Jigsaw dan Beringin - Memperdalam Sebuah Karya



21 Februari 2016.

Agenda rutin yang kita laksanakan di emperan UIN, bedah karya. Dalam bedah karya ini selalu, bisa dipastikan, akan banyak ide baru. Beberapa alasannya karena ingin membuat sejarah dalam dunia literasi, sebagian lagi iseng-iseng saja.

Teknik Jigsaw

Begitu pula pekan kemarin. Salah satunya adalah ide iseng dari S. Laika. Bernama teknik jigsaw. Aslinya teknik ini berasal dari dunia pendidikan. Mengacak-acak ide atau paragraf, untuk mengasah otak atau memperoleh struktur baru yang lebih menarik. Dan S. Laika melakukan ide ini ke dalam cerpennya.

Jadi, kita diharuskan menyusun cerpen yang sudah dipotong-potong tiap paragrafnya. Yang nantinya bisa jadi membentuk struktur cerpen baru. Kita bisa mengubah alur waktunya, agar mendapatkan plot baru, bisa juga membuat twist yang lebih mengena ke pembaca.


Teknik ini sangat bagus untuk brainstorming. Kita akan mengenal lebih dalam bagaimana cara membuka cerpen yang bagus dan membuat twist yang semakin membuat pembaca semangat membaca. Coba deh kalian praktekkan sendiri. Acak-acak cerpen kalian!

Tapi, kalau kalian ingin membahas di forum dengan teknik ini. Jangan sampai di luar ruangan ya! apalagi pas hujan angin gitu. Bisa-bisa potongan-potongan cerpenmu kabur semua. Gak jadi dibahas deh. Macam bedah karya kita kemarin, pengendali angin lagi ngamuk.

Analogi Sepohon Beringin

Setelah membaca cerpen dari S. Laika kita lanjut membahas cerpen Kak Zie. Berkisah tentang pohon-pohon yang tak tau terima kasih. Menariknya cerpen ini karena membahas cara hidup pohon beringin. Oh iya, bagaimana Zie bisa menuliskannya? Tentu lewat riset dong. Hal paling pertama yang harus dilakukan siapapun yang ingin berkarya. Riset!


Hingga akhirnya dia bisa menemukan alur hidup pohon beringin, dan menceritakannya ke dalam cerpen. Setelah membaca cerita ini, kita akhirnya juga tau bahwa pohon beringin itu nemplok dan makan dari pohon lain, seperti parasit.

Ada dua poin utama yang bisa kita pelajarin dari bedah cerpen kedua ini.


Analogi

Kita bisa mengisahkan sesuatu dengan menganalogikan dengan hal lain yang dunianya sangat berbeda. Cara ini biasanya lebih memudahkan pembaca memahami kisah. Sekaligus menambah cantik tatanan sebuah cerpen.

Contohnya, Zie menggambarkan konflik di pemerintahan dengan pertumbuhan pohon beringin.


Diksi

Pelajaran kedua adalah bagaimana kita membuat kalimat atau kata kita lebih manis. Yaitu diksi, memilih kata yang pas untuk mempercantik serta membuat karya semakin enak dibaca.

Kata-kata seperti melata, senja keemasan, yang jarang digunakan kadang akan mempercantik karya. Akan tetapi seperti kopi. Kadang kopi itu jika isinya hanya gula semua, maka aroma dan rasa kopinya tak akan muncul secara maksimal. Malah lebih cocok jika tanpa pemanis.

Begitu juga cerpen. Ada beberapa cerpen yang malah harus menggunakan kata-kata sederhana sehari-hari. Karena memang topik dan alurnya sudah sangat bagus. Akan hilang rasanya jika ditambah pemanis lagi.

Tapi ada juga cerpen yang memang butuh beberapa diksi untuk menghaluskannya. Seperti kopi-kopi putih, seperti moccachino atau machiato.

Bagaimana? Tertarik ikut? Datang saja minggu depan jam 13.00 di UIN. Ada cerpen yang lebih menarik lagi yang menunggu dibabat sampai ke akar-akarnya.

Kak! Caranya Gabung FLP Malang Bagaimana, Ya?

The Old Power Rangers
Berbicara tentang Forum Lingkar Pena (FLP). Maka tak akan lepas dari tiga kata ini. Menulis, Komunitas, dan Santun. Kebanyakan penulis juga akan mengenal FLP dengan ketiga bau khas tersebut.

Menulis

FLP menjadi salah satu kumpulan orang yang ikut merayakan sejarah literasi. Bersama dengan grup/komunitas di seluruh dunia, kerjaan utama FLP ya menulis dan terus menulis. Tujuan akhirnya, ya menulis. Berkembang bersama waktu, berjalan seiring sejarah. Begitulah ruh utama semua kelompok menulis. Beriringan dan saling melengkapi. Menjangkau seluruh lapisan manusia agar mereka tahu pentingnya membaca dan menulis. Sebagai naluri pembeda manusia.

