Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Bedah Karya: Trigger Menulis FLP MALANG

Bedah Karya: Trigger Menulis FLP MALANG

Pertemuan seminggu sekali ini tetap kita adakan untuk saling sharing hasil belajar per individu anggota kita. Ya namanya juga membaca, atau menulis. Pasti dilakukan secara individu. Gak ada kan membaca dan atau menulis dilakukan secara rame-rame. Yang kayak gitu kan namanya deklamasi, or reading aloud, yang taste-nya pasti jauh banget lah sama silent reading, apalagi writing. Seperti yang dibilang para bijak: writing is a lonely profession. Dan begitu pula lah membaca. Apalagi membaca hati. Eaa! Bedah Karya: Trigger Menulis FLP MALANG


Atmosfer Liburan Ramadhan dan Syawal 1437 H

Bulan Juni-Juli ini banyak libur kita. Tapi semoga dalam libur pun tetap sakaw menulis ya. Minggu-minggu awal Ramadhan kita tetap membedah, mengritisi karya-karya anggota. Pertengahan Syawal udah mulai balik ke Malang, jadilah kita kopdar lagi. Sesekali kita eksplorasi ke karya-karya populer dunia atau lokal. Kadang kita bahas cerpen-cerpen yang ada di koran-koran nasional dan regional, kadang kita ambil cerpen-cerpen atau kumpulan puisi atau artikel penulis/penyair terkenal. Kadang kita tiba-tiba aja bahas tulisan di koran yang iseng dibawa Ain Nur, sang ratu angkot yang komitmennya luar biasa pada jadual dan angkot. Alhamdulillah, semua menambah wawasan dan ketrampilan menulis anggota FLP Malang. And hopefully, bisa semakin meningkat khazanah kebahasaan, wawasan, dan jam terbang membaca dan menulis kita.

Target yang Seolah-olah Gak Ambisius

FLP Malang mah gak muluk-muluk sekarang ini. Cuma pengen bikin anggotanya makin sering menulis, makin banyak membaca. Gitu aja. Saking gak muluk-muluknya, sampe kita jarang keluar kecuali diundang. Sok seleb banget sih, Kak?! Hadeuh bukaaan. Kita cuma pertapa wanna be. (Peace, browh)

Sering diomongin di luar bahwa kita kurang gaul. Yaa tak apa lah. Biasanya kutu-kutu buku emang gitu kan. Gak keren, gak gaul, gak banget. Gaulnya sama buku, sesekali aja sama makhluk hidup. Aw aw aw! (Tolong jangan ditimpuk, kecuali pake duit hasil menang lomba or honor menulis. Ahaha aminin aja dah.)

Kata Bruce Lee, dia lebih takut pada orang yang latihan satu jenis tendangan sampe seribu kali, daripada pada orang yang belajar seribu tendangan masing-masing sekali doang. Dan biasanya padi itu semakin berisi makin merunduk lah ia. Jadi yaa biasa aja lah. Kalo jalan terlalu tegak dan mendongak, nanti kesandung batu, Kawan. Membaca dan menulis itu pekerjaan sepi, jadi kita memang tak perlu ribut. Diam itu emas, insyaAllah. :)

Dan di antara orang-orang pendiam dan karya-karya mereka yang kita bedah di FLP Malang, ada di bawah ini nih:

01 Mei 2016 - Puisi-puisi Farah; Pemimpin yang Memimpin (Qonita)
08 Mei 2016 - Sajak-sajak Emokata M. Thaib Rizki; Fir'aun, Tuhan, dan Aku (Fino)
15 Mei 2016 - Dongeng-dongeng Iona (Firda); Puisi-puisi Nana Perdanastuti
29 Mei 2016 - Laut (Lita Lestianti); Kinan (Danang Kawantoro)
05 Juni 2016 - Tangan-tangan Hitam (Puput); Ayah (Muchtar); Mata Badik Mata Puisi Zawawi Imron
18 Juni 2016 - (Bukber man!)
12 Juli 2016  - (Silaturrahim ke pembina, halal bi halal)
17 Juli 2016  - Nir Val (Wulan)














Agenda Iseng yang Kita Lakukan di FLP Malang

Kadang kita suka bikin-bikin skenario pendek, kadang kita pergi karaoke juga. Kadang iseng-iseng bikin film pendek. Ide-ide sederhana aja, gak perlu njlimet. Gara-gara Molly, Puput, dan Mashdar ini awalnya. Beberapa potongan iseng yang eman-eman dibuang, monggo dipun enjoy mawon...




Eh ada lagi video yang dipesen sama FLP Jatim, baru sempet di-upload nih, sowwy lambat di-upload, guys. ^^v


ASK MASHDAR: Memilih Diksi dan Menyampaikan Pesan Dalam Cerpen

Berikut merupakan transkrip diskusi tentang :
Salah satu transkip diskusi seru yang telah menjadi artefak. :v
"Tentang Memilih Diksi" dan "Bagaimana menyampaikan pesan dalam cerpen."

