(DAS FICTION) Kota yang Dijanjikan

Minggu, 15 September 2013

Minggu lalu, FLP Malang mengadakan acara bedah karya lagi. Kali ini karya yang dibahas adalah karya dari Mbak Vega. Cerpen di bawah ini dibiarkan apa adanya tanpa editing sama sekali. Cerpen kali ini termasuk cerpen yang bisa dibilang "istimewa" karena mengedepankan diksi-diksi yang puitis. So Dear readers,  Enjoy... and let us know your appreciations in the comment box... ^_^

Kota yang dijanjikan
oleh Vega El-Vaza



Senja memelukku dengan hangat. Ku lihat lagi tiket di tanganku. Angin menggodanya untuk lepas dari genggaman. Hari ini adalah hari dimana aku akan memenuhi sebuah janji di kota yang telah dijanjikan. Sebuah janji yang masih kupegang sampai sekarang. Janji yang membuatku merasa berdosa, saat langkah ini enggan untuk berangkat ke sana. Janji yang membuatku merasa ingin tertawa dalam tangis dan tangis dalam tawa.

Janji inilah yang membuatku merasa hidup dalam kehidupan. Merasakan gila dalam lorong kesendirian yang kelam dan merasa kuat meski hanya ada aku dan Tuhan. Namun sekarang tak kupedulikan lagi semua yang menghadang, termasuk kenyataan yang sama sekali tak kuharapkan dan sangat menyakitkan.

Biarlah sekarang kulangkahkan kakiku menuju kota yang telah dijanjikan. Tanpa apa yang kuingin, kuharap dan kurindukan. Senja masih memelukku, meski cahayanya tinggal menyisakan siluet indah.

Janji ini bukanlah ajang pembuktian diri yang amanah. Tapi janji ini adalah sebuah media untuk mengatakan sebuah kejujuran yang telah absurd dalam kebohongan. Janji ini adalah rinduku, janji ini adalah diriku dan janji ini adalah gairah hidupku untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya. Sebenar hati yang bicara.

Aku membuang nafas demi mengusir jenuh dalam penantian kereta. Aku tersenyum sendiri dalam atmosfir yang tak bisa kupahami. Semua bercampur satu dalam kanvas jiwa. Lelah tak kurasa, penat tak kurasa namun bahagia pun juga tak berasa. Entahlah.

Angin sore yang berubah menjadi angin malam berusaha menyelinap masuk dalam celah-celah jaketku. Membuatku semakin menggigil dalam perih. Suasana stasiun juga menyiratkan cerita tawa lara di setiap orang yang datang dan pergi. Mungkin juga salah satu dari mereka sama sepertiku. Datang dan pergi untuk memenuhi janji.

Kulihat jam yang memutari pergelangan tanganku menunjukkan waktu yang semakin menguras rasaku. Otakku kupaksa untuk berhenti menampilkan slide masa lalu. Masa yang sangat sakit sampai masih bisa kucium bau lara sampai detik ini. Masa yang memberiku imun untuk menghadapi dunia yang tak seperti hitungan Matematika. Masa yang memberiku pelajaran akan sesuatu yang sangat terlambat untuk kupahami dan menjadi yang kusesali.

Kereta yang membawaku menuju kota yang telah dijanjikan masih berada di stasiun sebelumnya. Menguntungkanku untuk meratapi diri yang masih konyol untuk menemukan jati diri. Diriku yang bersandar pada bangku tunggu, sama halnya menunggu-nya yang semakin jauh meninggalkanku. Sebuah kesia-siaan yang masih ingin kunikmati dalam sebuah ukiran penyesalan hati.

Opiniku tentang diriku sendiri adalah gila. Entah kegilaan apa yang bersarang dalam otakku. Yang jelas aku berada pada titik gila. Lalu aku menertawakan diriku sendiri, menyadari jika aku memang pantas untuk ditertawakan. Kebodohan atas nama keegoisan yang sama-sama kuanut dan berakibat menjadi sebuah kegilaan yang bercokol pada fikirku.
Kereta yang kutunggu masih belum juga sampai. Sama dengan harapku yang ingin melihat-nya juga masih belum tersampaikan. Atau mungkin tak akan pernah tersampaikan? Itulah halusinasi yang kutakuti. Tapi memang benar, di kehidupan nyata pun itu tak akan pernah ter-realisasi. Kami tak bisa melihat satu sama lain lagi. Tak akan pernah.

