(CHAN: Catatan Harian Akhwat Narsis): Mendadak Nikah

Yap kali ini giliran salah satu editor kami yang unjuk karya. Mari kita bantai karyanya beramai-ramai. Huakakaka....


“Lho Zie, aku dah nikah?” tanya mbak Yusi tak percaya. Ganti aku yang bingung…

“Sepertinya sudah,” mengamati beberapa saudara yang menelungkupkan tangan, berdoa.
 “Kok?” keningnya berkerut. Aku tersenyum…
Barakallahulaka….ya Mbak,”
“Ndak bisa ini! Di luar skenario! Mas Firman datang ke sini untuk melamarku! Cuma melamar! Belum menikah! Waduh, belum bilang teman-teman, pasti mereka protes, dan bla bla bla..” Mbak sepupuku itu nggrundel sendiri.

“Hahaha, aku malah seneng mbak, jadi ndak nunggu lama-lama,”
“Aku juga belum minta mas kawinnya apa,” tambahnya.
“Lha itu cincin,”
“Yang lain?” tanyanya… hahaha bisa saja!
Bukan hanya Mbakku yang bingung, aku juga. Agenda awal daku datang ke rumahnya adalah untuk menyaksikan lamaran Mbak Yusi oleh Mas Firman. Tapi sampai sana?
Ehm.. acara awal sih normal seperti lamaran pada umumnya, namun di tengah acara ibu Mas Firman mengeluarkan cincin kawin.
“Mungkin tukar cincin,” pikirku.
But… tiba-tibapembawa acara memanggil Pak Penghulu yang ternyata sudah disiapkan keluarga Mbak Yusi. Tak hanya penghulu yang diundang tapi juga penceramah.
Jyaaa….
Akad nikah pun diucapkan! Subhanallah, benar-benar dua keluarga ini kompak banget ‘ngerjainnya’!
Seru juga sih… surprise jadinya…
Ganti Mbakku yang geleng-geleng kepala, “Ibu bapak ini bisa saja sih!” aku dan sepupu-sepupu tertawa mendengarnya.
“Bayangin deh Zie, besok aku harus kembali ke Kudus untuk kerja. Cuma ijin satu hari untuk lamaran! Mas Firman juga, harus kembali ke Jakarta untuk dinas,”
“Ya, aku bayangin,” candaku ditimpali pukulan darinya. Rumah kami di Sumberpucung.
“Pokoknya nggak ada malam pertama untuk hari ini!” ujarnya.
“Hahaha, masak iya?” tanyaku, mbak Yusi tersenyum.
“Aku belum siap kalau nikah sekarang,”
“Ndak sekarang, kan dah tadi nikahnya Mbak…”
Mengingat peristiwa tiga tahun yang lalu aku jadi tertawa sendiri. Proses yang begitu singkat, bertemu di pasar, sepertinya pernah kenal, eee ternyata teman ngaji pas kecil, ada saling ketertarikan. Enough…
Usut punya usut ternyata keluarga Mas Firman adalah teman keluarga Mbak Yusi, trus ternyata keluarga juauuuhhku.
Lha Mas Firman dulu pas kecil jadi murid ibuku. Trus lamaran, ups ndak pakai lamaran dink, langsung nikah! Ckckck… kalau jodoh nggak akan kemana…
Then pasar, tidak hanya buat jual beli, tapi juga buat ketemu ma si jodoh, hehehe…
Inginku menucapkan doa itu sekali lagi Mbakku sayang, Baarakallaahulaka wa baaraka’alaika wa jama’a bainakumaa fii khoiri…
Robb, karuniakanlah keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, anugerahkanlah anak yang shaleh buat Mbak dan Masku ini.. amiin…
***
Ternyata tidak hanya Mbak yang mendapat kejutan, aku juga! Satu hal yang tidak pernah kusangka sebelumnya. Saat itu aku pamit ke Malang untuk pergi ke IBF, ada acara Talkshow bareng 5 penulis kota Malang. Keluargaku, keluarga
Mbak Yusi, keluarga Mas Firman, dan keluarga dekat lainnya pergi ke bandara mengantar Mas Firman balik ke Jakarta, dan mengantar Mbak Yusi kembali ke Kudus. Acara di IBF, sama sekali tidak kusiarkan alias diam-diam.
Lha, biasanya keluarga besar perginya ke pasar, supermarket, atau toko-toko yang lain. Jarang dan hampir tidak pernah ke IBF.
Sesuatu terjadi, siang itu saat talkshow, datanglah rombongan dua mobil ke acara IBF… glodhak! Aku yang kebagian bicara langsung "cep" diam, bicara seperlunya saja.
Ada angin apa ini? Tumben-tumbennya?
Dari arah penonton, Budhe, Pakdhe, Ayah dan Ibu Mas Firman, Tante, serta keponakan-keponakan mengacungkan tangan ke arahku.
“Itu kan Mbaaakk..” jyaaa…
Duh orang-orang…

Okus, 28 Agustus 2011
Editor's Note:
Pas Neko membaca judul postingan ini, Neko kira Mbak Zie yang bakal menikah. Eeee...ternyata malah sodaranya. Huuuuu...penonton kecewa! Wkwkwkw. Anyway, gaya menulis Mbak Zie di sini bisa dibilang unik. Sangat unik. Lincah dan gaya bertuturnya bisa membuat kita seolah mendengar Mbak Zie sendiri yang menuturkan ceritanya kepada kita semua. Walaupun begitu, bukan berarti tanpa kekurangan...
Narasi deskripsinya manaaaaaa Buuuuk??? Benar-benar full dialog. Nggak ada penjelasan Mbak Yusi itu sebenarnya "siapa" dan "kaya apa" orangnya. Mas Firman itu orangnya gimana Situasi lamarannya gimana. Nggak ada. Padahal, deskripsi (terutama dalam karya tulis berbentuk narasi), sangat penting untuk membangun suasana juga menggambarkan perasaan hati dan konflik psikologi sang tokoh. Dialog memang lebih lincah. Tapi jika tidak diimbangi dengan narasi deskripsi, juga jadinya agak janggal. Seharusnya Mbak Zie bisa lebih mengeksplor lagi detail ceritanya, misalnya awal mula ketika Mbak Yusi bertemu dengan Mas Farid di pasar sampai akhirnya saling naksir dan menikah. Itu kan menarik sekali! Tentunya bakal lebih banyak lagi kelucuan yang bisa dieksplor dari sana...
Sebenarnya sudah sering Neko protes soal ini ke Mbak Zie. Beliaunya cuma beralasan gaya seperti ini terjadi karena doi lebih sering nulis non-fiksi. Bukan alasan Mbak, secara Neko pernah baca cerpennya doi pas mahasiswa dan narasi deskripsinya udah lumayan kok. Saran Neko, mending Mbak Zie lebih banyak baca karya-karya bergenre PELIT (Personal Literature) yang banyak diterbitkan oleh Gagas Media atau Gradien Media. Misal, Kambing Jantannya Raditya Dika, Anak Kos Dodolnya Dedew, dan Gokil Dad. 
Bagaimana menurut kalian? Ada lagi yang mau berbagi apresiasi?
Cerahkan  dunia dengan karya sastra. Hidupkan karya sastra  dengan berbagi apresiasi
Cherio