#Mashdar Zainal:
Maaf, sore-sore baru buka lapak. Silahkan yang mau tanya seputar fiksi. Hari ini jadwalku 'ngisi lagi', seperti biasa, pertanyaan pertama yang akan kita bahas...
 2 Februari pukul 14:24

#Ain Nur, #Fauziah Rachmawati dan 2 orang lainnya menyukai ini.

#Mashdar Zainal: mention Lin Wulynne, Gusti Aisyah Mizuki-Arjuneko, Fauziah Rachmawati, Heni Syakarna, Cak Dayat, Mahfuzh Tnt, Muhammad Hafidz Mubarok, Ain Nur, Widiya Dewi, Arif Bawono Surya, dll... seretin temen2 yang belum ya...
                                                      2 Februari pukul 14:25 

#Ummu Rahayu:
Mas, gimana caranya menyeimbangkan kadar istilah-istilah baru dalam novel? Maksudnya, kan ada tu idiom-idiom yang jarang, sama istilah-istilah yang jarang ditampilkan gitu... Biar menambah informasi baru dalam tulisan. Nah, bagaimana menyeimbangkan itu? Kadang kan bisa males kalo banyak kata-kata yg tidak kita mengerti. Kapan kita bisa menggunakan itu? Saat yang tepat itu gimana?

Sama... dalam cerpen bisa ga kita menjelaskan seting misalnya dalam kamar itu ada meja dua buah, di atasnya ada piring, bak berkaki, sendok, nasi... di meja lainnya terdapat teko dengan tulisan teh atau kopi dengan jejeran gelas dan air mineral di samping kiri dan kanannya? (Hoho berapa pertanyaan sudah?)  Sebenarnya banyak yang mau dtanyakan nih mas. :D  
2 Februari pukul 16:54

#Ummu Rahayu: Oh iya Mas... dalam menulis itu menetapkan pesan moral dulu apa pesan moral biarlah muncul dengan sendirinya dalam tulisan
2 Februari pukul 16:57

#Mashdar Zainal:
Ummu Rahayu, pertanyaanmu satu RT full. Hmmm cara menyeimbangkan pilihan diksi? Saya pikir itulah novel. Memang harus kaya kata-kata sehingga bisa mendeskripsikan sesuatu dengan powerful. Soal idiom, atau diksi2 tak biasa, kau bisa menggunakan sesuai kebutuhan. Lalu kapan dibutuhkan? Kalau saya sendiri menyebutnya "nyastra". Ada beberapa kalimat yang butuh kata-kata tertentu untuk mengindahkan kalimat tersebut. Dan sebaliknya, terkadang kata indah/ idiom/ ilmiah akan menjadi garing bila kita salah menempatkan. 

Contoh kongritnya (lagi-lagi) kita harus tengok karya-karya keren yang sudah ada. Bagaimana para penulis itu menempatkan kata sesuai pada tempatnya....
2 Februari pukul 17:34

#Mashdar Zainal: Ummu, soal pesan moral, dari pengalaman, saya cenderung memulai menulis dulu (tak pedulu ada pesan atau tidak). Tapi setelah selesai, saya coba baca berulang-ulang, adakah sesuatu yang mungkin bisa diselipkan untuk disampaikan? Dan saya selalu menemukan ADA. Akan selalu ada, meski itu sangat kecil.
2 Februari pukul 17:35 ·

#Muhammad Hafidz Mubarok: ‎Ummu, yang saya tahu ada teknik namanya open up. Jangan dulu berpikir judul, jangan dulu berpikir pesan atau amanat,dan jangan pernah berpikir baiknya seperti apa. Kata Pak Hernowo, "Itu semua hanya membuang waktu."

Tulis saja semua gagasan, setelah selesai koreksi bukan edit. Jadi hilangkan yang sekiranya sampah, dan bumbui yang sekiranya menarik. Nuwus
2 Februari pukul 17:57 

#Mizuki-Arjuneko: Tapi setiap karya kan harus ada pesan moralnya. Bukannya itu salah satu prinsip FLP (n Islam)??? @_@
2 Februari pukul 17:59 ·

#Muhammad Hafidz Mubarok: Jangan salah paham, Neko. Pesan moral memang harus ada, tapi jangan sampai membebani kita. Terutama jika ingin memulai sebuah tulisan. Kalau belum-belum sudah terbebani moral, yang terjadi tulisan kita malah terkesan menggurui. Pembaca mana yang suka digurui?