Tak bermaksud mendahului tangan Tuhan. Tapi ini adalah kenyataan. Biarlah mata yang pernah melihatku dengan hangatnya itu, menjadi mozaik lain yang menjelma menjadi lukisan baru di kehidupan mendatang.

Malam telah datang, menyapaku dengan ucapan dinginnya angin. Asap putih keluar setiap kali kuhela nafas. Dingin. Terdengar pemberitahuan jika keretaku akan datang sebentar lagi. Aku tersenyum lega. Kereta akan datang, mengantarkanku menuju kota yang telah dijanjikan.

Kota yang seperti syair lagu, mampu menyimpan kenangan. Kenangan manis namun pahit setiap kali kuingat. Kota yang diam namun bercerita tentang rasa yang pernah kurasa saat aku mulai menanggalkannya. Kota yang ramai namun tak bertahan lama pada mataku yang hanya mampu memandang sepi.

Kupejamkan mata untuk rasa melankolis, hiperbola, dan ironis. Tiga kata untuk merepresentasikan kegilaan yang kuciptakan sendiri. Kegilaan yang mencambukku untuk menepati janji. Kegilaan yang kadang-kadang membuatku bersemangat untuk melihatnya lagi. Kegilaan yang akhirnya tak bisa kukendalikan. Kegilaan yang seperti sakaw.

Ya, janji itu adalah kegilaanku, kegilaanku adalah ironi dan itu semua menyelimutiku dengan halusinasi indah namun lara saat ku buka mata. Seperti saat silaunya lampu kereta yang membuatku membuka mata. Telah datang, kereta yang membawaku ke kota itu telah datang.

Kulangkahkan kakiku dengan mantap menuju kereta yang terbujur kaku. Sejenak kusempatkan menoleh ke belakang. Mengharapkan sesuatu yang aku sadari tak akan pernah datang. Aku tersenyum dan yakin jika yang kulakukan ini adalah sendiri. Aku seorang diri. Teringat lagi apa yang telah dijanjikan.

“apapun yang terjadi, kita harus kembali kesini lagi...”

Dia mendongak dan mengangguk, “iya, kita harus kesini lagi...”. Matanya berbinar-binar.

“just both of us?”

“yes, both of us”

“janji?”

“janji”

Aku  tersenyum perih mengingatnya. Janji itu hanya terlunasi setengah. Karena yang datang ke kota itu hanya aku seorang. Seorang diri. Tanpanya, tanpa mata indahnya. Karena dia telah pergi. Pergi dan tak akan kembali. Kereta mulai berjalan dan lagi-lagi ku pejamkan mata diam-diam.

‘Ra...sekarang, di hari ini dan di tanggal ini aku telah kembali kesini. Kembali pada janji atau mungkin sumpahku untuk kembai ke kota yang dijanjikan ini...

Ra...aku tahu semua tak seperti dulu lagi. Tak akan pernah. Tapi setidaknya izinkan aku untuk mengenang kenangan itu. Meskipun kenangan itu hanya sejenak. Namun itulah kenangan yang tak pernah luntur dalam lembar langkah hidupku sampai detik ini kakiku kembali kesini...

Ra...di tanggal ini, aku berada di kota ini demi bertemu dengan bayang indahmu itu. Memang tak akan terjadi pada nyata inginku itu. Tapi izinkan sekali lagi, diriku bermain dengan mayamu, karena waktu sudah tak berpihak pada apa yang kuharap dan yang kurindu...untukmu

Ra...aku kembali kesini...ke kota yang dijanjikan oleh kita...Jogja...’

Tamat

Sudah menikmati cerpen di atas? Bagaimana pendapat kalian? Tuliskan kesan dan saran kalian di kotak komen ya. Ikuti pembahasan mendalam tentang cerpen ini yang ditulis oleh salah satu editor kami, Ain Nur. Untuk membaca tulisan Ain Nur tentang cerpen puitis di atas, klik tulisan di bawah ini:



(DAS POETRY): Bila Engkau Besar Nanti

Oleh: Arif Bawono Surya

Bila Engkau Besar Nanti  

 Bila engkau besar nanti 
Apakah engkau masih mencintaiku  
Seperti saat ini? ... 