Mizuki-Arjuneko 


Profil Penulis

Mbak Fauziah Rachmawati, akhwat asli Sumberpucung ini dari masa sebelum lulus kuliah sampai sekarang berdomisili di Malang.Kini bekerja sebagai guru di SD IT As-Salam, sesuai dengan jalur pendidikannya selama masa kuliah yaitu PGSD (Pendidikan Guru SD) di Universitas Negeri Malang. Di sana, ia hobi sekali menggoda murid-muridnya... Ampun deeeh...

Sejak kuliah akhwat yang satu ini memang sudah enerjik dan susah diemnya. Mbak Zie (panggilan bekennya) sudah lama berkiprah di bidang penulisan karya ilmiah dan pernah menjadi Juara 1 LKTM tingkat Universitas, dan Juara III LKTM di tingkat regional. Selain itu, Mbak Zie juga suka membuat cerpen. Salah satu cerpennya yang bertemakan aborsi dimuat dalam Antologi puisi FLP UM "Aku Ingin Melukis Wajahmu".

Bakat koleris dan leadershipnya terlihat jelas ketika beliau diamanahi sebagai ketua FLP UM 2008/2009, dan setelah lulus, mendapat amanah juga, lagi-lagi sebagai ketua, di FLP Malang periode saat ini. Walau begitu, kalau sudah muncul sanguinnya, Mbak Zie sangat asyik untuk di-bully-bully hehehe...

Beliau baru saja terpilih menjadi pemenang pemuda pelopor. Mengikuti event itu dengan tujuan agar FLP Malang bisa diakui dan memiliki link ke orang-orang pemerintahan. Oke deh, Sista. Terus berjuang yaa...

Ujian Keikhlasan

Sumber : inet

By Nur Muhammadian

Menulis untuk berbagi. Berbagi dengan menulis. Berbagi tulisan. Saya suka semuanya. Saya suka berbagi karena sudah berkali-kali merasakan manfaatnya, semakin lama semakin suka. Dan berbagi melalui menulis adalah berbagi yang menghadirkan suatu perasaan yang luar biasa, luar biasa bahagia, luar biasa nikmat, luar biasa nyaman.

Suatu waktu saya bertemu dengan seorang kerabat yang bekerja pada sebuah media cetak. Saya sampaikan kepadanya tentang kumpulan artikel tulisan saya, dan menawarkan untuk dimuat di media tempat dia bekerja. Dia meminta saya mengirimkan artikel saya melalui email. Saya kirimkan empat artikel pendek saya. Beberapa minggu kemudian dia menyampaikan bahwa artikel saya cukup bagus untuk dimuat, tetapi pimpinannya minta artikel lebih banyak lagi agar selalu ada bahan untuk mengisi kolom yang disiapkan untuk artikel saya. Saya menyanggupinya, dan saya sampaikan ke dia bahwa kumpulan artikel itu akan saya bukukan.
“Kalau sekarang dimuat di Koran kami, gak takut rugi mas? Nanti bukunya gak laku?”
“Insya ALLOH tidak pengaruh jelek, justru pembaca Koran bisa jadi potensial pembeli. Sebaliknya apakah Korannya Abang bersedia memuat artikel yang akan dibukukan?”
“Saya tanyakan pimpinan dulu ya mas…Tapi kami tidak bisa menyediakan imbalan ya mas…”
“Tidak apa-apa Bang…Saya ikhlas, yang penting tulisan saya bisa bermanfaat untuk pembaca”

Saya kirimkan tiga puluh empat artikel saya. Dan saya menunggu kabar selanjutnya.

Lama tidak ada kabar tentang artikel yang saya kirimkan, sampai beberapa minggu kemudian saya mendapat informasi dari adik saya. Saat saya mendapat informasi dari adik saya sedang tidak berada di kota tersebut. Adik saya mengabarkan bahwa artikel saya sudah dimuat beberapa minggu sebelumnya. Adik mendapat info secara lisan dari kerabat yang saya titipi naskah, tidak resmi dari pihak media cetak tersebut. Saya agak terkejut dan heran karena tidak ada konfirmasi apapun dari pihak media, baik melalui telepon maupun email tentang pemuatan artikel saya. Saya minta tolong adik untuk mendapatkan kliping Koran saat artikel saya dimuat.

Perlu waktu beberapa hari adik mendapatkan kliping Koran, dalam bentuk soft copy dari pihak media, dan harus mencari sendiri satu per satu. Saat saya terima soft copy melalui email kemudian saya baca, saya sangat terkejut bercampur emosi. Artikel saya dimuat seperti aslinya, dan tidak ada satu pun kata yang menyebutkan nama saya. Di Koran itu artikel saya dimuat namun tidak ada tanda-tanda sedikitpun bahwa itu  tulisan saya. Saya sudah ikhlas tidak mengharap imbalan, tapi apakah itu berarti saya tidak punya ‘hak’ sama sekali? Apakah saya tidak punya hak untuk diakui sebagai penulis artikel itu? Bahkan saya tidak punya hak untuk tahu bahwa artikel saya dimuat di Koran.

Saya emosi, dan saya menganggap wajar bila emosi. Sempat saya berencana memperkarakan hal ini secara serius seandainya saya tidak membaca postingan teman-teman saya di Facebook tentang berbagi.

Dari awal khan saya sudah berniat ikhlas? Kenapa harus emosi bila nama tidak dicantumkan? Mengapa sewot saat artikel dimuat tanpa pemberitahuan? Bukankah ikhlas itu mutlak, tanpa syarat? Saya khan mengikhlaskan sesuatu yang berpotensi menjadi ‘ilmu yang diamalkan’? Sesuatu yang bisa terus bergulir, berlipat ganda tanpa henti sampai akhir zaman. Dan tidak diperlukan identitas tertulis untuk itu, karena YANG MAHA MENGETAHUI pasti memiliki catatannya.

