(DAS REPORTAGE) Semua Bercampur Satu dalam Kanvas Jiwa



FLP Malang (15/9)-di Taman Seribu Janji  (di depan Rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim), divisi Pengembangan Karya mengadakan acara rutin Sharing Karya. Acara ini diadakan seminggu sekali, setiap hari Minggu, jam 9 pagi. Setelah minggu lalu membahas cerpen berjudul “Siapakah Namamu Kasih?” karya Muchtar Prawira Sholikhin, minggu ini giliran karya Vega El-Vaza yang dibahas. Sebuah cerpen/prosa beraliran romantisme berjudul “Kota yang Dijanjikan”.

Sharing Karya sejatinya merupakan salah satu program kerja Divisi Pengembangan Karya FLP Malang. Tahun ini, pelaksanaan program Sharing Karya dipercayakan kepada Divisi Kritik Sastra, yang kini telah menjadi sub divisi di bawah Divisi Pengembangan Karya.

Menjelang fajar merangkak naik ke atas kepala, satu demi satu pembaca yang hadir memberi komentar atas karya tersebut. Satu hal yang menarik dalam pembahasan cerita Vega ini adalah, pertanyaan: "apakah tulisan ini bisa disebut sebagai cerpen?" 

Beberapa sepakat bahwa keterjalinan alur, latar dan kehadiran tokoh membuat karya Vega ini cocok disebut sebagai cerita pendek (atau dalam karya sastra disebut prosa fiksi). Namun, ada sedikit kalangan yang menyebut tulisan tersebut sebagai puisi tanpa konstruksi rima dan bait. Hal itu disebabkan oleh kontennya yang sarat dengan kiasan berlebih, serta konflik batin tokoh yang terlalu mendominasi cerita. Akibatnya ketika dibaca, cerita ini sekilas nyaris tak memiliki plot, penokohan, dan setting yang jelas, sebagaimana cerpen-cerpen lain pada umumnya. Jadi, pendapat mana yang benar? Editor kami, Mizuki Arjuneko, akan membuat satu tulisan lagi untuk membahas jenis tulisan Vega, dipandang dari teori Formalisme. Apa itu formalisme? Tunggu postingan-postingan berikutnya ;-)

Akhirnya, ketika surya semakin terasa membakar hamparan rumput, satu per satu pengunjung pamit. Ada yang mengusulkan agar tiap minggu selalu ada inovasi dalam pembahasan jenis tulisan. Baik itu karya anggota FLP Malang yang belum dikirim ke media massa, maupun tulisan karya penulis lain yang sudah populer. Dengan begitu, diharapkan karya para anggota bisa disejajarkan dengan para penulis terkemuka, dan kelak dapat bersaing bersama karya-karya mereka di toko buku. Dengan begitu suasana kritik-saran dalam diskusi dapat lebih membaur, seperti halnya beragam warna yang bersatu dalam kanvas jiwa, bernama FLP Malang. 

Ain Nur












Oleh: Ain Nur

Estafet Menulis, Estafet Ketawa

Sumber : kompas

“Hei, masak balonnya bisa bisa jadi ayah? trus jadi bom?!”


“Haha.. Apa hubungannya pakaian nggak bisa kering dengan tak sendiri? Emangnya kalau pakaiannya kering jadi tak sendiri? Jadi punya pasangan?”


“Ini malah jadi cerita tentang George si Monyet. Kebanyakan nonton film!”


“Hiks.. kau merusak ceritaku!”


Dan berbagai celetukan yang lain.


Minggu 14 Juni 2015 kami -kru FLP Malang- terbahak-bahak di depan Rektorat UIN. Tiap mendapat lembaran dari teman sebelah dahi menjadi berkerut, mata berputar memegangi mulut, kemudian tak tahan menahan tawa. Apalagi kalau dapat naskah dari barisan “pengacau” hahaha piss teman-teman.


Hari itu kami membuat cerita estafet. Kami duduk melingkar, menulis bersama, dengan urutan ke arah kanan. Dimulai dari Mahfuzh, Muchtar, Arla, Mas Danang, Yeni, Zie, dan Ninda.


Sebelum menulis kami membuat undian tema. Setelah itu mengundinya.


Yenny-dasi, Lita-gudang, Fauziah-mengejar, Muchtar- pakaian, Erla-dari, Mahfuzh teh, dan Mas Danang mimpi.


Awalnya tak masalah, sampai melewati teman-teman “unik”, cerita itu jadi bermasalah. Kami dibikin gregetan, geli, dan terpingkal-pingkal.


Ketelitian saat membaca saat berpengaruh terhadap alur. Dalam permainan ini satu orang satu kalimat, begitu seterusnya. Jika terlewat membaca satu kalimat saja, cerita bisa berantakan.


Contohnya dalam cerita dasi


“Dia tidak pernah tahu, dasi merah yang dia gunakan saat ini adalah pemberianku. Aku membelinya setelah mengumpulkan uang makan sedikit demi sedikit. Bahkan aku tak pernah sekalipun membelikan dasi atau hadiah yang lain untuk bapak. Tapi ia berbeda, aku bisa menghabiskan seluruh uang tabunganku untuk membuatnya senang. Berkatnya pun aku kini langsing, tapi bisa dibilang juga kurus kering. Kau tahu bahkan akupun harus memulai diet jenis baru makan dua kali seminggu. Meskipun sebenarnya dietku tak ada hubungannya sama sekali dengan dasi buat bapak. Hanya karena dasi aku harus diet? Ehm ta kusangka.”


Kata “dia” menurut penulis pertama adalah seorang laki-laki yang –mungkin- disukainya. Tapi menurut penulis berikutnya, “dia” bisa jadi bapak. Then, dari kata dasi, bisa nyambung ke langsing dan diet. hehehe...


Saya suka cerita mimpi, di awal kami berkutat tentang mimpi yang tak berujung. Mimpi si tokoh yang belum terwujud. Kemudian –entah siapa saya tak tahu ^_^- mengalihkan mimpi menjadi artis dengan kiasan yang menarik. Kecerdikan personil estafet sangat dibutuhkan untuk mengolah cerita menjadi cantik.