Bila engkau besar nanti 
Apakah engkau masih ingat akan diriku  
yang semakin renta dan buruk rupa ini 

Bila engkau besar nanti 
Apakah engkau masih menyadari  

Bahwa
Cintaku tak berkurang kepadamu 

Sama persis dengan saat pertama aku  
Menyatakan cinta padamu, 

anakku 

(Juli 7 2011)

Editor's Note:

Humm...Neko sebenarnya nggak terlalu expert dalam bidang puisi. Harusnya yang ngisi editor notes ini Masdar...( Pak, kau dimana? Hehehehe). Tapi well, baiklah, daripada editor's note-nya kosong, untuk sementara Neko isi dulu deh. Hehehe.. Pada dasarnya, Neko lebih suka puisi yang menggunakan bahasa yang lugas daripada yang bahasanya rumit dan melangit-langit. Buat apa pakai bahasa langit kalau nggak ada yang ngerti kan? Karena itu, Neko lumayan menyukai cara Pak Arif menuliskan puisi di atas. 

Tadinya Neko kira, puisi ini tentang cinta kepada kekasih. Tapi sepertinya ada yang janggal, sampai akhirnya Neko baru ngeh setelah membaca puisi ini sampai selesai. Oalah...ternyata tentang kasih sayang orangtua kepada anaknya kok (Neko lebih melihat ini sebagai isi hati seorang ibu kepada anaknya ketimbang tentang ayah). Well... cukup mengharukan. Orangtua adalah orang terdekat kita yang mungkin paling sering kita sakiti dan kita lupakan pengorbanannya. Kadang sebagai anak muda, kita lebih menghargai teman-teman kita ketimbang orangtua... Hmmm...sebuah puisi sederhana yang cukup menggugah hati nurani.

Cherio

Mizuki-Arjuneko 

Profil Penulis:

Pak Arif dengan Andy F. Noya
Arif Bawono Suryo, atau yang di FLP Malang lebih beken dengan panggilan "Pak Arif", baru saja memutuskan untuk bergabung ke dalam keluarga besar FLP tahun 2011 ini. Walaupun baru bergabung, Pak Arif sudah cepat beradaptasi dan lumayan aktif dalam diskusi-diskusi FLP Malang yang sering diadakan di Taman Seribu Janji (alias depan rektorat UIN Malang). Dikenal sebagai mood-maker dan joke-maker dalam diskusi. Ada saja celetukannya yang bikin kami jadi gondok tapi nggak tega njitak karena lucu. Hufff...

Kemampuannya berbicara di depan publik dan kengocolannya sebenarnya tidak perlu diherankan lagi karena lulusan manajemen UM ini dulu sempat aktif di UKM IPRI (Ikatan Pecinta Retorika Indonesia) selama masa kuliah. Tak heran, ia menaruh minat untuk menjadi motivator dan juga tertarik untuk mendalami bidang broadcasting. 

Pemuda yang bekerja sebagai guru SMA ini, selain jago cuap-cuap di depan publik juga sangat produktif dalam menulis loh. Tulisan-tulisan di group FLP Malang itu hampir setengahnya adalah hasil tulisannya orang ini. Di lain kesempatan, Divisi Apresiasi Sastra akan membahas essay-essay Pak Arif. Tulisan-tulisannya bisa juga dilihat di blog pribadinya ini: http://abawonos.blogspot.com/



(DAS MOTIVATION-Krupuk untuk Jiwa): KIAT ARJUNA

Oleh: Nur Muhammadian

Diceritakan dalam Mahabarata bahwa Pandawa dan Kurawa saat masih anak-anak sampai remaja dilatih oleh beberapa Guru yang sama. Pada sesi latihan memanah, Arjunalah yang paling jago. Apa kiat Arjuna?

Satu persatu murid baik Pandawa maupun Kurawa diharuskan membidik sebuah patung burung yang bergerak berputar. Saat membidik, sang Guru menanyakan beberapa hal.

Duryudana : Saya sudah siap Guru…
Guru           : Apa yang kau lihat?
Duryudana : Badan burung Guru
Guru           : Apakah kau lihat  tempat bertenggernya burung itu?
Duryudana : Saya melihatnya Guru,terbuat dari bambu kuning
Guru           : Hentikan! Kau tidak akan bisa memanah burung itu!

Dan pada akhirnya anak tertua dari pihak Kurawa itu pun gagal memanah patung burung itu.

Ketika Puntadewa, kakak tertua dari pihak Pandawa akan memanah, sang Guru pun menanyakan hal yang sama.