Ternyata saya belum bisa dinyatakan ikhlas sebelum diuji. Saya belum beriman tentang kekuatan ikhlas sebelum lulus ujian. Dan kali ini saya sedang diuji, saya sedang diukur. Semoga saya lulus…Mohon doa teman-teman…

Teruslah

Teruslah berjalan..
Ketika keberuntungan tak lagi menghinggapi sayap jiwamu..
Dan kegagalan selalu mendekapmu

Teruslah berjalan…
Ketika sang mentari tak sudi lagi menyinari jalanmu dan menemani setiap langkahmu

Teruslah berjalan
ketika batu-batu mulai menghujanimu
Menerpa setiap harapanmu, dan berusaha meruntuhkan buah mimpimu

Teruslah berjalan
Meski duri-duri tajam siap menyambutmu
Membelaimu dan merusak benih benih rahangmu

Teruslah berjalan
Meski angin dan udara tak lagi mendukung napasmu
Menyesatkanmu dan menerjang arahmu..
Ketika kaki ini mulai lelah untukberjalan
Ketika mata ini mulai sayup untuk melihat
Ketika arahmu  tak lagi dapat terlihat

Dan tetaplah berjalan
Sampai kau menemukan apa yang kau inginkan

December 29, 2011 at 3:15pm

Nugraheni Syakarna

Statusku, Statusmu, Status Kita

Adakah dari teman-teman yang tak punya akun di jejaring sosial?? Kalaupun ada saya rasa jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Ya... penggunaan facebook hari ini sangat familiar di kehidupan kita. Tak hanya pemuda, orang dewasa, bahkan anak-anak pun memilikinya dan ikut ambil bagian sebagai member dari fenomena ini.

Facebook sebagai akun terlaris abad ini telah merubah segala hal dalam ranah kehidupan. Banyak orang yang menggunakannya tak hanya sebagai media pecari kawan semata namun juga sebagai media untuk berbisnis dan berkarya. Di sisi lain banyak pula orang yang seakan terbang dari kehidupan nyatanya dan masuk dalam kamar-kamar maya yang ada di facebook, asyik dengan semua di dalamya hingga melupakan kehidupan nyata. Ayah lupa pada anak istrinya, ibu lupa pada rumah tangganya  dan anak lupa pada kewajiban belajarnya. Ironis.

Berbicara mengenai status, saya yakin banyak diantara kita yang sangat menggemari hal satu ini, bukan ??

Semua individu di dunia memang punya kebebasan, punya hak asasi dalam kehidupan, bahkan bebas berekspresi, tak terkecuali dalam memproduksi status. Saya memiliki banyak teman yang sangat intens update status. Statusnya beragam...

Panas nih....cari penjual es ah....
Galau. Ada yang punya obat sakit hati nggak???
Menu makanku hari ini, tempe bakar plus sambel pedessss banget..Mantapppsss.
Ujian nih....Aduh gimana dong...please help me.....hiks..hiks
Pusssinnggggg.....
Bahkan ada beberapa status yang mengucapkan kata-kata kotor. Saya sempat bertanya kepada seorang teman yang intens update status terkait alasannya yang sangat gemar meng-update status di akun facebook-nya. Dan jawabanya sungguh sangat simpel Kawan!! “Kan disuruh nulis apa yang kamu pikirkan? Jadi aku tulis aja apa yang ada dipikiranku”

Status mungkin hanyalah hal sepele dari segala kompleksitas kehidupan yang kita alami. Alangkah baiknya jika kita belajar untuk tidak latah dalam meng-update status kita. Tuliskan segala hal yang bermanfaat, sesuatu yang dapat memotivasi dan menginspirasi orang lain. Mungkin saat kamu menuliskan status, tak menyadari ada banyak mata di belahan dunia lain yang menjadi kawanmu membaca apa yang kamu tulis. Bila kamu menuliskan kata-kata biasa-biasa saja, maka orang lain yang membaca juga akan biasa-biasa saja, bahkan mungkin menertawakan. Lain halnya bila kamu menuliskan sesuatu yang mengandung nilai-nilai positif. Maka orang lain yang membaca akan tersugesti untuk melakukan hal-hal positif. Cukup dengan kata  Semangatttt...... , maka saya yakin orang lain yang membaca juga akan kembali mempunyai semangat. Tanpa kamu sadari kamu sudah berbuat baik pada orang lain melalui status. Mungkin ada orang-orang di luar sana yang menunggu status-status penuh hikmah darimu. Mario Teguh contohnya, statusnya selalu menginspirasi dan penuh makna.Dinanti-nanti penjuru dunia yang menjadi kawannya.

Kita pun juga bisa menjadi Mario Teguh selanjutnya. Tetap teguh menginspirasi, memotivasi dan berbuat baik bagi sesama

Statusku, Statusmu, Status kita.....


Mari kita berbuat lebih banyak, memotivasi dan menginspirasi dunia lewat STATUS

Perempuan Merah & Lelaki Haru, FLP Malang #3


Perempuan Merah & Lelaki Haru

Kategori: Fiksi, kumpulan cerpen + proses kreatif para penulis
Penerbit: Ide Kreatif
ISBN: 978-602-18126-3-1
Tebal: 158 halaman++
Harga hari ini: Rp. 25.000
Harga asli: Rp. 40.000,-
Pemesanan: Fauziah Rachmawati, 085649505617

15 cerpen mewakili 11 karakter penulisnya. Anda menikmati sajian pembuka hingga penutup, bahkan pencuci mulut sekaligus dalam satu waktu!

Apa pembatas darah dan airmata? Mungkin tawa, mungkin perenungan, atau teraduk labirin isi kepala penulis 15 kisah.

Dari kisah bertempo lambat, cepat... bertambah cepat, hingga sesak. Atau Anda sudah sesak sejak membuka kisah pertama!

