(DAS Comparated Fiction) JARING-JARING MERAH, Helvy Tiana Rosa

Apakah kehidupan itu? Cut Dini, temanku, selalu saja marah bila mendengar jawabanku: Hidup adalah cabikan luka. Serpihan tanpa makna. Hari-hari yang meranggas lara.

Ya, sebab aku hanya bisa memendam amarah. Bukan, bukan pada rembulan yang mengikutiku saat ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. Tetapi karena aku tinggal sebatas luka. Seperti juga hidup itu. 

Dan kini hari telah semakin gelap. Aku tersaruk-saruk berjalan sepanjang tiga kilometer dari Seurueke, menuju Buket Tangkurak, bebukitan penuh belukar dan pepohonan ini. Dadaku telah amat sesak, tetapi langkahku makin kupercepat. Lolong anjing malam bersahut-sahutan, seiring darah yang terus menetes dari kedua kakiku. Perih. Airmataku berderai-derai. 

"Ugh!"

Aku tersandung gundukan tanah. Dalam remang malam, kulihat dua ekor anjing hutan mengorek-ngorek sesuatu, dan pergi sambil menyeret potongan mayat manusia. Mereka menatapku seolah aku akan berteriak kengerian. 

Ngeri? 

Oi, tahukah anjing-anjing buduk itu, aku melihat tiga sampai tujuh mayat sehari mengambang di sungai dekat rumahku! Aku juga pernah melihat Yunus Burong ditebas lehernya dan kepalanya dipertontonkan pada penduduk desa. Aku melihat orang-orang ditembak di atas sebuah truk kuning. Darah mereka muncrat ke mana-mana. Aku melihat tetanggaku Rohani ditelanjangi, diperkosa beramai-ramai, sebelum rumah dan suaminya dibakar. Aku melihat saat Geuchik Harun diikat pada sebuah pohon dan ditembak berulangkali. Aku melihat semua itu! Ya, semuanya. Juga saat mereka membantai … keluargaku, tanpa alasan.

Ffffffhuuih, kutarik napas panjang. Jangan menangis lagi, Inong! Kering airmatamu nanti. Meski lelah, lebih baik meniru anjing-anjing itu. 

Aku merangkak dan maju perlahan. Dengan tangan kosong kuraup gundukan tanah merah di hadapanku. Terus tanpa henti kugunakan kedua cakar tangan ini. Keringatku mengucur deras, wajah dan badanku terkena serpihan tanah merah. Sedikit pun tak kuhiraukan bau bangkai manusia yang menyengat hidung.

Tiba-tiba tanganku meraba sesuatu. Kudekatkan benda dingin itu ke mukaku. Tulang. Banyak tulang. Cakarku terus menggali. Kutemukan beberapa tengkorak, lalu remah-remah daging manusia. Ah, di mana? Di mana tangan kurus Mak? Mana jari manis dengan cincin khas itu? Juga cincin tembaga berbatu hijau dan arloji tua yang dikenakan ayah saat orang-orang bersenjata itu membawanya dalam keadaan luka parah. Di mana? Di mana tangan-tangan mereka? Di mana tulang-tulang mereka di tanam? Di mana wajah tampan Hamzah? Yang mana tengkoraknya?

Sssssssttt!

Tiba-tiba, di antara suara serangga malam, kupingku mendengar langkah-langkah orang. Sepatu-sepatu lars yang menginjak ranting dan daun kering. Mereka menuju ke arahku!

Aku harus menyanyi. Ya, menyanyi nyaring, dengan iringan dawai kepedihan dari sanubari sendiri.

"Perempuan gila itu!" suara seseorang gusar.

"Sayang, dulu ia cantik…," ujar yang lain.

"Ya, juga sangat muda. Ah, sudahlah, biarkan saja," kata yang ke tiga. "Ia tak berbahaya. Hanya tertawa dan menangis. "

Aku pura-pura tidak mendengar perkataan si loreng-loreng itu. Mereka gila karena mengira aku gila. Tak tahukah mereka bahwa aku tak menyanyi sendiri? Aku bernyanyi bersama bulan, awan dan udara malam. Bersama desir angin, burung hantu dan lolong anjing hutan. Bersama bayangan Ayah, Mak, Ma’e dan Agam. Kami menyanyi, kami menari bungong jeumpa. Lalu aku tersenyum malu, saat Hamzah yang telah meminangku, melintas di depan rumah dengan sepedanya. Dahulu. Ya, dahulu….

***

"Inong…."

Aku menggeliat. Cahaya mentari masuk dari celah-celah bilik. Hangat. Ah, di mana aku? Dipan ini penuh kutu busuk. Berarti…,ya, aku di rumah. Aku bangkit, mencoba duduk.

"Dari mana, Inong? Aku mencarimu seharian. Ureung-ureung menemukanmu di tepi jalan ke Buket Tangkurak, subuh tadi."

Kutatap seraut wajah dalam kherudoung putih di hadapanku. Cut Dini. Tangannya lembut membelai kepalaku.

"Aku cuma jalan-jalan. Aku tidak mengganggu orang,’ jawabku sekenanya.

"Aku tahu. Kau anak baik. Kau tak akan mengganggu siapa pun…, tetapi jangan pergi ke bukit itu atau bahkan ke rumoh geudong lagi. Berbahaya. Lagi pula kau seorang muslimah. Tidak baik pergi sendirian," kata Cut Dini sambil memberiku minum.

Kugaruk-garuk kepalaku. "Therimoung… ghaseh…," kuteguk minuman itu.

Cut Dini. Ia sangat peduli. Matanya pun selalu menatapku penuh pancaran kasih.

Aku kembali merebahkan badan di atas dipan. Sebenarnya aku tak tahu banyak tentang Cut Dini. Aku belum begitu lama mengenalnya. Orang-orang bilang ia anggota …apa itu … LSM? Juga aktivis masjid. Ia kembali ke Aceh setelah tamat kuliah di Jakarta. Dan … cuma dia, di antara para tetangga, yang sudi berteman denganku. Ia memberiku makan, memperhatikanku, menceritakan banyak hal. Aku senang sekali.

Dulu, setelah keluargaku dibantai dan aku dicemari beramai-ramai, aku seperti terperosok dalam kubangan lumpur yang dalam. Sekuat tenaga kucoba untuk muncul, menggapai-gapai permukaan. Namun tiada tepi. Aku tak bisa bangkit, bahkan menyentuh apa pun, kecuali semua yang bernama kepahitan. Aku memakan dan meminum nyeri setiap hari. Sampai aku bertemu Cut Dini dan bisa menjadi burung. Segalanya terasa lebih ringan.

Tetapi tetap saja aku senang berteriak-teriak. Aku melempari atau memukul orang-orang yang lewat. Hingga suatu hari orang-orang desa akan memasungku. Kata mereka aku gila! Hah, dasar orang-orang gila! Cut Dini-lah yang melarang. Cut Dini juga yang mengingatkanku untuk mandi dan makan. Ia menyisir rambutku, mengajakku ke dokter, ke pengajian, atau sekedar jalan-jalan.

