(DAS EDITORIAL): Teori Resepsi, Metamorfosa Karya Sastra (revised edition)

 A. Teori Resepsi dan Intertekstualitas (Prelude)

Yak ketika Neko untuk pertama kalinya duduk bersama para brondong angkatan 2011 di kelas Teori Sastra yang dipegang Pak Karkono dari Jurusan Sastra Indonesia, Neko langsung disuguhi dua nama teori di atas. Jujur saja, karena pernah nggak mudeng dan akhirnya dapat nilai aib pas Neko mengikuti mata kuliah ini di jurusan Neko, Neko agak alergi sama yang namanya –isme-isme. Tadinya satu-satunya yang Neko tahu dari mata kuliah Teori Sastra yah…mata kuliah yang full of isme-isme ini. Ada formalisme, strukturalisme, post-modernisme, feminisme, dan Neko cuma tahu sekedar nama…doang! Kalau ditanya makanan apa sih nama-nama aneh di atas? Jawabannya: Meneketehe? Apalagi, apaan tuh resepsi? Setahu Neko “resepsi” itu ya sama dengan “kondangan”. Hrr… Neko pernah mencoba membuka Wikipedia dan yang tertulis di sana benar-benar nggak membantu. Tahu sendiri serumit apa gaya bahasa Wikipedia dalam bahasa Inggris itu.  Dan dasar Neko sama sekali nggak punya background knowledge tentang isme-isme di atas, makin blank-lah Neko. 
"Allahuakbaaar!!! Anda itu ngomong apa seh??? Pakek bahasa kucing dooong!"
(kira-kira beginilah tampang Neko saat dosen Neko dulu  mulai ngomongin isme-isme yang bejibun tapi absurd itu...)
Bagaimana dengan buku teksnya? Huff…udah fotokopian, tulisan kecil-kecil dengan model ketikan, nggak ada gambar-gambar lucunya, ditulisnya pakai bahasa Inggris semua pulak! (Jdhang! Ya iyalah dhodhooll…emang kamu pikir kamu sedang kuliah di jurusan apaa???)
Nah, apakah jika mata kuliah ini disajikan dalam bahasa Indonesia lalu materinya bisa diterima oleh otak Neko yang super simple ini?
Neko saat berusaha menyimak penjelasan dosen Literary Theory
(Inilah yang dimaksud dengan 'tidur dengan mata terbuka' haahaha)
Hm…yang jelas kali ini dalam mengantarkan para mahasiswanya untuk memahami materi mata kuliah, sang dosen lebih sering menjelaskan tiap-tiap teori dengan contoh-contoh karya sastra yang sudah dikenal para mahasiswanya seperti, Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, Perempuan Berkalung Sorban, dan baladewanya. Akhirnya itu yang bikin anak-anak di kelas termasuk Neko menjadi lebih bergairah dalam mengikuti diskusi-diskusi yang ada. Semua orang juga pasti akan lebih bersemangat ketike membicarakan hal-hal yang mereka tahu kan? Dosen Neko yang dulu tentu saja bersemangat memberikan kuliah, karena jelas ia menguasai materinya di luar kepala. Tapi bagaimana dengan Neko yang saat itu datang ke perkuliahan hanya dengan modal pantat? =_=” Hufff…
So, apa sih intertekstualitas itu? Dan apa hubungannya teori resepsi dengan kondangan? Apakah teori resepsi itu adalah teori tentang trik-trik menghadiri resepsi seperti cara jitu untuk mencicipi semua hidangan prasmanan tanpa dibilang “nggragas”? Hahaha…sebelum Neko semakin ngaco…(efek insomnia ternyata segeje ini, Saudara), berikut contoh simple  yang diberikan oleh Bapak dosen kepada kami:
Adaptasi dari novel Ayat-Ayat Cinta menjadi Film Ayat-Ayat Cinta yang diperankan Fedi Nuril dan Riyanti Catwright itu berhubungan dengan teori resepsi. Sedangkan ketika ada sebuah teks klasik nan legendaris “PANJI INUKERTAPATI”, yang kemudian menjadi model atau inspirasi beberapa cerpenis jaman sekarang untuk membuat cerita cross-over, dengan seting dan tokoh sama, tapi dengan sudut pandang yang berbeda, dan hasilnya menjadi cerita yang memberikan ‘rasa’ yang berbeda pula, itu baru berhubungan dengan teori intertekstualitas.
 VS


 Adaptasi novel AAC ke dalam format layar lebar dianalisa dengan memakai TEORI RESEPSI


Lukisan Pangeran Panji Inukertapati mencari istrinya yang hilang, Dewi Sekartaji. Cerita Panji adalah epik terbesar dalam kutur folklore Jawa. Cerita ini sudah memiliki banyak versi (Bali, Jawa, Kalimantan), bahkan sampai ke mancanegara (Myamnar, Filipina, Thailand, dan Kamboja). Varian cerita ini sangat banyak di antaranya Ande-Ande Lumut dan Keong Mas. Cerita Panji ditampilkan dalam berbagai media seperti tari tradisional, dan wayang orang. Banyak sastrawan Indonesia jaman sekarang yang terinspirasi untuk membuat cerita dengan model Cerita Panji. Karya-karya inilah yang kemudian dimasukkan dalam ranah intertekstualitas.
.

Lukisan Bali yang menggambarkan Pangeran Panji bertemu dengan 3 perempuan di hutan

Keterkaitan teks Lakon Cerita Panji dengan teks-teks lain seperti Keong Emas, Ande-Ande Lumut, atau cerpen-cerpen masa kini dianalisa dengan menggunakan TEORI INTERTEKSTUAL

B. Contoh-contoh Hasil Resepsi

Untuk contoh yang pertama, Neko pikir udah lumayan jelas maksudnya. Teori resepsi banyak berhubungan dengan proses adaptasi satu karya sastra ke karya baru atau karya dengan menggunakan media penyampaian yang baru. Contohnya seperti adaptasi dari novel ke film (Ayat-Ayat Cinta, Harry Potter, Eragon, etc), film ke novel (Naga Bonar Jadi 2, Biola Tak Berdawai, Brownies, etc)game ke film (Tekken, Street Fighter, Final Fantasy The Spirit Within, Advent Children, Silent Hill), novel ke komik (5cm, Anak Kos Dodol, Kambing Jantan), dan lain-lain. Dalam adaptasi jenis ini, konsumen sudah mengetahui secara jelas bahwa beberapa karya tersebut adalah karya yang berasal dari sumber yang sama, hanya media penyampaiannya saja yang berbeda. 


 Kalau Harry Potter, bukunya ada lebih dahulu, baru kemudian dibuat filmnya...
Kalau di dalam negeri...prosesnya bisa terbalik...

 Film Nagabonar Jadi 2 dibuat lebih dahulu, baru kemudian konsep bukunya dibuat. Dua-duanya menawarkan jalinan cerita yang memikat dari sudut pandang yang berbeda. Film Naga Bonar memakai third person view, sedangkan novelnya memakai sudut pandang orang pertama, yaitu Naga Bonar itu sendiri. Hasilnya, ada beberapa adegan yang tidak diceritakan di film, tapi ada di novel. Seru kan? Bedanya lagi, kalau pas nonton filmnya, Neko ngakak-ngakak, pas baca bukunya, baru bab awal Neko udah dibuat mewek...


 Nggak semua adaptasi, melulu dari novel ke film dan sebaliknya. Ada juga yang dari novel ke komik, dan lain sebagainya...
 

Neko belum baca novelnya tapi langsung beli komiknya coz ngefans ama komikusnya...Hehehe Novelnya jauh lebih mahal euy! (Komiknya aja 45 rebong, tapi worthy lah) Nabung dulu deh, atau ada yang minat minjemin? Hihihi
Judul karya pra dan pasca adaptasi pun biasanya sama, atau kalaupun beda, tetap membawa judul asli karya yang diadaptasi (misalnya Final Fantasy VII: Advent Children, yang diadaptasi dari game berjudul Final Fantasy VII…doang.)

 Nah, pada paragraf-paragraf di atas, Neko sudah berusaha memaparkan contoh-contoh hasil produk dari teori resepsi. Lalu konsep dasarnya sendiri apa? (Ceritanya pakai metode penyimpulan induktif nih hehehee)

C. Resepsi sama dengan Kondangan

Kalau Pak Karkono, menjelaskan konsep dasarnya sebagai berikut:

"Resepsi adalah bentuk interaksi pembaca 
dengan karya sastra."

Dan konsep inilah yang seharusnya dipahami lebih dahulu, sebelum kita berbicara panjang lebar dan membandingkan hasil adaptasi karya sastra dengan karya sastra aslinya, seperti contoh-contoh di atas.

Maksudnya gimana nih?

Hmm...seperti yang sudah Neko sering singgung di beberapa editorial yang lalu, karya sastra itu baru bisa dikatakan hidup dan bermakna ketika karya itu telah dibaca dan terlebih jika mendapat tanggapan dari pembacanya. Maka jika ada seseorang yang hanya menyimpan karya-karyanya sendiri karena alasan 'minder', 'malu', atau 'isin', sama saja dia membunuh hasil karyanya sendiri dengan menjadikannya sebagai artefak mati belaka (ayolah...narsislah dikit. Narsis positif ini..hehhee). Dan tentu saja karena kalangan pembaca sastra itu beragam, cara mereka memahami dan menanggapi karya sastra pun berbeda. Walaupun, karya sastra yang dibaca itu sama.



