Showing posts with label Bedah karya. Show all posts
Showing posts with label Bedah karya. Show all posts

Bedah Karya: Trigger Menulis FLP MALANG

Bedah Karya: Trigger Menulis FLP MALANG

Pertemuan seminggu sekali ini tetap kita adakan untuk saling sharing hasil belajar per individu anggota kita. Ya namanya juga membaca, atau menulis. Pasti dilakukan secara individu. Gak ada kan membaca dan atau menulis dilakukan secara rame-rame. Yang kayak gitu kan namanya deklamasi, or reading aloud, yang taste-nya pasti jauh banget lah sama silent reading, apalagi writing. Seperti yang dibilang para bijak: writing is a lonely profession. Dan begitu pula lah membaca. Apalagi membaca hati. Eaa! Bedah Karya: Trigger Menulis FLP MALANG


Atmosfer Liburan Ramadhan dan Syawal 1437 H

Bulan Juni-Juli ini banyak libur kita. Tapi semoga dalam libur pun tetap sakaw menulis ya. Minggu-minggu awal Ramadhan kita tetap membedah, mengritisi karya-karya anggota. Pertengahan Syawal udah mulai balik ke Malang, jadilah kita kopdar lagi. Sesekali kita eksplorasi ke karya-karya populer dunia atau lokal. Kadang kita bahas cerpen-cerpen yang ada di koran-koran nasional dan regional, kadang kita ambil cerpen-cerpen atau kumpulan puisi atau artikel penulis/penyair terkenal. Kadang kita tiba-tiba aja bahas tulisan di koran yang iseng dibawa Ain Nur, sang ratu angkot yang komitmennya luar biasa pada jadual dan angkot. Alhamdulillah, semua menambah wawasan dan ketrampilan menulis anggota FLP Malang. And hopefully, bisa semakin meningkat khazanah kebahasaan, wawasan, dan jam terbang membaca dan menulis kita.

Target yang Seolah-olah Gak Ambisius

FLP Malang mah gak muluk-muluk sekarang ini. Cuma pengen bikin anggotanya makin sering menulis, makin banyak membaca. Gitu aja. Saking gak muluk-muluknya, sampe kita jarang keluar kecuali diundang. Sok seleb banget sih, Kak?! Hadeuh bukaaan. Kita cuma pertapa wanna be. (Peace, browh)

Sering diomongin di luar bahwa kita kurang gaul. Yaa tak apa lah. Biasanya kutu-kutu buku emang gitu kan. Gak keren, gak gaul, gak banget. Gaulnya sama buku, sesekali aja sama makhluk hidup. Aw aw aw! (Tolong jangan ditimpuk, kecuali pake duit hasil menang lomba or honor menulis. Ahaha aminin aja dah.)

Kata Bruce Lee, dia lebih takut pada orang yang latihan satu jenis tendangan sampe seribu kali, daripada pada orang yang belajar seribu tendangan masing-masing sekali doang. Dan biasanya padi itu semakin berisi makin merunduk lah ia. Jadi yaa biasa aja lah. Kalo jalan terlalu tegak dan mendongak, nanti kesandung batu, Kawan. Membaca dan menulis itu pekerjaan sepi, jadi kita memang tak perlu ribut. Diam itu emas, insyaAllah. :)

Dan di antara orang-orang pendiam dan karya-karya mereka yang kita bedah di FLP Malang, ada di bawah ini nih:

01 Mei 2016 - Puisi-puisi Farah; Pemimpin yang Memimpin (Qonita)
08 Mei 2016 - Sajak-sajak Emokata M. Thaib Rizki; Fir'aun, Tuhan, dan Aku (Fino)
15 Mei 2016 - Dongeng-dongeng Iona (Firda); Puisi-puisi Nana Perdanastuti
29 Mei 2016 - Laut (Lita Lestianti); Kinan (Danang Kawantoro)
05 Juni 2016 - Tangan-tangan Hitam (Puput); Ayah (Muchtar); Mata Badik Mata Puisi Zawawi Imron
18 Juni 2016 - (Bukber man!)
12 Juli 2016  - (Silaturrahim ke pembina, halal bi halal)
17 Juli 2016  - Nir Val (Wulan)














Agenda Iseng yang Kita Lakukan di FLP Malang

Kadang kita suka bikin-bikin skenario pendek, kadang kita pergi karaoke juga. Kadang iseng-iseng bikin film pendek. Ide-ide sederhana aja, gak perlu njlimet. Gara-gara Molly, Puput, dan Mashdar ini awalnya. Beberapa potongan iseng yang eman-eman dibuang, monggo dipun enjoy mawon...