Puntadewa : Saya sudah siap Guru…Saya membidik badan patung burung itu…
Guru          : Puntadewa…Apakah kaulihat kaki burung itu?
Puntadewa : Terlihat Guru…
Guru          : Hentikan! Percuma, kau takkan bisa memanah badan burung itu!

Pada akhirnya, Puntadewa pun juga gagal. Begitu seterusnya beberapa Pandawa dan Kurawa gagal memanah patung burung yang bergerak itu. Hingga akhirnya, sampailah giliran Arjuna.

Arjuna: Saya sudah siap memanah mata patung burung itu Guru…
Guru   : Apa yang kaulihat Arjuna?
Arjuna: Mata patung burung guru
Guru   :  Apakah kaulihat sayap burung itu? Apa warnanya?
Arjuna: Tidak bisa Guru. Saya hanya melihat mata burung Guru
Guru   : Apakah kaulihat bentuk ekor burung itu yang indah?
Arjuna: Maaf Guru, saya hanya melihat mata burung Guru…
Guru   : Bagus Arjuna…Lepaskan anak panahmu!

Anak panah Arjuna pun melesat hanya panahnya lah yang mampu menembus mata patung burung.

Teman-teman, bidiklah tujuanmu dan focus padanya. Anda mungkin punya ‘busur panah’ dan ‘anak panah’ yang terbuat dari 'bahan' yang terbaik. Anda juga mungkin memiliki otot dan tenaga yang terlatih untuk memanah.  Tapi tanpa bidikan yang jelas dan jitu, anda tidak akan bisa mengenai sasaran. Bahkan banyak orang yang memiliki segala sumber daya, tidak punya sasaran untuk ‘dibidik’.

BIDIK TUJUANMU, FOKUS PADANYA. Panah terbaik dan tenaga yang besar tidak ada artinya bila tidak jelas sasaran yang dibidik.

Hiduplah efektif dan berbahagialah.

"Krupuk untuk jiwa, renyah dibaca, gurih maknanya."





Postingan ini diposting penulis di Group FLP Malang Terus Bergerak di FB pada 31 Agustus 2011, dini hari.

Editor's Notes: 
Hmm benar-benar tulisan sederhana yang sangat menginspirasi. Neko ingat kalau cerita di atas pernah ditampilkan Dancow dalam bentuk komik tipis (sampai sekarang Neko masih nyimpen komiknya loh). Fokusnya tetap sama, perlombaan memanah antara Kurawa dan Pandawa, hanya saja dialog antara guru dengan murid-muridnya seperti di postingan di atas tidak disorot dalam komik tersebut. Padahal, Neko kira pelajaran inti dari lakon tersebut justru ada pada dialog-dialog singkat di atas.

Dalam buku The Power of Concentration karya Theron Q. Dumount dikatakan bahwa salah satu kunci kesuksesan terpenting adalah kemampuan untuk fokus pada tujuan dan konsentrasi. Sayangnya, kebanyakan orang lebih mudah berkonsentrasi pada hal yang tidak berguna ketimbang pada hal-hal yang benar-benar penting bagi mereka. Misalnya, suka banget ngeluhin masalah yang dihadapi ketimbang fokus untuk mencari solusi. Atau pas lagi nyari bahan buat RPP eh...iseng-iseng buka Facebook malah keterusan! (idiih kok jadi nyindir diri sendiri gini yak?). 

Karena itu mulai sekarang ayo kita beristirahat sejenak sembari bertitik balik dan mengkaji ulang, apa sebenarnya tujuan yang ingin kita raih dalam hidup ini.

Saran untuk tulisan ini: Sebenarnya tulisan ini sudah cukup baik, sehingga Neko hanya perlu mengedit sedikit saja. Hal-hal yang Neko tambahkan cuma beberapa kalimat pendek yang berfungsi sebagai deskripsi untuk mengantarkan pembaca sebelum menuju dialog utama seperti ini:

'Dan pada akhirnya anak tertua dari pihak Kurawa itu pun gagal memanah patung burung itu.

Ketika Puntadewa, kakak tertua dari pihak Pandawa akan memanah, sang Guru pun menanyakan hal yang sama.'

atau yang ini:

'Pada akhirnya, Puntadewa pun juga gagal. Begitu seterusnya beberapa Pandawa dan Kurawa gagal memanah patung burung yang bergerak itu. Hingga akhirnya, sampailah giliran Arjuna.'
  