(DAS ESSAY): Muntah Lalu Mual...

by Agie Botianovi
Marah, dongkol, sekaligus bertanya-tanya, “Apakah Bu guru itu tidak punya anak juga di rumah? Bagaimana jika anaknya diperlakukan seperti itu? Apakah memang begitu cara mendidik yang baik?”
Sebagai seorang yang tidak berkecimpung dan mempelajari dunia kependidikan, pertanyaan-pertanyaan itu jelas muncul di dalam diri saya. Saya yang salah mengartikan cara guru itu atau saya yang memang kurang memahami bagaimana cara mendidik anak yang baik?
Tempo hari, saat saya masih tinggal serumah dengan orang tua saya, cerita dari Ibu saya membuat saya sedikit marah, mangkel, dan ada rasa tidak terima. Adik saya yang masih kelas 5 SD tiba-tiba sakit di sekolah, saat jam pelajaran akan segera berakhir. Tanpa adik saya inginkan, dia muntah-muntah mengeluarkan isi perutnya. Sakit memang tidak pernah bisa kita duga kapan datangnya, bahkan di saat Bulan Puasa seperti ini.
Tapi bukan itu, bukan itu yang membuat saya jengkel dan gondok. Dari cerita Ibu saya juga saya mengetahui setelah adik saya muntah-muntah, dalam kondisi yang masih belum cukup sehat, adik saya disuruh oleh gurunya mengepel bekas muntahannya. Kejadian ini menurut Ibu disaksikan sendiri oleh ayah saat menjemput adik yang memang sudah waktunya pulang. Saat ayah datang, kegiatan adik saya mengepel muntahan itu pun diteruskan oleh ayah saya. Itulah yang membuat saya bertanya-tanya tentang cara guru itu mendidik.
Kejadian ini mengingatkan saya pada kejadian sekitar 8-9 tahun silam, saat saya masih memakai seragam putih biru. Waktu itu saya masih duduk di kelas 1 SMP, pelajaran Olahraga saya lewati dengan kondisi tubuh yang kurang fit, rasanya badan saya jadi panas dingin dan kepala pusing, dan benar saja, saya langsung meminta ijin untuk tidak melanjutkan pelajaran, ke UKS untuk sekedar rebahan. Tak lama, entah apa yang terjadi, cairan-cairan berasa pahit dan berwarna kuning itu keluar dari mulut saya, yang  saya keluarkan begitu saja, tercecer di lantai bawah dipan. Saya masih sadar, hanya pusing, mungkin seperti apa yang adik saya alami. Tapi yang terjadi berikutnya bertolak belakang dengan yang terjadi dengan adik saya. Saya masih sangat ingat, waktu itu guru fisika yang juga guru UKS mengepel muntahan saya. Walau sedikit tidak enak, tapi apa daya, kondisi sayapun masih lemah.
Dari kedua kejadian itu, saya jadi berpikir, “Manakah sebenarnya cara mendidik yang benar?” Tapi jika saya sendiri menjadi gurunya, maka saya akan menjadi seperti guru SMP saya saja. Hehe…
 Monday, September 5, 2011 at 6:41pm
Editor’s Note:
Yak setelah beberapa hari lalu, Neko mengupas mini essay dari Pak Day, sekarang giliran karya sang Istri yang dibahas hehehehe…biar adil gitu. Asyik ya, suami-istri sama-sama penulis. So sweet.  Singkat aja, Neko suka banget dengan tema dan cerita yang dituliskan Agie di atas. Kisah nyata di atas mungkin bisa dibilang sebagai kasus yang kecil, tapi patut mendapat perhatian dari kita.
            Satu potret nyata dalam dunia pendidikan kita. Bagaimana mungkin guru yang tidak punya kepekaan sosial seperti itu bisa lulus tes keguruan? Kepada para murid, dan orangtua murid, sudah lama digembar-gemborkan mengenai teori pentingnya mengembangkan EQ atau kecerdasan sosial. Agaknya tidak hanya para murid dan orangtua saja yang wajib mencermati teori tersebut, tetapi juga para guru. Tugas guru saat ini tidak hanya didefinisikan sebagai pengajar saja, tapi juga pendidik. Artinya guru benar-benar harus bisa di-gugu dan di-tiru tidak hanya dari aspek kognitifnya saja, tapi juga moral, kepekaan sosial dan empati juga merupakan salah duanya.
Saran untuk Agie: menurut Neko, Agie terlalu banyak menggunakan kata “saya” dalam satu kalimat. Misalnya:
“Tempo hari, saat saya masih tinggal serumah dengan orang tua saya, cerita dari Ibu saya membuat saya sedikit marah, mangkel, dan ada rasa tidak terima”

Bagaimana jika kalimat itu diubah agar lebih efektif menjadi seperti ini:
“Tempo hari, saat saya masih tinggal serumah dengan orang tua, ada cerita dari Ibu  membuat saya sedikit marah, mangkel, dan ada rasa tidak terima.”

Juga dalam kalimat Agie yang seperti ini:
“Dari cerita Ibu saya juga saya mengetahui setelah adik saya muntah-muntah, dalam kondisi yang masih belum cukup sehat, adik saya disuruh oleh gurunya mengepel bekas muntahannya.”

Coba kita modifikasi sedikit menjadi seperti ini:
“Dari cerita Ibu, juga saya mengetahui setelah adik muntah-muntah, dalam kondisi yang masih belum cukup sehat, dia disuruh oleh gurunya mengepel bekas muntahannya.”

Intinya dalam memilih kata ganti pun perlu variasi, dan meminimalisir pengulangan kata ganti yang tidak perlu. Toh, pembaca juga pasti tahu bahwa adik dan ibu yang dimaksud adalah adik dan ibu dari Agie atau si-“saya” sendiri. Bukan adik atau ibunya orang lain. Hehehehe…
Kemudian, coba kita cermati kalimat berikut ini:
“Waktu itu saya masih duduk di kelas 1 SMP, pelajaran Olahraga saya lewati dengan kondisi tubuh yang kurang fit, rasanya badan saya jadi panas dingin dan kepala pusing, dan benar saja, saya langsung meminta ijin untuk tidak melanjutkan pelajaran, ke UKS untuk sekedar rebahan.”