Eh ada lagi video yang dipesen sama FLP Jatim, baru sempet di-upload nih, sowwy lambat di-upload, guys. ^^v


Jigsaw dan Beringin - Memperdalam Sebuah Karya



21 Februari 2016.

Agenda rutin yang kita laksanakan di emperan UIN, bedah karya. Dalam bedah karya ini selalu, bisa dipastikan, akan banyak ide baru. Beberapa alasannya karena ingin membuat sejarah dalam dunia literasi, sebagian lagi iseng-iseng saja.

Teknik Jigsaw

Begitu pula pekan kemarin. Salah satunya adalah ide iseng dari S. Laika. Bernama teknik jigsaw. Aslinya teknik ini berasal dari dunia pendidikan. Mengacak-acak ide atau paragraf, untuk mengasah otak atau memperoleh struktur baru yang lebih menarik. Dan S. Laika melakukan ide ini ke dalam cerpennya.

Jadi, kita diharuskan menyusun cerpen yang sudah dipotong-potong tiap paragrafnya. Yang nantinya bisa jadi membentuk struktur cerpen baru. Kita bisa mengubah alur waktunya, agar mendapatkan plot baru, bisa juga membuat twist yang lebih mengena ke pembaca.


Teknik ini sangat bagus untuk brainstorming. Kita akan mengenal lebih dalam bagaimana cara membuka cerpen yang bagus dan membuat twist yang semakin membuat pembaca semangat membaca. Coba deh kalian praktekkan sendiri. Acak-acak cerpen kalian!

Tapi, kalau kalian ingin membahas di forum dengan teknik ini. Jangan sampai di luar ruangan ya! apalagi pas hujan angin gitu. Bisa-bisa potongan-potongan cerpenmu kabur semua. Gak jadi dibahas deh. Macam bedah karya kita kemarin, pengendali angin lagi ngamuk.

Analogi Sepohon Beringin

Setelah membaca cerpen dari S. Laika kita lanjut membahas cerpen Kak Zie. Berkisah tentang pohon-pohon yang tak tau terima kasih. Menariknya cerpen ini karena membahas cara hidup pohon beringin. Oh iya, bagaimana Zie bisa menuliskannya? Tentu lewat riset dong. Hal paling pertama yang harus dilakukan siapapun yang ingin berkarya. Riset!


Hingga akhirnya dia bisa menemukan alur hidup pohon beringin, dan menceritakannya ke dalam cerpen. Setelah membaca cerita ini, kita akhirnya juga tau bahwa pohon beringin itu nemplok dan makan dari pohon lain, seperti parasit.

Ada dua poin utama yang bisa kita pelajarin dari bedah cerpen kedua ini.


Analogi

Kita bisa mengisahkan sesuatu dengan menganalogikan dengan hal lain yang dunianya sangat berbeda. Cara ini biasanya lebih memudahkan pembaca memahami kisah. Sekaligus menambah cantik tatanan sebuah cerpen.

Contohnya, Zie menggambarkan konflik di pemerintahan dengan pertumbuhan pohon beringin.


Diksi

Pelajaran kedua adalah bagaimana kita membuat kalimat atau kata kita lebih manis. Yaitu diksi, memilih kata yang pas untuk mempercantik serta membuat karya semakin enak dibaca.

Kata-kata seperti melata, senja keemasan, yang jarang digunakan kadang akan mempercantik karya. Akan tetapi seperti kopi. Kadang kopi itu jika isinya hanya gula semua, maka aroma dan rasa kopinya tak akan muncul secara maksimal. Malah lebih cocok jika tanpa pemanis.

Begitu juga cerpen. Ada beberapa cerpen yang malah harus menggunakan kata-kata sederhana sehari-hari. Karena memang topik dan alurnya sudah sangat bagus. Akan hilang rasanya jika ditambah pemanis lagi.

Tapi ada juga cerpen yang memang butuh beberapa diksi untuk menghaluskannya. Seperti kopi-kopi putih, seperti moccachino atau machiato.

Bagaimana? Tertarik ikut? Datang saja minggu depan jam 13.00 di UIN. Ada cerpen yang lebih menarik lagi yang menunggu dibabat sampai ke akar-akarnya.

Membedah Cerita Rakyat, Menyambut Lomba Menulis Cerita Rakyat oleh Kemendikbud

Bedah karya di FLP Cabang Malang kali ini membahas cerpen Fauziah Rachmawati tentang Ken Dedes, Anusapati, Ken Arok, Tunggul Ametung, dan sebagainya (gak perlu ditulis semua, saking banyaknya nama tokoh dalam cerpen ini). Zie menulis cerpen ini untuk warming up lomba menulis cerita rakyat dari kemendikbud yang deadline-nya 20 Agustus 2015.