Kalimat-kalimat tersebut, sebagian Neko yang tambahin. Walaupun tulisannya pendek, tapi kalimat-kalimat deskriptif untuk mengantarkan mood pembaca itu penting loh. Biar lebih enak dibaca dan tidak terkesan langsung jadi tanpa diedit. Tapi overall, tulisan di atas layak mendapatkan 4 thumbs up untuk kesederhanaan dan keefektifannya dalam menyampaikan suatu pesan.

Mungkin kalau Pak Dian mau mengedit dan menambahi sedikit essay pada bagian "FOKUSLAH", tulisan ini cukup bagus untuk dimuat di majalah Intisari, atau media lain yang menyediakan ruang untuk essay-essay pendek bertema motivasi.

Bagaimana menurut kalian? Ayo berbagi apresiasi! =)

Cherio

Mizuki-Arjuneko


Profil Penulis:

Pak Dian dengan kelinci-kelincinya
Nur Muhammadian atau yang lebih dikenal sebagai "Pak Dian" (nama beken beliau saat di FLP Malang) adalah lulusan dari Universitas Brawijaya tahun 1994. Pernah bekerja sebagai core engineer di perusahaan telekomunikasi Indosat. Pak Dian bergabung dalam keluarga besar FLP pada tahun 2008. Awalnya saat FLP UM membuka Writing School selama 3 bulan. Dan sejak saat itu, Pak Dian pun sering menjadi tempat curhatan para pengurus FLP UM (kemudian FLP Malang), karena ke-cool-annya dan sudut pandangnya yang menarik dalam melihat setiap permasalahannya (cieee...). 

Pendek kata, Pak Dian enak banget deh kalau diajak diskusi. Sekarang Pak Dian memilih untuk berwirausaha membuka peternakan kelinci. Tulisan-tulisan beliau yang tidak kalah oke dengan yang di atas dapat langsung diakses di blog beliau di: http://nmdian.wordpress.com/

Yuk Bareng-Bareng Belajar STORYTELLING

story telling

Tips ini sebenarnya ditulis oleh Sweta Kartika (komikus lokal) untuk komunitas Samsung Galaxy. Cuma di sini disesuaikan dikit, sehingga tips yang tadinya buat komik, bisa diterapkan ke cerpen/novel.
Betewe aku nge-fans ama artis ini setelah ngikutin serial GREY and JINGGA. Premis ceritanya sederhana buanget. Gambarnya juga sederhana. Tapi karakternya kuat, penggambaran konflik batinnya juga mengena. Karena itu yang follow komiknya setiap Senin dan Kamis (jadwal publish komiknya kaya jadwal puasa sunnah huehehe) saat ini sudah ratusan. Karena pembaca banyak yang merasa kalau konflik tokoh-tokohnya itu pernah mereka alami juga hehehehe...
Kalau mau baca komiknya check this out: (click next kalau mau baca terusannya) 
Okeh, ini dia tips dari Sweta Kartika (yang udah diadaptasi dikit. Duikit XD)

Suka banyak orang yang galau gara-gara pengen nulis tapi ngerasa kalau nggak pandai bikin cerita. Pendapat ini bertahan selama bertahun-tahun sampai-sampai kalau berasa udah bisa bikin cerita keren terus lulus jadi penulis. Atau sebaliknya, yang ga punya cerita keren terus gagal jadi penulis. Ngga se-simple itu. Nulis itu ada dua poin yang harus dipenuhi: 1. Cerita, dan 2. Penceritaan (storytelling). 
  
Apa itu storytelling? 
Sederhananya, storytelling adalah teknik atau kemampuan untuk menceritakan sebuah kisah, pengaturan adegan, event, dan juga dialog. Kalau di film, para film maker bersenjatakan kamera; di komik, para komikus bersenjatakan gambar dan angle cerita; di cerpen atau novel, para penulis bersenjatakan pena, diksi, dan permainan kata serta deskripsi.

Kenapa storytelling penting?
Sering liat kan ada cerita yang idenya sekilas bagus, spektakuler, pokoknya ajib dah, tapi setelah diikutin ternyata kita malah ngga ngerti isi ceritanya. Atau, ada novel/cerpen yang sebenarnya punya ide cerita yang keren, tapi menggambarkannya asal-asalan karena nggak tahu soal pacing, panelling, dan permainan angle (ini sebenarnya istilah buat komik, Neko masih belum nemu pengganti yang pas buat nulis cerita. Ada yang bisa bantu?). Storytelling adalah langkah untuk meramu cerita supaya menarik untuk diceritakan, sehingga ketika proses menggambarkannya ke dalam lembar kertas dapat lebih proporsional.