Misalnya, satu novel Ronggeng Dukuh Paruk, sudah menjadi bahan skripsi sejuta umat. Sumbernya sama, tapi hasil analisa dan interpretasi setiap orang, jelas beragam. Bahkan seperti yang sudah disampaikan Pak Karkono beberapa waktu lalu, sering hasil tanggapan orang-orang itu jauh lebih heboh daripada isi karya sastra itu sendiri. Satu karya yang sama bisa menjadi sumber perdebatan panjang di ruang-ruang kelas perkuliahan, atau forum-forum diskusi internet. Dan semakin banyak yang membahas dan menanggapi karyanya, semakin bahagialah seorang penghasil karya sastra. Itulah menariknya dunia kritik sastra hehehe... (Sayangnya hal ini terkadang malah membuat teori-teori sastra dan fenomena sastra yang seharusnya simple dan mudah dipahami itu menjadi terkesan rumit =( Seolah menjadi intelektual ini berarti sama dengan mahir berbicara dengan bahasa alien... Sama seperti kata seseorang yang pernah Neko baca di dalam buku, "Saya lebih bisa memahami hasil tulisan Socrates sendiri, daripada ketika membaca hasil tulisan orang-orang yang membahas tentang filsafat Socrates...)

Pernah nggak sih dengar ada penulis yang berdiplomasi seperti ini? "Untuk interpretasi karya, saya serahkan sepenuhnya pada imajinasi para pembaca," biasanya kemudian akan diembel-embeli ungkapan seperti ini, "Bagi saya personal, karya ini hanyalah ungkapan kebebasan berekspresi dan berimajinasi."
Cieeeee...gaya banget getooooowh hehehe. Tapi yah memang seperti itulah adanya. Ketika sebuah karya sastra telah sampai di tangan pembaca, maka tercapailah misi pengarang (paling tidak untuk tahapan pertama. Jika kemudian pengarang mau merevisi atau membuat karya sekuel atau prekuel berdasarkan permintaan pembaca, bisa saja. Berarti sang penulis ingin menindaklanjuti karyanya.). Pengarang tidak bisa mendikte pembaca begitu saja. Terserah pembaca mau memaknai sebuah karya seperti apa. Misalnya, beberapa kalangan menganggap novel Ayat-Ayat Cinta hanya menjual mimpi, karena tokoh Fahri digambarkan begitu sempurna, nyaris tanpa cacat, bagai malaikat berbentuk makhluk alam hayat. Tapi kalangan sastrawan yang sering menghasilkan karya-karya Islami justru membela karya ini dengan mengatakan, "Ayat-Ayat Cinta adalah oase di tengah kelesuan karya-karya Islami yang mulai tergeser oleh sastra-sastra yang berani mengangkat masalah seksualitas dengan vulgar." Sah-sah saja kan? Menurut Neko, karya yang bagus adalah karya yang bisa membebaskan pemikiran pembaca =)

 
Balik ke topik, salah satu contoh hasil interaksi pembaca dengan sebuah karya yang bisa menghasilkan karya lain: film GIE. Mira Lesmana terinspirasi dengan Buku Harian Seorang Demonstran yang merupakan memoar almarhum Soe Hok Gie. Kemudian produser film-film berkualitas itu menghubungi Riri Riza dan mempromosikan buku itu.  Sutradara sekaligus penulis skenario itu lalu menghasilkan skenario film GIE berdasarkan interaksinya dengan buku memoar itu. Terlepas dari kenyataan bahwa Nicholas Saputra terlalu ganteng untuk memerankan seorang Gie (ha...ha...ha...) dan beberapa kritik lain terkait dengan faktualitas sejarah, film itu mendapat banyak pujian dari berbagai kalangan. Riri Riza dan Mira Lesmana pun melakukan proses kreatif yang hampir serupa terhadap novel Laskar Pelangi. Mereka  menerjemahkan novel itu ke dalam bentuk skenario lalu beserta seluruh kru, menghidupkan karya epik pendidikan itu melalui media audio-visual. Itulah hebatnya orang-orang kreatif. Mereka sanggup mengambil pelajaran dan menghasilkan karya baru dari karya-karya yang terdahulu. Dan langkah pertama yang bisa kita tempuh untuk menjadi orang-orang di atas adalah dengan menjadi pembaca kritis dan aktif =)

Tidak heran jika kemudian hasil adaptasinya memiliki ‘rasa’ yang benar-benar baru seperti penambahan plot cerita (penambahan plot masalah poligami dalam film AAC yang tidak terlalu disorot dalam film), perbedaan sudut pandang (Novel Naga Bonar diceritakan dengan memakai sudut pandang Naga Bonar sebagai “aku”, sedangkan novel Brownies memakai sudut pandang “aku” sebagai ‘cita rasa’ yang terkandung dalam sepotong Brownies yang dimasak dengan penuh cinta dan ketulusan.) Bisa juga merupakan lanjutan dari karya yang sebelumnya atau sequel dan itu juga berarti penambahan tokoh karakter yang tidak ada di versi aslinya (Final Fantasy VII: Advent Children yang mengambil seting waktu dua tahun setelah peristiwa di ending game-nya. Di sini bertebaran tokoh-tokoh yang tidak pernah muncul di versi game-nya.). Contoh yang terakhir ini juga bisa dilihat dari hasil interpretasi Tim Burton dalam film Alice in Wonderland yang dibintangi Johnny Depp (memerankan tokoh Mad Hatter). Keren seperti cerita aslinya? (menurut Neko sih) Iya. Sama persis dengan cerita aslinya? Tunggu dulu...

Lagian wajarlah kalau versi film dan versi asli dibikin agak berbeda. Kalau sama persis dan ngeplek buat apa merogoh kocek untuk nonton hasil adaptasinya di bioskop? Mending enak-enak di rumah, tiduran sambil baca karya aslinya dan kalau pingin lihat visualisasinya tinggal download bajakannya di net...hehehe PLAK!
Final Fantasy VII classic, versi game. Gaya gambarnya kartun anime banget.
Versi berikutnya. Tokoh kebanyakan masih sama, tapi grafis lebih real. Beberapa karakter baru di tambahkan di sini
Tidak hanya penambahan, bisa jadi hasil adaptasi justru mengurangi beberapa elemen karena masalah teknis, misalnya tidak mungkin kan keseluruhan adegan novel Laskar Pelangi yang jumlahnya 400 lembar lebih itu bisa difilmkan semua dalam pita seluloid yang hanya berdurasi sekitar  2 jam kurang? Nah kemudian, kami semua pun diperkenalkan pada satu istilah baru: EKRANISASI. Ekranisasi adalah adaptasi karya sastra ke dalam media berupa film. Nama lainnya bisa menjad sinemanisasi, atau filmisasi. Tapi yang lebih populer di kalangan peneliti sastra adalah istilah EKRANISASI. Untuk konsep ini, akan Neko bahas di editorial selanjutnya.
Nah, biasanya masalah mirip-tidaknya hasil film adaptasi dengan karya yang diadaptasi inilah yang menjadi perdebatan di kalangan fans. Banyak kalangan fans fanatik yang justru tidak rela ketika naskah asli suatu karya sastra diadaptasi ke dalam bentuk media yang lain, paling sering ya dari novel ke film. Alasannya karena bisa jadi film tersebut akan merusak imajinasi pembaca atau tidak sanggup memvisualisasikan imaji dalam novel tersebut secara sempurna. Kadang, konflik juga terjadi di antara penulis karya sastra yang diadaptasi dengan pihak pembuat film. Di sini idealisme masing-masinglah yang berbicara. 