"Baju yang koyak itu jangan dipakai lagi," kata Cut Dini suatu ketika.

"Aku suka," kataku pendek. "Ini baju yang dijahitkan Mak. Aku memakainya ketika orang-orang jahat itu datang."

"Itu baju yang tak pantas dilihat. Nanti orang-orang itu bisa menyakitimu lagi," katanya pelan.

Kupandang baju ungu muda di tanganku. Tangannya koyak, ketiaknya juga. Lalu di dekat perut, di belakang…, bahkan ada sisa-sisa darah kering di sana

"Aku ingin memakainya," lirihku. "Apa aku gila?" tanyaku.

Cut Dini menatap bola mataku dalam. "Menurutmu?"

Aku menggeleng kuat-kuat. Menggaruk-garuk kepalaku.

"Kau sakit. Kau sangat terpukul," ujar Cut Dini. Kulihat ia menggigit bibirnya sesaat. Lalu dengan cekatan membungkus baju itu dengan koran.

Aku mengangguk-angguk. Terus mengangguk-angguk, sambil menggoyang-goyangkan kedua kakiku. Aku suka membantah orang, tetapi tidak Cut Dini

"Sudahlah." 

Lalu seperti biasanya Cut Dini mengambil Al Quran mungilnya dan membacanya dengan syahdu. Suaranya kadang berubah. Aku seperti mendengar Hamzah mengaji—lewat pengeras suara-- di musala.
Ah, meski tak mengerti, aku ingin menangis setiap mendengar bacaan Al Quran.

***

Siang itu aku sedang menjadi burung. Aku terbang tinggi dan kadang menukik seketika. Aku hinggap di ranting-ranting pohon belakang dan mematuki buah-buah di sana. Huh, semuanya busuk. Aku jadi ingin marah. Bagaimana kalau kucuri saja topi-topi merah si loreng dan kubakar. Hua…ha…ha, aku tertawa gelak-gelak.

"Siapa kalian?" tiba-tiba kudengar suara Cut Dini bergetar, di ruang tamu yang merangkap kamar tidurku. 

Aku terbang dan hinggap pada meja kusam di samping rumah, lalu mengintip ke dalam lewat jendela yang rapuh. Dua lelaki tegap dengan rambut cepak menyodorkan sesuatu pada Cut Dini.

"Kami orang baik-baik. Kami hanya ingin memberikan sumbangan sebesar lima ratus ribu rupiah pada Inong. "

Aku nyengir. Lima ratus ribu? Horeeee! Apa bisa buat beli sayap?

"Kami minta ia tidak mengatakan apa pun pada orang asing. Ia atau bisa saja anda sebagai walinya menandatangani kertas bermaterai ini."

Cut Dini membaca kertas itu. Kulihat wajahnya marah. Mengapa? Kugerak-gerakkan kepalaku menatap mimiknya, lebih lekat dari jendela. 

"Tidak!! Bagaimana dengan pemerkosaan dan penyiksaan selama ini, penjagalan di rumoh geudong, mayat-mayat yang berserakan di Buket Tangkurak, Jembatan Kuning, Sungai Tamiang, Cot Panglima, Hutan Krueng Campli…dan di mana-mana!" suara Cut Dini meninggi. "Lalu perkampungan tiga ribu janda, anak-anak yatim yang terlantar…, keji that! Tidak!"

Kedua orang itu tampak gugup dan sesaat saling berpandangan. "Kami hanya menindak para GPK. Ini daerah operasi militer. Kami menjaga keamanan masyarakat."

"Oh ya?" nada Cut Dini sinis. "Kenyataannya masyarakat takut pada siapa? Dulu, banyak yang terpaksa menjadi cuak, memata-matai dan menganggap teman sendiri sebagai pengikut Hasan Tiro dari Gerakan Aceh Merdeka. Tetapi sekarang semua usai. Tak ada tempat bagi orang seperti kalian di sini."

"Sudahlah, ambil saja uang ini buat anda. Lupakan saja gadis gila itu."

Apa? Gadis gila?? Kukepakkan sayapku dan menukik ke arah dua lelaki itu. Kulempar mereka dengan apa pun yang kutemui di meja dan di lantai. Aku berlari ke dapur, dan kembali menimpuki mereka dengan panci dan penggorengan. Mereka berteriak-teriak seperti anak kecil dan berebutan keluar rumah. Pasti itu ayah orang yang memperkosaku! Pasti ia teman para pembunuh itu! Pasti mereka orang-orang gila yang suka menakut-nakuti orang! Paling tidak mereka cuak! Aku benci cuak!

"Inong…."

Aku berhenti melempar. Aku berhenti jadi burung ajaib. Orang-orang itu kini hanya titik di kejauhan. 
"Masya Allah, nanti perabotan itu rusak," suara Cut Dini, tetap lembut. "Benahi yang rapi lagi, ya. Aku mau shalat Lohor dulu," katanya. 

"Mengapa aku tak pernah diajak shalat?" protesku. " Dulu aku shalat bersama keluargaku, sebelum aku bisa jadi burung," tukasku. 

"Jangan menjadi burung, bila ingin salat seperti manusia," kata Cut Dini tersenyum.

***

"Keluar, Zakariaaa! Keluar! Atau kami bakar rumah ini!!"

Aku terbangun dan mengucek kedua mataku. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor. Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak. Lalu Ma’e dan Agam, abang dan adikku.

Ketika pintu dibuka, tiba-tiba saja Ayah diseret keluar, juga Agam dan Ma’e! Beberapa orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak, beberapa tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. Kudengar Ayah tak putus berdzikir. Dzikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati.

"Ini pelajaran bagi anggota GPK!" teriak seorang lelaki berseragam. Kurasa ia seorang pemimpin. "Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak lama!" 

Warga desa menunduk. Mereka tak mampu membela kami. Dari kejauhan kulihat api berkobar. Puluhan orang ini telah membakar beberapa rumah!

"Jangan ada yang menunduk!"

Aku gemetar mendengar bentakan itu. 

"Ayo lihat mereka. Kalian sama dengan warga Mane … bekerjasama dengan GPK!" suaranya lagi. 
"Kami bukan GPK!"suara Ma’e. 

"Lepaskan mereka. Kalian salah sasaran!" Ya Allah, itu suara Hamzah!

"Angkut orang yang bicara itu!"

Aku melihat Hamzah dipukul bertubi-tubi hingga limbung, lalu…ia diinjak-injak! Dan diseret pergi. Airmataku menderas.

"Siapa lagi yang mau membela?" tantang lelaki penyiksa itu pongah.

"Kami tidak membela, mereka memang bukan orang jahat," suara Geuchik Harun. "Pak Zakaria hanya seorang muadzin. Jiibandum ureung biasa." Samar-samar kulihat kepala desa kami itu diikat pada sebatang pohon.