Dalam cerpennya yang ke sekian ini, akhirnya kami menjumpai literature leap oleh Zie: beberapa paragraf dalam cerita ini mulai puitis, liris, dan dramatis. Rasa bahasa yang dikenakan untuk menghias paragraf-paragraf itu semacam lamis dan sedikit magis. Halah. Hihi. Tapi iyes, Zie sepertinya mulai bereksperimen dengan deskripsi dan diksi. Awesome!

(DAS FICTION) The Legend of MIAMI: Lost of Civilization

Minggu, tanggal 22 September 2013, FLP Malang kembali menggelar acara bedah karya anggota. Kali ini karya yang beruntung untuk dibedah adalah: The Legend of Miami (Lost of Civilization), karya Jihan Eria Javanica.  Karya kali ini termasuk istimewa dan beda dari karya-karya yang pernah dibedah divisi sebelumnya. Jika anggota FLP Malang yang lain lebih banyak fokus kepada genre drama, Jihan membawa kesegaran dengan menyodorkan karya bergenre fiksi fantasi! Dari judulnya saja sudah terlihat megah kan :)

Yeah! Karya yang akan Anda baca ini memiliki genre yang sama dengan serial Percy Jackson, Harry Potter, dan kawan-kawannya. Tentunya dengan polesan dan asahan di sana-sini, Neko yakin di masa depan Jihan akan menjadi salah satu penulis karya fiksi fantasi untuk remaja dan anak-anak yang diperhitungkan di tanah air. Yak seperti apa sih karyanya? Just check it out! ;)

The Legend of MIAMI
(lost of civilization)

