Showing posts with label Arjuneko. Show all posts
Showing posts with label Arjuneko. Show all posts

(DAS EDITORIAL): Teori Resepsi, Metamorfosa Karya Sastra (revised edition)

 A. Teori Resepsi dan Intertekstualitas (Prelude)

Yak ketika Neko untuk pertama kalinya duduk bersama para brondong angkatan 2011 di kelas Teori Sastra yang dipegang Pak Karkono dari Jurusan Sastra Indonesia, Neko langsung disuguhi dua nama teori di atas. Jujur saja, karena pernah nggak mudeng dan akhirnya dapat nilai aib pas Neko mengikuti mata kuliah ini di jurusan Neko, Neko agak alergi sama yang namanya –isme-isme. Tadinya satu-satunya yang Neko tahu dari mata kuliah Teori Sastra yah…mata kuliah yang full of isme-isme ini. Ada formalisme, strukturalisme, post-modernisme, feminisme, dan Neko cuma tahu sekedar nama…doang! Kalau ditanya makanan apa sih nama-nama aneh di atas? Jawabannya: Meneketehe? Apalagi, apaan tuh resepsi? Setahu Neko “resepsi” itu ya sama dengan “kondangan”. Hrr… Neko pernah mencoba membuka Wikipedia dan yang tertulis di sana benar-benar nggak membantu. Tahu sendiri serumit apa gaya bahasa Wikipedia dalam bahasa Inggris itu.  Dan dasar Neko sama sekali nggak punya background knowledge tentang isme-isme di atas, makin blank-lah Neko. 
"Allahuakbaaar!!! Anda itu ngomong apa seh??? Pakek bahasa kucing dooong!"
(kira-kira beginilah tampang Neko saat dosen Neko dulu  mulai ngomongin isme-isme yang bejibun tapi absurd itu...)
Bagaimana dengan buku teksnya? Huff…udah fotokopian, tulisan kecil-kecil dengan model ketikan, nggak ada gambar-gambar lucunya, ditulisnya pakai bahasa Inggris semua pulak! (Jdhang! Ya iyalah dhodhooll…emang kamu pikir kamu sedang kuliah di jurusan apaa???)
Nah, apakah jika mata kuliah ini disajikan dalam bahasa Indonesia lalu materinya bisa diterima oleh otak Neko yang super simple ini?
Neko saat berusaha menyimak penjelasan dosen Literary Theory
(Inilah yang dimaksud dengan 'tidur dengan mata terbuka' haahaha)
Hm…yang jelas kali ini dalam mengantarkan para mahasiswanya untuk memahami materi mata kuliah, sang dosen lebih sering menjelaskan tiap-tiap teori dengan contoh-contoh karya sastra yang sudah dikenal para mahasiswanya seperti, Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, Perempuan Berkalung Sorban, dan baladewanya. Akhirnya itu yang bikin anak-anak di kelas termasuk Neko menjadi lebih bergairah dalam mengikuti diskusi-diskusi yang ada. Semua orang juga pasti akan lebih bersemangat ketike membicarakan hal-hal yang mereka tahu kan? Dosen Neko yang dulu tentu saja bersemangat memberikan kuliah, karena jelas ia menguasai materinya di luar kepala. Tapi bagaimana dengan Neko yang saat itu datang ke perkuliahan hanya dengan modal pantat? =_=” Hufff…
So, apa sih intertekstualitas itu? Dan apa hubungannya teori resepsi dengan kondangan? Apakah teori resepsi itu adalah teori tentang trik-trik menghadiri resepsi seperti cara jitu untuk mencicipi semua hidangan prasmanan tanpa dibilang “nggragas”? Hahaha…sebelum Neko semakin ngaco…(efek insomnia ternyata segeje ini, Saudara), berikut contoh simple  yang diberikan oleh Bapak dosen kepada kami:
Adaptasi dari novel Ayat-Ayat Cinta menjadi Film Ayat-Ayat Cinta yang diperankan Fedi Nuril dan Riyanti Catwright itu berhubungan dengan teori resepsi. Sedangkan ketika ada sebuah teks klasik nan legendaris “PANJI INUKERTAPATI”, yang kemudian menjadi model atau inspirasi beberapa cerpenis jaman sekarang untuk membuat cerita cross-over, dengan seting dan tokoh sama, tapi dengan sudut pandang yang berbeda, dan hasilnya menjadi cerita yang memberikan ‘rasa’ yang berbeda pula, itu baru berhubungan dengan teori intertekstualitas.
 VS


 Adaptasi novel AAC ke dalam format layar lebar dianalisa dengan memakai TEORI RESEPSI


Lukisan Pangeran Panji Inukertapati mencari istrinya yang hilang, Dewi Sekartaji. Cerita Panji adalah epik terbesar dalam kutur folklore Jawa. Cerita ini sudah memiliki banyak versi (Bali, Jawa, Kalimantan), bahkan sampai ke mancanegara (Myamnar, Filipina, Thailand, dan Kamboja). Varian cerita ini sangat banyak di antaranya Ande-Ande Lumut dan Keong Mas. Cerita Panji ditampilkan dalam berbagai media seperti tari tradisional, dan wayang orang. Banyak sastrawan Indonesia jaman sekarang yang terinspirasi untuk membuat cerita dengan model Cerita Panji. Karya-karya inilah yang kemudian dimasukkan dalam ranah intertekstualitas.
.