So, teknik terbaik, jangan berpikir apapun ketika ingin menulis. Indah atau tidak, sesuai prosedur atau cabang, kita urusi belakangan. Saya kira Ummu bertanya seperti itu karena lebih dulu takut untuk menulis, apakah tulisannnya sesuai islami atau gak.Itu yang menjadi big problem
2 Februari pukul 18:03

#Ummu Rahayu: Huuummmmm asssiiiikkkk.... Terima kasih Mas Mashdar Zainal, terima kasih Mas Muhammad Hafidz Mubarok ^_^V
4 Februari pukul 22:55

END NOTES:
Yap, itulah laporan diskusi fiksi di lapak Mashdar Zainal (tentu saja ada beberapa hal yang diedit, dan disesuaikan. Komentar-komentar yang ditampilkan adalah komentar yang masih sesuai dengan isi diskusi. Juga ada penyesuaian beberapa ejaan dan diksi)

Sebenarnya untuk pemunculan moral atau pesan dalam karya sastra itu adalah keharusan menurut teori Dulce et Utile. Dulce (sweet/indah), Utile (berguna). Dicetuskan oleh Horacio, filsuf Yunani klasik. Bisa dipelajari lebih detail di buku Teori Sastra atau Literary Theory, yang ditulis oleh Wellek dan Warren. Inti dari konsep ini sebenarnya sangat sederhana. Bahwa  sebuah karya sastra harus indah, sehingga menghibur pembacanya, dan berguna, sehingga mencerdaskan pembacanya. 

Karena untuk apa karya yang rumit, susah dipahami, dan memakai bahasa yang muluk-muluk kalau pada akhirnya tidak membawa pesan positif bagi pembacanya kan?

Nah, bagaimana diskusi di atas? Seru kan? Berbagi memang nggak pernah rugi. Thanks buat Ummu Rahayu yang sudah memulai diskusi ini dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menarik. Juga buat Hafidz yang sudah ikut berusaha memberi pencerahan. Terlebih lagi, thanks a lot buat Mashdar Zainal yang sudah meluangkan waktu untuk berbagi ilmu di lapak ini. Sukses dengan karya-karya barunya, Pak. ^_^b

Profil Mashdar Zainal.

Mashdar Zainal adalah nama pena dari penulis kelahiran kota Brem, Madiun, ini. Beliau dilahirkan pada tanggal 5 Juni 1984, dengan nama Darwanto. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di tanah kelahiranya, Usai lulus MTs. Ia merantau ke Nganjuk, untuk belajar nyantri. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar ia sudah bersahabat karib dengan buku, khususnya komik dan buku cerita.

Selain membaca dan menulis tentunya, sejak kecil ia juga paling gemar melukis, buku-buku pelajarannya selalu penuh dengan puisi dan gambar-gambar. Cita-cita kecilnya menjadi seniman, seiring berjalannya waktu ternyata ia lebih suka menjadi seniman tinta.

Akhir tahun 2007, pria yang biasa di panggil Mashdar ini sukses menyelesaikan studinya di Fakultas tarbiyah  UIN Malang dengan predikat sangat memuaskan. Saat ini ia tengah mengajar di SDIT Insan Permata Malang. Bergiat juga di Komunitas Sastra Lembah Ibarat Malang. Organisasi kepenulisan yang masih aktif ia tekuni salah satunya ialah Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Malang.

Beberapa kali ia menjuarai Lomba Kepenulisan Cerpen dan Puisi, dari Tingkat Lokal sampai Tingkat Nasional. Terakhir, dia mendapat predikat “Penyair Hijau” sebagai juara harapan III Lomba Cipta Puisi bertajuk “Puisi Hijau”, yang digelar oleh Harian Online Kabar Indonesia (HOKI). Dua cerpennya Laron (2011) dan Pohon Hayat (2012) sudah berhasil menembus rubrik cerpen media nasional bergengsi, Kompas. Cerpen-cerpennya bertebaran hampir tiap minggu di berbagai media seperti Jawa Pos, Journal Cerpen, etc.

Beliau sudah menerbitkan satu novel di bawah penerbit Pro U Media, Zalzalah. Novel keduanya, BLACK JASMINE sedang dalam proses penerbitan di penerbit yang lain. Sungguh penulis yang sangat produktif. Impiannya adalah melihat karyanya difilmkan oleh sineas-sineas jempolan.



Bagi pembaca yang ingin bersilaturrahim dan berbagi ilmu melalui kirtik, saran, ataupun tanggapan bisa langsung mengirim e-mail ke mashdar.zainal@yahoo.co.id, bagi yang ingin lebih mengenal sosoknya silahkan singgah ke gubuk mayanya dengan alamat www.mashdarzainal.blogspot.com

Cerpen - Paman Bostro

Rumput masih semerbak. Matahari pun terik renyah. Kondisi yang tepat untuk keluar kandang untuk paman yang sedang merindukan ponakan. Paman Bostro hidup mandiri. Memimpin koloni dengan gagah berani. Dia dikenal sebagai komandan paling hebat sekoloni. Berhasil memimpin dalam perluasan beberapa wilayah. Hari ini waktunya menurunkan keberaniannya kepada sang mentari. Ponakan satu-satunya yang akan mewarisi kegagahannya. Pikirannya sudah melayang jauh ke depan. Jalan di bawah matahari pagi yang hangat. Melewati padang rumput dengan embunnya yang masih menempel. Menyusuri harum-harum kayu yang menentramkan. Lalu disambut dengan pelukan erat sang ponakan.