Serentetan tembakan segera menghunjam tubuh Geuchik Harun, lalu Ma’e abangku! Aku histeris. Tak jauh, kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi, lalu Ayah yang berlumuran darah! Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk.

"Bawa mereka ke bukit dekat jalan buntu! Juga gadis itu!"

Aku meronta, menendang, menggigit, mencakar, hingga aku letih sendiri. Dan aku tak ingat apa-apa lagi, saat tak lama kemudian, nyeri yang amat sangat merejam-rejam tubuhku! 

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"aku berteriak sekuat-kuatnya.

"Astaghfirullah, Inong! Inong, bangun!"dua tangan menggoncang-goncang badanku.

Airmataku menganak sungai, tetapi aku tak bisa bangun, sebab aku berada di dalam jaring! Banyak orang-orang sepertiku di sini, di dalam jaring-jaring merah ini.

"Inong, istighfar…."

Tangan-tangan raksasa itu mengayun-ayunkan jaring. Aku dan kumpulan manusia di sini berjatuhan ke sana kemari. Kami tak bisa keluar dari sini! Tolong! Toloooooong! Di mana sayapku? Di mana? Di mana tangan Mak dengan cincin khas di jari manisnya? Aku ingin menggenggamnya. Di mana Ayah, Agam dan Ma’e? Di mana wajah saleh milik Hamzah? Di mana tengkoraknya?

Tangan-tangan raksasa itu menggerakkan jaring ke sana kemari. Aku jatuh lagi. Merah. Silau. Pusing. Pedih. Wajah-wajah dalam jaring pias. Wajah-wajah itu retak, terkelupas dan berdarah. Aku menjerit-jerit dalam perangkap. Di mana sayapku? Aku ingin terbang dari sini! Oiiii, tolong ambilkan sayapku! Aku ingin pindah ke awan! Di tanah kebanggaanku hanya tersisa nestapa!!

Tak ada yang mendengar. Sebuah pelukan yang sangat erat kurasakan. Lalu airmata seseorang yang menetes-netes dan bercampur dengan aliran air di pipiku.

"Allah tak akan membiarkan mereka, Inong! Tak akan! Kau harus sembuh, Inong! Semua sudah berlalu. Peristiwa empat tahun lalu dan rezim ini. Tegar, Inong! Tegar! Laa haula walaa quwwata illa billah…." 

Kabur. Samar kulihat Cut Dini. Wajah tulus dengan kerudung putih itu. Ia mengusap airmataku.

Lalu tak jauh di hadapanku, kulihat beberapa orang. Di antaranya berseragam. Tiba-tiba takutku naik lagi ke ubun-ubun. Aku menggigil dan mendekap Cut Dini erat-erat.

"Ia hanya satu dari ribuan korban kebiadaban itu, Pak. Tolong, beri kami keadilan. Bapak sudah lihat sendiri. Oknum-oknum itu menjarah segalanya dari perempuan ini!"

Takut-takut kuintip lelaki tegap yang sedang menatapku ini. Apakah ia membawa jaring-jaring untuk menangkapku lagi?

"Pergiiiii! Pergiiii semuaaaa!" teriakku. "Pergiiiiiiii!" aku menjerit sekuat-kuatnya. Pergiiiiii!" Aku menceracau. Sekujur badanku bergetar, terasa berputar. Orang-orang ini tersentak, menatapku kasihan. Hah, apa peduliku?! Aku ingin berteriak, mengamuk, memporakporandakan apa dan siapa pun yang ada di hadapanku! Aku… 

Tiba-tiba suaraku hilang. Aku berteriak, tak ada suara yang keluar. Aku menangis tersedu-sedu, tak ada airmata yang mengalir. Aku mengamuk panik, tetapi kaku. Aku mencari bunyi, mencari bening, mencari gerak. Tak ada apa pun. Cuma luka nganga. 

"Inong…, mereka akan membantu kita…."

Aku terkapar kembali. Menggelepar. Berdarah dalam jaring.

*** 
Keterangan:
Buket Tangkurak: Bukit Tengkorak
Geuchik: Kepala Desa
cuak : orang yang jadi mata-mata tentara
Mane: nama desa di Pidie
ureung-ureung : orang-orang
that: sekali
jibandum ureng biasa: mereka orang biasa
therimoung ghaseh: terimakasih
kherudoung: kerudung

Majalah Horison, April, 1999
Cerpen ini dinobatkan sebagai salah satu cerpen terbaik Horison selama sepuluh tahun terakhir (1990-2000).

Dari Buku Bukavu. PT. Lingkar Pena Kreativa, 2008



[Resensi] Hafalan Sholat Delisa

By Cak Dayat

Judul: hafalan sholat delisa
Pemain:
  • Chantiq Schagerl as Delisa,
  • Reza Rahardian as Abi Usman,
  • Nirina Zubir as Ummi Salamah,
  • Ghina Salsabila as Fatimah,
  • Reska Tania Apriadi as Aisyah,
  • Riska Tania Apriadi as Zahra,
  • Joe P Project as Koh Acan,
  • Al Fathir Muchtar as Ustadz Rahman,
  • Loide Cristina Teixeira as Suster Sofie,
  • Mike Lewis as Prajurit Smith
Sutradara : Sony Gaokasak
Rumah Produksi : Starvision


Hafalan sholat delisa, inilah novel tereliye pertama yang aku baca. Novel yang mengantarkan aku untuk kemudian membaca karya-karyanya yang lain. Syahdu menyayat-nyayat hati, salah satu efek yang selalu dirasa setelah membaca tulisanya. Tapi, bagaimana jika novel itu di filmkan?

Hafalan sholat delisa, sebuah film adaptasi dari sebuah novel tereliye dengan judul yang sama. cerita ini dibuat dengan latar belakang saat terjadi tsunami di aceh. Sama dengan saat membaca novelnya, film ini juga sukses mengalirkan titik-titik bening dari mata.

Cerita di awali dengan adegan aisyah teriak-teriak membangunkan delisa adiknya untuk sholat subuh berjamaah.  Suasana makin riuh saat Zahra-kakak kedua delisa- ikut protes karena teriakan-teriakan Aisyah  yang selalu terjadi tiap pagi. Selanjutnya, lewat adegan inipula tokoh Fatimah-kakak pertama Delisa- di kenalkan. Sebagai seorang kakak dengan kesabaran , kelembutan dan kepintaranya yang sukses membangunkan Delisa tanpa teriakan.

Selanjutnya, kita akan disuguhi adegan-adegan yang menggambarkan tentang sebuah potret keluarga yang menyenangkan dengan limpahan  kasih sayang.  Tingkah laku delisa yang ceria dan apa adanya. pertengkaran-pertengakarn kecil dia  dengan kakaknya aisyah. Kehebatan seorang umi dalam mendidik dan mengayomi  ke empat  putrinya. Sebuah potret keluarga idaman.