Lukisan Bali yang menggambarkan Pangeran Panji bertemu dengan 3 perempuan di hutan

Keterkaitan teks Lakon Cerita Panji dengan teks-teks lain seperti Keong Emas, Ande-Ande Lumut, atau cerpen-cerpen masa kini dianalisa dengan menggunakan TEORI INTERTEKSTUAL

B. Contoh-contoh Hasil Resepsi

Untuk contoh yang pertama, Neko pikir udah lumayan jelas maksudnya. Teori resepsi banyak berhubungan dengan proses adaptasi satu karya sastra ke karya baru atau karya dengan menggunakan media penyampaian yang baru. Contohnya seperti adaptasi dari novel ke film (Ayat-Ayat Cinta, Harry Potter, Eragon, etc), film ke novel (Naga Bonar Jadi 2, Biola Tak Berdawai, Brownies, etc)game ke film (Tekken, Street Fighter, Final Fantasy The Spirit Within, Advent Children, Silent Hill), novel ke komik (5cm, Anak Kos Dodol, Kambing Jantan), dan lain-lain. Dalam adaptasi jenis ini, konsumen sudah mengetahui secara jelas bahwa beberapa karya tersebut adalah karya yang berasal dari sumber yang sama, hanya media penyampaiannya saja yang berbeda. 


 Kalau Harry Potter, bukunya ada lebih dahulu, baru kemudian dibuat filmnya...
Kalau di dalam negeri...prosesnya bisa terbalik...

 Film Nagabonar Jadi 2 dibuat lebih dahulu, baru kemudian konsep bukunya dibuat. Dua-duanya menawarkan jalinan cerita yang memikat dari sudut pandang yang berbeda. Film Naga Bonar memakai third person view, sedangkan novelnya memakai sudut pandang orang pertama, yaitu Naga Bonar itu sendiri. Hasilnya, ada beberapa adegan yang tidak diceritakan di film, tapi ada di novel. Seru kan? Bedanya lagi, kalau pas nonton filmnya, Neko ngakak-ngakak, pas baca bukunya, baru bab awal Neko udah dibuat mewek...


 Nggak semua adaptasi, melulu dari novel ke film dan sebaliknya. Ada juga yang dari novel ke komik, dan lain sebagainya...
 

Neko belum baca novelnya tapi langsung beli komiknya coz ngefans ama komikusnya...Hehehe Novelnya jauh lebih mahal euy! (Komiknya aja 45 rebong, tapi worthy lah) Nabung dulu deh, atau ada yang minat minjemin? Hihihi
Judul karya pra dan pasca adaptasi pun biasanya sama, atau kalaupun beda, tetap membawa judul asli karya yang diadaptasi (misalnya Final Fantasy VII: Advent Children, yang diadaptasi dari game berjudul Final Fantasy VII…doang.)

 Nah, pada paragraf-paragraf di atas, Neko sudah berusaha memaparkan contoh-contoh hasil produk dari teori resepsi. Lalu konsep dasarnya sendiri apa? (Ceritanya pakai metode penyimpulan induktif nih hehehee)

C. Resepsi sama dengan Kondangan

Kalau Pak Karkono, menjelaskan konsep dasarnya sebagai berikut:

"Resepsi adalah bentuk interaksi pembaca 
dengan karya sastra."

Dan konsep inilah yang seharusnya dipahami lebih dahulu, sebelum kita berbicara panjang lebar dan membandingkan hasil adaptasi karya sastra dengan karya sastra aslinya, seperti contoh-contoh di atas.

Maksudnya gimana nih?

Hmm...seperti yang sudah Neko sering singgung di beberapa editorial yang lalu, karya sastra itu baru bisa dikatakan hidup dan bermakna ketika karya itu telah dibaca dan terlebih jika mendapat tanggapan dari pembacanya. Maka jika ada seseorang yang hanya menyimpan karya-karyanya sendiri karena alasan 'minder', 'malu', atau 'isin', sama saja dia membunuh hasil karyanya sendiri dengan menjadikannya sebagai artefak mati belaka (ayolah...narsislah dikit. Narsis positif ini..hehhee). Dan tentu saja karena kalangan pembaca sastra itu beragam, cara mereka memahami dan menanggapi karya sastra pun berbeda. Walaupun, karya sastra yang dibaca itu sama.



Misalnya, satu novel Ronggeng Dukuh Paruk, sudah menjadi bahan skripsi sejuta umat. Sumbernya sama, tapi hasil analisa dan interpretasi setiap orang, jelas beragam. Bahkan seperti yang sudah disampaikan Pak Karkono beberapa waktu lalu, sering hasil tanggapan orang-orang itu jauh lebih heboh daripada isi karya sastra itu sendiri. Satu karya yang sama bisa menjadi sumber perdebatan panjang di ruang-ruang kelas perkuliahan, atau forum-forum diskusi internet. Dan semakin banyak yang membahas dan menanggapi karyanya, semakin bahagialah seorang penghasil karya sastra. Itulah menariknya dunia kritik sastra hehehe... (Sayangnya hal ini terkadang malah membuat teori-teori sastra dan fenomena sastra yang seharusnya simple dan mudah dipahami itu menjadi terkesan rumit =( Seolah menjadi intelektual ini berarti sama dengan mahir berbicara dengan bahasa alien... Sama seperti kata seseorang yang pernah Neko baca di dalam buku, "Saya lebih bisa memahami hasil tulisan Socrates sendiri, daripada ketika membaca hasil tulisan orang-orang yang membahas tentang filsafat Socrates...)

Pernah nggak sih dengar ada penulis yang berdiplomasi seperti ini? "Untuk interpretasi karya, saya serahkan sepenuhnya pada imajinasi para pembaca," biasanya kemudian akan diembel-embeli ungkapan seperti ini, "Bagi saya personal, karya ini hanyalah ungkapan kebebasan berekspresi dan berimajinasi."
Cieeeee...gaya banget getooooowh hehehe. Tapi yah memang seperti itulah adanya. Ketika sebuah karya sastra telah sampai di tangan pembaca, maka tercapailah misi pengarang (paling tidak untuk tahapan pertama. Jika kemudian pengarang mau merevisi atau membuat karya sekuel atau prekuel berdasarkan permintaan pembaca, bisa saja. Berarti sang penulis ingin menindaklanjuti karyanya.). Pengarang tidak bisa mendikte pembaca begitu saja. Terserah pembaca mau memaknai sebuah karya seperti apa. Misalnya, beberapa kalangan menganggap novel Ayat-Ayat Cinta hanya menjual mimpi, karena tokoh Fahri digambarkan begitu sempurna, nyaris tanpa cacat, bagai malaikat berbentuk makhluk alam hayat. Tapi kalangan sastrawan yang sering menghasilkan karya-karya Islami justru membela karya ini dengan mengatakan, "Ayat-Ayat Cinta adalah oase di tengah kelesuan karya-karya Islami yang mulai tergeser oleh sastra-sastra yang berani mengangkat masalah seksualitas dengan vulgar." Sah-sah saja kan? Menurut Neko, karya yang bagus adalah karya yang bisa membebaskan pemikiran pembaca =)