Bagaimana perasaan Pembaca saat membaca kalimat di atas? Kalau Neko sih ngosh-ngosh-an. Panjang banget euy, walau udah dikasih beberapa titik koma sebagai pause. Menurut Neko, kalimat di atas bisa dipecah menjadi beberapa kalimat pendek seperti ini:
  1. Waktu itu saya masih duduk di kelas 1 SMP.
  2. Pelajaran Olahraga saya lewati dengan kondisi tubuh yang kurang fit.
  3. Rasanya badan saya jadi panas dingin dan kepala pusing.
  4. Benar saja, saya langsung meminta ijin untuk tidak melanjutkan pelajaran, dan pergi ke UKS untuk sekedar rebahan.
Neko masih inget banget kata-kata salah satu dosen Bahasa Inggris Neko. “Dulu waktu ada writing test, walau kosa kata yang dipakai dalam karangan tidak terlalu canggih, saya berhasil dapat A. Apa kuncinya? Kalimat yang saya pakai pendek-pendek.”
Yah, begitulah, dalam menulis karangan, jenis apapun itu, kalimat-kalimat pendek justru menjadikan tulisan terasa lebih lincah dan menyenangkan untuk dibaca. So, daripada mengunakan barisan tanda koma untuk memecah kalimat-kalimat yang panjangnya seperti gerbong kereta api, pecah saja kalimat-kalimat tersebut dengan tanda titik. Kalimat pendek juga lebih mudah dipahami. Intinya make it simple gitu loh.
Untuk masalah kalimat efektif, kita bisa banyak belajar dari koran. Karena para jurnalis itu memang dididik untuk menggunakan kalimat-kalimat yang sesingkat dan seefektif mungkin. Soalnya mereka dibatasi oleh space artikel gitu loh. Beda dengan para penulis fiksi. Karena itu jika kita membaca buku-buku yang ditulis oleh ‘mantan’ jurnalis seperti Dahlan Iskan (Ganti Hati, Hati Baru, Belajar Dari Tiongkok, dll) rasanya sangat renyah kan?
Trus yang terakhir agak mengganjal itu judulnya. "Muntah Lalu Mual"? Coba deh, apa persepsi pembaca abis baca essay yang satu ini. Neko beneran ngira ini cerita kehamilan seseorang @_@... So, judulnya ganti apa gitu. Yang tetep bagus tapi nggak berkesan kaya karya ilmiah ehehehehe....
Sekian dulu dari Neko.  Neko pun masih harus belajar banyak. Buat Agie, thank you banget udah menyediakan tulisan bertema renyah nan bermanfaat untuk dikopi. Keep you spirit, Gal! En moga keluarganya terus sakinah mawaddah warrohmah... 
Cherio
Mizuki-Arjuneko

 Profil Penulis
Aremanita yang kini masih menempuh pendidikannya di Jurusan Kimia UIN Malang, sempat menghebohkan jagad raya FLP Malang. Pasalnya doi nih termasuk anggota yang dari segi usia masih imut tapi malah udah curi start buat nikah duluan…HUAHAHAHA… Mana pasangannya ternyata orang FLP Malang pula (melirik Pak Day). Hehehe…tapi jangan salah, walau masih tergolong muda, pembawaan Agie sudah dewasa, matang, dan keibuan loh. Jago masak pula! Apalagi Agie yang tadinya Neko anggap sebagai Ice Queen ini sekarang makin ‘menghangat dan mencair’ setelah menikah. Makin ca’em deh nih akhwat… (aduh kok aku malah promosiin istri orang sih??? >_<) Heheheshiawase ni ukhti.

            Agie bergabung dalam keluarga besar FLP Malang pada tahun 2010. Kemudian ia diamanahi jabatan pengurus sebagai bendahara. Soalnya doi teliti en telaten banget. Karena background pendidikannya yang murni eksak, awalnya tulisan-tulisan Agie kebanyakan berbau ilmiah dan mengandung bahan-bahan kimia heheh… Setelah gaul ama kita-kita, baru deh doi mulai mencoba gaya penulisan fiksi. Umumnya model karya Agie adalah narasi biografi atau personal literature seperti tulisan di atas.  Oke deh Gie, ditunggu yah karya-karya lainnya. Yang bebas formalin lho! Hihihihi…

DAS WARNING! Waspadai Lomba-Lomba Kepenulisan di Sosial Media!!!

Dunia kepenulisan semakin marak. Grup-grup kepenulisan berbasis sosial media pun bermunculan dan menyediakan banyak lomba dengan iming-iming naskah diterbitkan. Menggiurkan? Memang, Namun, ada baiknya teman-teman Laskar Pena membaca postingan di bawah ini lebih lanjut agar bisa waspada... Kenapa?



Karena banyaknya bisnis cetak buku berkedok lomba!




Berikut saya ingin memberi catatan buat teman-teman pembaca blog ini:


  1. Pada dasarnya lomba itu diadakan untuk menyaring naskah, bukan mengumpulkan semua naskah. Kalau ada lomba menulis berbayar--ambil aja contohnya dengan biaya pendaftaran 50.000--lalu semua naskah yang masuk diterbitkan, itu artinya penyelenggara sedang mengumpulkan penulis lalu mencetak bukunya dan mengembalikan 50.000 dalam bentuk buku. Ini jelas bukan lomba, tapi arisan penulisan karya. Lalu dimana kurasi naskahnya? di mana penilaiannya? Dimana lombanya??
  2. Kalaupun disaring--anggap aja yang daftar 100 orang--maka pihak lomba sudah mengumpulkan 5.000.000 dari bisnis lombanya itu. Menurut pengalaman saya* sebagai penerbit, dana sebanyak itu sudah bisa dipakai untuk mencetak 1000 eksemplar buku. Kalaupun dipilih 20 orang (anggaplah ini 20 karya terbaik) lalu hadiahnya adalah beberapa eksemplar buku (anggap aja 5. jadi 5x20=100 buku), ke mana sisa 900 buku?
  3. Kalau ini adalah antologi bersama, sebenarnya para penulis dihitung patungan untuk mencetak bukunya, bukan berlomba! Mereka harusnya berhak membagi jumlah buku yang dicetak dari total dana yang terkumpul. Itu baru adil. 
  4. Pihak lomba sah-sah saja menjadikan dirnya penerbit/percetakan, tapi setidaknya harus dijelaskan mekanisme yang jelas. Misalnya berapa biaya cetak buku, berapa pembagian keuntungan penerbit dan penulis. Biar buku dan tulisan bukan hanya jadi bisnis jual beli semata. Okelah penerbit cari untung, tapi mekanismenya harus jelas.
  5. Jika Anda, penulis, menemukan kasus-kasus aneh semacam ini, sebenarnya Anda juga harus berpikir ulang dan mempertimbangkannya. Mulai kritis dengan pengumuman lomba, apalagi syaratnya membayar. Harusnya pihak lomba punya dana/sponsor untuk hadiah. Bukan meminta penulis mengumpulkan dana, lalu 'berjudi' dengan peserta lain untuk jadi pemenang.
  6. Lebih aman mengumpulkan teman-teman sesama penulis, lalu mengumpulkan karya dan patungan untuk mendanai cetaknya. Selain lebih transparan, hak penulis juga nggak dikebiri atau dimanipulasi berlebihan. 