Tetapi bayangannya buyar ketika melihat mobil Jasa Pest Control di depan rumah ponakannya. Kemungkinan-kemungkinan buruk langsung menghujani pikiran. Mobil itu selalu membawa hawa maut. Tunggang langgang dia kembali ke rumah. Dipanggilnya seluruh pasukan. Breafing cepat. Operasi darurat akan dilakukan untuk menyelamatkan koloni sebelah.

Jasa anti rayap merupakan musuh utama mereka. Setiap rumah yang didatangi mobil itu nasibnya selalu tak jelas. Belum pernah ada yang selamat dan dan berhasil menceritakannya. Hanya Paman Bostro lah yang pertama bisa lolos. Mukanya penuh codet karena harus menembus celah-celah sempit untuk kabur. Meskipun begitu, dia juga tak bisa menceritakan bagaimana dia bisa lolos dari bencana itu. Hanya keajaiban penjelasannya.

Isu yang masih simpang siur itulah membuat banyak prajurit mundur. Mereka masih sayang nyawa. Namun ada beberapa ksatria yang berani bertempur dengan Paman Bostro. Berangkatlah mereka. Bergerilya melewati rumput, sampailah mereka di depan pintu. Namun pintu itu sudah dibersihkan. Melewatinya berarti bertaruh nyawa.

Kepala Paman Bostro makin panas. Lebih baik mati daripada tak bisa menyelamatkan ponakannya. Mimpinya adalah melihatnya berkembang, semakin kuat, bahkan bisa menjadi komandan sepertinya.

Dia pun mengambil resiko yang lebih besar. Terjun bebas dari pohon. Segera Paman memimpin pasukan memanjat pohon. Satu persatu mereka terjun ke atap rumah. Lalu menerobos celah-celah genteng. Dari situ mereka berlari menyusuri kayu-kayu atap langsung menuju ke rumah ponakannya.

Paman Bostro berlari paling depan. Paling cepat. Dia tak ingin kehilangan keponakan satu-satunya. Memimpin pasukan menyusuri lantai terbuka. Semua pasukan mengikuti langkah sang pemberani itu, komandan terkuat di antara koloni. Tapi perhitungan Paman kali ini salah. Dari arah belakang muncul badai besar. Menyapu seluruh pasukan. Sekaligus dengan Paman Bostro. Kali ini Paman tak bisa memanggil keajaiban untuk kedua kali. Dia ikut tergulung badai besar. Panas. Perih. Sesak. Paman berusaha menyelamatkan diri. Namun badannya tak bisa digerakkan. Hanya matanya samar-samar menangkap sosok raksasa biru bertuliskan "Jasa Pembasmi Rayap"

Membedah Cerita Rakyat, Menyambut Lomba Menulis Cerita Rakyat oleh Kemendikbud

Bedah karya di FLP Cabang Malang kali ini membahas cerpen Fauziah Rachmawati tentang Ken Dedes, Anusapati, Ken Arok, Tunggul Ametung, dan sebagainya (gak perlu ditulis semua, saking banyaknya nama tokoh dalam cerpen ini). Zie menulis cerpen ini untuk warming up lomba menulis cerita rakyat dari kemendikbud yang deadline-nya 20 Agustus 2015.

Dalam cerpennya yang ke sekian ini, akhirnya kami menjumpai literature leap oleh Zie: beberapa paragraf dalam cerita ini mulai puitis, liris, dan dramatis. Rasa bahasa yang dikenakan untuk menghias paragraf-paragraf itu semacam lamis dan sedikit magis. Halah. Hihi. Tapi iyes, Zie sepertinya mulai bereksperimen dengan deskripsi dan diksi. Awesome!

Wajah Plastisin

Burung terbang ramai ke sarang. Aku juga bergegas terbang pulang. Menjauh dari pelik rapat yang saling serang demi secuil uang. Melesat cepat bersama burung menembus gebyar kota. Sesampai rumah lekas kubersihkan diri, bersolek secukupnya, memakai baju dari web Bajugamisku. Lalu, bersiap berangkat kembali. Sekarang kafe tujuanku. Melemaskan satu lagi masalah di kepala. Ya, masalah denganmu. Aku ingin berdamai dengan takdir ini.

Takdir yang susah kulupakan sejauh tahun-tahun yang sudah berlalu. Terlebih kau memberikan kenangan spesial di perpisahanmu. Di kafe ini. Mana mungkin kenangan itu bisa hilang dengan mudah? Kau memasak seluruh makanan favoritku, menyanyi dengan suara serakmu, dan tak lupa kau mencetak wajahmu pada sebuah plastisin sebagai sebuah hadiah di hari ulang tahunku.

Sumber gambar aliexpress
Apa kau juga masih ingat busana pesta yang kupakai saat itu? Bukankah juga pemberianmu? Aku saja tak bisa melupakan bagaimana kau bertindak layaknya maling. Mengendap-endap ke rumah. Mencoba memasukkan baju ke tas. Hampir saja kepalamu pecah bersama vas bunga. Kalau saja kau tak sadar aku juga mengendap di belakangmu. “Haah..” Aku tertawa. Dari mana pula kau dapat kunci rumahku.