Komunitas

Sebenarnya dalam hal ini FLP sangat mirip dengan kelompok-kelompok menulis yang lain. Yaitu berkumpul karena memiliki kesamaan visi atau misi.

Seperti layaknya sebuah komunitas, perlu adanya sebuah perjanjian yang mengikat anggota dengan komunitasnya. Semata-mata agar perjalanan komunitas ini bisa panjang. Sekaligus mengakomodir semangat seluruh anggota yang beragam.

Santun

Dalam hal ini mungkin FLP memiliki sedikit perbedaan dengan komunitas menulis lainnya. Yaitu santun. Apa itu santun yang dimaksud FLP? Apakah harus ada Islam-islamnya? Setiap buat karya, harus ada adegan wanita merapikan mukena?

Santun di dalam FLP mempunyai artian yang sangat luas. Tapi biarkan penulis mendeskripsikannya dalam kalimat yang pendek. Yaitu karya sastra yang dibuat dengan tata bahasa yang santun sesuai adat ketimuran. Jika ingin lebih mendalami mungkin perlu kiranya diskusi santai dengan beberapa anak FLP.

Gabung FLP

Lalu, bagaimana caranya menjadi anggota FLP? Dalam hal ini FLP memiliki beberapa syarat. Antara lain ikut upgrading/open recruitment, mengikuti agenda-agenda rutin, mengisi raport, hingga akhirnya mendapatkan NRA (Nomor Registrasi Anggota).

Itulah beberapa syarat umum yang sesuai dengan titisan pusat. FLP Malang dahulu juga mengikuti jejak ini. Akan tetapi, dalam beberapa tahun cara ini belum berhasil dilakukan dengan sempurna oleh FLP Malang. Pasti selalu ada seleksi alam. Di awal jumpa kita layaknya satu batalyon perang. Akan tetapi setelah beberapa pekan jumlah kita terus menyusut, tnggal satu set Power Rangers. Itu pun tak tentu apakah ranger hitam selalu ada.

FLP Malang

Sehingga, kini FLP Malang sedikit tidak taat dengan ibunya sendiri. Memilih menggunakan otonomi daerah, alias tidak mengadakan open recruitment lagi. Jika ada yang ingin menjadi anggota FLP Malang, silahkan langsung gabung di acara-acara FLP Malang yang jadwalnya akan selalu ditempel di fanspage FLP Malang.

Kita akan senang mengangkat menjadi anggota FLP Malang, mereka yang memiliki kesungguhan serta kecocokan visi misi. Dengan kata lain mendapatkan kartu Power Rangers, maksud saya kartu NRA.

Sehingga kita bisa sharing/diskusi dengan seluruh umat manusia (halah gombal). Akan tetapi masih bisa fokus mengembangkan diri untuk menjadi Power Rangers, untung-untung jikalau si ranger hitam muncul.

Akhir kata. Mari masuk komunitas yang bisa mengembangkan akal dan hati kita, dimanapun itu. Kemudian membuat bumi menjadi lebih baik lagi. See ya!

Seri Writerpreneurship I: Kenapa Penulis Harus Kaya?


Oleh-oleh dari Upgrading FLP (Forum Lingkar Pena) Jatim dan Kuliah Umum Dare to be Writerpreneur, 6-8 Februari 2016

Disarikan oleh Gusti A.P.

"Penulis itu harus kaya," kata Bapak Nun Urnoto El-Banbary saat membina sesi Training for Trainer pada program Upgrading FLP Jatim kemarin.


"Kalau jadi penulis miskin, orang akan semakin meremehkan profesi ini. Mereka akan bilang, 'Buat apa jadi penulis? Tukang ngayal, tetap miskin.' Akhirnya nggak bakal ada yang jadi penulis. Makanya jadi penulis itu harus kaya."

Ada benarnya juga kata-kata penulis novel Anak-Anak Pangaro, Anak-Anak Revolusi Tanah Raja dan Memanjat Pesona ini. 

Berdasarkan berita Koran Sindo versi website 2015 lalu, minat baca masyarakat Indonesia, dibanding negara Asia lainnya sangat di bawah rata-rata. Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Budi Wibowo mengatakan, dorongan lingkungan sekitar masih belum mendukung untuk menumbuhkan minat baca.

"Untuk DIY, data terakhir survei 2012, indeks bacanya 0,049. Ini yang tertinggi di Indonesia, jika dibandingkan dengan daerah lainnya. Tapi jika dibandingkan luar, seperti Singapura masih jauh. Di sana, indeksnya sudah 0,45."

Berarti yang termasuk kita-kita ini cuma masuk dipersentase yang nol koma sekian-kian itu. Wasem tenan, tho? Dampaknya apa? Baru-baru ini para penggiat dunia literasi, mulai dari para penulis hingga pecinta buku diresahkan dengan dinaikkannya pajak bagi penerbitan buku. Yang dinaikkan itu sudah termasuk pajak bagi penjualan, royalti penulis, kertas, dan seluruh lini produksinya. Luar biasa. Nggak heran kalau harga buku jadi semakin melambung tinggi, lebih cepat dari kecepatan terisi ulangnya dompet.