Menerbitkan buku sendiri itu gampang kok. Susun buku, edit, layot, bikin cover, cetak dan dsitribusi. Kalau kesusahan, banyak kok desainer, editor yang bisa dimintain bantuan/jasanya untuk pracetak buku. Anda bisa mencetaknya sendiri di penerbit/percetakan yang Anda percayai.

Demikian. Semoga bisa membantu kita semua.



Postingan asli grup ditulis oleh Irwan Bajang

(DAS Comparated Fiction) JARING-JARING MERAH, Helvy Tiana Rosa

Apakah kehidupan itu? Cut Dini, temanku, selalu saja marah bila mendengar jawabanku: Hidup adalah cabikan luka. Serpihan tanpa makna. Hari-hari yang meranggas lara.

Ya, sebab aku hanya bisa memendam amarah. Bukan, bukan pada rembulan yang mengikutiku saat ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. Tetapi karena aku tinggal sebatas luka. Seperti juga hidup itu. 

Dan kini hari telah semakin gelap. Aku tersaruk-saruk berjalan sepanjang tiga kilometer dari Seurueke, menuju Buket Tangkurak, bebukitan penuh belukar dan pepohonan ini. Dadaku telah amat sesak, tetapi langkahku makin kupercepat. Lolong anjing malam bersahut-sahutan, seiring darah yang terus menetes dari kedua kakiku. Perih. Airmataku berderai-derai. 

"Ugh!"

Aku tersandung gundukan tanah. Dalam remang malam, kulihat dua ekor anjing hutan mengorek-ngorek sesuatu, dan pergi sambil menyeret potongan mayat manusia. Mereka menatapku seolah aku akan berteriak kengerian. 

Ngeri? 

Oi, tahukah anjing-anjing buduk itu, aku melihat tiga sampai tujuh mayat sehari mengambang di sungai dekat rumahku! Aku juga pernah melihat Yunus Burong ditebas lehernya dan kepalanya dipertontonkan pada penduduk desa. Aku melihat orang-orang ditembak di atas sebuah truk kuning. Darah mereka muncrat ke mana-mana. Aku melihat tetanggaku Rohani ditelanjangi, diperkosa beramai-ramai, sebelum rumah dan suaminya dibakar. Aku melihat saat Geuchik Harun diikat pada sebuah pohon dan ditembak berulangkali. Aku melihat semua itu! Ya, semuanya. Juga saat mereka membantai … keluargaku, tanpa alasan.

Ffffffhuuih, kutarik napas panjang. Jangan menangis lagi, Inong! Kering airmatamu nanti. Meski lelah, lebih baik meniru anjing-anjing itu. 

Aku merangkak dan maju perlahan. Dengan tangan kosong kuraup gundukan tanah merah di hadapanku. Terus tanpa henti kugunakan kedua cakar tangan ini. Keringatku mengucur deras, wajah dan badanku terkena serpihan tanah merah. Sedikit pun tak kuhiraukan bau bangkai manusia yang menyengat hidung.

Tiba-tiba tanganku meraba sesuatu. Kudekatkan benda dingin itu ke mukaku. Tulang. Banyak tulang. Cakarku terus menggali. Kutemukan beberapa tengkorak, lalu remah-remah daging manusia. Ah, di mana? Di mana tangan kurus Mak? Mana jari manis dengan cincin khas itu? Juga cincin tembaga berbatu hijau dan arloji tua yang dikenakan ayah saat orang-orang bersenjata itu membawanya dalam keadaan luka parah. Di mana? Di mana tangan-tangan mereka? Di mana tulang-tulang mereka di tanam? Di mana wajah tampan Hamzah? Yang mana tengkoraknya?

Sssssssttt!

Tiba-tiba, di antara suara serangga malam, kupingku mendengar langkah-langkah orang. Sepatu-sepatu lars yang menginjak ranting dan daun kering. Mereka menuju ke arahku!

Aku harus menyanyi. Ya, menyanyi nyaring, dengan iringan dawai kepedihan dari sanubari sendiri.

"Perempuan gila itu!" suara seseorang gusar.

"Sayang, dulu ia cantik…," ujar yang lain.

"Ya, juga sangat muda. Ah, sudahlah, biarkan saja," kata yang ke tiga. "Ia tak berbahaya. Hanya tertawa dan menangis. "

Aku pura-pura tidak mendengar perkataan si loreng-loreng itu. Mereka gila karena mengira aku gila. Tak tahukah mereka bahwa aku tak menyanyi sendiri? Aku bernyanyi bersama bulan, awan dan udara malam. Bersama desir angin, burung hantu dan lolong anjing hutan. Bersama bayangan Ayah, Mak, Ma’e dan Agam. Kami menyanyi, kami menari bungong jeumpa. Lalu aku tersenyum malu, saat Hamzah yang telah meminangku, melintas di depan rumah dengan sepedanya. Dahulu. Ya, dahulu….

***

"Inong…."

Aku menggeliat. Cahaya mentari masuk dari celah-celah bilik. Hangat. Ah, di mana aku? Dipan ini penuh kutu busuk. Berarti…,ya, aku di rumah. Aku bangkit, mencoba duduk.

"Dari mana, Inong? Aku mencarimu seharian. Ureung-ureung menemukanmu di tepi jalan ke Buket Tangkurak, subuh tadi."

Kutatap seraut wajah dalam kherudoung putih di hadapanku. Cut Dini. Tangannya lembut membelai kepalaku.

"Aku cuma jalan-jalan. Aku tidak mengganggu orang,’ jawabku sekenanya.

"Aku tahu. Kau anak baik. Kau tak akan mengganggu siapa pun…, tetapi jangan pergi ke bukit itu atau bahkan ke rumoh geudong lagi. Berbahaya. Lagi pula kau seorang muslimah. Tidak baik pergi sendirian," kata Cut Dini sambil memberiku minum.

Kugaruk-garuk kepalaku. "Therimoung… ghaseh…," kuteguk minuman itu.

Cut Dini. Ia sangat peduli. Matanya pun selalu menatapku penuh pancaran kasih.