Rachmania Arunita, sukses sebagai penulis novel dan skenario
Penulis umumnya memegang teguh ideologi dan alasan penciptaan karyanya. Sedangkan pihak produksi film umumnya lebih mengedepankan ideologi material atau profit (karena proses pembuatan film lebih melelahkan dan lebih memakan biaya). Contohnya kekecewaan Habiburrahman El Shiraizy dengan film adaptasi Ayat-Ayat Cinta (telepas dari film itu menjadi mega box-office) karena Hanung menggambarkan beberapa adegan seperti seorang akhwat yang sampai membuka jilbab ketika kecewa dengan seorang lelaki, dan adegan Aisyah yang memperlihatkan rambutnya, lalu masih banyak lagi. Karena itulah Habiburrahman kemudian mempercayakan adaptasi film dari novel selanjutnya, Ketika Cinta Bertasbih, kepada Chaerul Umam. Karena permasalahan ideologi yang dipegang teguh seperti inilah banyak penulis novel yang akhirnya memilih menulis sendiri skenario adaptasi novelnya dan akhirnya sukses! Contohnya adalah Rachmania Arunita, penulis novel dan skenario film Eiffel I’m in Love. 
Banyak juga penulis yang walaupun tidak menulis sendiri adaptasi skenarionya tapi ikut mengontrol ketat proses penulisan draft script dan seleksi pemeran filmnya. Contohnya ya J.K. Rowling yang mensyaratkan semua tokoh Harry Potter diperankan aktor-aktris asli Inggris, dan Habiburrahman El Shiraizy yang mengontrol ketat sampai ke masalah apakah pemeran Azam sudah sholat tepat waktu atau tidak ketika menjalani proses syuting. Demi fans dan terutama mempertahankan prinsip dibuatnya suatu karya sastra, semua itu sah-sah saja. Sedangkan bagus tidaknya kualitas hasil akhir suatu proses adaptasi, pasarlah yang akan menjawab. Selain pasar, festival-festival film bergengsi seperti Academy Award, Golden Bear, Cannes Festival, dkk-lah yang juga ikut berbicara. Karena perlu diingat bahwa tidak semua film yang bagus secara kualitas sukses di pasaran. 
Nah, kalau perdebatan seputar teori resepsi biasanya berkutat di masalah perbandingan hasil adaptasi karya sastra dengan karya sastra yang diadaptasi, maka perbincangan mengenai teori intertekstualitas secara pribadi Neko anggap lebih seru, tidak ada habisnya dan sering…lebih mbulet lagi! (yang mbulet bukan teorinya, tapi perdebatannya) Masalahnya yang kerap kali bersinggungan dengan konsep ini adalah tuduhan PLAGIARISME dan isu ORISINALITAS. Nah loh??? Daripada kepanjangan dan akhirnya malah pusing karena melihat kebanyakan teks, marilah rehat sejenak. Neko akan berusaha meneruskan pembahasan ini insyaallah pada beberapa artikel editorial selanjutnya yang akan bertema:
INTERTEKSTUALITAS VS ORISINALITAS

 bersambung

Cerpen - Paman Bostro

Rumput masih semerbak. Matahari pun terik renyah. Kondisi yang tepat untuk keluar kandang untuk paman yang sedang merindukan ponakan. Paman Bostro hidup mandiri. Memimpin koloni dengan gagah berani. Dia dikenal sebagai komandan paling hebat sekoloni. Berhasil memimpin dalam perluasan beberapa wilayah. Hari ini waktunya menurunkan keberaniannya kepada sang mentari. Ponakan satu-satunya yang akan mewarisi kegagahannya. Pikirannya sudah melayang jauh ke depan. Jalan di bawah matahari pagi yang hangat. Melewati padang rumput dengan embunnya yang masih menempel. Menyusuri harum-harum kayu yang menentramkan. Lalu disambut dengan pelukan erat sang ponakan.

Tetapi bayangannya buyar ketika melihat mobil Jasa Pest Control di depan rumah ponakannya. Kemungkinan-kemungkinan buruk langsung menghujani pikiran. Mobil itu selalu membawa hawa maut. Tunggang langgang dia kembali ke rumah. Dipanggilnya seluruh pasukan. Breafing cepat. Operasi darurat akan dilakukan untuk menyelamatkan koloni sebelah.

Jasa anti rayap merupakan musuh utama mereka. Setiap rumah yang didatangi mobil itu nasibnya selalu tak jelas. Belum pernah ada yang selamat dan dan berhasil menceritakannya. Hanya Paman Bostro lah yang pertama bisa lolos. Mukanya penuh codet karena harus menembus celah-celah sempit untuk kabur. Meskipun begitu, dia juga tak bisa menceritakan bagaimana dia bisa lolos dari bencana itu. Hanya keajaiban penjelasannya.

Isu yang masih simpang siur itulah membuat banyak prajurit mundur. Mereka masih sayang nyawa. Namun ada beberapa ksatria yang berani bertempur dengan Paman Bostro. Berangkatlah mereka. Bergerilya melewati rumput, sampailah mereka di depan pintu. Namun pintu itu sudah dibersihkan. Melewatinya berarti bertaruh nyawa.

Kepala Paman Bostro makin panas. Lebih baik mati daripada tak bisa menyelamatkan ponakannya. Mimpinya adalah melihatnya berkembang, semakin kuat, bahkan bisa menjadi komandan sepertinya.

Dia pun mengambil resiko yang lebih besar. Terjun bebas dari pohon. Segera Paman memimpin pasukan memanjat pohon. Satu persatu mereka terjun ke atap rumah. Lalu menerobos celah-celah genteng. Dari situ mereka berlari menyusuri kayu-kayu atap langsung menuju ke rumah ponakannya.

Paman Bostro berlari paling depan. Paling cepat. Dia tak ingin kehilangan keponakan satu-satunya. Memimpin pasukan menyusuri lantai terbuka. Semua pasukan mengikuti langkah sang pemberani itu, komandan terkuat di antara koloni. Tapi perhitungan Paman kali ini salah. Dari arah belakang muncul badai besar. Menyapu seluruh pasukan. Sekaligus dengan Paman Bostro. Kali ini Paman tak bisa memanggil keajaiban untuk kedua kali. Dia ikut tergulung badai besar. Panas. Perih. Sesak. Paman berusaha menyelamatkan diri. Namun badannya tak bisa digerakkan. Hanya matanya samar-samar menangkap sosok raksasa biru bertuliskan "Jasa Pembasmi Rayap"

(DAS FICTION): Opening Novel Pembunuh Berwajah Kekanakan


Okewh, karya berikutnya yang terpilih untuk dibedah dan diapresiasi adalah karya Mas Mahbub Ulhaq yaitu opening novelnya yang berjudul "PEMBUNUH BERWAJAH KEKANAKAN". Untuk editor's note-nya kali ini akan Neko serahkan kepada Sensei Mashdar yang lebih expert dalam bidang fiksi. Monggo...

(by Mahbub Ulhaq)

Hari masih begitu muda. Bumi benderang dibalut hamparan cahaya mentari dhuha. Panasnya tidak begitu menyengat namun tak urung menyebabkan tetesan keringat. Sebagian terangnya diserap hijau dedaunan sebagai katalisator mekanisme fotosintesa. Menghasilkan oksigen bagi seluruh mahluk jagat raya. Disediakan secara cuma-cuma, selagi tetumbuhan belum bersinggungan dengan ideologi kapitalis,  sebagai perwujudan ibadahnya kepada Allah Sang Maha Pencipta. Sebagian lagi terangnya menelusup melalui sela-sela dedaunan. Serupa lorong cahaya yang jatuh menuju permukaan bumi. Lalu hinggap menyelimut basah rerumputan yang bermandikan embun pagi. Segar seketika menyeruak, menghasilkan optimisme kehidupan penuh warna. Seperti sekumpulan remaja yang sedang berkumpul di lapangan utama SMA Lapan Palembang.

Wajah-wajah mereka masih begitu polos. Dipundak mereka tersampir harapan, menyimpan sejuta potensi untuk masa depan yang lebih baik. Setidaknya begitulah inti pidato pembukaan penerimaan siswa baru yang dibawakan dengan penuh motivasi dan berapi-api oleh Bapak Zainal Abidin, Kepala Sekolah. Semua siswa baru menyimak dengan takzim. Tatapan mata mereka tajam berkilat, seakan ingin mengatakan kepada dunia "INILAH KAMI PASUKAN YANG AKAN MEMBAWA PERUBAHAN DALAM SETIAP SENDI KEHIDUPAN MASYARAKAT! TUMPAS KEMISKINAN! HANTAM KEMELARATAN! HANCURKAN KEBODOHAN!". Idealisme yang begitu tinggi namun masih belum diimbangi pengalaman hidup. Mereka masih akan mudah dibodohi oleh berbagai partai politik. Bersyukurlah mereka belum memiliki hak untuk memilih sampai setidaknya tiga atau empat tahun lagi.

Itulah yang terjadi kemarin. Dan aku ada diantara begitu banyak siswa baru yang memadati lapangan utama. Namun mengenai harapan dan potensi yang dikatakan oleh kepala sekolah aku yakin, haqqul yaqin, bahwa saat itu kepala sekolah bukan sedang membicarakanku. Karena saat ini nyatanya aku sedang terengah-engah kehabisan nafas. Dikejar seorang siswi, yang juga baru, dalam permainan tolol saat orientasi siswa. Aku diberi waktu lima belas menit untuk menghindari kejaran murid baru yang tadi mengenalkan dirinya bernama Navisah. Jika aku tertangkap kurang dari waktu yang telah ditentukan aku akan dihukum bernyanyi di depan begitu banyak murid baru. Mana mungkin aku rela! Aku boleh menghindar kemanapun dengan satu syarat, masih dalam jarak pandang kakak senior.

Kondisi lapangan utama SMA Lapan saat ini disesaki begitu banyak murid baru. Mereka membentuk lingkaran masing-masing sesuai dengan kelompok yang telah dibagi sebelumnya. Setiap kelompok masing-masing terdiri atas lima belas sampai dua puluh murid. Tiap-tiap kelompok dipandu oleh seorang kakak senior yang memberikan permainan untuk masing-masing kelompok. Senior yang memandu kami adalah seorang siswi kelas 3 bernama Puri. Ia memiliki rambut panjang dikuncir kuda. Matanya bundar dan semakin bundar terlapis kacamata yang begitu tebal. Kutaksir matanya mungkin sampai minus empat. Hanya ada dua kemungkinan dengan kacamata setebal itu, Yang pertama ia sangat pintar atau yang kedua ia memiliki gangguan kejiwaan. Aku lebih condong pada pendapat yang kedua. Hanya orang gila yang menyuruh wanita mengejar pria dengan sekuat tenaga.