Saat ini kondisinya, pajak diturunkan untuk jenis hiburan lain selain buku seperti tontonan film, tontonan pagelaran kesenian, musik, peragaan busana, pameran, diskotik, karaoke, klub malam, pertunjukan sirkus, sulap, dan tontonan pertandingan olahraga. Dan kalau hanya melihat dari sudut pandang untung-rugi material saja, itu wajar. Karena memang masyarakat lebih memilih hiburan-hiburan tersebut daripada kegiatan membaca. Karena peminatnya banyak meskipun pajaknya diturunkan, tetap bisa memberikan keuntungan yang besar. Sedangkan karena buku peminatnya dikit, kalau pajaknya dimurahkan, pemasukannya makin sedikit. Dimahalkan saja sekalian. Jadi walau yang minat dikit, pemasukannya tetap besar. Begitulah kebijakan orang-orang pajak yang getol mempromosikan jargon, “Orang bijak bayar pajak.” (Lha orang pajak apa bijak? Hehehe)



Persoalan minat baca dan tulis ini jadi lingkaran setan. Singkatnya, kalau diruntut sebab musababnya jadi begini: Kenapa nggak suka baca buku? Karena nggak terbiasa beli buku. Kenapa nggak beli buku? Karena buku mahal. Kenapa buku mahal? Karena pajak buku dinaikkan. Kenapa pajak buku yang dinaikkan? Karena orang-orang nggak suka baca buku! Kalau pajak buku diturunkan, apakah akan langsung menaikkan tingkat minat membaca masyarakat? Jawabannya: enggak!

Karena semisal kalau orang-orang seperti itu ditanyai lagi, “Ini saya kasih buku gratis, mau nggak?” atau “Ini saya kasih fasilitas belajar nulis gratis, mau nggak?”

Bisa jadi jawabannya begini, “Buat apa baca? Buat apa nulis? Nggak ada waktu. Nggak bikin kaya. Mending nonton orkes dangdut di kampung sebelah!”

Jadi itu semua terjadi karena kita sendiri nggak bisa meyakinkan mereka bahwa membaca dan menulis itu bisa memberikan keuntungan yang riil. Termasuk keuntungan finansial.

Yang jelas, bukan zamannya lagi penyair atau penulis yang identik dengan ketidakmapanan. Tampang kucel, baju kumal, kamar kumuh, sa'penake dhewe, nggak punya manajemen waktu dan karya. Bagaimana penulis bisa meyakinkan orang-orang untuk membeli karyanya kalau begitu? Chairil Anwar sendiri ketika melamar Mirat pacarnya, ditolak mentah-mentah oleh orangtua gadis itu.

"Kau cari kerja dulu, baru kemudian melamar anakku!" geram calon mertuanya.

Ya iyalah!

Penulis harus punya visi masa depan, dan hidup tertata agar bisa berkarya dengan profesional. 

Coba kalau kita adalah penulis yang kaya. Orang pasti berbondong-bondong bertanya kepada kita, “Kok bisa kaya? Kerjanya apa?”

Terus kita bisa menjawab dengan jawabannya, “Nulis dong.”

Pasti orang-orang pingin meniru. Dan kalau mereka bertanya gimana biar bisa nulis yang bikin kaya? Kita bisa dengan jumawa menjawab, “Mau tau? Beli dan baca buku saya. Nanti Anda akan tahu.”

Lalu mereka akan beli buku kita deh. Horeee...Wenak tho? 

Agar tidak terlalu panjang, tulisan writerpreneurship bagian pertama yang disarikan dari materi Upgrading FLP Jatim ini diakhiri dulu sampai di sini. Tulisan berikutnya akan membahas soal Kenapa Penulis Tidak Bisa Kaya. Mindset apa saja yang bisa menghalangi seorang penulis untuk mencapai kesuksesan, dan bagaimana mendobrak mindset tersebut.

Referensi


Referensi





Widodo, Dukut Imam, 2016. Menulis Itu Adalah Sebuah Pekerjaan. Materi yang dibawakan pada sesi Kuliah Umum Dare to be Writerpreneurship, Upgrading FLP Jatim Februari 2016.