Aku kembali merebahkan badan di atas dipan. Sebenarnya aku tak tahu banyak tentang Cut Dini. Aku belum begitu lama mengenalnya. Orang-orang bilang ia anggota …apa itu … LSM? Juga aktivis masjid. Ia kembali ke Aceh setelah tamat kuliah di Jakarta. Dan … cuma dia, di antara para tetangga, yang sudi berteman denganku. Ia memberiku makan, memperhatikanku, menceritakan banyak hal. Aku senang sekali.

Dulu, setelah keluargaku dibantai dan aku dicemari beramai-ramai, aku seperti terperosok dalam kubangan lumpur yang dalam. Sekuat tenaga kucoba untuk muncul, menggapai-gapai permukaan. Namun tiada tepi. Aku tak bisa bangkit, bahkan menyentuh apa pun, kecuali semua yang bernama kepahitan. Aku memakan dan meminum nyeri setiap hari. Sampai aku bertemu Cut Dini dan bisa menjadi burung. Segalanya terasa lebih ringan.

Tetapi tetap saja aku senang berteriak-teriak. Aku melempari atau memukul orang-orang yang lewat. Hingga suatu hari orang-orang desa akan memasungku. Kata mereka aku gila! Hah, dasar orang-orang gila! Cut Dini-lah yang melarang. Cut Dini juga yang mengingatkanku untuk mandi dan makan. Ia menyisir rambutku, mengajakku ke dokter, ke pengajian, atau sekedar jalan-jalan.

"Baju yang koyak itu jangan dipakai lagi," kata Cut Dini suatu ketika.

"Aku suka," kataku pendek. "Ini baju yang dijahitkan Mak. Aku memakainya ketika orang-orang jahat itu datang."

"Itu baju yang tak pantas dilihat. Nanti orang-orang itu bisa menyakitimu lagi," katanya pelan.

Kupandang baju ungu muda di tanganku. Tangannya koyak, ketiaknya juga. Lalu di dekat perut, di belakang…, bahkan ada sisa-sisa darah kering di sana

"Aku ingin memakainya," lirihku. "Apa aku gila?" tanyaku.

Cut Dini menatap bola mataku dalam. "Menurutmu?"

Aku menggeleng kuat-kuat. Menggaruk-garuk kepalaku.

"Kau sakit. Kau sangat terpukul," ujar Cut Dini. Kulihat ia menggigit bibirnya sesaat. Lalu dengan cekatan membungkus baju itu dengan koran.

Aku mengangguk-angguk. Terus mengangguk-angguk, sambil menggoyang-goyangkan kedua kakiku. Aku suka membantah orang, tetapi tidak Cut Dini

"Sudahlah." 

Lalu seperti biasanya Cut Dini mengambil Al Quran mungilnya dan membacanya dengan syahdu. Suaranya kadang berubah. Aku seperti mendengar Hamzah mengaji—lewat pengeras suara-- di musala.
Ah, meski tak mengerti, aku ingin menangis setiap mendengar bacaan Al Quran.

***

Siang itu aku sedang menjadi burung. Aku terbang tinggi dan kadang menukik seketika. Aku hinggap di ranting-ranting pohon belakang dan mematuki buah-buah di sana. Huh, semuanya busuk. Aku jadi ingin marah. Bagaimana kalau kucuri saja topi-topi merah si loreng dan kubakar. Hua…ha…ha, aku tertawa gelak-gelak.

"Siapa kalian?" tiba-tiba kudengar suara Cut Dini bergetar, di ruang tamu yang merangkap kamar tidurku. 

Aku terbang dan hinggap pada meja kusam di samping rumah, lalu mengintip ke dalam lewat jendela yang rapuh. Dua lelaki tegap dengan rambut cepak menyodorkan sesuatu pada Cut Dini.

"Kami orang baik-baik. Kami hanya ingin memberikan sumbangan sebesar lima ratus ribu rupiah pada Inong. "

Aku nyengir. Lima ratus ribu? Horeeee! Apa bisa buat beli sayap?

"Kami minta ia tidak mengatakan apa pun pada orang asing. Ia atau bisa saja anda sebagai walinya menandatangani kertas bermaterai ini."

Cut Dini membaca kertas itu. Kulihat wajahnya marah. Mengapa? Kugerak-gerakkan kepalaku menatap mimiknya, lebih lekat dari jendela. 

"Tidak!! Bagaimana dengan pemerkosaan dan penyiksaan selama ini, penjagalan di rumoh geudong, mayat-mayat yang berserakan di Buket Tangkurak, Jembatan Kuning, Sungai Tamiang, Cot Panglima, Hutan Krueng Campli…dan di mana-mana!" suara Cut Dini meninggi. "Lalu perkampungan tiga ribu janda, anak-anak yatim yang terlantar…, keji that! Tidak!"

Kedua orang itu tampak gugup dan sesaat saling berpandangan. "Kami hanya menindak para GPK. Ini daerah operasi militer. Kami menjaga keamanan masyarakat."

"Oh ya?" nada Cut Dini sinis. "Kenyataannya masyarakat takut pada siapa? Dulu, banyak yang terpaksa menjadi cuak, memata-matai dan menganggap teman sendiri sebagai pengikut Hasan Tiro dari Gerakan Aceh Merdeka. Tetapi sekarang semua usai. Tak ada tempat bagi orang seperti kalian di sini."

"Sudahlah, ambil saja uang ini buat anda. Lupakan saja gadis gila itu."

Apa? Gadis gila?? Kukepakkan sayapku dan menukik ke arah dua lelaki itu. Kulempar mereka dengan apa pun yang kutemui di meja dan di lantai. Aku berlari ke dapur, dan kembali menimpuki mereka dengan panci dan penggorengan. Mereka berteriak-teriak seperti anak kecil dan berebutan keluar rumah. Pasti itu ayah orang yang memperkosaku! Pasti ia teman para pembunuh itu! Pasti mereka orang-orang gila yang suka menakut-nakuti orang! Paling tidak mereka cuak! Aku benci cuak!

"Inong…."

Aku berhenti melempar. Aku berhenti jadi burung ajaib. Orang-orang itu kini hanya titik di kejauhan. 
"Masya Allah, nanti perabotan itu rusak," suara Cut Dini, tetap lembut. "Benahi yang rapi lagi, ya. Aku mau shalat Lohor dulu," katanya. 