Berikut ini ada beberapa tips buat bisa jago storytelling.
  1. Kalau kita punya cerita, pastikan kita paham betul alur ceritanya dengan baik. Sederhananya, kita tahu seperti apa awalnya, bagaimana pengembangan alurnya, dan terakhir kita tahu cara mengakhirinya.
      
  2. Sesudah kita pahami isi cerita, coba putar-putar terus ceritanya di kepala, sampai kita tahu, bagian mana yang seharusnya paling banyak kita ceritakan, bagian mana yang seharusnya TIDAK PERLU kita sampaikan, dll. (Asas manfaat ternyata berlaku juga dalam membuat tulisan ehehehe)
     
  3. Ketika kita memahami porsi cerita, kita jadi bisa membayangkan adegan-adegan di dalam cerita itu, jadi terbayang seperti apa penempatan visualisasinya di dalam bab-bab novel/cerpen. Misalnya, ada adegan ketika tokoh ikhwan yang berjanji akan menikahi seorang akhwat di tengah rinai gerimis, setelah ikut pengajian bersama di malam Sabtu*

    *catatan: huahahahah! Mas Sweta Kartika aslinya makai adegan contoh cowok yang nembak cewek. Tapi biar lebih "Islami", Neko ganti adegannya jadi "semi syari'ah" XD
    Para komikus atau film maker akan terbayang untuk menggambarkan adegan dengan menempatkan pada panel panjang dengan angle 'bird view' (sudut pandang atas) dan long shot (pengambilan gambar jarak jauh), menampakkan kedua sejoli itu tengah berhadapan di bawah temaram lampu jalan (agar lebih Islami, Neko tambahkan adegan sang Murrobbi yang datang sambil berkecak pinggang! Huahahh...lha? Kok jadinya malah komedi? XD)

    Itu kalau pakai kamera dan gambar. Sebagai penulis, kita akan mendeskripsikan rintik hujan yang turun terdengar melodis, nuansa temaram yang romantis, degupan si ikhwan saat mengucapkan janji, suaranya halus dan berat terdengar malu-malu tapi berusaha terlihat tegar, wajah si akhwat yang bersemu, pandangannya yang ditundukkan, secercah harapan indah akan masa depan muncul, tergantung permainan sudut pandang mungkin penulis akan menambahkan isi kepala atau hati dua insan ini saat adegan terjadi. Trus kalau mau jadi komedi ya...ditambahkan adegan sang Murrobbi yang datang sambil berkecak pinggang itu huahahah... (udah cukup syariah ga ini? Pusing ngadaptasinya euy. Tapi ini contoh penggambaran adegan paling mudah dan mengena di hati kalian kan???  Iya kaaan? Ngaku deh! XD)

    Lebih singkatnya Neko sering menyebutkan hal ini sebagai cinematic visual writing. Menggambar film di atas kertas. Menulis dengan membayangkan adegan seolah terjadi dalam film atau komik.
      
  4. Terakhir, barulah kita menggambarkannya ke dalam lembar kertas.Di sini Neko lebih memilih istilah asli yang digunakan oleh Sweta Kartika, yaitu "menggambar" daripada "menulis". Ya, karena sebagai penulis kita nggak sekedar menulis, tapi "menggambar" adegan dengan aksara dan kata.
Nggak cuma komikus dan film maker, penulis juga orang yang paling jago untuk berpikir secara visual. Malah kadang kita harus berpikir secara audio dan kinestetik juga. Karena senjata kita cuma aksara dan kata, beda dengan gambar dan video yang bisa menampilkan adegan secara nyata di depan mata. Syukur kalau ada ilustrasi yang memudahkan pembaca memahami isi cerita. Kalau nggak ada berarti visualisasi cerita kita harus lebih kuat lagi agar bisa memancing imajinasi pembaca mengikuti cerita kita.