“Delisa sayang umi karena Allah” bagaimana mungkin seorang ibu tidak akan meleleh matanya saat anak kecilnya memeluk  dari belakang sembari membisikkan kata indah itu. Bahkan orang yang ikut melihatnya saja  ikut basah di matanya. termasuk sebagian besar penonton yang saat itu menonton. Walau di adegan berikutnya kita di buat tertawa geli. Saat kita tahu kalau dia mengucapkan kata-kata sakti itu karena ingin mendapatkan sebuah hadiah. Sebatang coklat dari ustad rahmat jika berhasil membuat ibunya menangis dengan kalimat itu.

Seperti dalam novelnya, film ini bercerita tentang delisa yang kesulitan dalam menghafal bacaan sholat. Hinga untuk menyemangati agar dia lebih rajin dalam menghafal, sang umi yang diperankan nirina zubir menjanjikan sebuah hadiah kalung dengan liontin initial D.

Delissa, seorang gadis ceria yang selalu penuh dengan limpahan kasih sayang, tiba-tiba dalam skejap mata semuanya itu tercerabut dari hidupnya. Umi dan ketiga kakaknya meninggal, teman-temanyapun banyak yang telah jadi korban keganasan tsunami. Tapi delisa lewat semngat dan keceriaanya, dia mengajarkan arti semangat hidup. Walaupun kini dia harus hidup dengan satu kaki.

Dalam film ini, banyak pesan moral yang ingin disampaikan. Salah satunya tentang  arti khusuk dalam sholat. Bahwa saat sholat itu fokus, apapun godaanya. Lihat saja dalam adegan saat delissa sedang fokus mengingat bacaan sholatnya dalam ujian hafalan sholat itu. Bahkan saat gempa mengguncang, dia masih fokus membaca doa iftitah. Atau saat ibunya sudah teriak-teriak memanggil –mangil namanya, ia seaakan tuli dan terus melanjutkan hafalanya. Hingga akhirnya tsunami menenggelamkanya.

Secara keseluruhan film ini sudah sukses mendekati gaya novel tereliye. Mengaharukan, memaksa penonton sesenggukan. Atau sesekali trenyuh merenung dengan tingkah polos anak-anak. Apalagi dikemas dengan setting Lokngah yang mempesona. Dengan iringan musik-musik aceh yang bikin merinding mendengarnya.

Cuma sayang, ada sedikit celah yang sepertinya kurang digarap maksimal. Tentang  visualisasi saat terjadi tsunami. Atau saat delisa bermimpi ketemu keluarga dan teman-temanya yang sudah meninggal. Terlalu kaku visualisasinya.

Ada juga salah satu adegan yang masih sulit aku nalar. Yaitu saat adegan tsunami terjadi, ustad rahmad sedang menguji delisa yang sedang tes hafalan sholat. Beserta ibunya yang menunggui di luar. Hampir semua  orang meninggal atau luka parah saat itu. Kecuali ustadz rahmad yang tidak diceritakan keadaanya. Hinga saat bencana sudah mereda, dan delisa juga sudah siuman dari pingasan panjangnya. Ustad rahmad tiba-tiba  muncul dengan tas ransel di punggungnya. Terkejut, itu ekspresinya saat pertama kali melihat desa telah rata dengan tanah. Seakan-akan saat kejadian dia sedang tidak berada di sana. Entahlah.


Ini film Indonesia ke dua yang aku tonton langsung di bioskop. Secara keseluruhan cukup memuaskan. Film yang sepertinya layak dimasukkan dalam agenda nonton bareng dengan anak2 atau keluarga tercinta. Selain  banyak pesan dan pelajaran yang bisa diambil, film ini juga bersih dari adegan-adegan kekerasan atau pornograf

[POEM] Mourning Clown

Here i am,
holding on my tears
as the world won't me cry
i wanna leave all of this
as i think i'm not a human anymore
you see,
the world wants me cheers
the world wants me laugh
and the world wants me happy
always and always
then everyone wants being a clown
just like me
no more pain
no more rain
no more stain
O dear world,
a clown is you
who needs  some time
for being on his own
all alone
to be the true of every you
who wants cry
not for being cried
who wants laugh
not to be laughed
needs happiness
not just fake joy
here i am
a clown
with full of me
being to be like you
every of you

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
DUKA SEORANG BADUT

di sini aku
menahan air mata,
dunia tak ingin ku menangis
ku ingin tinggalkan semua ini
aku bukan aku lagi
lihatlah
dunia ingin aku bersorak
dunia ingin aku tertawa
dunia ingin aku bahagia
selalu dan selalu
sampai-sampai semua ingin jadi badut
sepertiku
tak ada duka
tak ada hujan
tak ada luka
duhai dunia,
seorang badut adalah kamu
yang ingin sejenak
menjadi dirinya sendiri
sendirian
benar-benar seperti kamu
yang ingin menangis
bukan untuk disoraki
yang ingin tertawa
bukan ditertawakan
butuh kebahagiaan
bukan kegembiraan semu
di sini aku
seorang badut
dengan diriku sendiri
menjadi sepertimu
setiap dirimu

^^^^^^^^^^^

Gambar dari Google

(DAS FICTION) Kota yang Dijanjikan

Minggu, 15 September 2013

Minggu lalu, FLP Malang mengadakan acara bedah karya lagi. Kali ini karya yang dibahas adalah karya dari Mbak Vega. Cerpen di bawah ini dibiarkan apa adanya tanpa editing sama sekali. Cerpen kali ini termasuk cerpen yang bisa dibilang "istimewa" karena mengedepankan diksi-diksi yang puitis. So Dear readers,  Enjoy... and let us know your appreciations in the comment box... ^_^

Kota yang dijanjikan
oleh Vega El-Vaza



Senja memelukku dengan hangat. Ku lihat lagi tiket di tanganku. Angin menggodanya untuk lepas dari genggaman. Hari ini adalah hari dimana aku akan memenuhi sebuah janji di kota yang telah dijanjikan. Sebuah janji yang masih kupegang sampai sekarang. Janji yang membuatku merasa berdosa, saat langkah ini enggan untuk berangkat ke sana. Janji yang membuatku merasa ingin tertawa dalam tangis dan tangis dalam tawa.

Janji inilah yang membuatku merasa hidup dalam kehidupan. Merasakan gila dalam lorong kesendirian yang kelam dan merasa kuat meski hanya ada aku dan Tuhan. Namun sekarang tak kupedulikan lagi semua yang menghadang, termasuk kenyataan yang sama sekali tak kuharapkan dan sangat menyakitkan.

Biarlah sekarang kulangkahkan kakiku menuju kota yang telah dijanjikan. Tanpa apa yang kuingin, kuharap dan kurindukan. Senja masih memelukku, meski cahayanya tinggal menyisakan siluet indah.