Lebih gila lagi adalah Navisah. Ia mau saja disuruh mengejarku oleh seorang senior gila. Seakan tujuan hidupnya saat ini hanya untuk menyentuh bagian apapun dari tubuhku. Sesungguhnya semua bisa dimaklumi mengingat jika ia tidak berhasil menyentuhku dalam waktu lima belas menit, maka dialah yang akan menjadi pesakitan di depan anak-anak baru lain, bukan aku. Yang membuatku merinding dan tak habis pikir adalah senyum Navisah. Ia mengejarku tanpa pernah melepas senyum dengan kedua bola mata yang membulat seakan ingin menelanku. Kukira ia sama sintingnya dengan senior gila. Ketika diperintah mengejarku, tawanya menggelegar seakan ia telah betul-betul menikmati permainan bahkan sebelum permainan itu sendiri dimulai. Ia memandangku dengan senyumnya. Tatapannya menyenangkan, namun aku tau dibalik itu bersemayam seorang pembunuh berdarah dingin. Seperti Stephen Norton dalam kisah terakhir Hercule Poirot pada novel curtain, pembunuh yang bersembunyi dalam sorot mata kekanakan. Aku gemetar.

Dan diantara semuanya tentu akulah yang paling gila. Pontang-panting dikejar wanita yang aku sendiri tak begitu kenal kecuali namanya. Terengah-engah, namun aku terus berlari. Tak kupedulikan keringat yang mengucur deras. Kusingkirkan apapun yang menghalangi jalan. Hanya satu tujuan, berlari sekuat tenaga menghindari pembunuh berwajah kekanakan. Aku berlari serupa orang gila. Sebagian siswa-siswi tertawa cekikikan menunjuk-nunjuk kami. Siswi perempuan menyemangati Navisah, siswa laki-laki juga menyemangati Navisah. Tinggallah saat itu aku sendiran seolah melawan seluruh penduduk dunia. Sebagian siswa tak peduli dengan apa yang terjadi pada kami. Mereka juga punya masalah di kelompok mereka sendiri yang harus diselesaikan, sama seperti kami.

Aku masih belum tertangkap. Sekali-kali aku menoleh untuk menilai situasi. Setelah sekian tolehan tak kulihat ada Navisah disana. Aku masih terus berlari. Kutoleh lagi dan benar tak ada. Kuturunkan kecepatan lari dan saat kuyakin tak ada Navisah, aku berhenti persis di depan salah satu dinding kelas yang saat itu tengah kosong. Begitu kosongnya seakan tak pernah ada tanda-tanda kehidupan. Kalaulah bukan ruang kelas, aku yakin ada setan yang bersemayam disitu. Menyaksikan sekumpulan remaja-remaja dalam permainan dunia. Menunggu saat yang tepat untuk memangsa mereka. Terasa ada aliran udara yang lembut, bulu kudukku berdiri.

Kutengokkan kepala ke kiri dan ke kanan, melihat-lihat kalau ada siluet Navisah di dekat-dekat situ. Tak kutemukan. Nafasku berkejaran, Aku menekan kedua lutut dengan tapak tangan seperti posisi ruku'. Sistem pernafasan bekerja lebih berat dari biasanya. Tubuhku membutuhkan pasokan oksigen yang banyak untuk membakar energi yang tadi kugunakan berlari menghindari kejaran Navisah. Masih pada posisi yang sama, aku memandang jauh ke arah tempat dimana tadi kelompokku berada. Puri bergantian melihat ke arahku dan melirik arloji yang melingkar di lengannya. Dia belum memberikan tanda permainan telah selesai. Tak kulihat juga Navisah disana. Aku harus berhati-hati.

Aku berbalik dan berjalan gontai namun tetap penuh kewaspadaan. Saat itulah tiba-tiba dari dalam kelas yang kosong meluncur sesosok mahluk. Berkelebat. Menjerit histeris menepuk pundakku. Aku terlonjak kaget dan terjengkang jatuh terduduk di lantai. Jantungku berdetak cepat berkejar-kejaran susul menyusul. Ada setan! Kelas ini ternyata memiliki "penghuni". Sejak pertama aku melihat kelas ini aku seharusnya tau. Bulu kuduk tak mungkin menipu. Tawanya melengking menakutkan. Aku bahkan tak berani memutar kepalaku untuk melihat sosoknya. Aku merangkak menjauh. Tubuhku bergeletar menyingkirkan keberanian. Yang tertinggal hanya perasaan takut. Aku berharap saat itu aku pingsan saja, hilang kesadaran. Agar tak perlu aku melihat wajah mengerikan setan yang saat ini sedang berdiri dibelakangku. Bersiap membawaku menemaninya ke alam kubur.

Tanpa kusadari seisi sekolah memperhatikan tingkahku. Menunjuk-nunjuk kepadaku dan tertawa. Siswi perempuan tertawa cekikikan menutup mulutnya dengan tangan sembari berkumpul dan berbisik satu sama lain melirik ke arahku. Siswa laki-laki tertawa terbahak menunjuk ke arahku. Bahkan ada yang sambil memegang-megang perutnya tak kuasa menahan tawa yang terus berderai.

Tawa setan yang berdiri di belakangku semakin menggelegar. Lalu aku menyadari sesuatu. Tawa setan itu seolah tak asing. Kukumpulkan keberanian yang tadi telah tercerai berai, perlahan aku memutar kepala dan melihat kebelakang. Lalu disanalah kulihat ia berdiri dengan tawanya yang persis sama. Navisah yang tersenyum penuh kemenangan

Malang, 1 September 2011

Editor's Note:



Langsung saja ya saya kasih masukan, katanya suruh kasih masukan hehe
 
Maap, ketika saya mulai membaca di paragraph awal, saya merasa bahwa openingnya terlalu banyak menggambarkan keadaan bahkan mendekati “berlebihan” sehingga saya sebagai pembaca merasa sediti jenuh, ibaratnya kalau dlm sebuah film, ini adalah adegan 1 scene, tapi tuturannya seabrek. Ada juga beberapa kalimat yang saya rasa tidak perlu dipaparkan seperti, 


“Sebagian terangnya diserap hijau dedaunan sebagai katalisator mekanisme fotosintesa. Menghasilkan oksigen bagi seluruh mahluk jagat raya. Disediakan secara cuma-cuma, selagi tetumbuhan belum bersinggungan dengan ideologi kapitalis, sebagai perwujudan ibadahnya kepada Allah Sang Maha Pencipta” 


Nah kalimat di atas sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa dari opening, malah sebagai pembaca saya seperti sedang menyimak perkuliahan biologi botani haha…
 
Untuk berikutnya, adegan demi adegan mulai MOS dan permainan permainannya saya cukup menikmati, saya bias membayangkan bagaimana riuhnya, bahkan di beberapa kalimat saya merasa surpriseada semacam tuturan jenaka yang cukup menghibur seperti


“Ia memiliki rambut panjang dikuncir kuda. Matanya bundar dan semakin bundar terlapis kacamata yang begitu tebal. Kutaksir matanya mungkin sampai minus empat. Hanya ada dua kemungkinan dengan kacamata setebal itu, Yang pertama ia sangat pintar atau yang kedua ia memiliki gangguan kejiwaan. Aku lebih condong pada pendapat yang kedua.”, 


Hanya saja dari segi bahasa saya merasa masih kurang matang. Cukup bisa dinikmati akan tetapi kurang matang. Mungkin Mas Mahbub harus mencari perbandingan dalam novel lain, mulai dari cara tutur adegan dsb.
 
Yang terakhir mengenai judul, “PEMBUNUH BERWAJAH KEKANAKAN”, saya sendiri tak tahu apakah ini judul novel atau judul BAB dalam novel. Tapi jika itu judul sebuah novel, saya merasa judul itu sangat kurang menarik, entah kenapa, mungkin karena, dalam bayangan saya judul itu sedikit sulit di eksplorasi, barangkali kalau pun jadi sebuah novel saya malah membayangkan novel itu akan sangat tipis atau berseri semacam Sherlock Holmes atau Conan, yang berbau detektif gitu.
 
Lagi, mengenai opening, berkaitan dengan judul, saya masih bingung juga, apakah kata “pembunuh berwajah kekanakan” itu cuma sebuah kalimat kiasan, atau memang pembunuh dalam arti sebenarnya: menghilangkan nyawa tokoh lain. Well, barangkali pertanyaan ini akan di jawab setelah novelnya jadi hihihi…
 
Entahlah… itu cuma sedikit telisik saya, apabila ada kata-kata yang kurang berkenan mohon maaf… kita sama-sama belajar…
Mashdar Zainal.