So, kalau mau jago nulis, jangan cuma kerja keras latihan nulis (apalagi latihan bikin status *PLAK!), tapi juga sering-seringlah berimajinasi, membayangkan adegan-adegan di dalam sebuah cerita, termasuk cerita pengalaman hidup kita sendiri untuk bisa dijadikan bahan menulis. Semua orang punya cerita kehidupan yang menarik. Dunia ini sendiri penuh dengan hal-hal yang menarik. Kita sendiri juga semuanya adalah orang-orang yang menarik yang selalu dikelilingi hal-hal yang menarik. Dengan mengembangkan pemikiran seperti ini, insyaallah ide-ide akan selalu bertebaran di sekeliling kita. Kita pun jadi lebih optimis dalam memandang kehidupan.

Kita bisa berlatih menghidupkan karakter dengan "mengajaknya bicara". Misalnya kalau karakternya begini, gaya bicaranya seperti apa ya? Kalau pekerjaan dan latar pendidikannya begitu, bagaimana sikap dan caranya dalam menyelesaikan/menghadapi masalah? Kira-kira dia suka makanan pedas nggak? Apa yang dia suka? Apa yang dia benci? Apa motivasi, mimpi, serta cita-citanya? Bagaimana cara berpakaiannya? Cara berjalannya? Suaranya? Warna matanya? Untuk penggambaran karakter yang kuat ini, bisa dicari tips menulis dari GOLA GONG, ketika dia menceritakan proses kreatif pembuatan cerita BALADA SI ROY.
Neko sendiri biasanya kalau bikin cerita berbasis karakter, jadi yang Neko lakukan biasanya ya menggambar karakter Neko, juga mengumpulkan "quote-quote" menarik yang bisa jadi dialog dia nanti. Soalnya karakter yang berbeda, cara ngomongnya juga beda kan?


Tapi ada juga cerita yang karakternya biasa, tapi tetap disukai karena cerita dan plotnya kuat. Ada juga cerita yang mengandalkan setting mendetail sehingga seolah mengajak pembaca jalan-jalan ke tempat-tempat eksotis. Ada yang berbasis pada konflik yang sedang hot atau in. Ada juga yang menonjolkan ide cerita gila, yang bikin pembaca terperangah setiap kali membacanya (yang penting heboh). Juga, banyak yang lebih menonjolkan permainan kata dan diksi super puitis plus menghanyutkan.

Yah masing-masing penulis punya jurus dan senjata andalan lah. 

"Comic is NOT about good artworking. Comic is about GOOD storytelling" -ComicSense
kalau diadaptasi untuk menulis, istilah mungkin begini ya:

"Writing is NOT about good writing, Writing is about GOOD storytelling"

(someone said this to me: "We.Sense.Art.Not.Think.About.It" >_< *DOR!

Oleh : Harlem Ai Mizuki

Bedah Karya di Car Free Day

Halo semua... akhir pekan mau kemana nih? (kepo...lol)

Kita mau ada acara loh besok minggu. Bertempat di Car Free Day (CFD) jam 06.30 kita akan buka stand di sana. Eh tau kan apa itu CFD? itu loh yang biasanya di kota-kota besar yang satu jalan utama ditutup untuk kendaraan bermotor, supaya bisa merasakan enaknya jalan yang nggak macet dan sejuk.

Nah, apa aja sih yang akan kita lakukan? Sesuai judul tentulah bedah karya. Karya kali ini yang dibedah adalah puisi dari bunda Helvi Tiana Rosa. Dan kita juga bakal jualan buku-buku karya FLP Malang, pastinya full diskon. Bagi kamu yang ngefans sama penulis ngetop di FLP Malang juga bisa minta tanda tangan dan ngobrol langsung di sana. Asyiik kan?

So... See you there... :)

CARA WOW JADI PENULIS DAN PENYIAR

CARA WOW JADI PENULIS DAN PENYIAR
Mau tau caranya jadi PENULIS yang KREATIF tanpa menunggu mood baik datang?
Atau pengen membangkitkan imajinasi biar tembus media?
Hm...kalau jadi PENYIAR yang baik gimana ya caranya?

Ikuti... workshop "CARA WOW JADI PENULIS DAN PENYIAR"

Materi yang akan kamu dapatkan antara lain:

Writing on The Spot - Malang Islamic Expo 2013

Writing on The Spot
FLP Malang mengadakan lomba menulis on the spot dalam rangkaian acara Malang Islamic Expo 2013.