oleh: Jihan Eria Javanica

“Em... apa mungkin semua ini adalah sebuah anugerah? atau malah kutukan? atau mungkin keduanya?”, gumam Nico dengan serius mengamati satu persatu simbol-simbol yang tertera pada prasasti-prasasti kuno.
Di ruang 7x6 meter itu, sudah hampir satu bulan Nico berada disana, memerhatikan tiap detil prasasti-prasasti kuno yang telah Ia temukan satu bulan yang lalu.  Ya, memang benar, cowok berwajah ketimuran yang sebentar lagi berusia 20 tahun itu adalah penggila sejarah. Bahkan teman-temannya memeberi julukan ‘History Zombie’ kepadanya. Nico tidak akan berhenti sebelum ia mendapatkan apa yang dia mau. Nico selalu mendengungkan prinsip “Sebelum ajal pantang mati”.
“Ya!!! aku tahu arti semua ini, ini adalah sebuah cerita kuno berabad-abad yang lalu, sebuah cerita yang terlupakan dan hilang terbawa masa”, teriak girang Nico. “Kalau begitu aku akan mulai membaca prasasti-prasasti ini dari awal”. Dengan penuh semangat dan rasa ingin tahu yang luar biasa, Nico mulai membacanya.
Ini adalah sebuah cerita yang sudah tertidur lama. Jangan kau bangunkan, karena ia akan selalu mengusikmu, tapi jangan kau biarkan tertidur terlalu lama karena ia adalah kunci rahasia dari semua rahasia yang belum pernah terpecahkan. “Em... apa maksudnya ya? apa mungkin ini adalah sebuah peringatan? atau kebenaran yang belum terungkap?”, berjuta pertanyan telah menggeliat didalam otak Nico. “Baiklah, aku akan teruskan membacanya, gayung tersambut kata terjawab!!”.
***
Berawal dari sebuah peradaban mesir kuno yang bernama Miami, awal mula dari semua peradaban. Mereka adalah peradaban yang makmur, sangat kuat, dan berjaya pada masanya. Dikatakan peradaban Miami, karena mereka memiliki sebuah batu mulia yang mempunyai kekuatan sangat dahsyat dan mereka menyebutnya batu Miami. Batu itu menjadi pondasi dari peradaban mereka. Batu Miami dipegang secara turun-temurun oleh raja karena hanya raja dan keturunannyalah yang bisa menggunakan batu itu. Pada saat itu peradaban Miami dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama raja Zertus III, dan rakyat yang sangat menghormati raja. Mereka percaya bahwa raja adalah titisan dewa, menurut mereka melawan raja sama dengan melawan dewa. Peradaban Miami sangat memercayai kekuatan magis, dan kekuatan magis terbesar ada ditangan raja dan batu Miami.
Seiring berjalannya waktu, ketentraman masyarakat Miami mulai terusik, ketika bermunculan pemberontak-pemberontak yang menginginkan batu Miami. Diantara pemberontak yang paling kuat berasal dari partai Ordoks dan partai Nahoa, akan tetapi penumpasan yang paling besar adalah melawan pemberontak dari partai Nahoa. Meskipun partai itu dipimpin oleh seorang wanita, tapi penumpasannya terjadi selama berbulan-bulan. Dan akhirnya dengan bantuan batu Miami, Nahoa dapat dikalahkan dengan membunuh pemimpin mereka dan menggantung kepalanya di alun-alun kota. Tapi bukan berarti batu Miami sudah aman. Yang pasti, ada gula ada semut.
Negeri Miami makmur kembali. Seperti biasa, raja Zertus III duduk diatas singgasananya yang sangat megah dan indah, dan dengan segala wibawa yang dimilikinya raja Zertus III memerintah. Pada saat raja Zertus III sedang mendiskusikan kemenangan menumpas pemberontak dengan para mentri, tiba-tiba datanglah seorang dari kaum pengerajin yang ingin menghadap.
“Hormat hamba pada yang mulia”, kata gadis cantik itu dengan lembut.
“Ada apa gerangan kau kesini?”, tanya raja Zertus III.
“Ampuni hamba yang mulia, hamba hendak meminta keadilan kepada yang mulia”. “Keadilan?? coba ceritakan apa yang membuatmu merasa terdholimi di negeriku ini? dan bukankah kau dari kaum pengerajin?”.
“Benar yang mulia, hamba dari kaum pengerajin. Maafkan hamba jika hamba lancang dan berani menghadap yang mulia. 5 terang yang lalu kaum pengerajin di desa kami disiksa habis-habisan oleh kaum bangsawan karena tidak membayar pajak”, jawab gadis itu dengan suara khas lembutnya.
“Bukankah itu sudah menjadi kewajiban kalian?, lalu apa yang membuat kalian meresa tidak adil?”.
 “Beribu-ribu maaf yang mulia, tapi sudah 4 purnama ini kaum bangsawan menetapkan pajak 7 kali lipat lebih besar dari biasanya, dan jika kami tidak membayar atau melaporkannya kepada yang mulia mereka tidak segan-segan menganiaya bahkan membunuh kami”, tutur gadis itu.
“Apa?!! apa yang kau katakan itu benar?”.
“Mana mungkin hamba berbohong, hamba tidak berani yang mulia”.
“Lancang!! sungguh lancang! beraninya mereka melangkahiku!. Baiklah, aku akan mengurusnya dan jika perkataanmu benar, aku akan menghukum mereka. Dan jika diperlukan aku akan memenggal kepala mereka untuk kalian, agar ini semua menjadi pelajaran untuk yang lainnya. Dan untukmu, karena keberanianmu aku akan memberikanmu hadiah”, titah raja Zertus III.
“Hormatku pada yang mulia, terima kasih yang mulia, yang mulia sungguh bijaksana, hamba akan mengabarkan berita baik ini kepada saudara-saudara hamba”.
***
Setelah kejadian itu, diam-diam raja Zertus III menaruh hati kepada gadis pengerajin itu.
“Hm.. sebenarnya siapa gadis itu? dia begitu cantik dan kelihatannya dia juga pintar, berani, dan  jujur. Sungguh sosok yang sempurna. Mungkin negeri ini membutuhkan dia untuk membawa kejayaann dan untuk melindungi batu Miami”, batin raja Zertus III.
Keesokan harinya raja Zertus III mengeluarkan titahnya untuk memanggil gadis pengerajin itu. Raja Zertus III menganugerahkan keagungan raja pada gadis itu dengan menjadikannya selir. Awalnya para mentri tidak setuju dengan keputusan tersebut, karena gadis itu berasal dari kasta rendah, akan tetapi apa boleh buat, dalam peraturan kerajaan, mentri tidak boleh ikut campur dengan urusan rumah tangga raja.
Pada  saat gadis itu menemui raja, gadis itu terlihat cemas karena dia tidak tahu kenapa raja Zertus III memanggilnya.
“Nama kamu siapa?”, tanya raja Zertus III.
“Nama hamba Delindra yang mulia. Maaf yang mulia apakah hamba berbuat salah?”, jawab gadis itu dengan gugup.
“Oh.. Delindra, tentu tidak. Aku mempunyai sesuatu untukmu. Hakim.. tolong berikan titahku padanya”.
Hakim membacakan titah raja Zertus III pada Delindra, alangkah terkejutnya saat Delindra mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
 “Maafkan hamba atas kelancangan hamba yang mulia, hamba tidak pantas menerima semua ini. Hamba hanya kaum pengerajin berkasta rendah. Bahkan menginjakkan kaki di istana ini saja hamba tidak pantas. Maafkan hamba yang mulia”, pinta Delindra.
 “Tidak Delindra, aku tidak pernah memandang seperti itu, aku memilihmu karena kau memang pantas. Negeri ini membutuhkan orang berani dan jujur sepertimu untuk melindungi negeri ini dan batu Miami”. “Angkat kepalamu Delindra”, pinta raja Zertus III.