Sesi Training for Trainer untuk Kelas Upgrading Kepenulisan Novel yang dibawakan oleh Nun Urnoto El-Banbary di acara Upgrading FLP Jatim Februari 2016

Sejarah FLP Malang



SELAYANG PANDANG TENTANG FORUM LINGKAR PENA

  1. FLP (Forum Lingkar Pena) adalah sebuah organisasi kepenulisan berasaskan Islam, bergerak di segala bidang yang berhubungan dengan kepenulisan dan pemberdayaan penulis.
  2. FLP berdiri pada tanggal 22 Februari 1997 di Kalimantan, diprakarsai oleh Helvi Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Muthmainnah.
  3. VISI
    Visi FLP adalah Membangun Indonesia yang cinta membaca dan menulis serta membangun jaringan penulis berkualitas di Indonesia. FLP sepakat untuk menjadikan menulis sebagai salah satu proses pencerahan umat.
4.      MISI
a.  Menjadi wadah bagi penulis dan calon penulis.
b. Meningkatkan mutu dan produktivitas (tulisan) para anggotanya sebagai sumbangsih berarti bagi masyarakat.
c. Turut membangun citra pers yang obyektif dan bertanggung jawab.
d.         Turut meningkatkan budaya membaca dan menulis, terutama bagi kaum muda Indonesia.
e. Menjadi organisasi yang selalu memunculkan penulis baru dari daerah di seluruh Indonesia.
5.      Semboyan: Berbakti Berkarya Berarti.
6.      FLP yang berpusat di Jakarta ini memiliki cabang di berbagai kota di Indonesia (dari Sabang sampai Merauke), bahkan menyebar ke beberapa negara seperti Mesir, Yaman, Hongkong, Belanda, Singapura, Jepang, Amerika, Inggris dll.
7.      Cabang pertama didirikan di wilayah Kalimantan Timur pada tahun 1998 yang berpusat di Bontang serta cabangnya di Samarinda, Balikpapan, Tengarong, dan Sangata.
8.     FLP Wilayah Jawa Timur yang berpusat di Surabaya telah memiliki cabang di beberapa kota, antara lain di Malang, Pasuruan, Blitar, Sumenep, Pamekasan, Probolinggo, Jember, Kediri, Jombang, Bondowoso, Banyuwangi, dll. Periode 2011—2013 FLP Wilayah Jawa Timur dipimpinan oleh Adam Muhammad (Lutfi Hakim).


FLP CABANG MALANG
     
  1. Sejarah FLP Malang
FLP Cabang Malang berdiri pada 22 Nopember 2000 di Aula Akper jl Ijen (sekarang poltekes)Malang yang diprakarsai oleh Abyz Wigati, Izzatul Jannah, dan Bahtiar HS.
  1. Sekretariat:
Pada awalnya, sekretariat  FLP Cabang Malang berada di Terusan Ambarawa No. 52 A Malang. Kemudian sejak tanggal 26 Januari 2009 hingga 2013, berpindah ke:
            Perpustakaan Umum dan Arsip Kota Malang
            Jalan Ijen No 30 A Malang 
      Tahun 2015 markas FLP-sekarang pindah di Perum Taman Embong Anyar 2
Blok H-11

3.     FLP Ranting
FLP Malang memiliki beberapa ranting yang berpusat di beberapa perguruan tinggi, yaitu UM (Universitas Negeri Malang), UMM (Universitas Muhammadiyah Malang), UIN (Universitas Islam Negeri) Malang, dan SMAN 10 Malang.
4.     Kepengurusan FLP Malang
            2002–2003      : Abyz Wigati
            2003–2004      : Hanif Acep
            2004–2005      : Dadang Kriswanto
            2005–2008      : Kukuh Santoso
            2008–2010      : Faris Khoirul Anam
            2010-2013        :  Fauziah Rachmawati
            2013-2014        : Mahfuzh Huda
            2014-sekarang : Dyah Wulandari






Abyz Wigati
Dadang Kriswanto
Faris Khoirul Anam
Fauziah Rachmawati
Mahfuzh Huda
Dyah Wulandari



Dirangkum oleh 

Tips Cerpen Efisien dan Menarik Seperti Ernest Hemingway dan Mashdar Zainal

Kabut Ibu - Mashdar Zainal

Kenapa ada yang namanya cerpen? Karena isinya adalah cerita yang pendek. Berbeda dengan novel maupun cerbung. Salah satu keseksian cerpen adalah ceritanya yang pendek namun mendalam. Ketika cerpen yang padat ini sepanjang novel, maka akan menjadi sebuah cerita yang rumit dan amat kental. Membuat pembaca kadang sebal membacanya, kecuali memang bagi mereka kritikus sastra.

Walaupun singkat, tetapi cukup berat membuat cerpen yang bagus. Bisa jadi kita akan revisi berkali-kali untuk mendapatkan kekentalan cerita yang pas. Penulis pemula bisa menyelesaikan cerpen dengan sangat cepat dan panjang. Namun esensi cerpen bukan di situ. Melainkan cerita yang memikat.

Cerpen panjang akan langsung ditinggalkan jika hanya berisi angin. Ketika di awal tak ada yang menggigit. Pembaca akan malas meneruskan membaca sisa cerita yang panjang itu. Takut buang-buang waktu dengan kualitas yang sama seperti di awal, atau bahkan lebih buruk.