Dalam cerita “Teh”, kami agak kebingungan meneruskan alur. Coba baca ini, “Bagaimana mungkin usiaku masih 14 tahun. Terus aku harus bagaimana? Mungkin aku harus menikah dengan seorang lulusan sarjana berprestasi agar dia saja yang repot mengurus kebun ini dan aku, tentu saja. Istriku yang berprestasi pasti mampu bekerja keras mengelola perkebunan ini. Selain pintar dia juga kekar. Tak perlu sekekar aku, cukup dia mampu mengangkut dua keranjang di bahu. Dan bisa dipastikan juga harus kuat melayaniku. Tahukan maksudku? Sudahlah lupakan saja. “


Tokoh utama adalah laki-laki umur 14 tahun, dia mencari istri lulusan sarjana. Berapa ya selisih umurnya? hehehe. Tambah lagi, ada kata “kekar” di sana. Ngapain sarjana angkar-angkat barang berat, perempuan pula. kalau sarjana mah bisa jadi manager hehehe.. ini candaan kami saat sadar ada yang aneh dalam cerita Teh.


Menulis ide dasi membuat kami terbahak-bahak, penulis mencoba tega membuat sang ayah gila. Ide pakaian tak kalah nyleneh! Kami memutar otak memikirkan bagaimana nasib pakaian. Diberi minyak wangi, dibuang di selokan, dibakar, atau? Sampai-sampai si tokoh harus googling guna menyelamatkan nasib pakaian.


Ide mengejar adalah cerita terkonyol dan absurd, ada yang miss di sini. yang membuat balon bisa berubah menjadi ayah, kemudian jadi bom. Ceritanya sampai ke teroris juga! Benar-benar imajinasinya....


Ide surat adalah cerita yang “selamat” dari keusilan kami. Meski ada yang usil, langsung ada yang menetralisir agar dia kembali ke jalan yang benar. :)


Terakhir ide “dari”, ide ini dari Muchtar. Awalnya kami protes, idenya kok “dari”? Kata Muchtar ide memakai teknik menghitung angka dari bacaan yang ia bawa. Oke dah lajut.


Cerita dari ide “dari” ini lumayan kreatif. Awal cerita kami mencoba mengulur-nglur deskripsi siapa sebenarnya yang mematikan alarm.


“Dari cahaya yang masuk lewat celah jendela aku tahu bahwa hari ini sudah menjelang siang. Tak biasanya aku bangun sesiang ini kalau tidak karena ada yang mematikan alaram handphone-ku. Ya ampun!

“Pasti dia yang mematikanya!” dugaanku melayang pada satu nama. Ah, sudahlah! Aku harus lekas. Dari kamarku aku menuju dapur. Ada lonceng bel dari alarmku ketika aku ingin mengambil gula dari toplesnya. Berbunyi tiga kali saat sendokku masuk pada toples. Oh ternyata alarmku tidak dimatikan! Tetapi diubah jamnya jadi jam 11? Kurang aja! Aiss!


Kuletakan gelas yang belum kuaduk, aku menuju kamarnya. Apa maksudnya melakukan ini padaku? Dan ternyata pintu kamarnya terkunci. Ku gedor-gedor pintu kamarnya yang terbuat dari tripleks lapuk. Pintu lapuk itu terbuka.” Sampai beberapa putaran kami terus berputar pada si pelaku.

Sampailah cerita ini ke tangan Mahfuzh, dia memutuskan pelakunya adalah George! Si monyet cerdik. Ehm.. efek banyak menonton film, saya pikir pelaku adalah manusia, tapi ternyata adalah monyet. Hehehe..

Menulis estafet adalah salah satu teknik menulis yang menyenangkan dan menyegarkan. Sebagai penulis kita belajar sabar jika ide kita tidak sama dengan ide teman. Apalagi jika jatahnya satu orang satu kalimat, kadang kita gregetan kalau teman selanjutnya tidak paham dengan yang kita maksud. But inilah uniknya, dari satu kalimat bisa jadi beberapa ide cerita, alur yang beragam, dan pasti ada hal tak terduga.


Cerita estafet ini akan menjadi seru jika personilnya pun unik-unik. Apalagi siang itu, kami berdelapan memiliki karakter yang sama sekali berbeda! ada yang usil, kreatif, puitis, dan ada pula yang tak terbiasa dengan fiksi.


Namun ternyata, dengan bersama berbagai kharakter itu menjadi paduan yang manis saat membuat cerita.


Mau tahu bagaimana serunya cerita estafet kami? ini dia


1. Mimpi

2. Teh

3. Dasi

4. Gudang

5. Pakaian

6. Mengejar

7. Dari

8. Surat

Wajah Plastisin

Burung terbang ramai ke sarang. Aku juga bergegas terbang pulang. Menjauh dari pelik rapat yang saling serang demi secuil uang. Melesat cepat bersama burung menembus gebyar kota. Sesampai rumah lekas kubersihkan diri, bersolek secukupnya, memakai baju dari web Bajugamisku. Lalu, bersiap berangkat kembali. Sekarang kafe tujuanku. Melemaskan satu lagi masalah di kepala. Ya, masalah denganmu. Aku ingin berdamai dengan takdir ini.

Takdir yang susah kulupakan sejauh tahun-tahun yang sudah berlalu. Terlebih kau memberikan kenangan spesial di perpisahanmu. Di kafe ini. Mana mungkin kenangan itu bisa hilang dengan mudah? Kau memasak seluruh makanan favoritku, menyanyi dengan suara serakmu, dan tak lupa kau mencetak wajahmu pada sebuah plastisin sebagai sebuah hadiah di hari ulang tahunku.

Sumber gambar aliexpress
Apa kau juga masih ingat busana pesta yang kupakai saat itu? Bukankah juga pemberianmu? Aku saja tak bisa melupakan bagaimana kau bertindak layaknya maling. Mengendap-endap ke rumah. Mencoba memasukkan baju ke tas. Hampir saja kepalamu pecah bersama vas bunga. Kalau saja kau tak sadar aku juga mengendap di belakangmu. “Haah..” Aku tertawa. Dari mana pula kau dapat kunci rumahku.

Espressoku hampir habis. Kumainkan teguk terakhir lama di mulutku. Pahit memang. Tapi tak sepahit kepergianmu. Bersama alunan pelan biola di panggung kuambil plastisin dari tas. Selalu kubawa di dalam tas. Namun bukan cetak wajahmu, tak berani melihatnya lagi. Kupandangi plastisin di bawah lampu redup.