Neko Said:

Setuju banget ama Mashdar. Wis, nggak salah deh si Sensei diserahi mengasuh rubrik DAS Fiction. Komen-komennya tepat sasaran semua. Tadinya Neko juga mengira novel ini tentang pembunuhan yang berdarah-darah, begitu melihat judul. Tapi ternyata kok tentang MOS ya? Atau Mas Mahbub sedang memainkan pikiran pembaca dengan pembuka novel ini ya? Hehehe...ditunggu deh lanjutannya. Berdasarkan komentar dari Mas Mahbub sendiri, Neko juga bisa mengendus aroma-aroma deskripsi ala Laskar Pelangi di sini... Hanya saja...umm kalau di postingan sebelumnya ketika DAS membahas karya Mbak Zie, Neko sempat mengritik karya itu karena kebanyakan dialog dan tidak mengeskplorasi narasi deskripsinya, pembuka novel Mas Mahbub ini justru NGGAK ADA DIALOGNYA!

Hmm...nggak salah juga sih. Toh Mas Mahbub udah cukup lincah dalam mengolah narasinya. Tapi perlu diketahui bahwa fungsi dialog dalam cerita fiksi adalah untuk menghidupkan suasana. Tentunya memang perlu kejelian untuk menempatkan  dialog dan narasi pad porsi yang pas. Karena jika terlalu banyak deskripsi narasi tanpa diimbangi dengan dialog yang lincah dan cerdas, cerita bisa terkesan mati.

Seperti pada adegan ketika si tokoh utama dikejar Navisha, di sana Neko rasa mungkin bisa ditambahi sedikit dialog eksklamasi/kata seru dari Navisha seperti, "Ha! Kau boleh saja terus lari sampai ke ujung dunia, boi! Larilah! Sampai lari ke liang kubur pun, aku tak akan melepaskanmu!"

Lalu si tokoh utama bisa menjerit jengkel, "Dasar gadis gila!"

Well, seperti itu mungkin... Atau dialog lain yang lebih pas dan cocok untuk membangun ketegangan sekaligus kelucuan adegan di atas. 

Neko langsung baca abis ni novel dalam semalam
Neko pernah baca sih satu novel yang hampir full akan narasi, alias minim dialog, tapi anehnya sama sekali nggak membosankan dan justru terasa hidup. Karena narasi deskripsinya sendiri sangat lincah. Buat Neko teknik ini sangat langka sekali. Atau Neko aja yang kurang referensi kali ya. Novel itu adalah novel terjemahan dari Jepang berjudul Botchan.  

Teknik narasi yang digunakan juga persis seperti yang digunakan oleh Mas Mahbub di atas, atau novel Laskar Pelangi, Sudut Pandang Orang Pertama (1st Person POV). Jadi narasinya sendiri menggambarkan isi hati sang tokoh utama. Agaknya teknik narasi memang lebih pas disandingkan dengan 1st Person POV, bukannya 3rd Person POV. Jadinya seperti diari begitu. 

Yah begitu aja deh komen dari Neko. Keep your spirit The Ulhaq! Hehehe. NB: Mbak Zie punya novel di samping kok.
Profil Penulis

Pria asal Palembang ini untuk sementara ini berdomisili di Malang untuk menyelesaikan S1nya di Universitas Brawijaya. Bergabung di FLP Malang melalui jalur Writing School, jadi anggota baru yang eksklusif begitu hehehe... Lelaki penyayang yang sudah memiliki seorang istri muda yang cantik dan dua anak yang imut-imut. 

Merupakan sosok yang sangat serius dan konsisten dalam mempelajari ilmu kepenulisan. Neko kebetulan satu tim dengan Mas Mahbub dalam proyek novel estafet dan untuk saat ini, beliau memegang rekor sebagai anggota tercepat yang memenuhi target 5 halaman untuk seminggu (hiyaaa ketahuan deh kalo yg lain suka molor)
Simak tulisan-tulisannya yang tidak kalah renyah dengan tulisan di atas dalam blognya: http://ruangmahbub.multiply.com/ dan http://www.babusekaki.blogspot.com/


Membedah Cerita Rakyat, Menyambut Lomba Menulis Cerita Rakyat oleh Kemendikbud

Bedah karya di FLP Cabang Malang kali ini membahas cerpen Fauziah Rachmawati tentang Ken Dedes, Anusapati, Ken Arok, Tunggul Ametung, dan sebagainya (gak perlu ditulis semua, saking banyaknya nama tokoh dalam cerpen ini). Zie menulis cerpen ini untuk warming up lomba menulis cerita rakyat dari kemendikbud yang deadline-nya 20 Agustus 2015.

Dalam cerpennya yang ke sekian ini, akhirnya kami menjumpai literature leap oleh Zie: beberapa paragraf dalam cerita ini mulai puitis, liris, dan dramatis. Rasa bahasa yang dikenakan untuk menghias paragraf-paragraf itu semacam lamis dan sedikit magis. Halah. Hihi. Tapi iyes, Zie sepertinya mulai bereksperimen dengan deskripsi dan diksi. Awesome!

(DAS EDITORIAL): Menjadikan Sesi Perkuliahan Sebagai Investasi Dunia-Akhirat

Nggak terasa sudah setengah semester Neko sit in di kelas Teori Sastra-nya Pak Karkono (buat yang baru mengikuti blog ini, Neko adalah mahasiswi Sastra Inggris yang sit in  di kelas Teori Sastra milik jurusan Sastra Indonesia, dalam rangka persiapan retake kelas Literary Theory semester depan. Salah satu kelas yang nilainya bikin IPK Neko babak belur, 2 semester lalu huhuhu...)
Niat awalnya sih ye, minimal bikin satu artikel setiap kali selesai mengikuti perkuliahan. Keren nggak cing? Tentunya artikel dengan gaya gokil berisi seperti gaya Neko yang sudah-sudah wkwk (moga aja emang berisi…ilmu. Nggak cuma berisi curhatan geje hehehe). Masih belum sanggup bikin yang terlalu serius, euy… Baru juga belajar teori sastra 2 bulanan hehe. Pokoknya prinsip Neko biar gaya bahasa nyantai  yang penting lumayan berisi lah. Minimal lumayan berisi…k (JDHANG! KROMPYANG…noh udah berisik kan?)
So, idealnya, kalau Neko udah sit in di kelas itu selama 5 kali pertemuan, harusnya Neko udah bikin 5 artikel teori sastra dong?  Wah, seandainya semua mahasiswa berpikiran sama:  bahwa setiap mengikuti jam perkuliahan adalah investasi dimana setelah perkuliahan bisa mendorong setiap individu untuk menghasilkan setidaknya sebuah karya. Jika seperti itu tentu dunia akademis dan budaya menulis journal mahasiswa kita akan semakin bergelora. Nggak ada lagi tampang-tampang hampa seperti tampang Neko saat mengikuti mata kuliah Statistik (kyaa…hahaha). Setiap detik perkuliahan akan menjadi lebih bermakna. Ingat, bahwa kursi yang kita duduki di dalam kelas selama kuliah nggak gratis sama sekali. Mari sejenak kita merenungkan seberapa banyak cucuran keringat dan air mata orang tua kita untuk bisa membiayai agar kita bisa menaruh pantat dengan nyaman di bangku perkuliahan (kecuali kalau sedang bisulan).
“Nggak juga, aku kan dapat beasiswa penuh.” sergah seorang mahasiswa dengan songongnya.
Yeeey! Walaupun dapat beasiswa penuh sekalipun, tetap saja butuh perjuangan dan proses untuk mendapatkannya kan? (biaya SD-SMA nggak dihitung? Biaya ngelahirin manusia kayak situ emangnya nggak dihitung?)
Tampang Neko kalo lagi jenuh kuliah. Dosen mana coba yang nggak tega nyambit? Wkwkw
Setiap kali Neko merasa blank atau nggak nyambung dengan materi kuliah karena kedodolan Neko sendiri (entah tidur, ngelamun, atau bahkan ngelamun sambil tidur), Neko selalu maki-maki diri sendiri. Sudah rugi waktu. Nggak dapet ilmu pulak. Benar-benar sebuah kedzaliman luar biasa jika Neko meremehkan usaha orangtua Neko menguliahkan kucing mungil ini biar bisa sepintar manusia, dengan menyia-nyiakan sesi kuliah. Setelah itu mungkin baru maki-maki dosennya (dalam hati), cara ngajar kok kayak orang meninabobokkan wkwkw…PLAK!
Teman Neko pernah bilang, “Makanya, jadilah pembelajar yang aktif! Jangan datang kuliah dengan sekedar naruh pantat, mendengarkan tanpa berpikir kritis, atau mencatat tanpa mengerti apa yang dicatat.” Oh, kawan…seandainya kalian bisa melihatnya dengan mata telanjang, kalian akan takjub melihat betapa banyaknya ide-ide yang beterbangan memenuhi setiap majelis ilmu. Dan betapa banyaknya ide-ide yang kemudian menguap lalu mati tanpa pernah ditangkap…
Secara materiil, kalau kita mau balik modal, kita bisa mendapat tambahan uang saku jika dari perkuliahan, kita bisa menulis artikel, lalu artikel-artikel itu kemudian dimuat oleh media massa hehehe. Lumayan, satu surat kabar biasanya member honor 100-150 ribu untuk satu artikel. Tergantung kolom dan juga tingkat surat kabarnya. Kalau surat kabarnya bonafid setingkat Kompas, konon bisa sampai 500 ribu. Hitung saja, berapa yang bisa didapat kalau kita rutin menulis,mengirimkannya ke surat kabar dan dimuat! Ada beberapa teman Neko dari luar kota yang bisa bertahan hidup di metropolitan ini dengan cara seperti itu. Salut. Anak-anak kos memang ruarr biasa!