Ada beberapa tips untuk menghindari kebiasaan dari penulisan cerpen seperti di atas. Sehingga menjadi cerpen yang efisien dan memikat pembaca.

Satu Bagian Adegan. 


Berbeda dengan novel. Cerpen cukup mencakup satu adegan kecil dari kehidupan tokoh. Atau bisa juga potongan-potongan kecil dari kehidupan tokoh. Sehingga kita bisa menceritakan secara detail potongan adegan tersebut. Tak perlu repot menjelaskan keseluruhan hidup si tokoh. Ini hanya akan menambah informasi-informasi tidak penting. Selain itu membuat pembaca bosan.


Kalian bisa membaca cerpen A Very Short Story karya Ernest Hemingway yang hanya berkisah antara pemuda dan pemudi. Namun jika ditelisik lebih mendalam, cerita tersebut memiliki banyak intrepetasi dan versi cerita.

Membuat Outline. 


Setelah kita menentukan bagian yang ingin diceritakan. Langkah selanjutnya adalah menulis outline cerita. Hal ini tergantung kebiasaan masing-masing penulis. Namun bagi kalian yang pertama kali menulis cerita, saya sarankan menggunakan outline. Selain untuk menjaga agar cerita tak melebar, juga memudahkan jika ingin mengotak-atik cerita. Seperti saat menggunakan alur maju-mundur. Satu Permasalahan Utama. Fokuslah pada satu permasalahan utama. Jangan buat fokus pembaca terpecah-pecah. Akan membuat kalian berpanjang lebar menuliskan resolusi cerita.

Dalam cerpen Kabut Ibu karya Mashdar Zainal ceritanya berfokus tentang ibu yang dikurung di dalam kamar. Konflik-konflik lainnya merupakan pendukung dari konflik utama.

Deskripsi Intrinsik


Kembali kita lihat A Very Short Story karya Ernest Hemingway. Sekali baca kita akan memaklumi sikap Luz. Tapi kali kedua kita akan mendapatkan kesan lain dalam cerita. Yaitu bagaimana kerakusan bisa membuatnya tidak mendapatkan apapun.

Cerita-cerita yang mempunyai makna banyak seperti Ernest bisa dimunculkan dengan memasukkan unsur-unsur manusiawi. Seperti psikologi. Selain itu bisa dimasukkan ke dalam simbol-simbol tertentu. Seperti laut yang menandakan luas. Bisa juga kita memberikan fakta secara perlahan-lahan.  Ada yang dituliskan di depan, ada pula yang ditahan. Menunggu waktu yang tepat.

Terakhir. Tapi Paling Manjur


Salah satu cara yang lebih manjur setelah cara-cara di atas adalah banyak menulis dan tidak bosan untuk merevisi naskah.

ASK MASHDAR: Memilih Diksi dan Menyampaikan Pesan Dalam Cerpen

Berikut merupakan transkrip diskusi tentang :
Salah satu transkip diskusi seru yang telah menjadi artefak. :v
"Tentang Memilih Diksi" dan "Bagaimana menyampaikan pesan dalam cerpen."

#Mashdar Zainal:
Maaf, sore-sore baru buka lapak. Silahkan yang mau tanya seputar fiksi. Hari ini jadwalku 'ngisi lagi', seperti biasa, pertanyaan pertama yang akan kita bahas...
 2 Februari pukul 14:24

#Ain Nur, #Fauziah Rachmawati dan 2 orang lainnya menyukai ini.

#Mashdar Zainal: mention Lin Wulynne, Gusti Aisyah Mizuki-Arjuneko, Fauziah Rachmawati, Heni Syakarna, Cak Dayat, Mahfuzh Tnt, Muhammad Hafidz Mubarok, Ain Nur, Widiya Dewi, Arif Bawono Surya, dll... seretin temen2 yang belum ya...
                                                      2 Februari pukul 14:25 

#Ummu Rahayu:
Mas, gimana caranya menyeimbangkan kadar istilah-istilah baru dalam novel? Maksudnya, kan ada tu idiom-idiom yang jarang, sama istilah-istilah yang jarang ditampilkan gitu... Biar menambah informasi baru dalam tulisan. Nah, bagaimana menyeimbangkan itu? Kadang kan bisa males kalo banyak kata-kata yg tidak kita mengerti. Kapan kita bisa menggunakan itu? Saat yang tepat itu gimana?