 
Balik ke topik, salah satu contoh hasil interaksi pembaca dengan sebuah karya yang bisa menghasilkan karya lain: film GIE. Mira Lesmana terinspirasi dengan Buku Harian Seorang Demonstran yang merupakan memoar almarhum Soe Hok Gie. Kemudian produser film-film berkualitas itu menghubungi Riri Riza dan mempromosikan buku itu.  Sutradara sekaligus penulis skenario itu lalu menghasilkan skenario film GIE berdasarkan interaksinya dengan buku memoar itu. Terlepas dari kenyataan bahwa Nicholas Saputra terlalu ganteng untuk memerankan seorang Gie (ha...ha...ha...) dan beberapa kritik lain terkait dengan faktualitas sejarah, film itu mendapat banyak pujian dari berbagai kalangan. Riri Riza dan Mira Lesmana pun melakukan proses kreatif yang hampir serupa terhadap novel Laskar Pelangi. Mereka  menerjemahkan novel itu ke dalam bentuk skenario lalu beserta seluruh kru, menghidupkan karya epik pendidikan itu melalui media audio-visual. Itulah hebatnya orang-orang kreatif. Mereka sanggup mengambil pelajaran dan menghasilkan karya baru dari karya-karya yang terdahulu. Dan langkah pertama yang bisa kita tempuh untuk menjadi orang-orang di atas adalah dengan menjadi pembaca kritis dan aktif =)

Tidak heran jika kemudian hasil adaptasinya memiliki ‘rasa’ yang benar-benar baru seperti penambahan plot cerita (penambahan plot masalah poligami dalam film AAC yang tidak terlalu disorot dalam film), perbedaan sudut pandang (Novel Naga Bonar diceritakan dengan memakai sudut pandang Naga Bonar sebagai “aku”, sedangkan novel Brownies memakai sudut pandang “aku” sebagai ‘cita rasa’ yang terkandung dalam sepotong Brownies yang dimasak dengan penuh cinta dan ketulusan.) Bisa juga merupakan lanjutan dari karya yang sebelumnya atau sequel dan itu juga berarti penambahan tokoh karakter yang tidak ada di versi aslinya (Final Fantasy VII: Advent Children yang mengambil seting waktu dua tahun setelah peristiwa di ending game-nya. Di sini bertebaran tokoh-tokoh yang tidak pernah muncul di versi game-nya.). Contoh yang terakhir ini juga bisa dilihat dari hasil interpretasi Tim Burton dalam film Alice in Wonderland yang dibintangi Johnny Depp (memerankan tokoh Mad Hatter). Keren seperti cerita aslinya? (menurut Neko sih) Iya. Sama persis dengan cerita aslinya? Tunggu dulu...

Lagian wajarlah kalau versi film dan versi asli dibikin agak berbeda. Kalau sama persis dan ngeplek buat apa merogoh kocek untuk nonton hasil adaptasinya di bioskop? Mending enak-enak di rumah, tiduran sambil baca karya aslinya dan kalau pingin lihat visualisasinya tinggal download bajakannya di net...hehehe PLAK!
Final Fantasy VII classic, versi game. Gaya gambarnya kartun anime banget.
Versi berikutnya. Tokoh kebanyakan masih sama, tapi grafis lebih real. Beberapa karakter baru di tambahkan di sini
Tidak hanya penambahan, bisa jadi hasil adaptasi justru mengurangi beberapa elemen karena masalah teknis, misalnya tidak mungkin kan keseluruhan adegan novel Laskar Pelangi yang jumlahnya 400 lembar lebih itu bisa difilmkan semua dalam pita seluloid yang hanya berdurasi sekitar  2 jam kurang? Nah kemudian, kami semua pun diperkenalkan pada satu istilah baru: EKRANISASI. Ekranisasi adalah adaptasi karya sastra ke dalam media berupa film. Nama lainnya bisa menjad sinemanisasi, atau filmisasi. Tapi yang lebih populer di kalangan peneliti sastra adalah istilah EKRANISASI. Untuk konsep ini, akan Neko bahas di editorial selanjutnya.
Nah, biasanya masalah mirip-tidaknya hasil film adaptasi dengan karya yang diadaptasi inilah yang menjadi perdebatan di kalangan fans. Banyak kalangan fans fanatik yang justru tidak rela ketika naskah asli suatu karya sastra diadaptasi ke dalam bentuk media yang lain, paling sering ya dari novel ke film. Alasannya karena bisa jadi film tersebut akan merusak imajinasi pembaca atau tidak sanggup memvisualisasikan imaji dalam novel tersebut secara sempurna. Kadang, konflik juga terjadi di antara penulis karya sastra yang diadaptasi dengan pihak pembuat film. Di sini idealisme masing-masinglah yang berbicara. 