Janji ini bukanlah ajang pembuktian diri yang amanah. Tapi janji ini adalah sebuah media untuk mengatakan sebuah kejujuran yang telah absurd dalam kebohongan. Janji ini adalah rinduku, janji ini adalah diriku dan janji ini adalah gairah hidupku untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya. Sebenar hati yang bicara.

Aku membuang nafas demi mengusir jenuh dalam penantian kereta. Aku tersenyum sendiri dalam atmosfir yang tak bisa kupahami. Semua bercampur satu dalam kanvas jiwa. Lelah tak kurasa, penat tak kurasa namun bahagia pun juga tak berasa. Entahlah.

Angin sore yang berubah menjadi angin malam berusaha menyelinap masuk dalam celah-celah jaketku. Membuatku semakin menggigil dalam perih. Suasana stasiun juga menyiratkan cerita tawa lara di setiap orang yang datang dan pergi. Mungkin juga salah satu dari mereka sama sepertiku. Datang dan pergi untuk memenuhi janji.

Kulihat jam yang memutari pergelangan tanganku menunjukkan waktu yang semakin menguras rasaku. Otakku kupaksa untuk berhenti menampilkan slide masa lalu. Masa yang sangat sakit sampai masih bisa kucium bau lara sampai detik ini. Masa yang memberiku imun untuk menghadapi dunia yang tak seperti hitungan Matematika. Masa yang memberiku pelajaran akan sesuatu yang sangat terlambat untuk kupahami dan menjadi yang kusesali.

Kereta yang membawaku menuju kota yang telah dijanjikan masih berada di stasiun sebelumnya. Menguntungkanku untuk meratapi diri yang masih konyol untuk menemukan jati diri. Diriku yang bersandar pada bangku tunggu, sama halnya menunggu-nya yang semakin jauh meninggalkanku. Sebuah kesia-siaan yang masih ingin kunikmati dalam sebuah ukiran penyesalan hati.

Opiniku tentang diriku sendiri adalah gila. Entah kegilaan apa yang bersarang dalam otakku. Yang jelas aku berada pada titik gila. Lalu aku menertawakan diriku sendiri, menyadari jika aku memang pantas untuk ditertawakan. Kebodohan atas nama keegoisan yang sama-sama kuanut dan berakibat menjadi sebuah kegilaan yang bercokol pada fikirku.
Kereta yang kutunggu masih belum juga sampai. Sama dengan harapku yang ingin melihat-nya juga masih belum tersampaikan. Atau mungkin tak akan pernah tersampaikan? Itulah halusinasi yang kutakuti. Tapi memang benar, di kehidupan nyata pun itu tak akan pernah ter-realisasi. Kami tak bisa melihat satu sama lain lagi. Tak akan pernah.

Tak bermaksud mendahului tangan Tuhan. Tapi ini adalah kenyataan. Biarlah mata yang pernah melihatku dengan hangatnya itu, menjadi mozaik lain yang menjelma menjadi lukisan baru di kehidupan mendatang.

Malam telah datang, menyapaku dengan ucapan dinginnya angin. Asap putih keluar setiap kali kuhela nafas. Dingin. Terdengar pemberitahuan jika keretaku akan datang sebentar lagi. Aku tersenyum lega. Kereta akan datang, mengantarkanku menuju kota yang telah dijanjikan.

Kota yang seperti syair lagu, mampu menyimpan kenangan. Kenangan manis namun pahit setiap kali kuingat. Kota yang diam namun bercerita tentang rasa yang pernah kurasa saat aku mulai menanggalkannya. Kota yang ramai namun tak bertahan lama pada mataku yang hanya mampu memandang sepi.

Kupejamkan mata untuk rasa melankolis, hiperbola, dan ironis. Tiga kata untuk merepresentasikan kegilaan yang kuciptakan sendiri. Kegilaan yang mencambukku untuk menepati janji. Kegilaan yang kadang-kadang membuatku bersemangat untuk melihatnya lagi. Kegilaan yang akhirnya tak bisa kukendalikan. Kegilaan yang seperti sakaw.

Ya, janji itu adalah kegilaanku, kegilaanku adalah ironi dan itu semua menyelimutiku dengan halusinasi indah namun lara saat ku buka mata. Seperti saat silaunya lampu kereta yang membuatku membuka mata. Telah datang, kereta yang membawaku ke kota itu telah datang.

Kulangkahkan kakiku dengan mantap menuju kereta yang terbujur kaku. Sejenak kusempatkan menoleh ke belakang. Mengharapkan sesuatu yang aku sadari tak akan pernah datang. Aku tersenyum dan yakin jika yang kulakukan ini adalah sendiri. Aku seorang diri. Teringat lagi apa yang telah dijanjikan.

“apapun yang terjadi, kita harus kembali kesini lagi...”

Dia mendongak dan mengangguk, “iya, kita harus kesini lagi...”. Matanya berbinar-binar.

“just both of us?”

“yes, both of us”

“janji?”

“janji”

Aku  tersenyum perih mengingatnya. Janji itu hanya terlunasi setengah. Karena yang datang ke kota itu hanya aku seorang. Seorang diri. Tanpanya, tanpa mata indahnya. Karena dia telah pergi. Pergi dan tak akan kembali. Kereta mulai berjalan dan lagi-lagi ku pejamkan mata diam-diam.

‘Ra...sekarang, di hari ini dan di tanggal ini aku telah kembali kesini. Kembali pada janji atau mungkin sumpahku untuk kembai ke kota yang dijanjikan ini...

Ra...aku tahu semua tak seperti dulu lagi. Tak akan pernah. Tapi setidaknya izinkan aku untuk mengenang kenangan itu. Meskipun kenangan itu hanya sejenak. Namun itulah kenangan yang tak pernah luntur dalam lembar langkah hidupku sampai detik ini kakiku kembali kesini...

Ra...di tanggal ini, aku berada di kota ini demi bertemu dengan bayang indahmu itu. Memang tak akan terjadi pada nyata inginku itu. Tapi izinkan sekali lagi, diriku bermain dengan mayamu, karena waktu sudah tak berpihak pada apa yang kuharap dan yang kurindu...untukmu

Ra...aku kembali kesini...ke kota yang dijanjikan oleh kita...Jogja...’

Tamat

Sudah menikmati cerpen di atas? Bagaimana pendapat kalian? Tuliskan kesan dan saran kalian di kotak komen ya. Ikuti pembahasan mendalam tentang cerpen ini yang ditulis oleh salah satu editor kami, Ain Nur. Untuk membaca tulisan Ain Nur tentang cerpen puitis di atas, klik tulisan di bawah ini:



(DAS POETRY): Bila Engkau Besar Nanti

Oleh: Arif Bawono Surya

Bila Engkau Besar Nanti  

 Bila engkau besar nanti 
Apakah engkau masih mencintaiku  
Seperti saat ini? ... 