Espressoku hampir habis. Kumainkan teguk terakhir lama di mulutku. Pahit memang. Tapi tak sepahit kepergianmu. Bersama alunan pelan biola di panggung kuambil plastisin dari tas. Selalu kubawa di dalam tas. Namun bukan cetak wajahmu, tak berani melihatnya lagi. Kupandangi plastisin di bawah lampu redup.

Tapi malah ingatanmu yang muncul kembali. Tengah malam pesanmu masuk. “Sorry to say. Berat memang, tapi satu nanti moga bisa ketemu kembali.” Seperti pesawat yang turbulensi keras, semua orang menjerit. Lebih-lebih kau ucapkan hanya lewat pesan pendek. Setelah malam yang membuatku melayang. Belum selesai di situ kau menyiksaku. Kau tambah bahwa akan take off. Pesawat itu sudah tak turbulensi lagi, melainkan jatuh ke jurang lalu hilang.

Aku mencoba menghilangkanmu, tapi juga menantimu. Biola mengalir merdu, membawa sendu hilang bersama not-notnya. Tapi seseorang memotongnya, mungkin bocah yang ingin mengucapkan cinta lagi. “Lebay sekali” Aku merutuki sendiri dalam hati.

Suara serak. Ya, suara serakmu. Itu serak suaramu bukan? Aku mimpi? Kubalikkan badan. Mataku terbelalak. "Ka..ka..kau? Pu..pulang?" Tak menunggu sadar, kakiku lari ke panggung. Sekencang mungkin. Tersandung pun biar. Lekas mengeluarkan plastisin dari tas. Mencetak wajahku sendiri di sana. “Ini...!!! Kau tahu rasanya menyimpannya selama ini?”

(DAS FICTION) The Legend of MIAMI: Lost of Civilization

Minggu, tanggal 22 September 2013, FLP Malang kembali menggelar acara bedah karya anggota. Kali ini karya yang beruntung untuk dibedah adalah: The Legend of Miami (Lost of Civilization), karya Jihan Eria Javanica.  Karya kali ini termasuk istimewa dan beda dari karya-karya yang pernah dibedah divisi sebelumnya. Jika anggota FLP Malang yang lain lebih banyak fokus kepada genre drama, Jihan membawa kesegaran dengan menyodorkan karya bergenre fiksi fantasi! Dari judulnya saja sudah terlihat megah kan :)

Yeah! Karya yang akan Anda baca ini memiliki genre yang sama dengan serial Percy Jackson, Harry Potter, dan kawan-kawannya. Tentunya dengan polesan dan asahan di sana-sini, Neko yakin di masa depan Jihan akan menjadi salah satu penulis karya fiksi fantasi untuk remaja dan anak-anak yang diperhitungkan di tanah air. Yak seperti apa sih karyanya? Just check it out! ;)

The Legend of MIAMI
(lost of civilization)