Sama... dalam cerpen bisa ga kita menjelaskan seting misalnya dalam kamar itu ada meja dua buah, di atasnya ada piring, bak berkaki, sendok, nasi... di meja lainnya terdapat teko dengan tulisan teh atau kopi dengan jejeran gelas dan air mineral di samping kiri dan kanannya? (Hoho berapa pertanyaan sudah?)  Sebenarnya banyak yang mau dtanyakan nih mas. :D  
2 Februari pukul 16:54

#Ummu Rahayu: Oh iya Mas... dalam menulis itu menetapkan pesan moral dulu apa pesan moral biarlah muncul dengan sendirinya dalam tulisan
2 Februari pukul 16:57

#Mashdar Zainal:
Ummu Rahayu, pertanyaanmu satu RT full. Hmmm cara menyeimbangkan pilihan diksi? Saya pikir itulah novel. Memang harus kaya kata-kata sehingga bisa mendeskripsikan sesuatu dengan powerful. Soal idiom, atau diksi2 tak biasa, kau bisa menggunakan sesuai kebutuhan. Lalu kapan dibutuhkan? Kalau saya sendiri menyebutnya "nyastra". Ada beberapa kalimat yang butuh kata-kata tertentu untuk mengindahkan kalimat tersebut. Dan sebaliknya, terkadang kata indah/ idiom/ ilmiah akan menjadi garing bila kita salah menempatkan. 

Contoh kongritnya (lagi-lagi) kita harus tengok karya-karya keren yang sudah ada. Bagaimana para penulis itu menempatkan kata sesuai pada tempatnya....
2 Februari pukul 17:34

#Mashdar Zainal: Ummu, soal pesan moral, dari pengalaman, saya cenderung memulai menulis dulu (tak pedulu ada pesan atau tidak). Tapi setelah selesai, saya coba baca berulang-ulang, adakah sesuatu yang mungkin bisa diselipkan untuk disampaikan? Dan saya selalu menemukan ADA. Akan selalu ada, meski itu sangat kecil.
2 Februari pukul 17:35 ·

#Muhammad Hafidz Mubarok: ‎Ummu, yang saya tahu ada teknik namanya open up. Jangan dulu berpikir judul, jangan dulu berpikir pesan atau amanat,dan jangan pernah berpikir baiknya seperti apa. Kata Pak Hernowo, "Itu semua hanya membuang waktu."

Tulis saja semua gagasan, setelah selesai koreksi bukan edit. Jadi hilangkan yang sekiranya sampah, dan bumbui yang sekiranya menarik. Nuwus
2 Februari pukul 17:57 

#Mizuki-Arjuneko: Tapi setiap karya kan harus ada pesan moralnya. Bukannya itu salah satu prinsip FLP (n Islam)??? @_@
2 Februari pukul 17:59 ·

#Muhammad Hafidz Mubarok: Jangan salah paham, Neko. Pesan moral memang harus ada, tapi jangan sampai membebani kita. Terutama jika ingin memulai sebuah tulisan. Kalau belum-belum sudah terbebani moral, yang terjadi tulisan kita malah terkesan menggurui. Pembaca mana yang suka digurui?

So, teknik terbaik, jangan berpikir apapun ketika ingin menulis. Indah atau tidak, sesuai prosedur atau cabang, kita urusi belakangan. Saya kira Ummu bertanya seperti itu karena lebih dulu takut untuk menulis, apakah tulisannnya sesuai islami atau gak.Itu yang menjadi big problem
2 Februari pukul 18:03

#Ummu Rahayu: Huuummmmm asssiiiikkkk.... Terima kasih Mas Mashdar Zainal, terima kasih Mas Muhammad Hafidz Mubarok ^_^V
4 Februari pukul 22:55

END NOTES:
Yap, itulah laporan diskusi fiksi di lapak Mashdar Zainal (tentu saja ada beberapa hal yang diedit, dan disesuaikan. Komentar-komentar yang ditampilkan adalah komentar yang masih sesuai dengan isi diskusi. Juga ada penyesuaian beberapa ejaan dan diksi)

Sebenarnya untuk pemunculan moral atau pesan dalam karya sastra itu adalah keharusan menurut teori Dulce et Utile. Dulce (sweet/indah), Utile (berguna). Dicetuskan oleh Horacio, filsuf Yunani klasik. Bisa dipelajari lebih detail di buku Teori Sastra atau Literary Theory, yang ditulis oleh Wellek dan Warren. Inti dari konsep ini sebenarnya sangat sederhana. Bahwa  sebuah karya sastra harus indah, sehingga menghibur pembacanya, dan berguna, sehingga mencerdaskan pembacanya. 

Karena untuk apa karya yang rumit, susah dipahami, dan memakai bahasa yang muluk-muluk kalau pada akhirnya tidak membawa pesan positif bagi pembacanya kan?

Nah, bagaimana diskusi di atas? Seru kan? Berbagi memang nggak pernah rugi. Thanks buat Ummu Rahayu yang sudah memulai diskusi ini dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menarik. Juga buat Hafidz yang sudah ikut berusaha memberi pencerahan. Terlebih lagi, thanks a lot buat Mashdar Zainal yang sudah meluangkan waktu untuk berbagi ilmu di lapak ini. Sukses dengan karya-karya barunya, Pak. ^_^b

Profil Mashdar Zainal.