Bila engkau besar nanti 
Apakah engkau masih ingat akan diriku  
yang semakin renta dan buruk rupa ini 

Bila engkau besar nanti 
Apakah engkau masih menyadari  

Bahwa
Cintaku tak berkurang kepadamu 

Sama persis dengan saat pertama aku  
Menyatakan cinta padamu, 

anakku 

(Juli 7 2011)

Editor's Note:

Humm...Neko sebenarnya nggak terlalu expert dalam bidang puisi. Harusnya yang ngisi editor notes ini Masdar...( Pak, kau dimana? Hehehehe). Tapi well, baiklah, daripada editor's note-nya kosong, untuk sementara Neko isi dulu deh. Hehehe.. Pada dasarnya, Neko lebih suka puisi yang menggunakan bahasa yang lugas daripada yang bahasanya rumit dan melangit-langit. Buat apa pakai bahasa langit kalau nggak ada yang ngerti kan? Karena itu, Neko lumayan menyukai cara Pak Arif menuliskan puisi di atas. 

Tadinya Neko kira, puisi ini tentang cinta kepada kekasih. Tapi sepertinya ada yang janggal, sampai akhirnya Neko baru ngeh setelah membaca puisi ini sampai selesai. Oalah...ternyata tentang kasih sayang orangtua kepada anaknya kok (Neko lebih melihat ini sebagai isi hati seorang ibu kepada anaknya ketimbang tentang ayah). Well... cukup mengharukan. Orangtua adalah orang terdekat kita yang mungkin paling sering kita sakiti dan kita lupakan pengorbanannya. Kadang sebagai anak muda, kita lebih menghargai teman-teman kita ketimbang orangtua... Hmmm...sebuah puisi sederhana yang cukup menggugah hati nurani.

Cherio

Mizuki-Arjuneko 

Profil Penulis:

Pak Arif dengan Andy F. Noya
Arif Bawono Suryo, atau yang di FLP Malang lebih beken dengan panggilan "Pak Arif", baru saja memutuskan untuk bergabung ke dalam keluarga besar FLP tahun 2011 ini. Walaupun baru bergabung, Pak Arif sudah cepat beradaptasi dan lumayan aktif dalam diskusi-diskusi FLP Malang yang sering diadakan di Taman Seribu Janji (alias depan rektorat UIN Malang). Dikenal sebagai mood-maker dan joke-maker dalam diskusi. Ada saja celetukannya yang bikin kami jadi gondok tapi nggak tega njitak karena lucu. Hufff...

Kemampuannya berbicara di depan publik dan kengocolannya sebenarnya tidak perlu diherankan lagi karena lulusan manajemen UM ini dulu sempat aktif di UKM IPRI (Ikatan Pecinta Retorika Indonesia) selama masa kuliah. Tak heran, ia menaruh minat untuk menjadi motivator dan juga tertarik untuk mendalami bidang broadcasting. 

Pemuda yang bekerja sebagai guru SMA ini, selain jago cuap-cuap di depan publik juga sangat produktif dalam menulis loh. Tulisan-tulisan di group FLP Malang itu hampir setengahnya adalah hasil tulisannya orang ini. Di lain kesempatan, Divisi Apresiasi Sastra akan membahas essay-essay Pak Arif. Tulisan-tulisannya bisa juga dilihat di blog pribadinya ini: http://abawonos.blogspot.com/



(DAS MOTIVATION-Krupuk untuk Jiwa): KIAT ARJUNA

Oleh: Nur Muhammadian

Diceritakan dalam Mahabarata bahwa Pandawa dan Kurawa saat masih anak-anak sampai remaja dilatih oleh beberapa Guru yang sama. Pada sesi latihan memanah, Arjunalah yang paling jago. Apa kiat Arjuna?

Satu persatu murid baik Pandawa maupun Kurawa diharuskan membidik sebuah patung burung yang bergerak berputar. Saat membidik, sang Guru menanyakan beberapa hal.

Duryudana : Saya sudah siap Guru…
Guru           : Apa yang kau lihat?
Duryudana : Badan burung Guru
Guru           : Apakah kau lihat  tempat bertenggernya burung itu?
Duryudana : Saya melihatnya Guru,terbuat dari bambu kuning
Guru           : Hentikan! Kau tidak akan bisa memanah burung itu!

Dan pada akhirnya anak tertua dari pihak Kurawa itu pun gagal memanah patung burung itu.

Ketika Puntadewa, kakak tertua dari pihak Pandawa akan memanah, sang Guru pun menanyakan hal yang sama.

Puntadewa : Saya sudah siap Guru…Saya membidik badan patung burung itu…
Guru          : Puntadewa…Apakah kaulihat kaki burung itu?
Puntadewa : Terlihat Guru…
Guru          : Hentikan! Percuma, kau takkan bisa memanah badan burung itu!

Pada akhirnya, Puntadewa pun juga gagal. Begitu seterusnya beberapa Pandawa dan Kurawa gagal memanah patung burung yang bergerak itu. Hingga akhirnya, sampailah giliran Arjuna.

Arjuna: Saya sudah siap memanah mata patung burung itu Guru…
Guru   : Apa yang kaulihat Arjuna?
Arjuna: Mata patung burung guru
Guru   :  Apakah kaulihat sayap burung itu? Apa warnanya?
Arjuna: Tidak bisa Guru. Saya hanya melihat mata burung Guru
Guru   : Apakah kaulihat bentuk ekor burung itu yang indah?
Arjuna: Maaf Guru, saya hanya melihat mata burung Guru…
Guru   : Bagus Arjuna…Lepaskan anak panahmu!

Anak panah Arjuna pun melesat hanya panahnya lah yang mampu menembus mata patung burung.

Teman-teman, bidiklah tujuanmu dan focus padanya. Anda mungkin punya ‘busur panah’ dan ‘anak panah’ yang terbuat dari 'bahan' yang terbaik. Anda juga mungkin memiliki otot dan tenaga yang terlatih untuk memanah.  Tapi tanpa bidikan yang jelas dan jitu, anda tidak akan bisa mengenai sasaran. Bahkan banyak orang yang memiliki segala sumber daya, tidak punya sasaran untuk ‘dibidik’.

BIDIK TUJUANMU, FOKUS PADANYA. Panah terbaik dan tenaga yang besar tidak ada artinya bila tidak jelas sasaran yang dibidik.

Hiduplah efektif dan berbahagialah.

"Krupuk untuk jiwa, renyah dibaca, gurih maknanya."





Postingan ini diposting penulis di Group FLP Malang Terus Bergerak di FB pada 31 Agustus 2011, dini hari.

Editor's Notes: 
Hmm benar-benar tulisan sederhana yang sangat menginspirasi. Neko ingat kalau cerita di atas pernah ditampilkan Dancow dalam bentuk komik tipis (sampai sekarang Neko masih nyimpen komiknya loh). Fokusnya tetap sama, perlombaan memanah antara Kurawa dan Pandawa, hanya saja dialog antara guru dengan murid-muridnya seperti di postingan di atas tidak disorot dalam komik tersebut. Padahal, Neko kira pelajaran inti dari lakon tersebut justru ada pada dialog-dialog singkat di atas.