Tapi malah ingatanmu yang muncul kembali. Tengah malam pesanmu masuk. “Sorry to say. Berat memang, tapi satu nanti moga bisa ketemu kembali.” Seperti pesawat yang turbulensi keras, semua orang menjerit. Lebih-lebih kau ucapkan hanya lewat pesan pendek. Setelah malam yang membuatku melayang. Belum selesai di situ kau menyiksaku. Kau tambah bahwa akan take off. Pesawat itu sudah tak turbulensi lagi, melainkan jatuh ke jurang lalu hilang.

Aku mencoba menghilangkanmu, tapi juga menantimu. Biola mengalir merdu, membawa sendu hilang bersama not-notnya. Tapi seseorang memotongnya, mungkin bocah yang ingin mengucapkan cinta lagi. “Lebay sekali” Aku merutuki sendiri dalam hati.

Suara serak. Ya, suara serakmu. Itu serak suaramu bukan? Aku mimpi? Kubalikkan badan. Mataku terbelalak. "Ka..ka..kau? Pu..pulang?" Tak menunggu sadar, kakiku lari ke panggung. Sekencang mungkin. Tersandung pun biar. Lekas mengeluarkan plastisin dari tas. Mencetak wajahku sendiri di sana. “Ini...!!! Kau tahu rasanya menyimpannya selama ini?”

Unsur dalam Cerita : Alur

Alur merupakan jalan cerita. Segala jenis karya tulis yang bertujuan bercerita pasti mempunyai alur. Bisa disebut alur memegang kerangka utama dalam cerita. Menunjukkan kita aliran cerita yang dibangun penulis.

Bentuk dari alur bisa bermacam-macam. Mulai alur maju, yaitu waktu mulai dari paragraf pertama sampai terakhir urut. Atau alur mundur, yaitu flashback, menjelaskan waktu-waktu belakangnya. Ada juga alur maju mundur, yang paragrafnya bisa lompat ke waktu lampau. Lalu kembali lagi pada waktu yang sesuai pada paragraf sebelumnya.

Jenis di atas akan percuma jika penulisan tidak bisa menggambarkan jalan cerita. Untuk para penulis dengan banyak karya mungkin sudah bisa langsung menulis dengan hanya membayangkan alurnya di kepala. Tetapi bagi pemula kadang malah membuat cerita acak dan tak jelas. Maka dari itu perlu membuat outline untuk awalnya. Penulisan outline pun lagi-lagi terserah penulis. Bisa berupa kalimat-kalimat yang menjelaskan paragraf-paragraf. Atau hanya poinnya saja. Yang terpenting penulis paham dengan outline.

Setelah terbentuk outline, bisa ditambahkan dengan narasi dan dialog sampai menjadi cerita yang utuh. Sekali lagi penggunaan harus sesuai kebutuhan cerita, baik narasi maupun dialog. Ketika membacanya kita bisa mengalir, namun tak membuat bingung.

Ini contohnya
     Orang-orang tanpa ragu memanggil ayah sebagai Harimau. Harimau paling gesit menerkam mangsa. Matanya menyorot sesosok mangsa yang siap ia terkam. Ayah berjongkok di balik ende sambil memegang penjalin mengumpulkan kebuasan. Peluit pekembar mengundangnya ke tengah arena.
     “Pertarungan peresean kali ini antara Harimau melawan Semberani….” Suara dari pengeras suara mengundang tepuk tangan dan sorakan penonton yang duduk melingkar. Musik gamelan mulai ditabuh. Di tengah arena pekembar mulai ngibing menimbulkan kepulan debu.
     Hilal Imtiyaz - Presean


Buku Jangan Cuma Dibaca Sekali, Rugi!


Hampir mayoritas penulis akan memberikan saran ini ketika ditanya, "Apa tips supaya tulisan kita bagus?" Penulis mulai dari sabang sampai merauke akan langsung menyuruh kita rajin membaca, apapun bacaannya, bahkan kita harus membaca satu buku berulang-ulang. Kenapa?

Karena sekarang ini tak ada yang baru. Melainkan hanya modifikasi atau penggabungan saja. Hingga tak perlu kita memikirkan untuk membuat sesuatu yang baru, melainkan cukup menggunakan metode ATM. Amati-Tiru-Modifikasi, baik ide cerita maupun teknik si penulis.

Tahap awalnya adalah banyak membaca. Dari sebuah buku kita bisa mendapatkan banyak ide jika buku itu kita pelajari mendalam.

Saat pertama kali membaca buku mungkin kita hanya fokus pada cerita, kita hanyut oleh penceritaannya. Karena kita ingin refreshing, seperti liburan ketika membaca sebuah cerita.

Tapi, cobalah mengulang membaca dua kali atau lebih. Maka kau bisa lebih fokus dengan cara penulis menceritakan keadaan maupun alur dalam cerita. Bagaimana membuat karakter yang kuat, trik dalam menuliskan diksi-diksi, dan segala bentuk penulisan cerita semua bisa kita temukan di sana.

Bukan Mudah Mekarnya "Mawar Putih": Sebuah Perjalanan Asma Nadia

Sumber : Nyata
Beberapa hari lalu saya nonton Asma Nadia menjadi narasumber di salah satu televisi nasional. Rupanya, kita tidak bisa melihat masa kecil penulis best seller ini dari kehidupannya sekarang. Bisa dibilang, beliau memiliki perjalanan hidup yang kontras.

Namun, doa melalui nama asli Asmarani Rosalba ini terkabul. Rosalba, yang berarti Mawar Putih, kiranya tepat mencerminkan sosok anggun berdedikasi itu.

Koran Sayur

Sejak kecil, wanita dua anak ini memang suka membaca. Namun, aksesnya terhadap buku tidaklah seberuntung kebanyakan dari kita. Jika sekarang uang bukan masalah karena kita bisa membaca online, dulu mana ada fasilitas demikian.

Keterbatasan ekonomi keluarga tidak menghalangi minat baca perempuan berdarah Tionghoa itu. Teks-teks sudah akrab di kehidupannya sejak umur tiga tahun. Helvy Tiana Rossa lah yang menjadi ‘guru’.

Bersama kakaknya tersebut, beliau sering merubung sayur bawaan ibundanya. Bukan mengincar sayurnya, tetapi koran pembungkusnya. Dikencangkanlah kertas berita dan informasi itu lalu dilahap alias dibaca. Kadang mereka menemukan artikel penuh, kadang terpotong karena halaman berikutnya tidak ikut menjadi bungkus.

Sang Ibunda bertutur, awalnya, perempuan yang akrab dipanggil Rani tersebut hanya ikut melihat koran saja. Ia kerap meniru apa yang dilakukan kakaknya, padahal koran di tangannya terbalik. Rani kecil pun sering mendengarkan ocehan saudara sulungnya saat membaca.