Rachmania Arunita, sukses sebagai penulis novel dan skenario
Penulis umumnya memegang teguh ideologi dan alasan penciptaan karyanya. Sedangkan pihak produksi film umumnya lebih mengedepankan ideologi material atau profit (karena proses pembuatan film lebih melelahkan dan lebih memakan biaya). Contohnya kekecewaan Habiburrahman El Shiraizy dengan film adaptasi Ayat-Ayat Cinta (telepas dari film itu menjadi mega box-office) karena Hanung menggambarkan beberapa adegan seperti seorang akhwat yang sampai membuka jilbab ketika kecewa dengan seorang lelaki, dan adegan Aisyah yang memperlihatkan rambutnya, lalu masih banyak lagi. Karena itulah Habiburrahman kemudian mempercayakan adaptasi film dari novel selanjutnya, Ketika Cinta Bertasbih, kepada Chaerul Umam. Karena permasalahan ideologi yang dipegang teguh seperti inilah banyak penulis novel yang akhirnya memilih menulis sendiri skenario adaptasi novelnya dan akhirnya sukses! Contohnya adalah Rachmania Arunita, penulis novel dan skenario film Eiffel I’m in Love. 
Banyak juga penulis yang walaupun tidak menulis sendiri adaptasi skenarionya tapi ikut mengontrol ketat proses penulisan draft script dan seleksi pemeran filmnya. Contohnya ya J.K. Rowling yang mensyaratkan semua tokoh Harry Potter diperankan aktor-aktris asli Inggris, dan Habiburrahman El Shiraizy yang mengontrol ketat sampai ke masalah apakah pemeran Azam sudah sholat tepat waktu atau tidak ketika menjalani proses syuting. Demi fans dan terutama mempertahankan prinsip dibuatnya suatu karya sastra, semua itu sah-sah saja. Sedangkan bagus tidaknya kualitas hasil akhir suatu proses adaptasi, pasarlah yang akan menjawab. Selain pasar, festival-festival film bergengsi seperti Academy Award, Golden Bear, Cannes Festival, dkk-lah yang juga ikut berbicara. Karena perlu diingat bahwa tidak semua film yang bagus secara kualitas sukses di pasaran. 
Nah, kalau perdebatan seputar teori resepsi biasanya berkutat di masalah perbandingan hasil adaptasi karya sastra dengan karya sastra yang diadaptasi, maka perbincangan mengenai teori intertekstualitas secara pribadi Neko anggap lebih seru, tidak ada habisnya dan sering…lebih mbulet lagi! (yang mbulet bukan teorinya, tapi perdebatannya) Masalahnya yang kerap kali bersinggungan dengan konsep ini adalah tuduhan PLAGIARISME dan isu ORISINALITAS. Nah loh??? Daripada kepanjangan dan akhirnya malah pusing karena melihat kebanyakan teks, marilah rehat sejenak. Neko akan berusaha meneruskan pembahasan ini insyaallah pada beberapa artikel editorial selanjutnya yang akan bertema:
INTERTEKSTUALITAS VS ORISINALITAS

 bersambung

(DAS EDITORIAL): Menjadikan Sesi Perkuliahan Sebagai Investasi Dunia-Akhirat

Nggak terasa sudah setengah semester Neko sit in di kelas Teori Sastra-nya Pak Karkono (buat yang baru mengikuti blog ini, Neko adalah mahasiswi Sastra Inggris yang sit in  di kelas Teori Sastra milik jurusan Sastra Indonesia, dalam rangka persiapan retake kelas Literary Theory semester depan. Salah satu kelas yang nilainya bikin IPK Neko babak belur, 2 semester lalu huhuhu...)
Niat awalnya sih ye, minimal bikin satu artikel setiap kali selesai mengikuti perkuliahan. Keren nggak cing? Tentunya artikel dengan gaya gokil berisi seperti gaya Neko yang sudah-sudah wkwk (moga aja emang berisi…ilmu. Nggak cuma berisi curhatan geje hehehe). Masih belum sanggup bikin yang terlalu serius, euy… Baru juga belajar teori sastra 2 bulanan hehe. Pokoknya prinsip Neko biar gaya bahasa nyantai  yang penting lumayan berisi lah. Minimal lumayan berisi…k (JDHANG! KROMPYANG…noh udah berisik kan?)
So, idealnya, kalau Neko udah sit in di kelas itu selama 5 kali pertemuan, harusnya Neko udah bikin 5 artikel teori sastra dong?  Wah, seandainya semua mahasiswa berpikiran sama:  bahwa setiap mengikuti jam perkuliahan adalah investasi dimana setelah perkuliahan bisa mendorong setiap individu untuk menghasilkan setidaknya sebuah karya. Jika seperti itu tentu dunia akademis dan budaya menulis journal mahasiswa kita akan semakin bergelora. Nggak ada lagi tampang-tampang hampa seperti tampang Neko saat mengikuti mata kuliah Statistik (kyaa…hahaha). Setiap detik perkuliahan akan menjadi lebih bermakna. Ingat, bahwa kursi yang kita duduki di dalam kelas selama kuliah nggak gratis sama sekali. Mari sejenak kita merenungkan seberapa banyak cucuran keringat dan air mata orang tua kita untuk bisa membiayai agar kita bisa menaruh pantat dengan nyaman di bangku perkuliahan (kecuali kalau sedang bisulan).
“Nggak juga, aku kan dapat beasiswa penuh.” sergah seorang mahasiswa dengan songongnya.
Yeeey! Walaupun dapat beasiswa penuh sekalipun, tetap saja butuh perjuangan dan proses untuk mendapatkannya kan? (biaya SD-SMA nggak dihitung? Biaya ngelahirin manusia kayak situ emangnya nggak dihitung?)
Tampang Neko kalo lagi jenuh kuliah. Dosen mana coba yang nggak tega nyambit? Wkwkw
Setiap kali Neko merasa blank atau nggak nyambung dengan materi kuliah karena kedodolan Neko sendiri (entah tidur, ngelamun, atau bahkan ngelamun sambil tidur), Neko selalu maki-maki diri sendiri. Sudah rugi waktu. Nggak dapet ilmu pulak. Benar-benar sebuah kedzaliman luar biasa jika Neko meremehkan usaha orangtua Neko menguliahkan kucing mungil ini biar bisa sepintar manusia, dengan menyia-nyiakan sesi kuliah. Setelah itu mungkin baru maki-maki dosennya (dalam hati), cara ngajar kok kayak orang meninabobokkan wkwkw…PLAK!
Teman Neko pernah bilang, “Makanya, jadilah pembelajar yang aktif! Jangan datang kuliah dengan sekedar naruh pantat, mendengarkan tanpa berpikir kritis, atau mencatat tanpa mengerti apa yang dicatat.” Oh, kawan…seandainya kalian bisa melihatnya dengan mata telanjang, kalian akan takjub melihat betapa banyaknya ide-ide yang beterbangan memenuhi setiap majelis ilmu. Dan betapa banyaknya ide-ide yang kemudian menguap lalu mati tanpa pernah ditangkap…
Secara materiil, kalau kita mau balik modal, kita bisa mendapat tambahan uang saku jika dari perkuliahan, kita bisa menulis artikel, lalu artikel-artikel itu kemudian dimuat oleh media massa hehehe. Lumayan, satu surat kabar biasanya member honor 100-150 ribu untuk satu artikel. Tergantung kolom dan juga tingkat surat kabarnya. Kalau surat kabarnya bonafid setingkat Kompas, konon bisa sampai 500 ribu. Hitung saja, berapa yang bisa didapat kalau kita rutin menulis,mengirimkannya ke surat kabar dan dimuat! Ada beberapa teman Neko dari luar kota yang bisa bertahan hidup di metropolitan ini dengan cara seperti itu. Salut. Anak-anak kos memang ruarr biasa!