Secara prestis, gengsi juga terangkat. Tapi yang lebih dari itu, dengan berbagi ilmu, insyaallah kita bisa menguasai ilmu tersebut dengan lebih baik. Walaupun mungkin kita nggak jenius-jenius amat, tapi semangat berbagi ilmu akan menjadi roh positif yang mewarnai langkah-langkah kita menapaki dunia akademisi. Justru karena kita nggak jenius, maka kita bisa mengerti sudut pandang orang-orang awam seperti kita sendiri. Dengan begitu kita bisa memaparkan sesuatu yang rumit dengan cara yang bisa dimengerti juga oleh orang-orang awam. Dosen juga manusia, ada kalanya seorang dosen sebenarnya sangat intelektual, tapi ia tidak mampu menyampaikan dan menyalurkan keintelektualitasannya dengan cara yang sanggup dipahami orang-orang yang nggak terlalu pintar kaya Neko (ogah ah nyebut diri sebagai “nggak terlalu intelektual.” Mengolok-ngolok diri sendiri juga ada batasnya kan? Wkwkwk). Nah, kalau kemudian kalian bisa membantu orang-orang seperti Neko untuk bisa memahami apa yang disampaikan para intelektualitas itu kan pahala jariyahnya banyak banget (apalagi kalau kalian menyalurkannya di ruang publik seperti blog, ada berapa banyak kucing dodol yang tertolong?) Nah, investasi dunia akhirat kan jadinya? Seperti yang diriwayatkan oleh H.R. Bukhari:
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”
Semoga kita bisa terus memelihara dan melestarikan cara berpikir seperti ini, sehingga peserta didik seperti kita, tidak akan hanya menjadi pengejar nilai, atau pengejar intensitas presesensi (sampai ada yang bela-belain TA alias Titip Absen segala). Kita akan menjadi pengejar ilmu, dan lebih dari itu, pengejar makna. Para dosen juga nggak akan lagi hanya menjadikan kelasnya sebagai sesi-ceramah-satu-arah-yang-cenderung-dimanfaatkan-mahasiswa-dodol-untuk-tidur-siang. (bukan Neko! Bukan Neko!) Mereka akan lebih terpacu untuk menjadikan kelasnya sebagai ruang yang penuh inspirasi dan motivasi, tidak hanya informasi yang terstruktur saja. Hmm…ideal sekali kan?
Sayangnya situasi Neko sama sekali nggak ideal =_=” (atau Neko yang belum bisa menjadi penulis atau blogger yang ideal huh). Neko sendiri sampai salting karena dulu tiap kali selesai mengikuti mata kuliah, Pak Karkono selalu menagih, “Mana artikelmu???”
Hiiii 0_0! Sampai sekarang akhirnya Bapake nggak pernah menagihnya lagi…JDHANG! Nggak perlu Neko kupas satu-satu deh alasan-alasan Neko soal dikejar tugas laporan, mid-test dan kuis-kuis kuliah regular atau alasan yang paling sering Neko pakai semester ini: PPL! Toh, banyak manusia di luar sana yang lebih sibuk tapi proses kreatifnya bisa jalan terus… Rasanya Neko nggak berhak mengeluh atau beralasan kalau sudah begini…
Nah, mumpung sekarang lagi ada motivasi (besok Pak Karkono akan mengadakan midtest! Huaaa…)maka Neko akan berusaha menghabiskan sisa hari ini dengan menulis ulang catatan-catatan Neko tentang sekelumit teori-teori Sastra yang sudah diajarkan. Sambil mengisi editorial blog yang sudah dua bulan vakum, sambil belajar.
Mari menjadi pembelajar!
CIAO











Mizuki-Arjuneko

(DAS REPORTAGE) Semua Bercampur Satu dalam Kanvas Jiwa



FLP Malang (15/9)-di Taman Seribu Janji  (di depan Rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim), divisi Pengembangan Karya mengadakan acara rutin Sharing Karya. Acara ini diadakan seminggu sekali, setiap hari Minggu, jam 9 pagi. Setelah minggu lalu membahas cerpen berjudul “Siapakah Namamu Kasih?” karya Muchtar Prawira Sholikhin, minggu ini giliran karya Vega El-Vaza yang dibahas. Sebuah cerpen/prosa beraliran romantisme berjudul “Kota yang Dijanjikan”.

Sharing Karya sejatinya merupakan salah satu program kerja Divisi Pengembangan Karya FLP Malang. Tahun ini, pelaksanaan program Sharing Karya dipercayakan kepada Divisi Kritik Sastra, yang kini telah menjadi sub divisi di bawah Divisi Pengembangan Karya.

Menjelang fajar merangkak naik ke atas kepala, satu demi satu pembaca yang hadir memberi komentar atas karya tersebut. Satu hal yang menarik dalam pembahasan cerita Vega ini adalah, pertanyaan: "apakah tulisan ini bisa disebut sebagai cerpen?" 

Beberapa sepakat bahwa keterjalinan alur, latar dan kehadiran tokoh membuat karya Vega ini cocok disebut sebagai cerita pendek (atau dalam karya sastra disebut prosa fiksi). Namun, ada sedikit kalangan yang menyebut tulisan tersebut sebagai puisi tanpa konstruksi rima dan bait. Hal itu disebabkan oleh kontennya yang sarat dengan kiasan berlebih, serta konflik batin tokoh yang terlalu mendominasi cerita. Akibatnya ketika dibaca, cerita ini sekilas nyaris tak memiliki plot, penokohan, dan setting yang jelas, sebagaimana cerpen-cerpen lain pada umumnya. Jadi, pendapat mana yang benar? Editor kami, Mizuki Arjuneko, akan membuat satu tulisan lagi untuk membahas jenis tulisan Vega, dipandang dari teori Formalisme. Apa itu formalisme? Tunggu postingan-postingan berikutnya ;-)

Akhirnya, ketika surya semakin terasa membakar hamparan rumput, satu per satu pengunjung pamit. Ada yang mengusulkan agar tiap minggu selalu ada inovasi dalam pembahasan jenis tulisan. Baik itu karya anggota FLP Malang yang belum dikirim ke media massa, maupun tulisan karya penulis lain yang sudah populer. Dengan begitu, diharapkan karya para anggota bisa disejajarkan dengan para penulis terkemuka, dan kelak dapat bersaing bersama karya-karya mereka di toko buku. Dengan begitu suasana kritik-saran dalam diskusi dapat lebih membaur, seperti halnya beragam warna yang bersatu dalam kanvas jiwa, bernama FLP Malang. 

Ain Nur












Oleh: Ain Nur

Estafet Menulis, Estafet Ketawa

Sumber : kompas

“Hei, masak balonnya bisa bisa jadi ayah? trus jadi bom?!”


“Haha.. Apa hubungannya pakaian nggak bisa kering dengan tak sendiri? Emangnya kalau pakaiannya kering jadi tak sendiri? Jadi punya pasangan?”


“Ini malah jadi cerita tentang George si Monyet. Kebanyakan nonton film!”


“Hiks.. kau merusak ceritaku!”


Dan berbagai celetukan yang lain.


Minggu 14 Juni 2015 kami -kru FLP Malang- terbahak-bahak di depan Rektorat UIN. Tiap mendapat lembaran dari teman sebelah dahi menjadi berkerut, mata berputar memegangi mulut, kemudian tak tahan menahan tawa. Apalagi kalau dapat naskah dari barisan “pengacau” hahaha piss teman-teman.


Hari itu kami membuat cerita estafet. Kami duduk melingkar, menulis bersama, dengan urutan ke arah kanan. Dimulai dari Mahfuzh, Muchtar, Arla, Mas Danang, Yeni, Zie, dan Ninda.


Sebelum menulis kami membuat undian tema. Setelah itu mengundinya.


Yenny-dasi, Lita-gudang, Fauziah-mengejar, Muchtar- pakaian, Erla-dari, Mahfuzh teh, dan Mas Danang mimpi.


Awalnya tak masalah, sampai melewati teman-teman “unik”, cerita itu jadi bermasalah. Kami dibikin gregetan, geli, dan terpingkal-pingkal.


Ketelitian saat membaca saat berpengaruh terhadap alur. Dalam permainan ini satu orang satu kalimat, begitu seterusnya. Jika terlewat membaca satu kalimat saja, cerita bisa berantakan.


Contohnya dalam cerita dasi


“Dia tidak pernah tahu, dasi merah yang dia gunakan saat ini adalah pemberianku. Aku membelinya setelah mengumpulkan uang makan sedikit demi sedikit. Bahkan aku tak pernah sekalipun membelikan dasi atau hadiah yang lain untuk bapak. Tapi ia berbeda, aku bisa menghabiskan seluruh uang tabunganku untuk membuatnya senang. Berkatnya pun aku kini langsing, tapi bisa dibilang juga kurus kering. Kau tahu bahkan akupun harus memulai diet jenis baru makan dua kali seminggu. Meskipun sebenarnya dietku tak ada hubungannya sama sekali dengan dasi buat bapak. Hanya karena dasi aku harus diet? Ehm ta kusangka.”