Bimbingan ibu dan kebiasaan tersebut menjadikan kedua pendiri Forum Lingkar Pena ini sudah bisa membaca sebelum masuk Sekolah Dasar.

Diusir

Awalnya, cinta mereka terhadap buku seperti bertepuk sebelah tangan. Bersama kakak dan adiknya, ia kerap mengunjungi salah satu kios penyewaan namun hanya mampu melihat-melihat. Saking seringnya hanya menunjuk-nunjuk tanpa membayar, mereka semua diusir.

Asma kecil yang belum sekolah pun menangis dan ingin bisa menulis buku. Sang Kakak menguatkan, mengajak adiknya untuk bertekad menulis sebanyak buku di penyewaan tersebut. Hari itu mereka bercita-cita membuat tempat baca untuk seluruh anak Indonesia.

Asa tersebut tidak bisa disebut bau kencur. Terbukti, puluhan tahun kemudian, berdirilah perpustakaan gratis, Rumah Baca Asma Nadia. Hingga kini, terbentuk sekitar 140 cabang tersebar dari Sumatera sampai Papua. Rumah baca ini juga didirikan untuk Tenaga Kerja Indonesia di Hongkong.

Akibat Buku Bekas

Saat sekolah, kalau punya uang lebih, perempuan kelahiran Jakarta itu berburu di pusat buku bekas. Pernah dia berhasil mengoleksi serial namun tidak menemukan edisi terakhirnya. Ia dan kakaknya pun menciptakan ending masing-masing.

Ngamen

Si Dua Serangkai memang bukan arang yang mudah patah. Saat mulai bergelut di dunia menulis, ngamen di bus bersedia mereka tempuh untuk membeli sebuah mesin tik. Hanya dengan alat konvensional itu, mereka membuat tulisan yang dikirim ke berbagai media, padahal komputer sudah masuk ke Indonesia. Tak sia-sia, medan kehidupan menempa penulis mendunia tersebut.

Peran Ibu

Anugerah Allah SWT. turun kepada Asma Nadia melalui ibu yang sejak kecil juga suka melahap buku. Beliau mengajarkan anak-anaknya untuk bisa membaca sebelum masuk sekolah. Sosok inilah yang mengorbankan jatah makan siangnya untuk membelikan buku bagi Rani selama di Rumah Sakit. Mental tidak mengenal lemah, tidak mengenal keluh, bahkan tidak menangisi kehidupan disuntikkannya pada Si Buah Hati.

Keluarga Penulis

Setelah menikah, Sang Mawar Putih juga memperoleh dukungan dari keluarga kecilnya. Sebagai suami, Isa Alamsyah yang juga wartawan dan penulis sangat memahami impian istrinya. Meski kemudian tidak ahli memasak, beliau mendukung penuh wanita pilihannya tersebut untuk bepergian dan menekuni dunia menulis. Asma Nadia mengakui pria ini merupakan sosok inspiratif baginya.

Tidak terkecuali dukungan dari kedua buah hati. Eva Maria Putri Salsabila, anak pertama juga jadi sumber ide dan tukar pendapat. Adam Putera Firdaus turut menjadi saingan bundanya. Lewat puisi, ia pernah mengalahkan karya Asma Nadia di suatu lomba.

Mawar Putih Telah Mekar

Kini, Mawar Putih telah mekar. Wanginya telah merebak ke ranah internasional. Universitas Iowa pernah mengundang beliau bersama 35 penulis dunia lainnya. Ia juga menjelajah 270 kota di 59 negara untuk buku Jilbab Traveler.

Kurang lebih 49 buku telah lahir dari tangannya bahkan hingga di angkat ke layar kaca, seperti Emak Ingin Naik Haji, Rumah Tanpa Jendela, dan Assalamu ‘Alaikum Beijing. Bukunya yang berjudul Catatan Hati Seorang Istri tampil menjadi sinetron.

Tidak hanya cerpen dan novel, perempuan yang lahir pada tahun 1972 tersebut juga menulis lagu. Albumnya ialah Bestari I – III (1996 – 2003), Air Mata Bosnia, Kaca Diri, dan lain-lain.

Dedikasinya juga dicurahkan melalui Yayasan Asma Nadia untuk pendidikan anak yatim piatu dan kurang mampu.


Adab Dan Etika Jurnalis dalam Mengabarkan Kebenaran | ITJ Malang & FLP Malang


Bagaimanakah adab dalam mengabarkan kebenaran menurut pandangan Islam?
Seperti apa kita memposisikan diri dengan keadaan media massa sekarang ini?

Jangan lupa datang di acara kolaborasi antara ITJ (Indonesia Tanpa JIL) Malang dan FLP Malang. Bertempat di Islamic Book Fair (IBF) Malang, 8 Desember 2014. Gratis!!!

Open Recruitment 2014

 
Kabar gembira untuk kita semua...
Kita siap sambut keluarga baru...
FLP...? Good.
Yang galau...? Ke laut. :p

Oke rek, kalian udah gak sabar kan nunggu kabar ini?
Bagi kalian yang ingin menulis tapi bingung bagaimana membuatnya menjadi bagus,
yang masih malu-malu kucing buat nerbitin karyanya,
yang ingin nulis di koran tapi awam,
suka nulis di blog tapi gitu-gitu aja,
langganan penyakit writer's block,
atau ingin nambah kenalan yang punya hobi yang sama.
Kita siap sambut kalian untuk jadi keluarga baru kami.

Datanglah 14 DESEMBER 2014 di (tempat dalam konfirmasi) pukul 08.00 WIB
Cara daftarnya :
[ONLINE]
  1. Unduh formulir di bit.ly/formORFLP
  2. Kirim formulir yang sudah diisi ke humasflpmalang@gmail.com
  3. Transfer HTM sebesar Rp. 50.000,- ke rekening yang tertera di bawah
  4. Konfirmasi sms ke CP dengan format [#ORFLP nama email transfer (a.n siapa? dan melalui apa?)], contoh [#ORFLP Muchtar muchtar@gmail.com a.n Muchtar Prawira lwt SMS Banking].
[OFFLINE]
  1. Unduh formulir di bit.ly/formORFLP
  2. Serahkan formulir beserta HTM sebesar Rp. 50.000,- ke CP yang tertera di bawah.
  3. Anda berhak mendapatkan bukti pembayaran.
Materi yang akan kamu dapatkan antara lain :
  1. Materi Jurnalistik oleh Heri Cahyo S.Pd. (Kapten di Proyek Nulis Buku Bareng)
  2. Menulis Cerpen, Novel & Skenario oleh Harlem Ai Mizuki (Cerpenis yang sedang merambah ke dunia skenario)
  3. Imajinasi, Pedang Bermata Dua bagi Penulis oleh Nur Muhammadian (SEFTer yang telah menghasilkan beberapa buku)
  4. Seluk Beluk Industri Kepenulisan oleh Fauziyah Rachmawati (Guru yang sudah banyak melewati banyak jalur di industri kepenulisan)
  5. Kamu juga akan mendapat Makan ,snack ,sertifikat, serta buku.