Secara prestis, gengsi juga terangkat. Tapi yang lebih dari itu, dengan berbagi ilmu, insyaallah kita bisa menguasai ilmu tersebut dengan lebih baik. Walaupun mungkin kita nggak jenius-jenius amat, tapi semangat berbagi ilmu akan menjadi roh positif yang mewarnai langkah-langkah kita menapaki dunia akademisi. Justru karena kita nggak jenius, maka kita bisa mengerti sudut pandang orang-orang awam seperti kita sendiri. Dengan begitu kita bisa memaparkan sesuatu yang rumit dengan cara yang bisa dimengerti juga oleh orang-orang awam. Dosen juga manusia, ada kalanya seorang dosen sebenarnya sangat intelektual, tapi ia tidak mampu menyampaikan dan menyalurkan keintelektualitasannya dengan cara yang sanggup dipahami orang-orang yang nggak terlalu pintar kaya Neko (ogah ah nyebut diri sebagai “nggak terlalu intelektual.” Mengolok-ngolok diri sendiri juga ada batasnya kan? Wkwkwk). Nah, kalau kemudian kalian bisa membantu orang-orang seperti Neko untuk bisa memahami apa yang disampaikan para intelektualitas itu kan pahala jariyahnya banyak banget (apalagi kalau kalian menyalurkannya di ruang publik seperti blog, ada berapa banyak kucing dodol yang tertolong?) Nah, investasi dunia akhirat kan jadinya? Seperti yang diriwayatkan oleh H.R. Bukhari:
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”
Semoga kita bisa terus memelihara dan melestarikan cara berpikir seperti ini, sehingga peserta didik seperti kita, tidak akan hanya menjadi pengejar nilai, atau pengejar intensitas presesensi (sampai ada yang bela-belain TA alias Titip Absen segala). Kita akan menjadi pengejar ilmu, dan lebih dari itu, pengejar makna. Para dosen juga nggak akan lagi hanya menjadikan kelasnya sebagai sesi-ceramah-satu-arah-yang-cenderung-dimanfaatkan-mahasiswa-dodol-untuk-tidur-siang. (bukan Neko! Bukan Neko!) Mereka akan lebih terpacu untuk menjadikan kelasnya sebagai ruang yang penuh inspirasi dan motivasi, tidak hanya informasi yang terstruktur saja. Hmm…ideal sekali kan?
Sayangnya situasi Neko sama sekali nggak ideal =_=” (atau Neko yang belum bisa menjadi penulis atau blogger yang ideal huh). Neko sendiri sampai salting karena dulu tiap kali selesai mengikuti mata kuliah, Pak Karkono selalu menagih, “Mana artikelmu???”
Hiiii 0_0! Sampai sekarang akhirnya Bapake nggak pernah menagihnya lagi…JDHANG! Nggak perlu Neko kupas satu-satu deh alasan-alasan Neko soal dikejar tugas laporan, mid-test dan kuis-kuis kuliah regular atau alasan yang paling sering Neko pakai semester ini: PPL! Toh, banyak manusia di luar sana yang lebih sibuk tapi proses kreatifnya bisa jalan terus… Rasanya Neko nggak berhak mengeluh atau beralasan kalau sudah begini…
Nah, mumpung sekarang lagi ada motivasi (besok Pak Karkono akan mengadakan midtest! Huaaa…)maka Neko akan berusaha menghabiskan sisa hari ini dengan menulis ulang catatan-catatan Neko tentang sekelumit teori-teori Sastra yang sudah diajarkan. Sambil mengisi editorial blog yang sudah dua bulan vakum, sambil belajar.
Mari menjadi pembelajar!
CIAO











Mizuki-Arjuneko

(DAS EDITORIAL): DIALOG PENA dan SASTRA: Meng-eufimisme-kan Kata “KRITIK”

SALAM LASKAR PENA!

Owkeh, Neko nge-blog di sini lagi, ah syukurlah tanggapan-tanggapan terhadap postingan-postingan blog mulai berdatangan. Walaupun yang menanggapi baru para penulis yang tulisannya dibahas di sini. Yang lainnya mana nih? (celingukan) Dan saya benar-benar berharap para editor lain bisa segera urun-rembug di sini dan ikut membahas karya-karya anak FLP Malang. (memanggil-manggil Mbak Zie, Pak Dar, Ai, dan Mas Cecep. Where the heaven are you, Guys???!)


Anyway, biar blog ini rame, Neko membuka lowongan buat anggota FLP Malang lain yang berniat menjadi editor tamu di blog iniSilahkan buat yang berminat untuk bergabung dan belajar cara mengapresiasi sastra bersama-sama di blog ini dengan menjadi admin, bisa hubungi Neko. Sertakan nama, dari divisi mana (kalau memang termasuk pengurus) dan email gmail waktu sms Neko. Nanti insyaallah langsung Neko add sebagai "author". Tapi harus istiqomah loh, coz walau udah daftar tapi ga nulis-nulis ya terpaksa Neko hapus juga. Yang ga tahu nomor HPnya Neko, Tanya Mbak Zie aja ya. Hehehe… yang nggak tahu nomornya Mbak Zie… masyaallah, Ente kebangetan! 