Kata “dia” menurut penulis pertama adalah seorang laki-laki yang –mungkin- disukainya. Tapi menurut penulis berikutnya, “dia” bisa jadi bapak. Then, dari kata dasi, bisa nyambung ke langsing dan diet. hehehe...


Saya suka cerita mimpi, di awal kami berkutat tentang mimpi yang tak berujung. Mimpi si tokoh yang belum terwujud. Kemudian –entah siapa saya tak tahu ^_^- mengalihkan mimpi menjadi artis dengan kiasan yang menarik. Kecerdikan personil estafet sangat dibutuhkan untuk mengolah cerita menjadi cantik.


Dalam cerita “Teh”, kami agak kebingungan meneruskan alur. Coba baca ini, “Bagaimana mungkin usiaku masih 14 tahun. Terus aku harus bagaimana? Mungkin aku harus menikah dengan seorang lulusan sarjana berprestasi agar dia saja yang repot mengurus kebun ini dan aku, tentu saja. Istriku yang berprestasi pasti mampu bekerja keras mengelola perkebunan ini. Selain pintar dia juga kekar. Tak perlu sekekar aku, cukup dia mampu mengangkut dua keranjang di bahu. Dan bisa dipastikan juga harus kuat melayaniku. Tahukan maksudku? Sudahlah lupakan saja. “


Tokoh utama adalah laki-laki umur 14 tahun, dia mencari istri lulusan sarjana. Berapa ya selisih umurnya? hehehe. Tambah lagi, ada kata “kekar” di sana. Ngapain sarjana angkar-angkat barang berat, perempuan pula. kalau sarjana mah bisa jadi manager hehehe.. ini candaan kami saat sadar ada yang aneh dalam cerita Teh.


Menulis ide dasi membuat kami terbahak-bahak, penulis mencoba tega membuat sang ayah gila. Ide pakaian tak kalah nyleneh! Kami memutar otak memikirkan bagaimana nasib pakaian. Diberi minyak wangi, dibuang di selokan, dibakar, atau? Sampai-sampai si tokoh harus googling guna menyelamatkan nasib pakaian.


Ide mengejar adalah cerita terkonyol dan absurd, ada yang miss di sini. yang membuat balon bisa berubah menjadi ayah, kemudian jadi bom. Ceritanya sampai ke teroris juga! Benar-benar imajinasinya....


Ide surat adalah cerita yang “selamat” dari keusilan kami. Meski ada yang usil, langsung ada yang menetralisir agar dia kembali ke jalan yang benar. :)


Terakhir ide “dari”, ide ini dari Muchtar. Awalnya kami protes, idenya kok “dari”? Kata Muchtar ide memakai teknik menghitung angka dari bacaan yang ia bawa. Oke dah lajut.


Cerita dari ide “dari” ini lumayan kreatif. Awal cerita kami mencoba mengulur-nglur deskripsi siapa sebenarnya yang mematikan alarm.


“Dari cahaya yang masuk lewat celah jendela aku tahu bahwa hari ini sudah menjelang siang. Tak biasanya aku bangun sesiang ini kalau tidak karena ada yang mematikan alaram handphone-ku. Ya ampun!

“Pasti dia yang mematikanya!” dugaanku melayang pada satu nama. Ah, sudahlah! Aku harus lekas. Dari kamarku aku menuju dapur. Ada lonceng bel dari alarmku ketika aku ingin mengambil gula dari toplesnya. Berbunyi tiga kali saat sendokku masuk pada toples. Oh ternyata alarmku tidak dimatikan! Tetapi diubah jamnya jadi jam 11? Kurang aja! Aiss!


Kuletakan gelas yang belum kuaduk, aku menuju kamarnya. Apa maksudnya melakukan ini padaku? Dan ternyata pintu kamarnya terkunci. Ku gedor-gedor pintu kamarnya yang terbuat dari tripleks lapuk. Pintu lapuk itu terbuka.” Sampai beberapa putaran kami terus berputar pada si pelaku.

Sampailah cerita ini ke tangan Mahfuzh, dia memutuskan pelakunya adalah George! Si monyet cerdik. Ehm.. efek banyak menonton film, saya pikir pelaku adalah manusia, tapi ternyata adalah monyet. Hehehe..

Menulis estafet adalah salah satu teknik menulis yang menyenangkan dan menyegarkan. Sebagai penulis kita belajar sabar jika ide kita tidak sama dengan ide teman. Apalagi jika jatahnya satu orang satu kalimat, kadang kita gregetan kalau teman selanjutnya tidak paham dengan yang kita maksud. But inilah uniknya, dari satu kalimat bisa jadi beberapa ide cerita, alur yang beragam, dan pasti ada hal tak terduga.


Cerita estafet ini akan menjadi seru jika personilnya pun unik-unik. Apalagi siang itu, kami berdelapan memiliki karakter yang sama sekali berbeda! ada yang usil, kreatif, puitis, dan ada pula yang tak terbiasa dengan fiksi.


Namun ternyata, dengan bersama berbagai kharakter itu menjadi paduan yang manis saat membuat cerita.


Mau tahu bagaimana serunya cerita estafet kami? ini dia


1. Mimpi

2. Teh

3. Dasi

4. Gudang

5. Pakaian

6. Mengejar

7. Dari

8. Surat

Wajah Plastisin

Burung terbang ramai ke sarang. Aku juga bergegas terbang pulang. Menjauh dari pelik rapat yang saling serang demi secuil uang. Melesat cepat bersama burung menembus gebyar kota. Sesampai rumah lekas kubersihkan diri, bersolek secukupnya, memakai baju dari web Bajugamisku. Lalu, bersiap berangkat kembali. Sekarang kafe tujuanku. Melemaskan satu lagi masalah di kepala. Ya, masalah denganmu. Aku ingin berdamai dengan takdir ini.

Takdir yang susah kulupakan sejauh tahun-tahun yang sudah berlalu. Terlebih kau memberikan kenangan spesial di perpisahanmu. Di kafe ini. Mana mungkin kenangan itu bisa hilang dengan mudah? Kau memasak seluruh makanan favoritku, menyanyi dengan suara serakmu, dan tak lupa kau mencetak wajahmu pada sebuah plastisin sebagai sebuah hadiah di hari ulang tahunku.

Sumber gambar aliexpress
Apa kau juga masih ingat busana pesta yang kupakai saat itu? Bukankah juga pemberianmu? Aku saja tak bisa melupakan bagaimana kau bertindak layaknya maling. Mengendap-endap ke rumah. Mencoba memasukkan baju ke tas. Hampir saja kepalamu pecah bersama vas bunga. Kalau saja kau tak sadar aku juga mengendap di belakangmu. “Haah..” Aku tertawa. Dari mana pula kau dapat kunci rumahku.

Espressoku hampir habis. Kumainkan teguk terakhir lama di mulutku. Pahit memang. Tapi tak sepahit kepergianmu. Bersama alunan pelan biola di panggung kuambil plastisin dari tas. Selalu kubawa di dalam tas. Namun bukan cetak wajahmu, tak berani melihatnya lagi. Kupandangi plastisin di bawah lampu redup.

Tapi malah ingatanmu yang muncul kembali. Tengah malam pesanmu masuk. “Sorry to say. Berat memang, tapi satu nanti moga bisa ketemu kembali.” Seperti pesawat yang turbulensi keras, semua orang menjerit. Lebih-lebih kau ucapkan hanya lewat pesan pendek. Setelah malam yang membuatku melayang. Belum selesai di situ kau menyiksaku. Kau tambah bahwa akan take off. Pesawat itu sudah tak turbulensi lagi, melainkan jatuh ke jurang lalu hilang.

Aku mencoba menghilangkanmu, tapi juga menantimu. Biola mengalir merdu, membawa sendu hilang bersama not-notnya. Tapi seseorang memotongnya, mungkin bocah yang ingin mengucapkan cinta lagi. “Lebay sekali” Aku merutuki sendiri dalam hati.

Suara serak. Ya, suara serakmu. Itu serak suaramu bukan? Aku mimpi? Kubalikkan badan. Mataku terbelalak. "Ka..ka..kau? Pu..pulang?" Tak menunggu sadar, kakiku lari ke panggung. Sekencang mungkin. Tersandung pun biar. Lekas mengeluarkan plastisin dari tas. Mencetak wajahku sendiri di sana. “Ini...!!! Kau tahu rasanya menyimpannya selama ini?”

Unsur dalam Cerita : Alur

Alur merupakan jalan cerita. Segala jenis karya tulis yang bertujuan bercerita pasti mempunyai alur. Bisa disebut alur memegang kerangka utama dalam cerita. Menunjukkan kita aliran cerita yang dibangun penulis.

Bentuk dari alur bisa bermacam-macam. Mulai alur maju, yaitu waktu mulai dari paragraf pertama sampai terakhir urut. Atau alur mundur, yaitu flashback, menjelaskan waktu-waktu belakangnya. Ada juga alur maju mundur, yang paragrafnya bisa lompat ke waktu lampau. Lalu kembali lagi pada waktu yang sesuai pada paragraf sebelumnya.