Selain itu juga ada :
  1. Bimbingan menulis Fiksi dan Non Fiksi
  2. Asistensi menerbitkan karya
  3. Public Speaking
  4. Internet marketing untuk penulis
  5. Jaringan penerbit dan penulis ngetop

Rekening :
A.n Achmad Hidayat
BCA : 351-082-9436
Mandiri : 144-0010-488-333

A.n Agie Botianovi
BRI : 166-2010-006-49500
BNI : 0225461183


CP :
Diyah : 082 232 139 296
Muchtar : 085 655 018 793

(DAS EDITORIAL): DIALOG PENA dan SASTRA: Meng-eufimisme-kan Kata “KRITIK”

SALAM LASKAR PENA!

Owkeh, Neko nge-blog di sini lagi, ah syukurlah tanggapan-tanggapan terhadap postingan-postingan blog mulai berdatangan. Walaupun yang menanggapi baru para penulis yang tulisannya dibahas di sini. Yang lainnya mana nih? (celingukan) Dan saya benar-benar berharap para editor lain bisa segera urun-rembug di sini dan ikut membahas karya-karya anak FLP Malang. (memanggil-manggil Mbak Zie, Pak Dar, Ai, dan Mas Cecep. Where the heaven are you, Guys???!)


Anyway, biar blog ini rame, Neko membuka lowongan buat anggota FLP Malang lain yang berniat menjadi editor tamu di blog iniSilahkan buat yang berminat untuk bergabung dan belajar cara mengapresiasi sastra bersama-sama di blog ini dengan menjadi admin, bisa hubungi Neko. Sertakan nama, dari divisi mana (kalau memang termasuk pengurus) dan email gmail waktu sms Neko. Nanti insyaallah langsung Neko add sebagai "author". Tapi harus istiqomah loh, coz walau udah daftar tapi ga nulis-nulis ya terpaksa Neko hapus juga. Yang ga tahu nomor HPnya Neko, Tanya Mbak Zie aja ya. Hehehe… yang nggak tahu nomornya Mbak Zie… masyaallah, Ente kebangetan! 


Oke, di editorial yang sebelumnya, Neko sudah menyatakan kalau nama divisi ini aslinya Divisi Kritik Sastra kan? Lalu kenapa nama divisi ini tiba-tiba diubah dalam blog? Bisa dibilang pengubahan ini bersifat sepihak karena belum dimusyawarahkan di rapat pengurus. Belum sempat ketemuan sih hewww… Tapi karena blog ini harus segera di-launching (coz semangat udah kadung membara… semangat mulung wkwkw… Mulungin karya).

Kemudian ketika Neko sedang bikin blog dan utak-atik tampilan dan memikirkan judul blog yang sesuai, muncullah wacana ini dari Pak Heri: "Membahasakannya jangan pakai kata 'Kritik'-lah. Nanti kesannya negative."

"Waduh terus yang bagus gimana Pak?" Neko jadi bingung. Karena alamat blognya udah fix jadi www.kritiksastraflpmalang.blogspot.com
 
"Pakai Dialog Pena. Atau Dialog Sastra aja."

Cuma karena Neko sedang terobsesi dengan kata LASKAR PENA (hehehe sedikit epigon dari Laskar Pelangi), akhirnya Neko memutuskan judul blognya menjadi Laskar Pena Mengapresiasi. Dan nama Divisi pun diganti menjadi Divisi Apresiasi Sastra agar kesannya lebih ramah.  Pak Heri pun agaknya  lebih setuju karena "Mengapresiasi" kesannya lebih positif dan tidak sesangar "Mengritik". Jadi bolehlah Laskar Pena berpikir bahwa kata "mengapresiasi" di sini adalah hasil eufimisme dari kata "mengritik". Lebih sopan. hehehe

Tentu saja kata "Apresiatif" diharapkan akan lebih terasa kental mewarnai blog ini. Karena kita tentu nggak mau blog ini cuma jadi ajang kritik dan ajang bantai karya. Aiiih! Nggak nyaman banget nanti pastinya. Tapi sampai saat ini, Neko nggak terlalu mendefinisikan "KRITIK" sebagai kata yang bersifat negatif. Itu kan tergantung dari sudut pandang masing-masing orang. Lagipula ada istilah "Kritik Membangun" kan. Dan aneh aja kalau Neko nggak mau dikritik coz Neko sendiri doyan ngritik. Pedes pula! Huahahahaha… Well tapi semua itu tergantung dari "CARA". Karena memang ada orang yang mengritik dengan cara yang seolah minta dibacok! =_= Bukan kritik namanya kalau tujuannya adalah ngejlokno atau menghancurkan mental yang dikritik. Kalau itu mah bilang aja terang-terangan "mengejek". Jangan bersembunyi di balik kata "Kritik" hanya agar terkesan lebih intelektual!


Sebagai sastrawan dan kaum akademisi, tentunya kita punya etika tersendiri dalam mengritik. Tidak sembarang mengritik, tapi juga ada ilmunya. Bahkan dalam pembelajaran sastra, Kritik Sastra menjadi cabang ilmu tersendiri dan mendapat jatah satu kelas mata kuliah. Dan di sanalah kita mengenal teori-teori kritik sastra. Karena Neko lebih sering gaul ama anak-anak Sastra, Neko pernah bertanya begini kepada seorang dosen sastra, di depan semua anak-anak Sastra satu angkatan: "Ma'am, kenapa sih kita harus mempelajari begitu banyak teori hanya untuk mengritik karya sastra? Kenapa kita nggak belajar bagaimana cara untuk membuat karya sastra saja?"