Oke, di editorial yang sebelumnya, Neko sudah menyatakan kalau nama divisi ini aslinya Divisi Kritik Sastra kan? Lalu kenapa nama divisi ini tiba-tiba diubah dalam blog? Bisa dibilang pengubahan ini bersifat sepihak karena belum dimusyawarahkan di rapat pengurus. Belum sempat ketemuan sih hewww… Tapi karena blog ini harus segera di-launching (coz semangat udah kadung membara… semangat mulung wkwkw… Mulungin karya).

Kemudian ketika Neko sedang bikin blog dan utak-atik tampilan dan memikirkan judul blog yang sesuai, muncullah wacana ini dari Pak Heri: "Membahasakannya jangan pakai kata 'Kritik'-lah. Nanti kesannya negative."

"Waduh terus yang bagus gimana Pak?" Neko jadi bingung. Karena alamat blognya udah fix jadi www.kritiksastraflpmalang.blogspot.com
 
"Pakai Dialog Pena. Atau Dialog Sastra aja."

Cuma karena Neko sedang terobsesi dengan kata LASKAR PENA (hehehe sedikit epigon dari Laskar Pelangi), akhirnya Neko memutuskan judul blognya menjadi Laskar Pena Mengapresiasi. Dan nama Divisi pun diganti menjadi Divisi Apresiasi Sastra agar kesannya lebih ramah.  Pak Heri pun agaknya  lebih setuju karena "Mengapresiasi" kesannya lebih positif dan tidak sesangar "Mengritik". Jadi bolehlah Laskar Pena berpikir bahwa kata "mengapresiasi" di sini adalah hasil eufimisme dari kata "mengritik". Lebih sopan. hehehe

Tentu saja kata "Apresiatif" diharapkan akan lebih terasa kental mewarnai blog ini. Karena kita tentu nggak mau blog ini cuma jadi ajang kritik dan ajang bantai karya. Aiiih! Nggak nyaman banget nanti pastinya. Tapi sampai saat ini, Neko nggak terlalu mendefinisikan "KRITIK" sebagai kata yang bersifat negatif. Itu kan tergantung dari sudut pandang masing-masing orang. Lagipula ada istilah "Kritik Membangun" kan. Dan aneh aja kalau Neko nggak mau dikritik coz Neko sendiri doyan ngritik. Pedes pula! Huahahahaha… Well tapi semua itu tergantung dari "CARA". Karena memang ada orang yang mengritik dengan cara yang seolah minta dibacok! =_= Bukan kritik namanya kalau tujuannya adalah ngejlokno atau menghancurkan mental yang dikritik. Kalau itu mah bilang aja terang-terangan "mengejek". Jangan bersembunyi di balik kata "Kritik" hanya agar terkesan lebih intelektual!


Sebagai sastrawan dan kaum akademisi, tentunya kita punya etika tersendiri dalam mengritik. Tidak sembarang mengritik, tapi juga ada ilmunya. Bahkan dalam pembelajaran sastra, Kritik Sastra menjadi cabang ilmu tersendiri dan mendapat jatah satu kelas mata kuliah. Dan di sanalah kita mengenal teori-teori kritik sastra. Karena Neko lebih sering gaul ama anak-anak Sastra, Neko pernah bertanya begini kepada seorang dosen sastra, di depan semua anak-anak Sastra satu angkatan: "Ma'am, kenapa sih kita harus mempelajari begitu banyak teori hanya untuk mengritik karya sastra? Kenapa kita nggak belajar bagaimana cara untuk membuat karya sastra saja?"

Sang dosen menjawab bahwa dalam studi sastra, orang-orang terbagi menjadi dua. Satu adalah pihak creator. Mereka yang menghasilkan karya-karya untuk kemudian diapresiasi dan dikritik. Di samping itu ada lahan tersendiri bagi para kritikus sastra. Ya mereka ini yang mengritik karya-karya tersebut. Dan menurut Bu Dosen itu, adanya kritik justru mengangkat karya sastra itu. (sama seperti editorial edisi pertama ya) Semakin banyak kritik yang diterima suatu karya, berarti karya itu memang menyimpan daya tarik (entah yang sifatnya positif atau negatif) yang membuat banyak pembaca ingin memberi respon. Jadi berbanggalah jika karyamu dikritik. Itu berarti kualitas karyamu mulai diakui dan dianggap layak mendapat tanggapan. Hehehehe… Sedih banget kan kalau udah capek-capek berkarya tapi akhirnya malah dicuekin? Karena itu, Neko harap kritik, saran, dan apresiasi berupa editor’s note di blog ini, bisa mengangkat pamor karya-karya yang ada. Yang lebih penting lagi adalah menghidupkan karya-karya berikut hingga bisa menjadi sebuah wacana yang patut untuk ditindaklanjuti.

Menariknya, seperti kata Pak Karkono dalam kelas Teori Sastra-nya yang lalu, "Seringkali pembahasan karya sastra atau kritik sastra jauh lebih heboh daripada karya itu sendiri. Bahkan biasanya sampai membawa-bawa tafsir makna yang jauh lebih dalam. Yang bahkan tidak terpikir oleh si pengarang karya itu sendiri."