oleh: Jihan Eria Javanica

“Em... apa mungkin semua ini adalah sebuah anugerah? atau malah kutukan? atau mungkin keduanya?”, gumam Nico dengan serius mengamati satu persatu simbol-simbol yang tertera pada prasasti-prasasti kuno.
Di ruang 7x6 meter itu, sudah hampir satu bulan Nico berada disana, memerhatikan tiap detil prasasti-prasasti kuno yang telah Ia temukan satu bulan yang lalu.  Ya, memang benar, cowok berwajah ketimuran yang sebentar lagi berusia 20 tahun itu adalah penggila sejarah. Bahkan teman-temannya memeberi julukan ‘History Zombie’ kepadanya. Nico tidak akan berhenti sebelum ia mendapatkan apa yang dia mau. Nico selalu mendengungkan prinsip “Sebelum ajal pantang mati”.
“Ya!!! aku tahu arti semua ini, ini adalah sebuah cerita kuno berabad-abad yang lalu, sebuah cerita yang terlupakan dan hilang terbawa masa”, teriak girang Nico. “Kalau begitu aku akan mulai membaca prasasti-prasasti ini dari awal”. Dengan penuh semangat dan rasa ingin tahu yang luar biasa, Nico mulai membacanya.
Ini adalah sebuah cerita yang sudah tertidur lama. Jangan kau bangunkan, karena ia akan selalu mengusikmu, tapi jangan kau biarkan tertidur terlalu lama karena ia adalah kunci rahasia dari semua rahasia yang belum pernah terpecahkan. “Em... apa maksudnya ya? apa mungkin ini adalah sebuah peringatan? atau kebenaran yang belum terungkap?”, berjuta pertanyan telah menggeliat didalam otak Nico. “Baiklah, aku akan teruskan membacanya, gayung tersambut kata terjawab!!”.
***
Berawal dari sebuah peradaban mesir kuno yang bernama Miami, awal mula dari semua peradaban. Mereka adalah peradaban yang makmur, sangat kuat, dan berjaya pada masanya. Dikatakan peradaban Miami, karena mereka memiliki sebuah batu mulia yang mempunyai kekuatan sangat dahsyat dan mereka menyebutnya batu Miami. Batu itu menjadi pondasi dari peradaban mereka. Batu Miami dipegang secara turun-temurun oleh raja karena hanya raja dan keturunannyalah yang bisa menggunakan batu itu. Pada saat itu peradaban Miami dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama raja Zertus III, dan rakyat yang sangat menghormati raja. Mereka percaya bahwa raja adalah titisan dewa, menurut mereka melawan raja sama dengan melawan dewa. Peradaban Miami sangat memercayai kekuatan magis, dan kekuatan magis terbesar ada ditangan raja dan batu Miami.
Seiring berjalannya waktu, ketentraman masyarakat Miami mulai terusik, ketika bermunculan pemberontak-pemberontak yang menginginkan batu Miami. Diantara pemberontak yang paling kuat berasal dari partai Ordoks dan partai Nahoa, akan tetapi penumpasan yang paling besar adalah melawan pemberontak dari partai Nahoa. Meskipun partai itu dipimpin oleh seorang wanita, tapi penumpasannya terjadi selama berbulan-bulan. Dan akhirnya dengan bantuan batu Miami, Nahoa dapat dikalahkan dengan membunuh pemimpin mereka dan menggantung kepalanya di alun-alun kota. Tapi bukan berarti batu Miami sudah aman. Yang pasti, ada gula ada semut.
Negeri Miami makmur kembali. Seperti biasa, raja Zertus III duduk diatas singgasananya yang sangat megah dan indah, dan dengan segala wibawa yang dimilikinya raja Zertus III memerintah. Pada saat raja Zertus III sedang mendiskusikan kemenangan menumpas pemberontak dengan para mentri, tiba-tiba datanglah seorang dari kaum pengerajin yang ingin menghadap.
“Hormat hamba pada yang mulia”, kata gadis cantik itu dengan lembut.
“Ada apa gerangan kau kesini?”, tanya raja Zertus III.
“Ampuni hamba yang mulia, hamba hendak meminta keadilan kepada yang mulia”. “Keadilan?? coba ceritakan apa yang membuatmu merasa terdholimi di negeriku ini? dan bukankah kau dari kaum pengerajin?”.
“Benar yang mulia, hamba dari kaum pengerajin. Maafkan hamba jika hamba lancang dan berani menghadap yang mulia. 5 terang yang lalu kaum pengerajin di desa kami disiksa habis-habisan oleh kaum bangsawan karena tidak membayar pajak”, jawab gadis itu dengan suara khas lembutnya.
“Bukankah itu sudah menjadi kewajiban kalian?, lalu apa yang membuat kalian meresa tidak adil?”.
 “Beribu-ribu maaf yang mulia, tapi sudah 4 purnama ini kaum bangsawan menetapkan pajak 7 kali lipat lebih besar dari biasanya, dan jika kami tidak membayar atau melaporkannya kepada yang mulia mereka tidak segan-segan menganiaya bahkan membunuh kami”, tutur gadis itu.
“Apa?!! apa yang kau katakan itu benar?”.
“Mana mungkin hamba berbohong, hamba tidak berani yang mulia”.
“Lancang!! sungguh lancang! beraninya mereka melangkahiku!. Baiklah, aku akan mengurusnya dan jika perkataanmu benar, aku akan menghukum mereka. Dan jika diperlukan aku akan memenggal kepala mereka untuk kalian, agar ini semua menjadi pelajaran untuk yang lainnya. Dan untukmu, karena keberanianmu aku akan memberikanmu hadiah”, titah raja Zertus III.