Sang dosen menjawab bahwa dalam studi sastra, orang-orang terbagi menjadi dua. Satu adalah pihak creator. Mereka yang menghasilkan karya-karya untuk kemudian diapresiasi dan dikritik. Di samping itu ada lahan tersendiri bagi para kritikus sastra. Ya mereka ini yang mengritik karya-karya tersebut. Dan menurut Bu Dosen itu, adanya kritik justru mengangkat karya sastra itu. (sama seperti editorial edisi pertama ya) Semakin banyak kritik yang diterima suatu karya, berarti karya itu memang menyimpan daya tarik (entah yang sifatnya positif atau negatif) yang membuat banyak pembaca ingin memberi respon. Jadi berbanggalah jika karyamu dikritik. Itu berarti kualitas karyamu mulai diakui dan dianggap layak mendapat tanggapan. Hehehehe… Sedih banget kan kalau udah capek-capek berkarya tapi akhirnya malah dicuekin? Karena itu, Neko harap kritik, saran, dan apresiasi berupa editor’s note di blog ini, bisa mengangkat pamor karya-karya yang ada. Yang lebih penting lagi adalah menghidupkan karya-karya berikut hingga bisa menjadi sebuah wacana yang patut untuk ditindaklanjuti.

Menariknya, seperti kata Pak Karkono dalam kelas Teori Sastra-nya yang lalu, "Seringkali pembahasan karya sastra atau kritik sastra jauh lebih heboh daripada karya itu sendiri. Bahkan biasanya sampai membawa-bawa tafsir makna yang jauh lebih dalam. Yang bahkan tidak terpikir oleh si pengarang karya itu sendiri."

Dosen muda itu lalu melanjutkan contohnya adalah puisi Bulan di Atas Kuburan karya Sitor Situmorang. Begitu banyak tanggapan, review, dan pembahasan atas karya itu. Puisinya sendiri sangat pendek. Tapi begitu banyak para kritikus yang berusaha menggali-gali makna-makna simbolis dari puisi itu. Di antaranya ada yang bilang, bulan menyimbolkan keindahan. Sedangkan kuburan, sebaliknya menyiratkan kematian, kesedihan, sehingga ada paradoks dan ironi dalam puisi itu. Seperti di blog ini : http://nesia.wordpress.com/2008/09/23/malam-lebaran-bulan-di-atas-kuburan/. Padahal, kata Pak Karkono, dalam sebuah kesempatan ketika ditanyai tentang makna puisinya, Sitor Situmorang mengaku bahwa ia membuat karya itu karena kebetulan suatu malam ia lewat kuburan dan ia melihat bulan purnama bersinar saat itu http://berpikirpagihari.blogspot.com/2009/09/malam-lebaran-bulan-di-atas-kuburan.html

That's it. GLODHAK KROMPYANG KLONTHANG banget kan? 

Contoh lain, coba saja tengok saja skripsi para mahasiswa Sastra. Karya yang dibahas bisa saja hanya cerpen beberapa lembar, novel tipis, atau bahkan mungkin hanya sebaris lirik lagu. Tapi hanya dengan membahas karya-karya tersebut saja bisa menghasilkan ratusan lembar skripsi tebal. Bisa dipakai untuk meluluskan diri dan mendapatkan gelar sarjana pula! Hehehe… Itulah yang menarik dari dunia kritik sastra.
Adapun kembali pada percakapan Neko dengan dosen Sastra Inggris itu sendiri, beliau mengatakan bahwa tidak semua kritikus sastra mampu menghasilkan karya sastra yang mumpuni. Sebaliknya, tidak semua orang yang bisa bikin karya sastra, bisa membuat kritik sastra. Sama kayak nggak semua pengamat dan pengritik film bisa bikin film. Tapi alangkah bagusnya kalau kedua hal itu bisa dikuasai. Namun, rupanya Pak Heri tidak setuju dengan hal ini.

Menurut beliau, sebelum diajari soal teori-teori sastra yang mendaki-daki seperti itu, seharusnya seorang pendidik kelas sastra lebih dulu memotivasi para siswanya agar bisa menghasilkan karya sastra. Jangan sampai kelas itu hanya menghasilkan para siswa yang bisanya cuma ngritik tapi nggak bisa bikin karya sendiri. Well, dipikir-pikir argumennya logis banget sih. Karena seharusnya orang yang bisa mengritik adalah mereka yang punya kapasitas dan kapabilitas dalam bidang yang mereka kritik. Jadi kalau kritikus sastra ya logisnya dia harus jago atau paling tidak rutin membuat karya sastra dong. Atau kritikus film, walau belum bisa bikin film (bikin film mahal bleh!) paling tidak dia menguasai ilmu sinetografi dan memang gemar menonton film.
Yang jelas, mengritik tanpa etika dan basic ilmu hanya akan membuat Anda dilabeli sebagai OMDO (Omong Doang) dan NATO (No Action Talk Only). Bahkan bisa-bisa Remy Sylado, sastrawan veteran yang terkenal dengan Kembang Jepun, Ca Bau Kan, dan Kerudung Merah Kirmidzi itu pun akan ikut mencibir, "Memangnya kamu bisa bikin apa?"

            Cherio











Mizuki Arjuneko

(DAS Contemplation) Catatan 365 hari #19: IMAGINATION

Oke, tulisan kali ini lagi-lagi diambil dari notes Pak Arif Bawono Suryo. Orang yang satu ini memang luar biasa. Hampir setiap hari, beliau menghasilkan tulisan di group FLP Malang. tampaknya beliau memang berusaha untuk setidaknya menghasilkan satu tulisan dalam satu hari. Karena itu, catatannya diberi brand : Catatan 365 hari). Keren! Benar-benar usaha yang patut ditiru oleh para Laskar Pena! Sepertinya dengan begini, beliau sudah memiliki rubrik sendiri di FLP Malang hehehe. Semoga bisa cepat dikumpulkan dan dijadikan buku ya, Amin. Saking banyaknya tulisan beliau, Neko memutuskan untuk memostingnya secara acak saja hehehe.... Kali ini adalah catatan hari ke-19. Check this out!