Pendaftaran lomba : 16 Januari - 1 Februari 2013
Pelaksanaan lomba : 3 Februari 2013
Pukul : 13.00 - 15.00 WIB
Tempat : Aula Skodam V Brawijaya (Bundaran Tugu), Malang

Ketentuan Lomba :
1. Membuat cerpen dengan mengkolaborasikan karakter tokoh yang ada di dalam kumpulan cerpen Perempuan Merah Lelaki Haru.
2. Karakter tokoh dikolaborasikan dari dua judul cerpen sebagai berikut:
     a. Gelar di Atas Batu Nisan
     b. Lelaki dan Haru
     c. Laptop Tahun Baru
     d. Sepenggal Janji
     e. Bunddu
3. Penulisan bersifat on the spot (ditulis secara langsung di tempat).
4. Lomba dimulai pukul 13.00 WIB, peserta harus datang tepat waktu.
5. Kertas disediakan panitia.
6. Dilarang membawa salinan / contekan ditempat lomba.

Kriteria Penilaian :
1. EYD
2. Kreatifitas ide
3. Kesesuaian karakter
4. Pesan/amanah cerita

Pendaftaran bisa dilakukan dengan cara :
Ketik DAFTAR PMLH (spasi) NAMA (spasi) JENIS KELAMIN, kirim ke 085 649 789 099.


Hadiah untuk masing-masing pemenang :
- Paket wardah sebesar Rp 150.000,-
- Paket buku sebesar Rp 40.000,-
- Pulsa all operator sebesar Rp 100.000,-
- Kaos My Stupid Theory

NB : Bagi yang berminat pembeli kumpulan cerita Perempuan Merah Lelaki Haru dapat menghubungi 085 649 505 617 (Fauziah)

CP Lomba :
Ummu : 085 249 26 23 20
Intan : 085 649 789 099


1

Writing Camp se-Jatim

Writing Camp
Tahun 2009, Alhamdulillah FLP Malang mendapat kepercayaan untuk menjadi tuan rumah Writing Camp se-Jatim di Villa Hidayatullah Yang menjadi latar belakang kegiatan ini adalah:  

“Forum Lingkar Pena adalah hadiah dari Tuhan untuk bangsa Indonesia”. Begitulah kalimat yang terlontar dari budayawan Taufik Ismail dengan sepasang mata berkaca-kaca, ketika menyampaikan sambutan dalam Silnas FLP di Jakarta, tahun 2002 yang lalu. Apa yang beliau ucapkan barangkali tidak berlebihan. Di tengah bombardir media sekuler yang dengan kencangnya mengacak-acak moral bangsa, barisan penulis muda yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena berhasil menghembuskan angin segar dengan karya-karya yang mencerahkan. Ratusan buku telah diluncurkan, yang semuanya adalah karya-karya yang mengandung edukasi yang kental.
Forum Lingkar Pena (FLP) adalah sebuah organisasi yang berdiri sejak 22 Februari 1997. Setelah dua belas tahun berdiri, organisasi yang bertekad untuk mencetak penulis baru sebanyak-banyaknya ini telah beranggotakan 8000 orang yang berasal dari 100 kota di seluruh Indonesia dan mancanegara, serta telah menerbitkan 1000 buku serta bekerja sama dengan lebih dari 40 penerbit di Indonesia.
Dari sekian banyak anggota tersebut, 500 diantaranya menulis secara aktif di berbagai media massa serta berusaha membina 4500 anggota FLP lainnya untuk menjadi penulis pula. FLP cabang Malang adalah salah satu darah daging dari keluarga besar FLP yang tak pernah lelah untuk membina anggotanya agar terus berbakti, berkarya, dan berarti bagi masyarakat Indonesia melalui tulisan-tulisan yang mencerahkan. Sudah banyak kegiatan yang dilakukan, di antaranya ada Writing Camp (perekrutan anggota baru), Sekolah Menulis, penerbitan buku, pelatihan untuk anggota, dan sebagainya. Salah satu agenda rutin FLP yang setiap tahun diadakan adalah Writing Camp. Hal ini bertujuan untuk menambah anggota, mencari bibit-bibit penulis baru, memperkokoh silaturahmi antar anggota, membulatkan tekad untuk bersama-sama menciptakan karya yang bermanfaat untuk umat. Dan berdasarkan hasil Musyawarah Wilayah (Muswil) tahun 2008 di Blitar, maka tahun 2009 ini FLP cabang Malang mendapat amanat sebagai tuan rumah Writing Camp se-Jawa Timur
Panitia Writing Camp
Sesi Makan-makan
Peserta Writing Camp
Sesi Menulis
Ga Narsis, Ga Seru!
Senam Sehat


Photoholic...
.