Dalam buku The Power of Concentration karya Theron Q. Dumount dikatakan bahwa salah satu kunci kesuksesan terpenting adalah kemampuan untuk fokus pada tujuan dan konsentrasi. Sayangnya, kebanyakan orang lebih mudah berkonsentrasi pada hal yang tidak berguna ketimbang pada hal-hal yang benar-benar penting bagi mereka. Misalnya, suka banget ngeluhin masalah yang dihadapi ketimbang fokus untuk mencari solusi. Atau pas lagi nyari bahan buat RPP eh...iseng-iseng buka Facebook malah keterusan! (idiih kok jadi nyindir diri sendiri gini yak?). 

Karena itu mulai sekarang ayo kita beristirahat sejenak sembari bertitik balik dan mengkaji ulang, apa sebenarnya tujuan yang ingin kita raih dalam hidup ini.

Saran untuk tulisan ini: Sebenarnya tulisan ini sudah cukup baik, sehingga Neko hanya perlu mengedit sedikit saja. Hal-hal yang Neko tambahkan cuma beberapa kalimat pendek yang berfungsi sebagai deskripsi untuk mengantarkan pembaca sebelum menuju dialog utama seperti ini:

'Dan pada akhirnya anak tertua dari pihak Kurawa itu pun gagal memanah patung burung itu.

Ketika Puntadewa, kakak tertua dari pihak Pandawa akan memanah, sang Guru pun menanyakan hal yang sama.'

atau yang ini:

'Pada akhirnya, Puntadewa pun juga gagal. Begitu seterusnya beberapa Pandawa dan Kurawa gagal memanah patung burung yang bergerak itu. Hingga akhirnya, sampailah giliran Arjuna.'
  
Kalimat-kalimat tersebut, sebagian Neko yang tambahin. Walaupun tulisannya pendek, tapi kalimat-kalimat deskriptif untuk mengantarkan mood pembaca itu penting loh. Biar lebih enak dibaca dan tidak terkesan langsung jadi tanpa diedit. Tapi overall, tulisan di atas layak mendapatkan 4 thumbs up untuk kesederhanaan dan keefektifannya dalam menyampaikan suatu pesan.

Mungkin kalau Pak Dian mau mengedit dan menambahi sedikit essay pada bagian "FOKUSLAH", tulisan ini cukup bagus untuk dimuat di majalah Intisari, atau media lain yang menyediakan ruang untuk essay-essay pendek bertema motivasi.

Bagaimana menurut kalian? Ayo berbagi apresiasi! =)

Cherio

Mizuki-Arjuneko


Profil Penulis:

Pak Dian dengan kelinci-kelincinya
Nur Muhammadian atau yang lebih dikenal sebagai "Pak Dian" (nama beken beliau saat di FLP Malang) adalah lulusan dari Universitas Brawijaya tahun 1994. Pernah bekerja sebagai core engineer di perusahaan telekomunikasi Indosat. Pak Dian bergabung dalam keluarga besar FLP pada tahun 2008. Awalnya saat FLP UM membuka Writing School selama 3 bulan. Dan sejak saat itu, Pak Dian pun sering menjadi tempat curhatan para pengurus FLP UM (kemudian FLP Malang), karena ke-cool-annya dan sudut pandangnya yang menarik dalam melihat setiap permasalahannya (cieee...). 

Pendek kata, Pak Dian enak banget deh kalau diajak diskusi. Sekarang Pak Dian memilih untuk berwirausaha membuka peternakan kelinci. Tulisan-tulisan beliau yang tidak kalah oke dengan yang di atas dapat langsung diakses di blog beliau di: http://nmdian.wordpress.com/

Yuk Bareng-Bareng Belajar STORYTELLING

story telling

Tips ini sebenarnya ditulis oleh Sweta Kartika (komikus lokal) untuk komunitas Samsung Galaxy. Cuma di sini disesuaikan dikit, sehingga tips yang tadinya buat komik, bisa diterapkan ke cerpen/novel.
Betewe aku nge-fans ama artis ini setelah ngikutin serial GREY and JINGGA. Premis ceritanya sederhana buanget. Gambarnya juga sederhana. Tapi karakternya kuat, penggambaran konflik batinnya juga mengena. Karena itu yang follow komiknya setiap Senin dan Kamis (jadwal publish komiknya kaya jadwal puasa sunnah huehehe) saat ini sudah ratusan. Karena pembaca banyak yang merasa kalau konflik tokoh-tokohnya itu pernah mereka alami juga hehehehe...
Kalau mau baca komiknya check this out: (click next kalau mau baca terusannya) 
Okeh, ini dia tips dari Sweta Kartika (yang udah diadaptasi dikit. Duikit XD)

Suka banyak orang yang galau gara-gara pengen nulis tapi ngerasa kalau nggak pandai bikin cerita. Pendapat ini bertahan selama bertahun-tahun sampai-sampai kalau berasa udah bisa bikin cerita keren terus lulus jadi penulis. Atau sebaliknya, yang ga punya cerita keren terus gagal jadi penulis. Ngga se-simple itu. Nulis itu ada dua poin yang harus dipenuhi: 1. Cerita, dan 2. Penceritaan (storytelling). 
  
Apa itu storytelling? 
Sederhananya, storytelling adalah teknik atau kemampuan untuk menceritakan sebuah kisah, pengaturan adegan, event, dan juga dialog. Kalau di film, para film maker bersenjatakan kamera; di komik, para komikus bersenjatakan gambar dan angle cerita; di cerpen atau novel, para penulis bersenjatakan pena, diksi, dan permainan kata serta deskripsi.

Kenapa storytelling penting?
Sering liat kan ada cerita yang idenya sekilas bagus, spektakuler, pokoknya ajib dah, tapi setelah diikutin ternyata kita malah ngga ngerti isi ceritanya. Atau, ada novel/cerpen yang sebenarnya punya ide cerita yang keren, tapi menggambarkannya asal-asalan karena nggak tahu soal pacing, panelling, dan permainan angle (ini sebenarnya istilah buat komik, Neko masih belum nemu pengganti yang pas buat nulis cerita. Ada yang bisa bantu?). Storytelling adalah langkah untuk meramu cerita supaya menarik untuk diceritakan, sehingga ketika proses menggambarkannya ke dalam lembar kertas dapat lebih proporsional.

Berikut ini ada beberapa tips buat bisa jago storytelling.
  1. Kalau kita punya cerita, pastikan kita paham betul alur ceritanya dengan baik. Sederhananya, kita tahu seperti apa awalnya, bagaimana pengembangan alurnya, dan terakhir kita tahu cara mengakhirinya.
      