Oleh Arif Bawono Surya



Pernah dengar idiom di samping? Ya saya mendengar idiom itu di penghujung tahun 2009. Mbah Einstein ingin menjelaskan pada kita bahwa pengetahuan memang penting. Tetapi imajinasi atau daya pikir kreatif juga penting. Ilmu tidak akan banyak berguna jika kurang diaplikasikan secara kreatif, misalnya ilmu menulis. Bila hanya difungsikan untuk menulis hal-hal formal, resmi, dan konvensional maka ga ada nilai tambahnya, mbosenin. Hanya sebatas nulis. Tetapi di tangan orang-orang yang penuh imajinasi maka hal sepele seperti tulis-menulis menjadi sebuah karya yang indah dan bisa dinikmati. Oleh karena itu, wahai para cendikiawan-cendikiawan, jangan sampai ilmu yang kita miliki cuma menjadi sebatas ilmu “asal pakai” tetapi menjadi ilmu yang mempunyai nilai tambah.   

Lalu darimana kekreatifan itu muncul? Jawabannya adalah dari cinta. Lho? Iya dari cinta. Saat kita mencintai sesuatu, atau apa yang kita kerjakan maka kita akan selalu terpacu untuk memberikan lebih dan lebih. Beda halnya bila kita melakukan sesuatu hanya karena dorongan kebutuhan dasar kita. Ga ada rasa untuk berbuat lebih, atau membuat lebih baik dan indah lagi. “Cukuplah, seperti ini”. Mungkin itu kata yang menandakan bahwa imajinasi atau daya kreatif kita sedang tergerus. Dengan mencintai apa yang kita lakukan dan melakukan apa yang kita cintai, maka kreatifitas itu akan mudah sekali muncul. Perasaan “Ting” itu seakan-akan bisa  muncul kapan saja. Oleh karena itu, yuk mulai dari sekarang kita melakukan apa yang kita cintai dan mencintai apa yang kita lakukan. Agar pekerjaan kita tidak hanya sekedar mengugurkan kewajiban tetapi juga bernilai tambah. :D    

Malang 29.07.11 


 Editor's Note:

Hmm...asyik-asyik. Neko suka banget ama postingan Pak Arif yang satu ini. Secara, imajinasi adalah hal yang sangat vital. Penulis yang hebat selalu punya cara untuk membasahi otaknya dengan imajinasi. Kekurangan postingan ini adalah kurang....banyak! Heheh... mungkin akan lebih menarik dan tentu aplikatif jika Pak Arif menambahkan tentang tips memperkaya imajinasi, atau mengambil tips dari penulis-penulis lain yang lebih terkenal.

Buat para Laskar Pena, imajinasi banyak berseliweran di sekitar kalian. Karena itu, waspadalah...waspadalah! Hehehe Ada yang mau menambahkan komentar?
Hidupkan dunia dengan karya sastra. Hidupkan karya sastra dengan berbagi apresiasi.

Cherio

Mizuki-Arjuneko

Profil Penulis:

Arif Bawono Suryo, atau yang di FLP Malang lebih beken dengan panggilan "Pak Arif", baru saja memutuskan untuk bergabung ke dalam keluarga besar FLP tahun 2011 ini. Walaupun baru bergabung, Pak Arif sudah cepat beradaptasi dan lumayan aktif dalam diskusi-diskusi FLP Malang yang sering diadakan di Taman Seribu Janji (alias depan rektorat UIN Malang). Dikenal sebagai mood-maker dan joke-maker dalam diskusi. Ada saja celetukannya yang bikin kami jadi gondok tapi nggak tega njitak karena lucu. Hufff...

Kemampuannya berbicara di depan publik dan kengocolannya sebenarnya tidak perlu diherankan lagi karena lulusan manajemen UM ini dulu sempat aktif di UKM IPRI (Ikatan Pecinta Retorika Indonesia) selama masa kuliah. Tak heran, ia menaruh minat untuk menjadi motivator dan juga tertarik untuk mendalami bidang broadcasting. 

Pemuda yang bekerja sebagai guru SMA ini, selain jago cuap-cuap di depan publik juga sangat produktif dalam menulis loh. Tulisan-tulisan di group FLP Malang itu hampir setengahnya adalah hasil tulisannya orang ini. Di lain kesempatan, Divisi Apresiasi Sastra akan membahas essay-essay Pak Arif. Tulisan-tulisannya bisa juga dilihat di blog pribadinya ini: http://abawonos.blogspot.com/

(DAS EDITORIAL): PEMULUNG KARYA

Cuap-cuap sang Admin Kesepian (halah!)

Salam Laskar Pena!



Kalian pasti penasaran dengan tag DAS yang sering ada di postingan kita bukan?
Tag ini adalah salah satu divisi kita, yang berada di divisi pengembangan karya di FLP Malang. Neko rasa, apa itu FLP sudah nggak perlu Neko jelasin lagi. (Kalau nggak tahu FLP, duuuuh nggak gaol deh loe!). Secara FLP sendiri cabangnya sudah tumbuh hingga merambah Jepang, Belanda, Mesir, dan kawan-kawan. Walau begitu, emang ada sih beberapa teman Neko yang nggak ngeh dengan FLP (ketahuan nih kalo nggak doyan baca! Hehehe). Biasanya Neko cuma menjabarkan FLP dengan menyebut 3 nama besar: Helvy Tiana Rossa, Asma Nadia, dan Habiburrahman El Shiraizy. Dan mereka pun langsung mengerti bahwa ketiga figur ternama tersebut masih satu maqom dengan FLP hehehe...
Inagurasi anggota baru FLP Malang 2011. Tenang aja, kami nggak mengenal senioritas. Yang ada hanyalah semangat kebersamaan dan kekeluargaan untuk saling berbagi ilmu. Wanna join us? =)

Anteng mendengarkan materi Tips dan Etika Berkomunikasi dari Pak Dian
Anyway, aslinya Divisi ini berjudul Divisi Kritik Sastra. Fungsinya sendiri adalah...ya seperti namanya, mengritik karya-karya sastra yang sudah dihasilkan oleh anggota-anggota FLP Malang. Banyak yang mengira bahwa untuk bisa bergabung dengan FLP sudah harus pintar menulis, padahal nggak juga loh. Banyak anggota-anggota kami yang masuk ke FLP Malang justru karena baru ingin belajar menulis. Jadi buat kamu-kamu yang pingin belajar menghasilkan karya tulis yang oke tanpa mengesampingkan nilai dan pesan moral, gabung aja deh ama kita. Hehehe.... Di FLP Malang, kami saling bertukar dan berbagi ilmu.