“Hormatku pada yang mulia, terima kasih yang mulia, yang mulia sungguh bijaksana, hamba akan mengabarkan berita baik ini kepada saudara-saudara hamba”.
***
Setelah kejadian itu, diam-diam raja Zertus III menaruh hati kepada gadis pengerajin itu.
“Hm.. sebenarnya siapa gadis itu? dia begitu cantik dan kelihatannya dia juga pintar, berani, dan  jujur. Sungguh sosok yang sempurna. Mungkin negeri ini membutuhkan dia untuk membawa kejayaann dan untuk melindungi batu Miami”, batin raja Zertus III.
Keesokan harinya raja Zertus III mengeluarkan titahnya untuk memanggil gadis pengerajin itu. Raja Zertus III menganugerahkan keagungan raja pada gadis itu dengan menjadikannya selir. Awalnya para mentri tidak setuju dengan keputusan tersebut, karena gadis itu berasal dari kasta rendah, akan tetapi apa boleh buat, dalam peraturan kerajaan, mentri tidak boleh ikut campur dengan urusan rumah tangga raja.
Pada  saat gadis itu menemui raja, gadis itu terlihat cemas karena dia tidak tahu kenapa raja Zertus III memanggilnya.
“Nama kamu siapa?”, tanya raja Zertus III.
“Nama hamba Delindra yang mulia. Maaf yang mulia apakah hamba berbuat salah?”, jawab gadis itu dengan gugup.
“Oh.. Delindra, tentu tidak. Aku mempunyai sesuatu untukmu. Hakim.. tolong berikan titahku padanya”.
Hakim membacakan titah raja Zertus III pada Delindra, alangkah terkejutnya saat Delindra mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
 “Maafkan hamba atas kelancangan hamba yang mulia, hamba tidak pantas menerima semua ini. Hamba hanya kaum pengerajin berkasta rendah. Bahkan menginjakkan kaki di istana ini saja hamba tidak pantas. Maafkan hamba yang mulia”, pinta Delindra.
 “Tidak Delindra, aku tidak pernah memandang seperti itu, aku memilihmu karena kau memang pantas. Negeri ini membutuhkan orang berani dan jujur sepertimu untuk melindungi negeri ini dan batu Miami”. “Angkat kepalamu Delindra”, pinta raja Zertus III.
Saat Delindra mengangkat kepalanya, raja Zertus III seperti teringat sesuatu.
“Delindra, apakah kita pernah bertemu sebelumnya? sepertinya wajahmu tidak asing bagiku”.
 “Ampun yang mulia, mana mungkin orang seperti hamba ini pernah bertemu dengan yang mulia”, jawab Delindra dengan sangat cemas.
 “Ya, mungkin kau benar. Kalau begitu aku akan meminta para mentri untuk mempersiapkan upacara penobatan dengan segera”.
***
Sejak saat itu, Delindra diangkat menjadi selir raja Zertus III dan menjadi satu-satunya wanita kesayangan raja Zertus III dan namanya berubah menjadi Zura. Seperti yang dikatakan raja Zertus III setelah kedatangan selir Zura, peradaban Miami semakin berjaya dan wilayah kekuasaannya semakin meluas. Selir Zura sangat dicintai dan disegani oleh rakyat, karena menurut mereka selir Zura membawa keberuntungan.
Dalam balutan sinar bulan yang bulat, raja Zertus III dan selir Zura terlihat berbincang-bincang di tempat peristirahatan mereka.
“Aku memang tidak salah memilihmu selirku, kau bukan hanya cantik tetapi kau begitu pintar dan jujur, juga berani, akan tetapi terlepas dari semua itu tutur kata lembutmulah yang membuat aku sangat mencintaimu”, kata raja Zertus III.
“Ah.. jangan seperti itu yang mulia. Aku sudah berjanji akan selalu melayani yang mulia sampai maut memisahkan kita”, bisik lembut selir Zura.
 “Malam ini bulan bersinar bulat dengan sempurna, akan tetapi sinar bulan tak akan sanggup mengalahkan cahaya kecantikanmu selirku, karena kau memang bagai emas baru disepuh, ya malam ini adalah malam purnama tapi entah mengapa aku merasa malam purnama ini adalah malam yang terindah dalam seumur hidupku, mungkin ini semua karenamu selirku”.
Tiba-tiba selir Zura teringat sesuatu.
“Ini sudah saatnya”, gumam selir Zura.
 “Apa kau berkata sesuatu selirku?”,
”Ah.. tidak ada apa-apa, maksudku yang mulia terlalu berlebihan menilaiku, aku tidak sehebat itu”.
 “Tidak, aku bersungguh-sungguh, semua yang aku peroleh saat ini adalah karenamu, justru aku malah keterlaluan jika tidak memujimu”.
 “Yang mulia, apa aku boleh bertanya sesuatu?”, rayu selir Zura.
“Ya, tentu saja.. Apapun itu”, jawab raja Zertus III dengan antusias.
“Kenapa batu Miami sangat diinginkan oleh semua orang? bukankah itu milik yang mulia? lagi pula hanya yang mulia dan keturunan yang mulia yang bisa menggunakannya”.