Mashdar Zainal adalah nama pena dari penulis kelahiran kota Brem, Madiun, ini. Beliau dilahirkan pada tanggal 5 Juni 1984, dengan nama Darwanto. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di tanah kelahiranya, Usai lulus MTs. Ia merantau ke Nganjuk, untuk belajar nyantri. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar ia sudah bersahabat karib dengan buku, khususnya komik dan buku cerita.

Selain membaca dan menulis tentunya, sejak kecil ia juga paling gemar melukis, buku-buku pelajarannya selalu penuh dengan puisi dan gambar-gambar. Cita-cita kecilnya menjadi seniman, seiring berjalannya waktu ternyata ia lebih suka menjadi seniman tinta.

Akhir tahun 2007, pria yang biasa di panggil Mashdar ini sukses menyelesaikan studinya di Fakultas tarbiyah  UIN Malang dengan predikat sangat memuaskan. Saat ini ia tengah mengajar di SDIT Insan Permata Malang. Bergiat juga di Komunitas Sastra Lembah Ibarat Malang. Organisasi kepenulisan yang masih aktif ia tekuni salah satunya ialah Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Malang.

Beberapa kali ia menjuarai Lomba Kepenulisan Cerpen dan Puisi, dari Tingkat Lokal sampai Tingkat Nasional. Terakhir, dia mendapat predikat “Penyair Hijau” sebagai juara harapan III Lomba Cipta Puisi bertajuk “Puisi Hijau”, yang digelar oleh Harian Online Kabar Indonesia (HOKI). Dua cerpennya Laron (2011) dan Pohon Hayat (2012) sudah berhasil menembus rubrik cerpen media nasional bergengsi, Kompas. Cerpen-cerpennya bertebaran hampir tiap minggu di berbagai media seperti Jawa Pos, Journal Cerpen, etc.

Beliau sudah menerbitkan satu novel di bawah penerbit Pro U Media, Zalzalah. Novel keduanya, BLACK JASMINE sedang dalam proses penerbitan di penerbit yang lain. Sungguh penulis yang sangat produktif. Impiannya adalah melihat karyanya difilmkan oleh sineas-sineas jempolan.



Bagi pembaca yang ingin bersilaturrahim dan berbagi ilmu melalui kirtik, saran, ataupun tanggapan bisa langsung mengirim e-mail ke mashdar.zainal@yahoo.co.id, bagi yang ingin lebih mengenal sosoknya silahkan singgah ke gubuk mayanya dengan alamat www.mashdarzainal.blogspot.com

Tips Tembus Kompas

Kompas

Penulis fiksi? cerpen ya? cocok sekali dengan artikel ini. Sebagaimana pekerjaan-pekerjaan lainnya, menulis juga mempunyai jenjang-jenjangnya. Kita bisa melewati berbagai jalur untuk mencapai karir menulis yang baik. Fiksi, terutama yang melewati jalur serius, maksud saya diperhitungkannya aroma sastra dan isu secara lebih. Seperti Sapardi, Seno Gumira, Mashdar Zainal, maupun Ai El Afif. Masuk ke Kompas merupakan salah satu indikator bahwa harum teknik bercerita kita sudah mewangi. Meskipun bukan satu-satunya.

Karena itu, kenapa Kompas sangat susah untuk ditembus. Bahkan ada penulis yang setelah mengirim cerpen keseratus baru terbit. Kompas sangat selektif dengan cerpen yang masuk. Ada redaksi yang sangat kompeten di sana yang siap membantai cerpen kita. Tak boleh ada cacat sedikit pun. Bisa dikatakan mereka akan tahu jika kita menyembunyikan upil di balik sela meja cerpen kita.

Berikut ini saya ringkasan beberapa tips agar cerpen kita bisa tembus Kompas. Tips ini berasal dari salah satu redaktur cerpen mingguan Kompas, Fajar Arcana.

Pertama, kita harus taat aturan. Tapi fleksibel. 

Seperti sepuluh ribu karakter, bahasa Indonesia yang baik, mengurangi salah tulis. Semuanya wajib diikuti. Tapi misal hanya mencapai sembilan ribu karakter, itu tak terlalu masalah. Asal tidak sampai hanya setengah dari aturan, atau dua kali lipatnya.

Kedua. Tema Bebas.

Tema yang diambil boleh dari manapun. Semakin kreatif dan imajinatif karya tersebut, semakin bagus. Ekplorasi sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya sebuah cerita. Baik itu realis, surealis. Bebas.

Ketiga, Alur

Cerpen Kompas mengutamakan alur yang saling tersambung dan utuh. Dan disampaikan dalam bahasa dan alur yang kreatif. Haram hukumnya cerpen yang mempunyai topik cerita yang sudah umum, apalagi alurnya sangat monoton. Ketika kita membolak-balik cerita kita. Bisa kita temukan celah-celah yang akan bisa mengikat ketertarikan pembaca.