Setelah bedah karya di Unibraw. Keliatan anteng begini, padahal...GOKIL SEMUA!
Nah, senarsis apapun kita, nggak ada karya yang benar-benar sempurna kan? Karena itu dibutuhkan saran-saran dan kritik dari orang lain, agar bagus-tidaknya karya kita bisa dinilai secara objektif. Karena itu, sesi bedah karya selalu menjadi sesi-sesi paling favorit Neko selama di FLP Malang. Di situlah peran DAS (Divisi Apresiasi Sastra, tadinya Divisi Kritik Sastra) dibutuhkan. Jadi sebenarnya tugas kami simpel banget, mengoordinir siapa saja anggota-anggota yang karya-karyanya mau dibedah ramai-ramai. Kami juga harus menentukan urutan, juga jadwal sesi bedah karya. Sering juga, kami mengundang penulis yang sudah lebih berpengalaman untuk membagikan tips-tips membuat karya juga menembus penerbit dan media massa. (dan karena simpel itulah, Neko memilih divisi ini heheheh...). Biasanya sih anak-anak FLP ngumpulnya di Taman Seribu Janji alias taman depan rektorat UIN (walau habis ini, Neko mau request agar diskusinya dipindah ke Perpustakaan Kota Malang Jl. Ijen agar suasananya lebih kondusif). Tapi alhamdulillah kita sudah punya markas baru sekarang (Jalan Terusan Piranha Atas Gg. Kenari no 42.)

Selain itu kita juga sangat aktif di dunia maya, terutama F. Jadi berawal dari melihat betapa semangatnya anak-anak FLP Malang saling unjuk karya di group, akhirnya kami pun punya ide, bagaimana kalau karya-karya tersebut dikumpulkan secara rapi, lalu diapresiasi (diberi saran dan kritik). Siapa tahu bisa langsung diedit-edit dan diajukan ke penerbit kan? Maka akhirnya jadilah blog ini. Fungsinya adalah untuk menjadi wadah unjuk karya dan sharing ilmu bagi anak-anak FLP Malang dengan cakupan yang lebih luas. Coz kalau di grup kan anggotanya terbatas. Sedangkan di blog ini, semua orang bisa mengakses dan menjadi saksi betapa produktifnya para Laskar Pena FLP Malang. Dan beginilah kami, menjadi Pemulung Karya. Harus memelototi layar berjam-jam untuk menelusuri  histori karya anggota di group rasanya ya sedap juga! Hahaha...semoga langkah kecil ini bisa memberi manfaat yang banyak bagi para anggota FLP Malang.

Karena divisi ini bertajuk Divisi Apresiasi Sastra, tentunya karya-karya itu ga cuma sembarang diposting dong, tapi juga kami beri sedikit masukan dan saran, juga pertimbangan tentang media mana yang kira-kira mau menerima jenis tulisan tersebut. Karena itu di bawah setiap postingan karya ada Editor's Note. Itung-itung divisi Neko bisa belajar jadi editor yang baik kan? Insyallah orang-orang yang menjadi editor di blog ini adalah orang-orang yang kapabilitas dan kiprahnya sudah nggak diragukan lagi! (Tuh foto-foto kami udah nangkring dengan narsisnya di sisi kiri blog) Hehehe ada Mbak Fauziah Rachmawati (Mbak Zie) yang beberapa artikel non ilmiah dan cerpennya sudah tembus media-media seperti Intisari, Republika, dan Surabaya Post. Psst baru-baru ini beliau lolos Pemuda Pelopor loh! Hehehe.... Lalu ada juga Mashdar Zainal yang setiap minggu, selalu saja ada cerpen-cerpen beliau yang dimuat. Bahkan lelaki yang sehari-harinya menjadi guru SD IT Insan Permata ini pernah menembus Kompas dan Jawa Pos loh! Sering cerpen-cerpennya dimuat oleh 3 harian secara bersamaan dalam satu minggu. So, siapa sih yang nggak pingin dapat saran dan masukan beliau pas bikin karya fiksi? Lalu ada lagi Ai El Afif, anggota divisi yang paling muda, tapi kiprahnya juga udah waw! Baru gabung FLP Malang (ngakunya sih baru aja belajar nulis) doi sudah jadi pemenang juara 1 Lomba Cerpen Rohto loh! Nggak cuma itu, beberapa lomba cerpen nasional dan regional lain pun sempat ia sabetBener-bener bikin gemes para seniornya deh hihihi. Tapi yang penting sip kan? Dan terakhir, ada Cecep El Bilad, yang baru saja menerbitkan buku bertema kondisi negara Indonesia saat ini. Kalau pemuda yang satu ini mah, insyaallah jagonya karya-karya non fiksi, Gan. Sekarang sudah hijrah ke Jakarta untuk bekerja di sebuah harian nasional, tapi insyaallah hatinya tetap ada di FLP Malang. Tahun kemarin doi baru pulang dari Amrik Bok. So, yang mau sharing-sharing soal kebudayaan Amrik, bisa langsung kontak beliau. Tulisan-tulisannya kebanyakan bertema soal kenegaraan, politik, dan isu-isu lain yang sering kita lihat di stasiun-stasiunTV berita tanah air. Mantaps


Udah, gitu aja? Perasaan kok ada yang kurang ya? Oh ya masih ada Neko hwkwkw...tapi kayaknya ga terlalu penting untuk dibahas, soalnya yaaah Neko masih belum terlalu berkiprah di media massa. Dulu sih pernah satu-dua karya dimuat, tapi itu duluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu sekali (dengan "U" yang entah berapa kilometer panjangnya). Untuk sementara ini, Neko masih stay in sebagai aktivis Facebook dan blogger, tapi tetap menulis sembari mencuri-curi ilmu dari anggota lain yang lebih jago hehehe... Neko juga mulai tertarik di bidang skenario ini, jadi yang mau sharing soal perfilm-an, hayuuuuk.

Neko berharap, semoga blog ini bisa merintis terbitnya media entah berupa majalah atau buletin terbitan FLP Malang sendiri. At least paling nggak e-magz dulu deh, kaya di FPKM (Forum Penulis Kota Malang) yang e-magz-nya udah bejibun, en lumayan disukai karena penuh dengan tutorial menulis. Semoga impian kecil ini bisa tercapai. Amin

Sebenarnya, Neko pingin cuap-cuap lebih banyak lagi soal kenapa kok nama divisi ini tiba-tiba diganti. Tapi yaa...karena udah kepanjangan dan deretan angka di net-biling udah semakin horor gini, Neko undur diri dulu. Insyaallah besok, kita bisa berjumpa kembali untuk membahas lebih banyak lagi tentang dunia Kritik Sastra (atau Apresiasi Sastra)

Cherio

Mizuki Arjuneko