Dosen muda itu lalu melanjutkan contohnya adalah puisi Bulan di Atas Kuburan karya Sitor Situmorang. Begitu banyak tanggapan, review, dan pembahasan atas karya itu. Puisinya sendiri sangat pendek. Tapi begitu banyak para kritikus yang berusaha menggali-gali makna-makna simbolis dari puisi itu. Di antaranya ada yang bilang, bulan menyimbolkan keindahan. Sedangkan kuburan, sebaliknya menyiratkan kematian, kesedihan, sehingga ada paradoks dan ironi dalam puisi itu. Seperti di blog ini : http://nesia.wordpress.com/2008/09/23/malam-lebaran-bulan-di-atas-kuburan/. Padahal, kata Pak Karkono, dalam sebuah kesempatan ketika ditanyai tentang makna puisinya, Sitor Situmorang mengaku bahwa ia membuat karya itu karena kebetulan suatu malam ia lewat kuburan dan ia melihat bulan purnama bersinar saat itu http://berpikirpagihari.blogspot.com/2009/09/malam-lebaran-bulan-di-atas-kuburan.html

That's it. GLODHAK KROMPYANG KLONTHANG banget kan? 

Contoh lain, coba saja tengok saja skripsi para mahasiswa Sastra. Karya yang dibahas bisa saja hanya cerpen beberapa lembar, novel tipis, atau bahkan mungkin hanya sebaris lirik lagu. Tapi hanya dengan membahas karya-karya tersebut saja bisa menghasilkan ratusan lembar skripsi tebal. Bisa dipakai untuk meluluskan diri dan mendapatkan gelar sarjana pula! Hehehe… Itulah yang menarik dari dunia kritik sastra.
Adapun kembali pada percakapan Neko dengan dosen Sastra Inggris itu sendiri, beliau mengatakan bahwa tidak semua kritikus sastra mampu menghasilkan karya sastra yang mumpuni. Sebaliknya, tidak semua orang yang bisa bikin karya sastra, bisa membuat kritik sastra. Sama kayak nggak semua pengamat dan pengritik film bisa bikin film. Tapi alangkah bagusnya kalau kedua hal itu bisa dikuasai. Namun, rupanya Pak Heri tidak setuju dengan hal ini.

Menurut beliau, sebelum diajari soal teori-teori sastra yang mendaki-daki seperti itu, seharusnya seorang pendidik kelas sastra lebih dulu memotivasi para siswanya agar bisa menghasilkan karya sastra. Jangan sampai kelas itu hanya menghasilkan para siswa yang bisanya cuma ngritik tapi nggak bisa bikin karya sendiri. Well, dipikir-pikir argumennya logis banget sih. Karena seharusnya orang yang bisa mengritik adalah mereka yang punya kapasitas dan kapabilitas dalam bidang yang mereka kritik. Jadi kalau kritikus sastra ya logisnya dia harus jago atau paling tidak rutin membuat karya sastra dong. Atau kritikus film, walau belum bisa bikin film (bikin film mahal bleh!) paling tidak dia menguasai ilmu sinetografi dan memang gemar menonton film.
Yang jelas, mengritik tanpa etika dan basic ilmu hanya akan membuat Anda dilabeli sebagai OMDO (Omong Doang) dan NATO (No Action Talk Only). Bahkan bisa-bisa Remy Sylado, sastrawan veteran yang terkenal dengan Kembang Jepun, Ca Bau Kan, dan Kerudung Merah Kirmidzi itu pun akan ikut mencibir, "Memangnya kamu bisa bikin apa?"

            Cherio











Mizuki Arjuneko

(DAS EDITORIAL): PEMULUNG KARYA

Cuap-cuap sang Admin Kesepian (halah!)

Salam Laskar Pena!



Kalian pasti penasaran dengan tag DAS yang sering ada di postingan kita bukan?
Tag ini adalah salah satu divisi kita, yang berada di divisi pengembangan karya di FLP Malang. Neko rasa, apa itu FLP sudah nggak perlu Neko jelasin lagi. (Kalau nggak tahu FLP, duuuuh nggak gaol deh loe!). Secara FLP sendiri cabangnya sudah tumbuh hingga merambah Jepang, Belanda, Mesir, dan kawan-kawan. Walau begitu, emang ada sih beberapa teman Neko yang nggak ngeh dengan FLP (ketahuan nih kalo nggak doyan baca! Hehehe). Biasanya Neko cuma menjabarkan FLP dengan menyebut 3 nama besar: Helvy Tiana Rossa, Asma Nadia, dan Habiburrahman El Shiraizy. Dan mereka pun langsung mengerti bahwa ketiga figur ternama tersebut masih satu maqom dengan FLP hehehe...
Inagurasi anggota baru FLP Malang 2011. Tenang aja, kami nggak mengenal senioritas. Yang ada hanyalah semangat kebersamaan dan kekeluargaan untuk saling berbagi ilmu. Wanna join us? =)

Anteng mendengarkan materi Tips dan Etika Berkomunikasi dari Pak Dian
Anyway, aslinya Divisi ini berjudul Divisi Kritik Sastra. Fungsinya sendiri adalah...ya seperti namanya, mengritik karya-karya sastra yang sudah dihasilkan oleh anggota-anggota FLP Malang. Banyak yang mengira bahwa untuk bisa bergabung dengan FLP sudah harus pintar menulis, padahal nggak juga loh. Banyak anggota-anggota kami yang masuk ke FLP Malang justru karena baru ingin belajar menulis. Jadi buat kamu-kamu yang pingin belajar menghasilkan karya tulis yang oke tanpa mengesampingkan nilai dan pesan moral, gabung aja deh ama kita. Hehehe.... Di FLP Malang, kami saling bertukar dan berbagi ilmu.

Setelah bedah karya di Unibraw. Keliatan anteng begini, padahal...GOKIL SEMUA!
Nah, senarsis apapun kita, nggak ada karya yang benar-benar sempurna kan? Karena itu dibutuhkan saran-saran dan kritik dari orang lain, agar bagus-tidaknya karya kita bisa dinilai secara objektif. Karena itu, sesi bedah karya selalu menjadi sesi-sesi paling favorit Neko selama di FLP Malang. Di situlah peran DAS (Divisi Apresiasi Sastra, tadinya Divisi Kritik Sastra) dibutuhkan. Jadi sebenarnya tugas kami simpel banget, mengoordinir siapa saja anggota-anggota yang karya-karyanya mau dibedah ramai-ramai. Kami juga harus menentukan urutan, juga jadwal sesi bedah karya. Sering juga, kami mengundang penulis yang sudah lebih berpengalaman untuk membagikan tips-tips membuat karya juga menembus penerbit dan media massa. (dan karena simpel itulah, Neko memilih divisi ini heheheh...). Biasanya sih anak-anak FLP ngumpulnya di Taman Seribu Janji alias taman depan rektorat UIN (walau habis ini, Neko mau request agar diskusinya dipindah ke Perpustakaan Kota Malang Jl. Ijen agar suasananya lebih kondusif). Tapi alhamdulillah kita sudah punya markas baru sekarang (Jalan Terusan Piranha Atas Gg. Kenari no 42.)