Saat Delindra mengangkat kepalanya, raja Zertus III seperti teringat sesuatu.
“Delindra, apakah kita pernah bertemu sebelumnya? sepertinya wajahmu tidak asing bagiku”.
 “Ampun yang mulia, mana mungkin orang seperti hamba ini pernah bertemu dengan yang mulia”, jawab Delindra dengan sangat cemas.
 “Ya, mungkin kau benar. Kalau begitu aku akan meminta para mentri untuk mempersiapkan upacara penobatan dengan segera”.
***
Sejak saat itu, Delindra diangkat menjadi selir raja Zertus III dan menjadi satu-satunya wanita kesayangan raja Zertus III dan namanya berubah menjadi Zura. Seperti yang dikatakan raja Zertus III setelah kedatangan selir Zura, peradaban Miami semakin berjaya dan wilayah kekuasaannya semakin meluas. Selir Zura sangat dicintai dan disegani oleh rakyat, karena menurut mereka selir Zura membawa keberuntungan.
Dalam balutan sinar bulan yang bulat, raja Zertus III dan selir Zura terlihat berbincang-bincang di tempat peristirahatan mereka.
“Aku memang tidak salah memilihmu selirku, kau bukan hanya cantik tetapi kau begitu pintar dan jujur, juga berani, akan tetapi terlepas dari semua itu tutur kata lembutmulah yang membuat aku sangat mencintaimu”, kata raja Zertus III.
“Ah.. jangan seperti itu yang mulia. Aku sudah berjanji akan selalu melayani yang mulia sampai maut memisahkan kita”, bisik lembut selir Zura.
 “Malam ini bulan bersinar bulat dengan sempurna, akan tetapi sinar bulan tak akan sanggup mengalahkan cahaya kecantikanmu selirku, karena kau memang bagai emas baru disepuh, ya malam ini adalah malam purnama tapi entah mengapa aku merasa malam purnama ini adalah malam yang terindah dalam seumur hidupku, mungkin ini semua karenamu selirku”.
Tiba-tiba selir Zura teringat sesuatu.
“Ini sudah saatnya”, gumam selir Zura.
 “Apa kau berkata sesuatu selirku?”,
”Ah.. tidak ada apa-apa, maksudku yang mulia terlalu berlebihan menilaiku, aku tidak sehebat itu”.
 “Tidak, aku bersungguh-sungguh, semua yang aku peroleh saat ini adalah karenamu, justru aku malah keterlaluan jika tidak memujimu”.
 “Yang mulia, apa aku boleh bertanya sesuatu?”, rayu selir Zura.
“Ya, tentu saja.. Apapun itu”, jawab raja Zertus III dengan antusias.
“Kenapa batu Miami sangat diinginkan oleh semua orang? bukankah itu milik yang mulia? lagi pula hanya yang mulia dan keturunan yang mulia yang bisa menggunakannya”.
 “Batu Miami memiliki kekuatan yang sangat besar, bahkan melebihi kekuatan para dewa. Oleh kerena itu, banyak orang yang mengingnkannya untuk kepentingan mereka sendiri. Sebenarnya batu Miami bisa digunakan oleh selain aku dan keturunanku, asalkan aku dan keturunanku sudah mati tak tersisa. Batu Miami akan memilih tuannya yang baru. Dan sekarang aku sudah menyimpan batu Miami ketempat yang aman.. Aku teringat pertama kali aku mencoba kekuatan batu Miami, saat itu umurku genap 20 tahun. Dan ayahku mengatakan batu Miami dapat digunakan dengan maksimal jika seseorang sudah berusia 20 tahun”, tutur raja panjang lebar.
Dengan kerlingan cerdik, selir Zura berkata, “Apakah boleh selirmu ini melihat batu Miami itu yang mulia?”.
“Batu Miami? ya,, tentu saja boleh, dan seharusnya kau juga perlu mengetahuinya, sebab aku sangat mempercayaimu lebih dari apapun”.
Raja Zertus III mengambil sebuah kotak emas yang bertahtakan berlian, didalamnya terdapat sebuah batu yang terbungkus kain sutra kemudian raja Zertus III menunjukkan kehebatan batu Miami kepada selir Zura, selir Zura terperangah. Ternyata batu Miami lebih indah dari yang ia bayangkan, dan tentu saja aura magisnya sangat kuat. Batu itu berwarna keemasan dan jika disentuh, akan mengeluarkan seberkas cahaya berwarna biru dan hijau. Seketika itu selir Zura menampakkan perangai aslinya. Selir Zura merampas batu Miami itu dari tangan raja Zertus III dan menyerang raja Zertus III.
 “Selir Zura! ada apa denganmu?”.
“Akhirnya setelah penantian yang cukup panjang aku bisa merebut ini darimu, tapi sayang kau masih hidup dan sebentar lagi aku akan membunuhmu!”.
“Apa maksudmu? kenapa kau jadi seperti ini? ternyata selama ini kau hanya berpura-pura, sebenarnya kau muka licin ekor berkedal”.
 “Tidak!! kau salah! aku tidak membutuhkan semua ini. Aku hanya membalaskan dendam kakakku yang telah kau bunuh dengan keji dan kepalanya kau gantung di alun-alun kota”, sangkal selir Zura.
 “Jadi kau adalah adik dari pemimpin partai Nahoa?!. Dan ternyata kau bukan dari kaum penegerajin tapi kaum bangsawan. Ini semua kau yang atur. Sekarang aku mengerti kenapa saat pertama kali melihatmu aku seperti mengenalmu”, jelas raja Zertus III.
“Ya, kamu benar!. Semua ini adalah siasatku dan bersiaplah aku akan membunuhmu”.
Seketika itu terjadi pertempuran sengit antara raja Zertus III dan Delindra. Raja Zertus III tidak menyangka bahwa Delindra mempunyai kekuatan besar, bahkan bisa mengimbanginya.
Ditengah-tengah pertempuran, raja Zertus III berfikir, “kekuatan Delindra sangat besar, bahkan hampir dapat mengimbangiku, jika aku terus bertarung dengannya maka bukan tidak mungkin dia berhasil membunuhku dan merebut batu Miami”.
Akhirnya raja Zertus III memutuskan untuk membunuh Delindra dengan cara mengorbankan dirinya.
***
Berabad-abad tahun sudah berlalu, batu Miami hilang bersamaan dengan peradaban tersebut. Tidak ada yang tahu keberadaan batu Miami, ada yang mengatakan batu Miami ada bersama keturunan raja yang terpilih untuk melindungi batu Miami.
Saat melihat sebuah simbol yang menunjukkan gambar batu Miami, Nico teringat sesuatu.
 “Simbol batu ini seperti hadiah batu konyol yang diberikan nenek ketika ulang tahunku yang ke 17”. Nico terkejut, “Mungkinkah...??”.
Nico berlari dan mencoba menemukan batu yang diberikan oleh neneknya yang sudah ia biarkan disekitar kamarnya selama 3 tahun. Nico terus mencari batu itu di setiap sudut kamarnya, akan tetapi dia tidak menemukannya. Nico duduk bersandar ditempat tidurnya karena kelelahan, samar-samar Nico melihat seberkas sinar di kolong tempat tidurnya. Sinar itu berwarna biru dan hijau. Lalu Nico mendekatinya.
Nico membungkuk dan meraih batu itu. Tak disangka jam dinding berdentang menunjukkan pukul 24.00, dan sekarang Nico genap berusia 20 tahun. Nico tersadar dan angin kencang mulai berhembus, hujan mulai lebat dan petir menyambar. Nico langsung mengambil batu itu dan sekejap, suasana disekitarnya mulai berbeda.
Sinar yang keluar dari batu itu semakin terang dan memenuhi seisi rumahnya. Nico mengamati batu itu dengan teliti. Nico tersentak.