 “Batu Miami memiliki kekuatan yang sangat besar, bahkan melebihi kekuatan para dewa. Oleh kerena itu, banyak orang yang mengingnkannya untuk kepentingan mereka sendiri. Sebenarnya batu Miami bisa digunakan oleh selain aku dan keturunanku, asalkan aku dan keturunanku sudah mati tak tersisa. Batu Miami akan memilih tuannya yang baru. Dan sekarang aku sudah menyimpan batu Miami ketempat yang aman.. Aku teringat pertama kali aku mencoba kekuatan batu Miami, saat itu umurku genap 20 tahun. Dan ayahku mengatakan batu Miami dapat digunakan dengan maksimal jika seseorang sudah berusia 20 tahun”, tutur raja panjang lebar.
Dengan kerlingan cerdik, selir Zura berkata, “Apakah boleh selirmu ini melihat batu Miami itu yang mulia?”.
“Batu Miami? ya,, tentu saja boleh, dan seharusnya kau juga perlu mengetahuinya, sebab aku sangat mempercayaimu lebih dari apapun”.
Raja Zertus III mengambil sebuah kotak emas yang bertahtakan berlian, didalamnya terdapat sebuah batu yang terbungkus kain sutra kemudian raja Zertus III menunjukkan kehebatan batu Miami kepada selir Zura, selir Zura terperangah. Ternyata batu Miami lebih indah dari yang ia bayangkan, dan tentu saja aura magisnya sangat kuat. Batu itu berwarna keemasan dan jika disentuh, akan mengeluarkan seberkas cahaya berwarna biru dan hijau. Seketika itu selir Zura menampakkan perangai aslinya. Selir Zura merampas batu Miami itu dari tangan raja Zertus III dan menyerang raja Zertus III.
 “Selir Zura! ada apa denganmu?”.
“Akhirnya setelah penantian yang cukup panjang aku bisa merebut ini darimu, tapi sayang kau masih hidup dan sebentar lagi aku akan membunuhmu!”.
“Apa maksudmu? kenapa kau jadi seperti ini? ternyata selama ini kau hanya berpura-pura, sebenarnya kau muka licin ekor berkedal”.
 “Tidak!! kau salah! aku tidak membutuhkan semua ini. Aku hanya membalaskan dendam kakakku yang telah kau bunuh dengan keji dan kepalanya kau gantung di alun-alun kota”, sangkal selir Zura.
 “Jadi kau adalah adik dari pemimpin partai Nahoa?!. Dan ternyata kau bukan dari kaum penegerajin tapi kaum bangsawan. Ini semua kau yang atur. Sekarang aku mengerti kenapa saat pertama kali melihatmu aku seperti mengenalmu”, jelas raja Zertus III.
“Ya, kamu benar!. Semua ini adalah siasatku dan bersiaplah aku akan membunuhmu”.
Seketika itu terjadi pertempuran sengit antara raja Zertus III dan Delindra. Raja Zertus III tidak menyangka bahwa Delindra mempunyai kekuatan besar, bahkan bisa mengimbanginya.
Ditengah-tengah pertempuran, raja Zertus III berfikir, “kekuatan Delindra sangat besar, bahkan hampir dapat mengimbangiku, jika aku terus bertarung dengannya maka bukan tidak mungkin dia berhasil membunuhku dan merebut batu Miami”.
Akhirnya raja Zertus III memutuskan untuk membunuh Delindra dengan cara mengorbankan dirinya.
***
Berabad-abad tahun sudah berlalu, batu Miami hilang bersamaan dengan peradaban tersebut. Tidak ada yang tahu keberadaan batu Miami, ada yang mengatakan batu Miami ada bersama keturunan raja yang terpilih untuk melindungi batu Miami.
Saat melihat sebuah simbol yang menunjukkan gambar batu Miami, Nico teringat sesuatu.
 “Simbol batu ini seperti hadiah batu konyol yang diberikan nenek ketika ulang tahunku yang ke 17”. Nico terkejut, “Mungkinkah...??”.
Nico berlari dan mencoba menemukan batu yang diberikan oleh neneknya yang sudah ia biarkan disekitar kamarnya selama 3 tahun. Nico terus mencari batu itu di setiap sudut kamarnya, akan tetapi dia tidak menemukannya. Nico duduk bersandar ditempat tidurnya karena kelelahan, samar-samar Nico melihat seberkas sinar di kolong tempat tidurnya. Sinar itu berwarna biru dan hijau. Lalu Nico mendekatinya.
Nico membungkuk dan meraih batu itu. Tak disangka jam dinding berdentang menunjukkan pukul 24.00, dan sekarang Nico genap berusia 20 tahun. Nico tersadar dan angin kencang mulai berhembus, hujan mulai lebat dan petir menyambar. Nico langsung mengambil batu itu dan sekejap, suasana disekitarnya mulai berbeda.
Sinar yang keluar dari batu itu semakin terang dan memenuhi seisi rumahnya. Nico mengamati batu itu dengan teliti. Nico tersentak.

“Ini kan..!!! Berarti aku... Mana mungkin??”
TAMAT

Karya ini telah diterbitkan dalam Antologi FLP UIN berjudul BIANGLALA LAKON.


Total ada 35 karya dalam antologi yang cukup tebal ini. 
Antologi ini memuat cerpen-cerpen yang mengangkat beragam lakon kehidupan.
 Mulai isu sosial, kekerasan terhadap perempuan, fiksi-fantasi, hingga cinta. 
Dikemas dengan apik, kaya warna dan penuh makna. Sesuai dengan judulnya:

BIANGLALA  LAKON

Semuanya bisa Anda nikmati hanya dengan Rp 35.000,00. 
Terjangkau sekaligus bergizi bukan? Untuk pemesanan, hubungi:

Riza: 085755280243
atau

Jihan: 085852228986

Mengenai ongkos pengiriman, 

silahkan dibicarakan lebih lanjut dengan kedua Contact Person di atas :)