkan, menginspirasi, atau setidaknya menghibur.

Gimana hasilnya tulisan yang diseriusi pertama kali itu?
Itu cerpen "Bocah Pasir Brantas", aku ikutkan ke lomba tingkat kampus, dapat Juara II, lalu dimuat di Suarabaya Post, Minggu, 10 April 2010.
Siapa yang pertama kali dipercaya membaca tulisannya, Pak?
Zainal, kawan karib semasa kuliah.

Belajar teorinya dari mana, Pak?
Satu kata: baca. Teori dan tetek bengeknya sudah tercakup dengan sendirinya dengan banyak baca.

Apa benar untuk jadi penulis itu perlu bakat?
Menulis tidak ada hubungannya dengan bakat.

Apa sih yang mendorong Pak Dar mau melalui masa ribet riset, editing, dan sebagainya? Rahasianya?
Menengok karya-karya bagus yang sudah ada. Rahasianya, komitmen dan target.
Aku pribadi, satu hari baca minimal satu cerpen dan seminggu satu novel. Kalau menulis, seminggu minimal satu cerpen dan mengedit tulisan yang ada. Itu semua di luar proyek novel. Juga, dalam seminggu aku wajib nonton lima film.

Sebagian orang masih tabu dengan pekerjaan menulis, menganggapnya kurang menghasilkan, atau hanya milik kalangam mampu, gimana menurut Pak Dar?
Menurut saya, siapapun yang pernah sekolah, harusnya ia menulis. Ia sudah tahu caranya menulis dan bisa membaca lalu kenapa tidak dipakai.

Pernah ditolak atau kalah lomba?
Ditolak berkali-kali, tak terhitung. Kalah lomba sudah biasa. Untuk bangkit ya harua sadar diri pada proses.

Enaknya jadi penulis apa sih, Pak?
Karya dibaca orang seantero negeri dan dapat bonus buat tambah beli sabun.

(Ummu Rahayu & Ariska Puspita Anggraini)