“Ini kan..!!! Berarti aku... Mana mungkin??”
TAMAT

Karya ini telah diterbitkan dalam Antologi FLP UIN berjudul BIANGLALA LAKON.


Total ada 35 karya dalam antologi yang cukup tebal ini. 
Antologi ini memuat cerpen-cerpen yang mengangkat beragam lakon kehidupan.
 Mulai isu sosial, kekerasan terhadap perempuan, fiksi-fantasi, hingga cinta. 
Dikemas dengan apik, kaya warna dan penuh makna. Sesuai dengan judulnya:

BIANGLALA  LAKON

Semuanya bisa Anda nikmati hanya dengan Rp 35.000,00. 
Terjangkau sekaligus bergizi bukan? Untuk pemesanan, hubungi:

Riza: 085755280243
atau

Jihan: 085852228986

Mengenai ongkos pengiriman, 

silahkan dibicarakan lebih lanjut dengan kedua Contact Person di atas :)





KERJA KERAS DAN SHARING BERBUAH PRESTASI



Sharing karya FLP Malang berbuah prestasi, salah satunya, cerpen “Perempuan Tanpa Mata” karya Ariska Puspita Anggraini. Akumulasi kemampuan menulis dan kegigihan Ariska melahirkan cerpen Juara Favorit Kategori C di Lomba Menulis Cerpen Remaja 2013.

Cerpen yang bercerita tentang perempuan buruk rupa akibat perkawinan sedarah ini pernah mampir sekali di program sharing karya. Pada sesi ini, Ariska jadi tahu celah kesalahan dalam karyanya sebelum dikirim ke penyelenggara lomba. “Saya juga jadi tahu bagaimana meng-counter budaya dalam cerpen,” ujarnya.