Selain itu kita juga sangat aktif di dunia maya, terutama F. Jadi berawal dari melihat betapa semangatnya anak-anak FLP Malang saling unjuk karya di group, akhirnya kami pun punya ide, bagaimana kalau karya-karya tersebut dikumpulkan secara rapi, lalu diapresiasi (diberi saran dan kritik). Siapa tahu bisa langsung diedit-edit dan diajukan ke penerbit kan? Maka akhirnya jadilah blog ini. Fungsinya adalah untuk menjadi wadah unjuk karya dan sharing ilmu bagi anak-anak FLP Malang dengan cakupan yang lebih luas. Coz kalau di grup kan anggotanya terbatas. Sedangkan di blog ini, semua orang bisa mengakses dan menjadi saksi betapa produktifnya para Laskar Pena FLP Malang. Dan beginilah kami, menjadi Pemulung Karya. Harus memelototi layar berjam-jam untuk menelusuri  histori karya anggota di group rasanya ya sedap juga! Hahaha...semoga langkah kecil ini bisa memberi manfaat yang banyak bagi para anggota FLP Malang.

Karena divisi ini bertajuk Divisi Apresiasi Sastra, tentunya karya-karya itu ga cuma sembarang diposting dong, tapi juga kami beri sedikit masukan dan saran, juga pertimbangan tentang media mana yang kira-kira mau menerima jenis tulisan tersebut. Karena itu di bawah setiap postingan karya ada Editor's Note. Itung-itung divisi Neko bisa belajar jadi editor yang baik kan? Insyallah orang-orang yang menjadi editor di blog ini adalah orang-orang yang kapabilitas dan kiprahnya sudah nggak diragukan lagi! (Tuh foto-foto kami udah nangkring dengan narsisnya di sisi kiri blog) Hehehe ada Mbak Fauziah Rachmawati (Mbak Zie) yang beberapa artikel non ilmiah dan cerpennya sudah tembus media-media seperti Intisari, Republika, dan Surabaya Post. Psst baru-baru ini beliau lolos Pemuda Pelopor loh! Hehehe.... Lalu ada juga Mashdar Zainal yang setiap minggu, selalu saja ada cerpen-cerpen beliau yang dimuat. Bahkan lelaki yang sehari-harinya menjadi guru SD IT Insan Permata ini pernah menembus Kompas dan Jawa Pos loh! Sering cerpen-cerpennya dimuat oleh 3 harian secara bersamaan dalam satu minggu. So, siapa sih yang nggak pingin dapat saran dan masukan beliau pas bikin karya fiksi? Lalu ada lagi Ai El Afif, anggota divisi yang paling muda, tapi kiprahnya juga udah waw! Baru gabung FLP Malang (ngakunya sih baru aja belajar nulis) doi sudah jadi pemenang juara 1 Lomba Cerpen Rohto loh! Nggak cuma itu, beberapa lomba cerpen nasional dan regional lain pun sempat ia sabetBener-bener bikin gemes para seniornya deh hihihi. Tapi yang penting sip kan? Dan terakhir, ada Cecep El Bilad, yang baru saja menerbitkan buku bertema kondisi negara Indonesia saat ini. Kalau pemuda yang satu ini mah, insyaallah jagonya karya-karya non fiksi, Gan. Sekarang sudah hijrah ke Jakarta untuk bekerja di sebuah harian nasional, tapi insyaallah hatinya tetap ada di FLP Malang. Tahun kemarin doi baru pulang dari Amrik Bok. So, yang mau sharing-sharing soal kebudayaan Amrik, bisa langsung kontak beliau. Tulisan-tulisannya kebanyakan bertema soal kenegaraan, politik, dan isu-isu lain yang sering kita lihat di stasiun-stasiunTV berita tanah air. Mantaps


Udah, gitu aja? Perasaan kok ada yang kurang ya? Oh ya masih ada Neko hwkwkw...tapi kayaknya ga terlalu penting untuk dibahas, soalnya yaaah Neko masih belum terlalu berkiprah di media massa. Dulu sih pernah satu-dua karya dimuat, tapi itu duluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu sekali (dengan "U" yang entah berapa kilometer panjangnya). Untuk sementara ini, Neko masih stay in sebagai aktivis Facebook dan blogger, tapi tetap menulis sembari mencuri-curi ilmu dari anggota lain yang lebih jago hehehe... Neko juga mulai tertarik di bidang skenario ini, jadi yang mau sharing soal perfilm-an, hayuuuuk.

Neko berharap, semoga blog ini bisa merintis terbitnya media entah berupa majalah atau buletin terbitan FLP Malang sendiri. At least paling nggak e-magz dulu deh, kaya di FPKM (Forum Penulis Kota Malang) yang e-magz-nya udah bejibun, en lumayan disukai karena penuh dengan tutorial menulis. Semoga impian kecil ini bisa tercapai. Amin

Sebenarnya, Neko pingin cuap-cuap lebih banyak lagi soal kenapa kok nama divisi ini tiba-tiba diganti. Tapi yaa...karena udah kepanjangan dan deretan angka di net-biling udah semakin horor gini, Neko undur diri dulu. Insyaallah besok, kita bisa berjumpa kembali untuk membahas lebih banyak lagi tentang dunia Kritik Sastra (atau Apresiasi Sastra)

Cherio

Mizuki Arjuneko