"Mengapa aku tak pernah diajak shalat?" protesku. " Dulu aku shalat bersama keluargaku, sebelum aku bisa jadi burung," tukasku. 

"Jangan menjadi burung, bila ingin salat seperti manusia," kata Cut Dini tersenyum.

***

"Keluar, Zakariaaa! Keluar! Atau kami bakar rumah ini!!"

Aku terbangun dan mengucek kedua mataku. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor. Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak. Lalu Ma’e dan Agam, abang dan adikku.

Ketika pintu dibuka, tiba-tiba saja Ayah diseret keluar, juga Agam dan Ma’e! Beberapa orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak, beberapa tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. Kudengar Ayah tak putus berdzikir. Dzikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati.

"Ini pelajaran bagi anggota GPK!" teriak seorang lelaki berseragam. Kurasa ia seorang pemimpin. "Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak lama!" 

Warga desa menunduk. Mereka tak mampu membela kami. Dari kejauhan kulihat api berkobar. Puluhan orang ini telah membakar beberapa rumah!

"Jangan ada yang menunduk!"

Aku gemetar mendengar bentakan itu. 

"Ayo lihat mereka. Kalian sama dengan warga Mane … bekerjasama dengan GPK!" suaranya lagi. 
"Kami bukan GPK!"suara Ma’e. 

"Lepaskan mereka. Kalian salah sasaran!" Ya Allah, itu suara Hamzah!

"Angkut orang yang bicara itu!"

Aku melihat Hamzah dipukul bertubi-tubi hingga limbung, lalu…ia diinjak-injak! Dan diseret pergi. Airmataku menderas.

"Siapa lagi yang mau membela?" tantang lelaki penyiksa itu pongah.

"Kami tidak membela, mereka memang bukan orang jahat," suara Geuchik Harun. "Pak Zakaria hanya seorang muadzin. Jiibandum ureung biasa." Samar-samar kulihat kepala desa kami itu diikat pada sebatang pohon.

Serentetan tembakan segera menghunjam tubuh Geuchik Harun, lalu Ma’e abangku! Aku histeris. Tak jauh, kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi, lalu Ayah yang berlumuran darah! Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk.

"Bawa mereka ke bukit dekat jalan buntu! Juga gadis itu!"

Aku meronta, menendang, menggigit, mencakar, hingga aku letih sendiri. Dan aku tak ingat apa-apa lagi, saat tak lama kemudian, nyeri yang amat sangat merejam-rejam tubuhku! 

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"aku berteriak sekuat-kuatnya.

"Astaghfirullah, Inong! Inong, bangun!"dua tangan menggoncang-goncang badanku.

Airmataku menganak sungai, tetapi aku tak bisa bangun, sebab aku berada di dalam jaring! Banyak orang-orang sepertiku di sini, di dalam jaring-jaring merah ini.

"Inong, istighfar…."

Tangan-tangan raksasa itu mengayun-ayunkan jaring. Aku dan kumpulan manusia di sini berjatuhan ke sana kemari. Kami tak bisa keluar dari sini! Tolong! Toloooooong! Di mana sayapku? Di mana? Di mana tangan Mak dengan cincin khas di jari manisnya? Aku ingin menggenggamnya. Di mana Ayah, Agam dan Ma’e? Di mana wajah saleh milik Hamzah? Di mana tengkoraknya?

Tangan-tangan raksasa itu menggerakkan jaring ke sana kemari. Aku jatuh lagi. Merah. Silau. Pusing. Pedih. Wajah-wajah dalam jaring pias. Wajah-wajah itu retak, terkelupas dan berdarah. Aku menjerit-jerit dalam perangkap. Di mana sayapku? Aku ingin terbang dari sini! Oiiii, tolong ambilkan sayapku! Aku ingin pindah ke awan! Di tanah kebanggaanku hanya tersisa nestapa!!

Tak ada yang mendengar. Sebuah pelukan yang sangat erat kurasakan. Lalu airmata seseorang yang menetes-netes dan bercampur dengan aliran air di pipiku.

"Allah tak akan membiarkan mereka, Inong! Tak akan! Kau harus sembuh, Inong! Semua sudah berlalu. Peristiwa empat tahun lalu dan rezim ini. Tegar, Inong! Tegar! Laa haula walaa quwwata illa billah…." 

Kabur. Samar kulihat Cut Dini. Wajah tulus dengan kerudung putih itu. Ia mengusap airmataku.

Lalu tak jauh di hadapanku, kulihat beberapa orang. Di antaranya berseragam. Tiba-tiba takutku naik lagi ke ubun-ubun. Aku menggigil dan mendekap Cut Dini erat-erat.

"Ia hanya satu dari ribuan korban kebiadaban itu, Pak. Tolong, beri kami keadilan. Bapak sudah lihat sendiri. Oknum-oknum itu menjarah segalanya dari perempuan ini!"

Takut-takut kuintip lelaki tegap yang sedang menatapku ini. Apakah ia membawa jaring-jaring untuk menangkapku lagi?

"Pergiiiii! Pergiiii semuaaaa!" teriakku. "Pergiiiiiiii!" aku menjerit sekuat-kuatnya. Pergiiiiii!" Aku menceracau. Sekujur badanku bergetar, terasa berputar. Orang-orang ini tersentak, menatapku kasihan. Hah, apa peduliku?! Aku ingin berteriak, mengamuk, memporakporandakan apa dan siapa pun yang ada di hadapanku! Aku… 

Tiba-tiba suaraku hilang. Aku berteriak, tak ada suara yang keluar. Aku menangis tersedu-sedu, tak ada airmata yang mengalir. Aku mengamuk panik, tetapi kaku. Aku mencari bunyi, mencari bening, mencari gerak. Tak ada apa pun. Cuma luka nganga. 

"Inong…, mereka akan membantu kita…."

Aku terkapar kembali. Menggelepar. Berdarah dalam jaring.

*** 
Keterangan:
Buket Tangkurak: Bukit Tengkorak
Geuchik: Kepala Desa
cuak : orang yang jadi mata-mata tentara
Mane: nama desa di Pidie
ureung-ureung : orang-orang
that: sekali
jibandum ureng biasa: mereka orang biasa
therimoung ghaseh: terimakasih
kherudoung: kerudung

Majalah Horison, April, 1999
Cerpen ini dinobatkan sebagai salah satu cerpen terbaik Horison selama sepuluh tahun terakhir (1990-2000).

Dari Buku Bukavu. PT. Lingkar Pena Kreativa, 2008