Usai di-sharing karya, Ariska bukan ongkang kaki tetapi merevisi naskahnya hingga  tiga kali.  Manjur, karya inipun bertemu jodohnya.

SERUNYA KOLABORASI

Sumber : Kompasiana

Kolaborasi? Humm… Seru nggak ya? Efektif nggak ya? Ribet nggak ya? Jawabannya: ya, ya, ya, dan iya! Buat penulis pemula, kolaborasi bisa jadi pilihan. Selain menantang, kita bakal ketemu momen lucu di dalamnya.

Apa saja sih manfaat kolaborasi? Berikut ekstraksinya.

1.       Motivasi
‘Uh, pengen jadi penuliiiss pengen jadi penulisss pengen jadi penuliiisssss….’ Tapi nggak nulis nulis! Atau, selalu meninggalkan tulisan setengah jadi sehingga nggak jadi-jadi. Itu pertanda bahwa kita perlu dorongan dari luar, salah satunya dari kolaborasi. Kenapa? Karena, pertama, dengan mengajak partner  atau menerima ajakan partner, berarti kita terikat janji, sedangkan janji adalah utang, dan utang harus dibayar,  kalo nggak bayar, dikejar debt collector, lhoooo? Intinya, beban moral akan mendorong kita untuk menulis.
Kedua, asik nggak sih kalau kita berasa jadi agen rahasia pembawa misi perubahan? Berasa jadi Tom Cruise dkk dalam Mission Imposible, bedanya, action kita lewat tulisan. Ini bisa tumbuh dalam diri jika kita mengemban visi-misi yang sama dengan partner. Inilah yang bisa menambah semangat menulis kita.
Ketiga, kita berada di posisi aman untuk menulis nantinya, karena, kita dan partner akan saling membantu dan mengingatkan. Banyak di antara kita yang gamang menulis karena takut salah atau tidak percaya diri dengan penguasaan teknik, namun dalam kolaborasi, kita akan saling melengkapi.
2.      Disiplin
Biasanya, penyakit akut penulis pemula ialah tidak disiplin! Dalam kolaborasi, kita akan menetapkan konsep, target, dan jadwal sehingga rute pengerjaan menjadi jelas dan tertata. Beban moral terhadap partner bisa mendorong kita untuk menepati jadwal tersebut. Beruntung lagi jika level kedisiplinan partner lebih tinggi sehingga kita terbawa arusnya.
3.      Mematangkan ide
Dalam kolaborasi, sebuah ide bisa berkembang. Ide-ide datang dari kepala dan sudut pandang berbeda. Dengan perbedaan wawasan dan pengalaman, kita dan partner akan saling menyempurnakan dan mengevaluasi ide sehingga menjadi lebih kreatif dan matang. Kadang, ada ide yang dirasa sudah brilian, tapi dari sudut pandang lain, ternyata ide tersebut tidak logis atau jadul.
4.      Lebih kaya
Semakin beragam latar belakang dan pengetahuan penulis, semakin kaya sebuah karya. Misalnya, kita bisa menulis karya dengan warna profesi atau daerah asal partner. Pengalaman perjalanan yang berbeda bisa memperkaya setting dan konflik dalam tulisan. Misalnya, kita adalah pelancong koper sedangkan partner adalah pelancong ransel atau pecinta alam.
Selain itu, kita bisa juga kaya dari sudut pandang. Misal, kita dan partner adalah laki-laki dan perempuan maka kita bisa menulis karya dengan dua sudut pandang tersebut. Atau, sudut pandang dari seorang remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, pemalu, tegas, dan lain-lain yang merupakan karakter kita atau partner.
5.      Banyak referensi
Pertama, referensi ide. Ide yang berbeda lahir dari wawasan dan pengalaman berbeda. Misal, partner mengetahui tentang gangguan psikologi tertentu sehingga bisa menjadi ide untuk meramu karakter dan konflik cerita. Contoh lain seperti isu pengurangan populasi manusia, daur ulang obat, penyalahgunaan frekuensi publik, dan lain-lain.
Kedua, referensi baik terkait teknik menulis maupun dunia dan tipe karya yang sedang ditulis. Kita dan partner bisa saling merekomendasikan buku apa yang perlu dibaca. Apalagi jika rekomendasi itu merupakan hasil membaca langsung sehingga tepat sasaran. Misalnya, rekomendasi buku meramu konflik, menciptakan karakter, buku dengan genre yang sama, atau buku terkait profesi  atau konflik yang akan ditulis, dan lain-lain.
6.      Saling melengkapi
Kolaborasi menyatukan berbagai kemampuan sehingga saling melengkapi. Dengan begitu, kolaborasi bisa menjadi ajang saling belajar. Misalnya, kita unggul dalam menciptakan konflik sedangkan partner unggul dalam menentukan ending. Atau, partner unggul dalam menentukan peristiwa, kita unggul dalam menciptakan proses agar peristiwa tersebut terjadi.