Keempat, Cerpen Kompas bukan Artikel

Ada rubrik tersendiri ketika ingin menyampaikan gagasan dalam bentuk esai. Begitu juga dengan puisi. Cerpenmu tak akan masuk jika penuturannya mirip esai maupun puisi. Harus dalam bentuk prosa yang memikat. Namun jangan terlalu lebay. Memikat tapi singkat, lugas, dan bernas.

Kelima, Ada Nilai di Sana

Berbeda dengan cerpen teenlit, cerpen Kompas bisa kita deskripsikan sebagai cerpen berat. Sehingga selain menghibur, harus ada isi di dalamnya. Ada ilmu yang bisa diambil pembaca. Setelah membaca ada bekas di hati. Itulah ciri khas cerpen di Kompas.

Terakhir, Bebal!

Seperti awal artikel. Banyak cerpenis di Kompas harus beberapa kali ditolak baru bisa diterbitkan. Jika baru sekali ditolak, lalu menyerah. Memang mungkin kamu tak bakal punya cerpen di Kompas. Karena ada yang harus ditolak dua puluh, bahkan ratusan kali. Maka dari itu beballah! Menulis-Kirim-Menulis lagi.

Belanja Online Makin Mudah dan Menyenangkan bersama Shopious.com



Jika Anda suka browsing untuk mendapatkan barang atau jasa yang Anda butuhkan, inilah solusi menyenangkan untuk Anda. One stop online shopping yang efektif bisa sangat membantu Anda memanfaatkan waktu Anda. Tak hanya itu, Anda akan bisa memperbandingkan barang dan harga, di tempat yang sama. Mommies, jika Anda butuh baju-baju lucu untuk buah hati dan untuk mommies; anak-anak muda nan gaul, jika kalian fashionable dan suka hunting outfit keren dan nyaman; banyak juga aksesoris gadget yang makin memudahkan Anda; dan banyak lagi.

Juni 2013 lalu telah dirilis hasil sebuah riset tentang kemajuan internet yang menyatakan bahwa transaksi jual-beli online akan mengalami peningkatan yang pesat sampai 17%, mencapai $ 1,2 triliun di seluruh dunia pada tahun yang sama. Kawasan Asia Pasifik, terutama Asia Tenggara, diprediksi akan menjadi pusat perkembangannya sehingga akan sangat banyak investor kelas kakap yang menjadikannya primadona utama untuk mengembangkan bisnis mereka. Tidak hanya mereka, investor kecil pun mulai merintis bisnis start up mereka di kawasan Asia Tenggara ini.

Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), pada tahun 2014 pengguna internet tercatat kurang lebih mencapai 82 juta jiwa di Indonesia. Diperkirakan jumlah ini akan terus naik hingga 100 juta jiwa di tahun 2015.

Kenyataan ini membuat masifnya start up bisnis bidang e-commerce di Indonesia. Berbagai start up memberikan terobosan konsep baru dalam industri e-commerce: mulai dari menawarkan harga yang sangat terjangkau, barang berkualitas, hingga testimoni customer yang memikat.

Shopious.com adalah salah satu start up yang meramaikan industri toko online Indonesia. Tak seperti situs toko online lainnya, situs satu ini unik. Bisnis model Shopious.com mengadopsi model customer to customer (C2C) atau sering disebut marketplace. Dengan konsep C2C atau marketplace, situs Shopious.com menjadi wadah tempata bertemunya penjual dan pembeli. Ini sangat menguntungkan bagi semua pihak. Para penjual akan mendapatkan berbagai macam pembeli yang potensial sehingga probabilitas mencapai keuntungan semakin tinggi. Sebaliknya, para pembeli akan lebih puas karena mendapatkan variasi pilihan produk yang lebih banyak, plus harga yang kompetitif dari ribuan lapak penjualan. Hubungan mutualisme yang saling menguntungkan ini adalah konsep mendasar yang ingin dikembangkan oleh Shopious.com.

Cara Belanja di Direktori Shopious.com

Setelah mengenal direktori toko online Shopious.com di atas, silakan gali lebih jauh lagi tentang cara belanja online di Shopious.com. Mari kita lihat lebih dalam dan semoga bisa berguna ke depannya. Langkah-langkah yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
1.       Pertama-tama buka situs Shopious.com di browser Anda.
2.       Lalu carilah produk yang Anda beli. Temukan produk tersebut, lalu klik pada gambar produknya.
3.       Kemudian silakan klik contact dari toko online tersebut, hingga tampil di layar Anda nomor telepon, kontak BBM, nomer whatsapp, atau ID media sosial yang bisa Anda hubungi. Silakan Anda hubungi toko online tersebut contact yang tersedia.

Jadi di sini, secara umum, Shopious.com berperan untuk menghubungkan para penjual dan para pembeli potensial. Sedangkan untuk pembeliannya, silakan dilakukan dengan cara langsung menghubungi contact toko online masing-masing.