  2. Sesudah kita pahami isi cerita, coba putar-putar terus ceritanya di kepala, sampai kita tahu, bagian mana yang seharusnya paling banyak kita ceritakan, bagian mana yang seharusnya TIDAK PERLU kita sampaikan, dll. (Asas manfaat ternyata berlaku juga dalam membuat tulisan ehehehe)
     
  3. Ketika kita memahami porsi cerita, kita jadi bisa membayangkan adegan-adegan di dalam cerita itu, jadi terbayang seperti apa penempatan visualisasinya di dalam bab-bab novel/cerpen. Misalnya, ada adegan ketika tokoh ikhwan yang berjanji akan menikahi seorang akhwat di tengah rinai gerimis, setelah ikut pengajian bersama di malam Sabtu*

    *catatan: huahahahah! Mas Sweta Kartika aslinya makai adegan contoh cowok yang nembak cewek. Tapi biar lebih "Islami", Neko ganti adegannya jadi "semi syari'ah" XD
    Para komikus atau film maker akan terbayang untuk menggambarkan adegan dengan menempatkan pada panel panjang dengan angle 'bird view' (sudut pandang atas) dan long shot (pengambilan gambar jarak jauh), menampakkan kedua sejoli itu tengah berhadapan di bawah temaram lampu jalan (agar lebih Islami, Neko tambahkan adegan sang Murrobbi yang datang sambil berkecak pinggang! Huahahh...lha? Kok jadinya malah komedi? XD)

    Itu kalau pakai kamera dan gambar. Sebagai penulis, kita akan mendeskripsikan rintik hujan yang turun terdengar melodis, nuansa temaram yang romantis, degupan si ikhwan saat mengucapkan janji, suaranya halus dan berat terdengar malu-malu tapi berusaha terlihat tegar, wajah si akhwat yang bersemu, pandangannya yang ditundukkan, secercah harapan indah akan masa depan muncul, tergantung permainan sudut pandang mungkin penulis akan menambahkan isi kepala atau hati dua insan ini saat adegan terjadi. Trus kalau mau jadi komedi ya...ditambahkan adegan sang Murrobbi yang datang sambil berkecak pinggang itu huahahah... (udah cukup syariah ga ini? Pusing ngadaptasinya euy. Tapi ini contoh penggambaran adegan paling mudah dan mengena di hati kalian kan???  Iya kaaan? Ngaku deh! XD)

    Lebih singkatnya Neko sering menyebutkan hal ini sebagai cinematic visual writing. Menggambar film di atas kertas. Menulis dengan membayangkan adegan seolah terjadi dalam film atau komik.
      
  4. Terakhir, barulah kita menggambarkannya ke dalam lembar kertas.Di sini Neko lebih memilih istilah asli yang digunakan oleh Sweta Kartika, yaitu "menggambar" daripada "menulis". Ya, karena sebagai penulis kita nggak sekedar menulis, tapi "menggambar" adegan dengan aksara dan kata.
Nggak cuma komikus dan film maker, penulis juga orang yang paling jago untuk berpikir secara visual. Malah kadang kita harus berpikir secara audio dan kinestetik juga. Karena senjata kita cuma aksara dan kata, beda dengan gambar dan video yang bisa menampilkan adegan secara nyata di depan mata. Syukur kalau ada ilustrasi yang memudahkan pembaca memahami isi cerita. Kalau nggak ada berarti visualisasi cerita kita harus lebih kuat lagi agar bisa memancing imajinasi pembaca mengikuti cerita kita.

So, kalau mau jago nulis, jangan cuma kerja keras latihan nulis (apalagi latihan bikin status *PLAK!), tapi juga sering-seringlah berimajinasi, membayangkan adegan-adegan di dalam sebuah cerita, termasuk cerita pengalaman hidup kita sendiri untuk bisa dijadikan bahan menulis. Semua orang punya cerita kehidupan yang menarik. Dunia ini sendiri penuh dengan hal-hal yang menarik. Kita sendiri juga semuanya adalah orang-orang yang menarik yang selalu dikelilingi hal-hal yang menarik. Dengan mengembangkan pemikiran seperti ini, insyaallah ide-ide akan selalu bertebaran di sekeliling kita. Kita pun jadi lebih optimis dalam memandang kehidupan.

Kita bisa berlatih menghidupkan karakter dengan "mengajaknya bicara". Misalnya kalau karakternya begini, gaya bicaranya seperti apa ya? Kalau pekerjaan dan latar pendidikannya begitu, bagaimana sikap dan caranya dalam menyelesaikan/menghadapi masalah? Kira-kira dia suka makanan pedas nggak? Apa yang dia suka? Apa yang dia benci? Apa motivasi, mimpi, serta cita-citanya? Bagaimana cara berpakaiannya? Cara berjalannya? Suaranya? Warna matanya? Untuk penggambaran karakter yang kuat ini, bisa dicari tips menulis dari GOLA GONG, ketika dia menceritakan proses kreatif pembuatan cerita BALADA SI ROY.
Neko sendiri biasanya kalau bikin cerita berbasis karakter, jadi yang Neko lakukan biasanya ya menggambar karakter Neko, juga mengumpulkan "quote-quote" menarik yang bisa jadi dialog dia nanti. Soalnya karakter yang berbeda, cara ngomongnya juga beda kan?


Tapi ada juga cerita yang karakternya biasa, tapi tetap disukai karena cerita dan plotnya kuat. Ada juga cerita yang mengandalkan setting mendetail sehingga seolah mengajak pembaca jalan-jalan ke tempat-tempat eksotis. Ada yang berbasis pada konflik yang sedang hot atau in. Ada juga yang menonjolkan ide cerita gila, yang bikin pembaca terperangah setiap kali membacanya (yang penting heboh). Juga, banyak yang lebih menonjolkan permainan kata dan diksi super puitis plus menghanyutkan.

Yah masing-masing penulis punya jurus dan senjata andalan lah. 

"Comic is NOT about good artworking. Comic is about GOOD storytelling" -ComicSense
kalau diadaptasi untuk menulis, istilah mungkin begini ya:

"Writing is NOT about good writing, Writing is about GOOD storytelling"

(someone said this to me: "We.Sense.Art.Not.Think.About.It" >_< *DOR!

Oleh : Harlem Ai Mizuki

Bedah Karya di Car Free Day

Halo semua... akhir pekan mau kemana nih? (kepo...lol)

Kita mau ada acara loh besok minggu. Bertempat di Car Free Day (CFD) jam 06.30 kita akan buka stand di sana. Eh tau kan apa itu CFD? itu loh yang biasanya di kota-kota besar yang satu jalan utama ditutup untuk kendaraan bermotor, supaya bisa merasakan enaknya jalan yang nggak macet dan sejuk.

Nah, apa aja sih yang akan kita lakukan? Sesuai judul tentulah bedah karya. Karya kali ini yang dibedah adalah puisi dari bunda Helvi Tiana Rosa. Dan kita juga bakal jualan buku-buku karya FLP Malang, pastinya full diskon. Bagi kamu yang ngefans sama penulis ngetop di FLP Malang juga bisa minta tanda tangan dan ngobrol langsung di sana. Asyiik kan?

So... See you there... :)