Waw, tertarik berkolaborasi? Eits, ketahui dulu tantangannya berikut ini.
1.       Saling menghargai dan terbuka
Untuk membuat konsep, kita harus menyatukan berbagai ide, di sinilah diperlukan saling menghargai. Jikalau ada kelemahan partner, kita perbaiki. Kadang-kadang, kita juga harus ikhlas saat partner bilang, “Itu sinetron, itu klise,” atau “Tokoh ini tidak akan bertindak ‘begini dan begitu’.”
2.      Menyamakan persepsi
Konsep berdarah-darah sudah dibuat, tapi perbedaan pemahaman bisa membuyarkannya. Kita ditantang dengan rumitnya menyatukan pemahaman karakter. Bisa jadi, adegan yang kita buat merepresentasikan karakter yang bertentangan dengan konsep atau yang dibuat oleh partner. Kalau sudah begini, kita perlu menulis ulang. Jadi, kita juga harus membaca apa yang dibuat oleh partner.
3.      Menyamakan gaya bahasa
Gaya bahasa bisa sedikit berbeda jika memang kita dan partner berperan sebagai tokoh yang berbeda misalnya laki-laki dan perempuan. Agak rumit, jika kita dan partner memerankan tokoh yang sama. Diperlukan pemahaman gaya bahasa yang sama baik terkait segmen pembaca maupun penggunaan kata ganti subjek. Misal, kita menulis dengan gaya dewasa sedangkan partner menulis dengan gaya remaja. Atau, kita menulis dengan kata ganti ‘kamu’ sedangkan partner menulis dengan kata ganti ‘kau’. Begitu juga dengan ‘tidak-tak-nggak’, ‘ibu-mama-bunda’, ‘Dek-dik’, dan sebagainya.

Oww oww…. Tenang… Selalu ada jalan bagi orang yang suka tantangan. Kolaborasi tidak akan berhasil jika kita menganggapnya sebagai ‘ring tinju’. Tetapkan dalam hati bahwa kolaborasi adalah ajang untuk saling menyemangati, belajar, dan melengkapi. Sama halnya dengan menulis, kolaborasi memerlukan komitmen dan disiplin untuk menyelesaikan.

Jika kita bisa melewati semua ini, kita akan berhasil menggendong bayi karya kita, melihatnya membuka mata dan tertawa. Bahkan, kita bisa mengirimkannya ke lomba. Walau belum rejeki, karya yang sudah jadi bisa kita revisi dan dikirim lagi.

Nah, selain lahirnya karya, kita bisa dapat bonus momen lucu macam yang pernah dialami FLP-ers ini.

Maulida Azizah (Anggota Divisi Pembakardiriku, orang tua “2B”, dan “Senyawa”)
Kolaborasi itu asik. Kita akan mendiskusikan sesuatu yang tidak ada (fiktif). Kita akan berdiskusi untuk menentukan siapa tokoh kita, kenapa, dan bagaimana latar belakangnya, serta apa masalah hidupnya. Kadang-kadang, saya dan partner menertawakan tingkah tokoh fiktif kami sendiri atau ide-ide gila kami. Kami juga kadang sama-sama ngotot untuk menentukan bagaimana tokoh bertindak. 

Mahfuz TNT (Ketua FLP Malang, orang tua “Senyawa”)
Momen lucu yang pernah saya alami itu, ketika alur cerita yang kami buat nggak nyambung sama sekali. Saya ceritakan tingkah cewek yang tolol, goblok, edan, aneh sementara di ujung dunia sana, partner saya membuat adegan yang menunjukkan cewek tersebut jenius. Gimana nggak pencet Ctrl+a>del?

Ummu Rahayu (Anggota Humas, orang tua “2B”)
Pasca-pengiriman naskah kami diwarnai kecelakaan kendaraan bermotor. Siapa pelakunya? Saya! H-1 event, Maulida dan saya baru mengedit naskah. Alamak! H-semalam, kami baru konsultasi sinopsis kepada Mashdar Zainal. H-dua jam, naskah baru digabung, membuat surat kelengkapan, lalu di-print. H+beberapa menit, kita kebut-kebutan di jalan. Fiuh, untung selamat sampai tujuan dan masih ada kesempatan. Sepulang dari event itu, karena kurang sabaran, motor saya yang memotong tikungan, diterjang. Alhamdulillah, saya dan Maulida direpotkan oleh sebuah pertanggungjawaban untuk membetulkan motor korban yang berantakkan.

Nah, begitulah kiranya kolaborasi yang menantang tapi seru dan bermanfaat terutama bagi penulis pemula. Berani mencoba?