Jenis di atas akan percuma jika penulisan tidak bisa menggambarkan jalan cerita. Untuk para penulis dengan banyak karya mungkin sudah bisa langsung menulis dengan hanya membayangkan alurnya di kepala. Tetapi bagi pemula kadang malah membuat cerita acak dan tak jelas. Maka dari itu perlu membuat outline untuk awalnya. Penulisan outline pun lagi-lagi terserah penulis. Bisa berupa kalimat-kalimat yang menjelaskan paragraf-paragraf. Atau hanya poinnya saja. Yang terpenting penulis paham dengan outline.

Setelah terbentuk outline, bisa ditambahkan dengan narasi dan dialog sampai menjadi cerita yang utuh. Sekali lagi penggunaan harus sesuai kebutuhan cerita, baik narasi maupun dialog. Ketika membacanya kita bisa mengalir, namun tak membuat bingung.

Ini contohnya
     Orang-orang tanpa ragu memanggil ayah sebagai Harimau. Harimau paling gesit menerkam mangsa. Matanya menyorot sesosok mangsa yang siap ia terkam. Ayah berjongkok di balik ende sambil memegang penjalin mengumpulkan kebuasan. Peluit pekembar mengundangnya ke tengah arena.
     “Pertarungan peresean kali ini antara Harimau melawan Semberani….” Suara dari pengeras suara mengundang tepuk tangan dan sorakan penonton yang duduk melingkar. Musik gamelan mulai ditabuh. Di tengah arena pekembar mulai ngibing menimbulkan kepulan debu.
     Hilal Imtiyaz - Presean


Buku Jangan Cuma Dibaca Sekali, Rugi!


Hampir mayoritas penulis akan memberikan saran ini ketika ditanya, "Apa tips supaya tulisan kita bagus?" Penulis mulai dari sabang sampai merauke akan langsung menyuruh kita rajin membaca, apapun bacaannya, bahkan kita harus membaca satu buku berulang-ulang. Kenapa?

Karena sekarang ini tak ada yang baru. Melainkan hanya modifikasi atau penggabungan saja. Hingga tak perlu kita memikirkan untuk membuat sesuatu yang baru, melainkan cukup menggunakan metode ATM. Amati-Tiru-Modifikasi, baik ide cerita maupun teknik si penulis.

Tahap awalnya adalah banyak membaca. Dari sebuah buku kita bisa mendapatkan banyak ide jika buku itu kita pelajari mendalam.

Saat pertama kali membaca buku mungkin kita hanya fokus pada cerita, kita hanyut oleh penceritaannya. Karena kita ingin refreshing, seperti liburan ketika membaca sebuah cerita.

Tapi, cobalah mengulang membaca dua kali atau lebih. Maka kau bisa lebih fokus dengan cara penulis menceritakan keadaan maupun alur dalam cerita. Bagaimana membuat karakter yang kuat, trik dalam menuliskan diksi-diksi, dan segala bentuk penulisan cerita semua bisa kita temukan di sana.

Bukan Mudah Mekarnya "Mawar Putih": Sebuah Perjalanan Asma Nadia

Sumber : Nyata
Beberapa hari lalu saya nonton Asma Nadia menjadi narasumber di salah satu televisi nasional. Rupanya, kita tidak bisa melihat masa kecil penulis best seller ini dari kehidupannya sekarang. Bisa dibilang, beliau memiliki perjalanan hidup yang kontras.

Namun, doa melalui nama asli Asmarani Rosalba ini terkabul. Rosalba, yang berarti Mawar Putih, kiranya tepat mencerminkan sosok anggun berdedikasi itu.

Koran Sayur

Sejak kecil, wanita dua anak ini memang suka membaca. Namun, aksesnya terhadap buku tidaklah seberuntung kebanyakan dari kita. Jika sekarang uang bukan masalah karena kita bisa membaca online, dulu mana ada fasilitas demikian.

Keterbatasan ekonomi keluarga tidak menghalangi minat baca perempuan berdarah Tionghoa itu. Teks-teks sudah akrab di kehidupannya sejak umur tiga tahun. Helvy Tiana Rossa lah yang menjadi ‘guru’.

Bersama kakaknya tersebut, beliau sering merubung sayur bawaan ibundanya. Bukan mengincar sayurnya, tetapi koran pembungkusnya. Dikencangkanlah kertas berita dan informasi itu lalu dilahap alias dibaca. Kadang mereka menemukan artikel penuh, kadang terpotong karena halaman berikutnya tidak ikut menjadi bungkus.

Sang Ibunda bertutur, awalnya, perempuan yang akrab dipanggil Rani tersebut hanya ikut melihat koran saja. Ia kerap meniru apa yang dilakukan kakaknya, padahal koran di tangannya terbalik. Rani kecil pun sering mendengarkan ocehan saudara sulungnya saat membaca.

Bimbingan ibu dan kebiasaan tersebut menjadikan kedua pendiri Forum Lingkar Pena ini sudah bisa membaca sebelum masuk Sekolah Dasar.

Diusir

Awalnya, cinta mereka terhadap buku seperti bertepuk sebelah tangan. Bersama kakak dan adiknya, ia kerap mengunjungi salah satu kios penyewaan namun hanya mampu melihat-melihat. Saking seringnya hanya menunjuk-nunjuk tanpa membayar, mereka semua diusir.

Asma kecil yang belum sekolah pun menangis dan ingin bisa menulis buku. Sang Kakak menguatkan, mengajak adiknya untuk bertekad menulis sebanyak buku di penyewaan tersebut. Hari itu mereka bercita-cita membuat tempat baca untuk seluruh anak Indonesia.

Asa tersebut tidak bisa disebut bau kencur. Terbukti, puluhan tahun kemudian, berdirilah perpustakaan gratis, Rumah Baca Asma Nadia. Hingga kini, terbentuk sekitar 140 cabang tersebar dari Sumatera sampai Papua. Rumah baca ini juga didirikan untuk Tenaga Kerja Indonesia di Hongkong.

Akibat Buku Bekas

Saat sekolah, kalau punya uang lebih, perempuan kelahiran Jakarta itu berburu di pusat buku bekas. Pernah dia berhasil mengoleksi serial namun tidak menemukan edisi terakhirnya. Ia dan kakaknya pun menciptakan ending masing-masing.

Ngamen

Si Dua Serangkai memang bukan arang yang mudah patah. Saat mulai bergelut di dunia menulis, ngamen di bus bersedia mereka tempuh untuk membeli sebuah mesin tik. Hanya dengan alat konvensional itu, mereka membuat tulisan yang dikirim ke berbagai media, padahal komputer sudah masuk ke Indonesia. Tak sia-sia, medan kehidupan menempa penulis mendunia tersebut.

Peran Ibu

Anugerah Allah SWT. turun kepada Asma Nadia melalui ibu yang sejak kecil juga suka melahap buku. Beliau mengajarkan anak-anaknya untuk bisa membaca sebelum masuk sekolah. Sosok inilah yang mengorbankan jatah makan siangnya untuk membelikan buku bagi Rani selama di Rumah Sakit. Mental tidak mengenal lemah, tidak mengenal keluh, bahkan tidak menangisi kehidupan disuntikkannya pada Si Buah Hati.

Keluarga Penulis

Setelah menikah, Sang Mawar Putih juga memperoleh dukungan dari keluarga kecilnya. Sebagai suami, Isa Alamsyah yang juga wartawan dan penulis sangat memahami impian istrinya. Meski kemudian tidak ahli memasak, beliau mendukung penuh wanita pilihannya tersebut untuk bepergian dan menekuni dunia menulis. Asma Nadia mengakui pria ini merupakan sosok inspiratif baginya.

Tidak terkecuali dukungan dari kedua buah hati. Eva Maria Putri Salsabila, anak pertama juga jadi sumber ide dan tukar pendapat. Adam Putera Firdaus turut menjadi saingan bundanya. Lewat puisi, ia pernah mengalahkan karya Asma Nadia di suatu lomba.

Mawar Putih Telah Mekar

Kini, Mawar Putih telah mekar. Wanginya telah merebak ke ranah internasional. Universitas Iowa pernah mengundang beliau bersama 35 penulis dunia lainnya. Ia juga menjelajah 270 kota di 59 negara untuk buku Jilbab Traveler.

Kurang lebih 49 buku telah lahir dari tangannya bahkan hingga di angkat ke layar kaca, seperti Emak Ingin Naik Haji, Rumah Tanpa Jendela, dan Assalamu ‘Alaikum Beijing. Bukunya yang berjudul Catatan Hati Seorang Istri tampil menjadi sinetron.

Tidak hanya cerpen dan novel, perempuan yang lahir pada tahun 1972 tersebut juga menulis lagu. Albumnya ialah Bestari I – III (1996 – 2003), Air Mata Bosnia, Kaca Diri, dan lain-lain.

Dedikasinya juga dicurahkan melalui Yayasan Asma Nadia untuk pendidikan anak yatim piatu dan kurang mampu.